Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Minggu, 18 Oktober 2026

Materi KBMN PGRI Gelombang 35 Pertemuan ke18 bersama Omjay

### MATERI PERTEMUAN KE-18 KBMN PGRI GELOMBANG 35

### AI dan Masa Depan Pendidikan: Guru Tetap di Hati, Teknologi Membantu Berkreasi

Narasumber: Omjay — Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. | Guru Blogger Indonesia

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam bahagia dan salam literasi untuk seluruh peserta KBMN PGRI Gelombang 35 di mana pun berada.

Bapak dan Ibu guru hebat, apa kabar malam ini? Semoga semuanya sehat, bahagia, dan tetap bersemangat untuk belajar menulis. Kita sudah melewati banyak pertemuan dalam perjalanan belajar menulis selama bulan Oktober ini. Setiap hari kita berusaha menemukan ide, merangkai kata, membagikan pengalaman, dan menginspirasi pembaca melalui tulisan.

Pada pertemuan ke-18 ini, kita akan membahas tema yang sangat dekat dengan kehidupan kita saat ini, yaitu AI dan Masa Depan Pendidikan.

Kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) semakin hadir dalam kehidupan sehari-hari. AI membantu kita mencari informasi, membuat rangkuman, menyusun bahan ajar, mengembangkan ide tulisan, bahkan memberikan umpan balik terhadap pekerjaan siswa. Namun, muncul pertanyaan penting: apakah AI akan menggantikan guru? Apakah suatu saat nanti siswa cukup belajar dari mesin tanpa membutuhkan kehadiran seorang pendidik?

Mari kita membahasnya dengan pikiran terbuka, hati yang jernih, dan semangat untuk terus belajar.

### 1\. Tujuan pembelajaran

Setelah mengikuti pertemuan ke-18 ini, peserta diharapkan mampu:

* Memahami pengertian AI dan perannya dalam dunia pendidikan.

* Mengenali peluang dan tantangan penggunaan AI bagi guru dan siswa.

* Memanfaatkan AI secara bijak untuk mendukung kegiatan belajar dan menulis.

* Menumbuhkan sikap kritis, kreatif, jujur, dan bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi.

* Menghasilkan tulisan reflektif tentang AI dan masa depan pendidikan berdasarkan pengalaman atau pemikiran pribadi.

### 2\. Apa itu AI?

AI atau kecerdasan artifisial adalah teknologi yang memungkinkan komputer melakukan tugas-tugas yang biasanya membutuhkan kemampuan manusia, seperti memahami bahasa, mengenali pola, menganalisis informasi, menghasilkan teks, dan membantu memecahkan masalah.

Contohnya, ketika kita meminta AI menyusun kerangka artikel tentang pengalaman mengajar, AI dapat memberikan beberapa pilihan judul, menyusun urutan pembahasan, dan menyarankan pertanyaan untuk menggali pengalaman pribadi.

Ketika guru mengajarkan Informatika, AI juga dapat membantu menjelaskan konsep algoritma, memberikan contoh kode program, menyusun soal latihan, atau menawarkan cara berbeda untuk menjelaskan materi yang sulit dipahami siswa.

Namun, kita harus memahami satu hal: AI dapat membantu menghasilkan jawaban, tetapi jawabannya belum tentu benar. AI bisa memberikan informasi yang keliru, membuat contoh yang tidak sesuai, atau menyampaikan informasi seolah-olah benar padahal perlu diperiksa kembali.

Karena itu, manusia tetap harus berpikir, memeriksa, mempertimbangkan, dan mengambil keputusan.

### 3\. Bagaimana AI mengubah masa depan pendidikan?

Ada beberapa perubahan yang patut kita perhatikan.

### A. Pembelajaran menjadi lebih personal

Setiap siswa memiliki kemampuan, minat, dan kecepatan belajar yang berbeda. Ada siswa yang cepat memahami matematika, tetapi membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami bahasa. Ada pula siswa yang lebih mudah belajar melalui contoh, gambar, praktik, atau cerita.

AI dapat membantu menyediakan latihan dengan tingkat kesulitan berbeda, memberikan penjelasan alternatif, dan menyusun soal sesuai kebutuhan belajar siswa.

Meskipun demikian, guru tetap perlu mengamati perkembangan siswa secara langsung. Tidak semua kesulitan belajar dapat diketahui hanya dari jawaban di layar komputer.

### B. Guru memiliki lebih banyak pilihan dalam menyiapkan pembelajaran

Guru sering menghabiskan waktu untuk membuat soal, menyusun bahan presentasi, menyiapkan lembar kerja, dan merancang kegiatan pembelajaran.

AI dapat membantu mempercepat pekerjaan awal tersebut. Misalnya, guru dapat meminta AI menyusun sepuluh soal tentang keamanan digital untuk siswa SMP, lengkap dengan kunci jawaban dan pembahasannya.

Setelah itu, guru memeriksa ketepatan soal, menyesuaikan tingkat kesulitan, dan menghubungkannya dengan tujuan pembelajaran.

Dengan cara ini, AI menjadi asisten yang membantu pekerjaan guru, bukan pengganti tanggung jawab profesional guru.

### C. Literasi digital dan kemampuan berpikir kritis semakin penting

Di masa depan, siswa tidak cukup hanya mampu menggunakan perangkat digital. Mereka juga harus mampu menilai informasi, mengenali berita palsu, memahami risiko keamanan data, dan mempertanyakan jawaban yang diperoleh dari AI.

Contohnya, ketika AI memberikan informasi tentang suatu peristiwa sejarah, siswa perlu membandingkannya dengan buku pelajaran dan sumber tepercaya. Mereka tidak boleh langsung menyalin jawaban tanpa memahami isinya.

Inilah kesempatan bagi guru untuk membiasakan siswa bertanya: dari mana informasi ini berasal, apakah buktinya kuat, dan apakah kesimpulannya masuk akal?

### D. Keterampilan manusia tetap dibutuhkan

Pendidikan bukan sekadar proses memindahkan informasi dari guru kepada siswa. Pendidikan juga merupakan proses membangun karakter, tanggung jawab, empati, kejujuran, kreativitas, dan kemampuan bekerja sama.

AI dapat menghasilkan kalimat yang terdengar menyentuh, tetapi guru yang hadir di kelas dapat melihat siswa yang sedang kehilangan semangat, mendengarkan kegelisahannya, dan memberikan dukungan sesuai keadaan.

Teknologi dapat membantu proses pendidikan, tetapi hubungan antarmanusia tetap memiliki peran penting.

### 4\. Peluang AI bagi guru dan penulis

Sebagai guru sekaligus penulis, kita dapat memanfaatkan AI untuk berbagai kegiatan.

| Kegiatan                  | Contoh pemanfaatan AI                                |
| ------------------------- | ---------------------------------------------------- |
| Menyiapkan bahan ajar     | Membuat kerangka materi dan contoh sederhana         |
| Membuat soal              | Menyusun soal latihan sesuai tujuan pembelajaran     |
| Mengembangkan ide tulisan | Mencari sudut pandang dan pilihan judul              |
| Menyunting artikel        | Memeriksa ejaan, struktur, dan kejelasan kalimat     |
| Membuat refleksi          | Menyusun pertanyaan untuk mengevaluasi pembelajaran  |
| Belajar mandiri           | Meminta penjelasan alternatif atas konsep yang sulit |

Kuncinya adalah menggunakan AI untuk membantu proses berpikir, bukan menyerahkan seluruh proses berpikir kepadanya.

Misalnya, seorang guru ingin menulis artikel berjudul Pengalaman Mengajar yang Tak Terlupakan. AI dapat membantu membuat kerangka tulisan, tetapi cerita tentang siswa yang pernah membuat guru terharu harus berasal dari pengalaman nyata sang guru.

Detail peristiwa, perasaan, dialog, dan pelajaran hidup merupakan bagian penting yang memberikan jiwa pada tulisan.

AI boleh membantu merangkai kata, tetapi pengalaman nyata dan kejujuran penulis tidak boleh dihilangkan.

### 5\. Tantangan penggunaan AI dalam pendidikan

Di balik berbagai peluang, ada tantangan yang perlu kita hadapi bersama.

### A. Ketergantungan pada AI

Siswa bisa saja menggunakan AI untuk mengerjakan semua tugas tanpa membaca, memahami, atau memikirkan jawabannya. Guru pun dapat terjebak menggunakan bahan yang dihasilkan AI tanpa memeriksa kebenarannya.

Solusinya bukan sekadar melarang teknologi, melainkan mengajarkan cara menggunakannya secara bertanggung jawab.

Guru dapat meminta siswa menjelaskan proses berpikirnya, mempraktikkan konsep yang dipelajari, atau menceritakan pengalaman pribadi yang berkaitan dengan tugas.

### B. Kejujuran akademik

Jika siswa mengumpulkan tulisan yang seluruhnya dihasilkan AI dan mengaku sebagai karya pribadi tanpa mengikuti aturan tugas, proses belajarnya dapat kehilangan makna.

Karena itu, guru perlu menjelaskan kapan AI boleh digunakan, bagian apa yang harus dikerjakan sendiri, dan bagaimana mengungkapkan bantuan AI secara jujur.

Kita juga perlu berhati-hati agar tidak langsung menuduh siswa melakukan kecurangan hanya karena tulisannya tampak rapi. Penilaian harus berdasarkan proses dan bukti yang relevan, bukan dugaan semata.

### C. Privasi dan keamanan data

Jangan sembarangan memasukkan nama lengkap siswa, nilai, alamat, nomor telepon, rekam medis, atau informasi pribadi lainnya ke dalam layanan AI.

Guru perlu memeriksa kebijakan privasi layanan yang digunakan dan mengikuti aturan perlindungan data yang berlaku. Jika ingin menggunakan AI untuk membantu menganalisis hasil belajar, gunakan data yang telah diminimalkan atau dianonimkan sesuai kebutuhan.

### D. Kesenjangan akses teknologi

Tidak semua sekolah memiliki jaringan internet yang stabil, perangkat yang memadai, atau kemampuan untuk menggunakan layanan AI berbayar.

Masa depan pendidikan yang baik harus tetap memperhatikan keadilan. Siswa yang tidak memiliki akses teknologi tidak boleh kehilangan kesempatan belajar.

Guru perlu menyesuaikan pembelajaran dengan kondisi sekolah dan menyediakan alternatif kegiatan yang dapat dilakukan tanpa perangkat digital.

### 6\. Guru seperti apa yang dibutuhkan pada masa depan?

Menurut Omjay, guru masa depan bukanlah guru yang harus mengetahui semua hal tentang teknologi. Guru masa depan adalah guru yang mau terus belajar, berani mencoba hal baru, dan mampu membimbing siswa menggunakan teknologi secara bijaksana.

Guru perlu mengembangkan setidaknya lima kemampuan berikut.

* Literasi digital. Memahami cara kerja teknologi, manfaatnya, dan risikonya.

* Berpikir kritis. Memeriksa informasi dan tidak mudah percaya pada setiap jawaban AI.

* Kreativitas. Merancang kegiatan pembelajaran yang menarik dan sesuai kebutuhan siswa.

* Komunikasi dan empati. Mendengarkan siswa serta membangun hubungan yang sehat.

* Etika digital. Menghargai privasi, hak cipta, kejujuran, dan tanggung jawab.

Guru tidak harus menjadi ahli AI dalam satu malam. Kita dapat belajar secara bertahap, dimulai dari satu alat, satu kegiatan, dan satu pengalaman baru.

Jangan malu bertanya. Jangan takut mencoba. Jika menemui kesalahan, jadikan kesalahan itu sebagai bahan pembelajaran.

### 7\. Contoh praktik sederhana: Menggunakan AI untuk pembelajaran

Mari kita mencoba sebuah contoh yang bisa diterapkan oleh guru.

Seorang guru Informatika kelas VIII ingin mengajarkan keamanan digital. Ia dapat menggunakan AI untuk membantu menyusun rancangan pembelajaran.

Contoh perintah atau prompt:

> Saya seorang guru Informatika kelas VIII SMP. Bantu saya menyusun kegiatan pembelajaran selama 40 menit tentang keamanan kata sandi dan phishing. Gunakan bahasa sederhana, berikan satu studi kasus yang dekat dengan kehidupan siswa, lima pertanyaan diskusi, dan satu tugas refleksi. Pastikan kegiatan mendorong siswa berpikir kritis dan tidak meminta mereka membagikan kata sandi pribadi.

Setelah mendapatkan jawaban, guru memeriksa apakah materinya benar, apakah contoh kasusnya sesuai usia siswa, dan apakah kegiatan tersebut aman dilakukan di kelas.

Guru kemudian menambahkan pengalaman mengajar, kondisi siswa, serta pendekatan yang sesuai dengan lingkungan sekolahnya.

Dengan demikian, AI membantu menyiapkan bahan awal, sedangkan guru tetap memegang kendali atas tujuan, isi, metode, dan evaluasi pembelajaran.

### 8\. Masa depan pendidikan: Berkolaborasi, bukan sekadar berkompetisi dengan AI

Bapak dan Ibu guru yang berbahagia, kita tidak perlu melihat AI semata-mata sebagai ancaman. Teknologi ini dapat menjadi kesempatan untuk memperbaiki proses pembelajaran, membuka ruang kreativitas, dan membantu guru mengembangkan kompetensi.

Namun, kita juga tidak boleh menerima semua perkembangan teknologi tanpa pertimbangan. Setiap alat perlu dinilai berdasarkan manfaat, risiko, keadilan, dan kesesuaiannya dengan tujuan pendidikan.

Bayangkan sebuah kelas pada masa depan. Siswa menggunakan AI untuk mengeksplorasi ide, tetapi mereka tetap berdiskusi, melakukan percobaan, membaca buku, menulis refleksi, dan bekerja sama. Guru tidak hanya memeriksa hasil akhir, tetapi juga mendampingi proses berpikir dan perkembangan karakter siswa.

Itulah masa depan pendidikan yang patut kita perjuangkan: pendidikan yang memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.

Bagi peserta KBMN PGRI Gelombang 35, hal ini juga berlaku dalam kegiatan menulis. Kita boleh memanfaatkan AI untuk menemukan ide, menyusun kerangka, dan memperbaiki ejaan. Namun, jangan sampai kebiasaan menggunakan AI membuat kita berhenti mengamati kehidupan, mendengarkan cerita orang lain, dan menuliskan pengalaman sendiri.

Tulisan yang bermakna tidak hanya dinilai dari susunan katanya, tetapi juga dari kejujuran, kedalaman pemikiran, dan manfaat yang diberikan kepada pembaca.

### 9\. Pertanyaan refleksi untuk peserta

Silakan Bapak dan Ibu menjawab pertanyaan berikut dalam hati atau melalui diskusi bersama peserta lainnya.

* Apa pengalaman pertama Anda menggunakan AI untuk kegiatan mengajar atau menulis?

* Manfaat apa yang paling Anda rasakan ketika menggunakan AI?

* Pernahkah Anda menemukan jawaban AI yang kurang tepat? Bagaimana Anda menyikapinya?

* Apa yang harus tetap dilakukan manusia meskipun teknologi AI semakin canggih?

* Bagaimana cara mengajarkan siswa agar menggunakan AI secara jujur dan bertanggung jawab?

Tidak ada jawaban yang harus sama. Setiap guru memiliki pengalaman dan sudut pandang yang berbeda. Justru perbedaan pengalaman itulah yang dapat memperkaya tulisan kita.

### 10\. Tugas menulis pertemuan ke-18

### Tugas Bahagia: AI dan Masa Depan Pendidikan

KBMN PGRI Gelombang 35 — Pertemuan ke-18

Judul tulisan: Bebas dan menarik, sesuai pengalaman masing-masing.

Tema: AI dan Masa Depan Pendidikan.

Panjang tulisan: 300–500 kata.

Bentuk tulisan: Artikel reflektif berdasarkan pengalaman, pengamatan, atau pendapat pribadi.

Panduan isi tulisan:

* Ceritakan pengalaman atau pandangan Anda tentang AI.

* Jelaskan manfaat AI bagi guru, siswa, atau kegiatan menulis.

* Ceritakan tantangan atau kekhawatiran yang Anda rasakan.

* Sampaikan harapan Anda terhadap masa depan pendidikan.

* Tutup tulisan dengan pesan inspiratif bagi guru dan siswa.

Publikasi: Unggah tulisan di blog pribadi atau media yang digunakan dalam kegiatan KBMN PGRI, kemudian bagikan tautannya di grup sesuai arahan panitia.

Target belajar: Menghasilkan satu tulisan yang jujur, sederhana, dan bermanfaat. Tidak harus sempurna. Yang penting, selesai, berani dibagikan, dan terus diperbaiki.

### Contoh pilihan judul

* AI Tidak Menggantikan Guru, tetapi Mengajak Guru Terus Belajar

* Ketika Saya Mulai Mengenal Kecerdasan Artifisial

* Masa Depan Pendidikan di Tangan Guru yang Mau Berubah

* Belajar Menulis Bersama AI tanpa Kehilangan Suara Hati

* Antara Kecanggihan Teknologi dan Ketulusan Seorang Guru

* Murid Saya, AI, dan Pelajaran tentang Kejujuran

* Menjadi Guru di Tengah Perubahan Zaman

### Latihan menulis selama 15 menit

Agar tugas terasa ringan, lakukan langkah berikut.

* Lima menit pertama: tuliskan pengalaman atau pendapat tentang AI tanpa takut salah.

* Lima menit berikutnya: tambahkan contoh nyata, tantangan, atau harapan.

* Lima menit terakhir: buat judul, tulis kesimpulan, dan periksa kembali tulisan.

Jika ingin menggunakan AI, mintalah bantuan untuk mengembangkan kerangka atau memeriksa ejaan. Jangan memasukkan pengalaman yang tidak pernah terjadi hanya agar tulisan terlihat menarik.

### 11\. Rubrik penilaian sederhana

| Aspek                             | Bobot |
| --------------------------------- | ----- |
| Kesesuaian dengan tema            | 25    |
| Keaslian pengalaman dan pemikiran | 30    |
| Kejelasan isi dan alur tulisan    | 25    |
| Refleksi dan manfaat bagi pembaca | 20    |
| Total                             | 100   |

Rubrik ini dapat digunakan sebagai panduan belajar, bukan untuk membuat peserta takut menulis. Berikan apresiasi terhadap keberanian mencoba, kejujuran, dan kemajuan setiap peserta. Ingat, tujuan KBMN bukan hanya menghasilkan tulisan yang bagus, tetapi juga membangun kebiasaan menulis.

### 12\. Penutup: Teknologi boleh canggih, hati tetap menjadi kompas

Bapak dan Ibu guru hebat, masa depan pendidikan sedang berubah. AI akan terus berkembang, berbagai pekerjaan akan menjadi lebih mudah, dan cara kita memperoleh pengetahuan akan semakin beragam. Namun, perubahan itu tidak berarti guru kehilangan perannya.

Guru tetap dibutuhkan untuk menanamkan nilai, membangun karakter, memberikan teladan, serta menuntun siswa memahami makna pengetahuan dalam kehidupan nyata.

Begitu pula dengan menulis. Jangan menunggu menjadi penulis hebat untuk mulai menulis. Tulislah pengalaman sederhana hari ini. Bisa tentang siswa yang membuat kita tersenyum, kesalahan yang memberikan pelajaran, atau teknologi yang mengubah cara kita mengajar.

Dari pengalaman sederhana itulah lahir tulisan yang dapat menginspirasi orang lain.

Mari kita jadikan AI sebagai sahabat belajar, bukan pengganti pikiran. Jadikan teknologi sebagai alat untuk berkarya, bukan alasan untuk berhenti berusaha. Teruslah membaca, menulis, berbagi, dan menginspirasi.

Pesan Omjay untuk peserta KBMN PGRI Gelombang 35:

> “Masa depan pendidikan bukan hanya tentang seberapa canggih teknologi yang kita gunakan, melainkan tentang seberapa bijaksana kita mendidik manusia. AI dapat membantu kita menulis lebih cepat, tetapi pengalaman, kejujuran, dan hati kitalah yang membuat tulisan menjadi bermakna.”

Mari kita tutup pertemuan ini dengan tiga semangat sederhana:

Belajar dengan gembira. Menulis dengan hati. Menggunakan AI dengan bijaksana.

Salam blogger persahabatan.

Salam literasi dari Omjay, Guru Blogger Indonesia.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.