Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Minggu, 04 Oktober 2026

Murid

Berikut materi pertemuan keempat KBMN PGRI Gelombang 35 yang bisa langsung digunakan untuk mengajar pada 4 Oktober 2026.

Materi Pertemuan Keempat KBMN PGRI Gelombang 35

Murid yang Memberikan Pelajaran kepada Gurunya

Bersama Omjay – Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Minggu, 4 Oktober 2026

> “Guru memang mengajarkan banyak hal kepada murid. Namun, guru yang baik juga mau belajar dari muridnya.”

A. Tujuan Pembelajaran

Setelah mengikuti pertemuan ini, peserta diharapkan mampu:

1. Menemukan pengalaman ketika murid memberikan pelajaran berharga.

2. Mengubah pengalaman tersebut menjadi sebuah cerita.

3. Menulis dengan bahasa sederhana, jujur, dan menyentuh.

4. Menemukan nilai atau hikmah dari pengalaman bersama murid.

5. Mempublikasikan tulisan di blog atau media sosial secara positif.

---

B. Pembukaan: Guru Juga Seorang Pembelajar

Selama ini kita sering berpikir bahwa guru adalah orang yang memberikan pelajaran kepada murid.

Guru menjelaskan materi.

Murid mendengarkan.

Guru memberikan tugas.

Murid mengerjakan.

Guru memberikan nilai.

Namun dalam kehidupan nyata, hubungan guru dan murid tidak sesederhana itu.

Ada kalanya murid justru memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada gurunya.

Murid mengajarkan guru tentang kesabaran.

Murid mengajarkan guru tentang ketulusan.

Murid mengajarkan guru tentang perjuangan.

Murid mengajarkan guru tentang keberanian mencoba.

Bahkan, kadang-kadang murid mengajarkan guru tentang teknologi yang belum dikuasainya.

Di sinilah seorang guru perlu memiliki kerendahan hati.

Guru tidak harus selalu paling tahu. Guru harus selalu mau belajar.

---

C. Kisah Omjay: Belajar dari Murid

Sebagai guru Informatika di SMP Labschool Jakarta, Omjay mengalami banyak peristiwa menarik bersama murid.

Dunia teknologi berubah sangat cepat.

Hari ini guru mengajarkan sebuah aplikasi. Besok muncul aplikasi baru.

Hari ini guru menjelaskan teknologi tertentu. Beberapa bulan kemudian teknologi tersebut berkembang menjadi sesuatu yang berbeda.

Murid yang tumbuh bersama teknologi terkadang menemukan cara yang lebih cepat.

Mereka mencoba.

Mereka salah.

Mereka mencoba lagi.

Kemudian mereka berhasil.

Dari situlah guru mendapatkan pelajaran.

Murid mengajarkan kita untuk tidak takut mencoba.

Dalam pembelajaran Informatika, misalnya, guru dapat memberikan sebuah proyek kepada murid.

Guru menjelaskan langkah-langkah dasarnya.

Setelah itu murid diberikan kesempatan untuk bereksperimen.

Tidak jarang hasil karya murid justru membuat guru terkejut.

Ada murid yang menemukan cara berbeda.

Ada murid yang menghasilkan desain lebih kreatif.

Ada murid yang membuat program dengan pendekatan yang tidak terpikirkan sebelumnya.

Sebagai guru, kita tidak perlu merasa tersaingi.

Justru kita harus berkata:

“Wah, bagus sekali. Bagaimana kamu membuatnya?”

Kalimat sederhana tersebut dapat membuka pintu pembelajaran baru.

---

D. Murid Bukan Hanya Objek Pembelajaran

Salah satu kesalahan dalam pendidikan adalah menganggap murid hanya sebagai objek.

Guru berbicara.

Murid mendengarkan.

Guru menjelaskan.

Murid mencatat.

Padahal murid adalah subjek pembelajaran.

Mereka mempunyai pengalaman.

Mereka mempunyai ide.

Mereka mempunyai kreativitas.

Mereka mempunyai cara pandang sendiri.

Karena itu, guru perlu memberikan ruang kepada murid untuk berbicara dan berkarya.

Cobalah bertanya kepada murid:

Apa yang kamu sukai?

Apa yang kamu pelajari hari ini?

Apa yang paling sulit?

Bagaimana cara kamu menyelesaikannya?

Apa yang bisa saya pelajari dari kamu?

Jika kamu menjadi guru, apa yang akan kamu ajarkan kepada teman-teman?

Pertanyaan terakhir sangat menarik.

Kadang-kadang jawaban murid sederhana.

Tetapi justru dari kesederhanaan itu muncul pelajaran besar.

---

E. Dari Pengalaman Menjadi Tulisan

Pengalaman bersama murid sebenarnya adalah bahan tulisan yang sangat kaya.

Sayangnya, banyak guru merasa:

> “Saya tidak punya pengalaman menarik untuk ditulis.”

Padahal hampir setiap hari guru mengalami berbagai peristiwa.

Ada murid yang datang terlambat.

Ada murid yang tiba-tiba memberikan hadiah.

Ada murid yang berhasil setelah berkali-kali gagal.

Ada murid yang awalnya pendiam kemudian menjadi percaya diri.

Ada murid yang membantu gurunya memahami teknologi.

Ada murid yang memberikan nasihat sederhana tetapi sangat bermakna.

Semua itu bisa menjadi tulisan.

---

F. Rumus Sederhana Menulis Kisah Murid

Gunakan rumus:

Kejadian → Perasaan → Pelajaran → Hikmah

1. Kejadian

Apa yang terjadi?

Contoh:

> Suatu hari saya sedang mengajarkan materi coding. Salah seorang murid mengatakan bahwa ada cara lain yang menurutnya lebih sederhana.

2. Perasaan

Apa yang Omjay rasakan?

> Awalnya saya penasaran. Saya kemudian meminta murid tersebut menjelaskan caranya di depan kelas.

3. Pelajaran

Apa yang Omjay pelajari?

> Saya menyadari bahwa seorang guru tidak harus selalu menjadi orang yang paling tahu.

4. Hikmah

Apa makna dari pengalaman tersebut?

> Sejak saat itu saya semakin yakin bahwa kelas adalah tempat belajar bersama. Guru belajar dari murid, dan murid belajar dari guru.

---

G. Contoh Tulisan

Judul: Hari Itu Murid Saya Mengajarkan Sesuatu yang Berharga

Hari itu saya sedang mengajar Informatika.

Saya menjelaskan sebuah materi kepada murid-murid. Setelah memberikan contoh, saya meminta mereka mencoba sendiri.

Tidak lama kemudian, seorang murid mengangkat tangan.

“Omjay, boleh saya mencoba cara yang berbeda?”

Saya menjawab, “Silakan.”

Murid tersebut kemudian maju ke depan kelas.

Ia menunjukkan caranya.

Saya memperhatikan dengan saksama.

Ternyata cara yang digunakan berbeda dengan contoh yang saya berikan.

Namun hasilnya tetap benar.

Saya tersenyum.

Dalam hati saya berkata, ternyata murid saya hari ini sedang mengajarkan sesuatu kepada saya.

Saya belajar bahwa dalam pembelajaran tidak selalu hanya ada satu jalan untuk mencapai tujuan.

Murid tersebut mungkin tidak sadar bahwa hari itu ia telah menjadi guru bagi gurunya sendiri.

Saya kemudian berkata kepada seluruh kelas:

“Anak-anak, hari ini Omjay belajar dari teman kalian.”

Kelas menjadi ramai.

Mereka tersenyum.

Saya pun ikut tersenyum.

Dari peristiwa sederhana itu saya mendapatkan pelajaran penting.

Guru tidak harus selalu merasa paling pintar. Guru harus berani mengatakan bahwa dirinya juga masih belajar.

Sebab dunia terus berubah.

Teknologi terus berkembang.

Murid-murid kita juga terus berkembang.

Kalau guru berhenti belajar, maka guru akan tertinggal.

Karena itu, saya percaya bahwa menjadi guru berarti menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Hari itu saya tidak hanya mengajar Informatika.

Saya mendapatkan pelajaran kehidupan dari seorang murid.

Dan pelajaran itu akan selalu saya ingat.

---

H. Latihan Menulis Peserta KBMN PGRI Gelombang 35

Sekarang giliran peserta.

Silakan pilih satu murid yang pernah memberikan pelajaran berharga kepada Anda.

Tidak perlu mencari cerita yang luar biasa.

Ambil pengalaman sederhana.

Tuliskan dengan pola berikut:

Judul:
Murid yang Mengajarkan Saya ...

1. Kejadian
Apa yang dilakukan murid?

2. Perasaan saya
Apa yang saya rasakan saat itu?

3. Pelajaran
Apa yang saya pelajari dari murid tersebut?

4. Hikmah
Apa pesan yang bisa dibagikan kepada pembaca?

Target tulisan:

500–700 kata.

Tidak perlu menggunakan bahasa yang rumit.

Tulislah seperti sedang bercerita kepada seorang teman.

---

I. Tugas Pertemuan Keempat

Tugas: “Muridku, Guruku”

Buat sebuah tulisan dengan tema:

> “Murid yang Memberikan Pelajaran Berharga kepada Saya.”

Kemudian:

1. Publikasikan di blog masing-masing.

2. Berikan judul yang menarik.

3. Sertakan foto jika memungkinkan.

4. Berikan satu pesan atau hikmah di bagian akhir.

5. Bagikan link tulisan kepada kelompok KBMN PGRI Gelombang 35.

Bonus

Jika memungkinkan, wawancarai murid tersebut.

Tanyakan:

> “Apa yang kamu pelajari dari saya sebagai guru?”

Jawaban murid bisa menjadi bagian menarik dari tulisan.

---

J. Penutup

Bapak dan Ibu peserta KBMN PGRI Gelombang 35,

jangan menunggu pengalaman yang luar biasa untuk mulai menulis.

Tulislah pengalaman sederhana yang pernah menyentuh hati.

Sebab terkadang sebuah kejadian kecil di kelas justru memiliki makna yang besar.

Murid yang kita ajar hari ini mungkin suatu saat menjadi dokter, guru, programmer, pengusaha, pejabat, seniman, atau pemimpin bangsa.

Namun sebelum mereka menjadi orang besar, mereka pernah duduk di bangku kelas kita.

Dan mungkin tanpa kita sadari, mereka juga pernah memberikan pelajaran yang mengubah cara pandang kita sebagai guru.

> Guru mengajar dengan ilmu.
Guru mendidik dengan keteladanan.
Guru belajar dari pengalaman.
Dan guru yang hebat tidak malu belajar dari muridnya.

Menulislah dengan hati.
Tuliskan kisah muridmu.
Karena suatu hari nanti, kisah itu bisa menjadi kenangan yang sangat berharga.

— Omjay
Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.
Guru Blogger Indonesia
Ketua IGTIK PGRI dan KOGTIK

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.