Kisah Omjay di ICANN87 Bali: Belajar dari 12 Anak Muda yang Menyiapkan Masa Depan Internet Dunia
Dari ruang konferensi di Bali, seorang guru Informatika belajar bahwa masa depan internet bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang manusia, kepercayaan, dan kesempatan untuk berbagi.
Oleh: Wijaya Kusumah (Omjay), Guru Blogger Indonesia
BALI — Ada perjalanan yang tidak hanya membawa kita berpindah tempat, tetapi juga mengubah cara kita memandang dunia.
Bagi saya, perjalanan ke Bali untuk mengikuti ICANN87 Annual General Meeting pada 17–22 Oktober 2026 merupakan salah satu kesempatan berharga untuk terus belajar. Saya datang bukan hanya sebagai peserta kegiatan internasional, melainkan juga sebagai guru Informatika SMP Labschool Jakarta yang ingin membawa pulang ilmu dan pengalaman baru untuk dibagikan kepada murid-murid, sesama guru, dan masyarakat Indonesia.
Sebelum berangkat, saya membayangkan bahwa pertemuan internasional seperti ini akan dipenuhi istilah teknis, pembahasan jaringan komputer, dan diskusi yang mungkin hanya dipahami oleh para ahli teknologi. Namun, ketika mulai membaca materi dan mengenal berbagai topik yang dibahas, saya menyadari bahwa persoalan internet ternyata sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.
Setiap kali membuka situs web, mengirim email, menggunakan media sosial, atau meminta bantuan kecerdasan buatan, kita sebenarnya sedang menjadi bagian dari ekosistem internet global.
Di balik kemudahan tersebut, ada sistem, aturan, organisasi, dan kerja sama internasional yang perlu terus dijaga.
Itulah salah satu pelajaran yang ingin saya dalami selama berada di Bali.
Dari Jakarta menuju Bali, membawa semangat seorang guru pembelajar
Perjalanan ini terasa istimewa bagi saya. Sebagai guru yang sudah puluhan tahun mengajar, saya memahami bahwa dunia pendidikan terus berubah. Apa yang kita ajarkan hari ini mungkin membutuhkan penyesuaian pada masa mendatang.
Teknologi berkembang begitu cepat. Kecerdasan artifisial mulai digunakan dalam berbagai bidang pekerjaan. Keamanan digital menjadi perhatian penting. Sementara itu, internet telah menjadi bagian dari kegiatan belajar, bekerja, berkomunikasi, dan membangun hubungan antarmanusia.
Karena itulah, guru perlu terus belajar.
Saya berangkat dari Jakarta menuju Bali dengan semangat untuk menambah wawasan. Setelah tiba di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, saya melanjutkan perjalanan untuk mengikuti rangkaian kegiatan ICANN87.
Bagi saya, mengikuti forum internasional bukan semata-mata tentang hadir di sebuah acara bergengsi. Yang lebih penting adalah bagaimana pengetahuan yang diperoleh dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan.
Saya ingin pengalaman ini menjadi bahan tulisan. Sebab, sebagai blogger sejak 2007, saya percaya bahwa pengalaman yang dituliskan dapat menjangkau lebih banyak orang.
Tidak semua guru mempunyai kesempatan menghadiri forum internasional. Namun, melalui tulisan, pengalaman belajar dapat dibagikan kepada siapa saja, termasuk guru yang sedang mengajar di sekolah-sekolah di berbagai daerah Indonesia.
Memahami IROS dan IANA: Ada sistem besar di balik internet
Salah satu sesi yang menarik perhatian saya dalam agenda ICANN87 adalah How It Works: IROS and IANA, yang dijadwalkan pada Sabtu, 17 Oktober 2026.
Sesi semacam ini membantu peserta memahami bagaimana bagian-bagian penting dari ekosistem internet bekerja dan saling mendukung.
Saya semakin menyadari bahwa internet tidak muncul begitu saja. Di balik sebuah nama domain yang kita ketik pada peramban, terdapat sistem yang membantu menghubungkan nama tersebut dengan alamat IP yang dibutuhkan untuk berkomunikasi melalui jaringan.
IANA, atau Internet Assigned Numbers Authority, menjalankan fungsi koordinasi penting dalam pengelolaan sumber daya pengenal unik internet. Tugasnya mencakup koordinasi zona akar DNS, alokasi blok alamat IP kepada registri internet regional, serta pengelolaan sejumlah parameter protokol.
Sementara itu, pembahasan mengenai IROS dalam sesi tersebut menjadi bagian dari kesempatan belajar tentang ekosistem internet.
Bagi saya sebagai guru Informatika, pemahaman ini sangat berharga. Murid-murid tidak cukup hanya diajarkan cara menggunakan internet. Mereka juga perlu mengenal cara kerja jaringan, sistem nama domain, alamat IP, keamanan informasi, dan tanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi.
Internet yang kita gunakan setiap hari ternyata dibangun melalui kerja sama banyak pihak.
Dari sinilah saya belajar bahwa kemajuan teknologi bukan hanya soal perangkat yang semakin canggih. Ada manusia, pengetahuan, aturan, dan tanggung jawab yang harus berjalan bersama.
Mengenal NextGen@ICANN87: Generasi muda dengan gagasan besar
Ketika membaca buku informasi peserta NextGen@ICANN87, perhatian saya tertuju pada profil anak-anak muda dari berbagai negara.
Program NextGen@ICANN memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk mengenal tata kelola internet dan menyampaikan gagasan mengenai persoalan yang mereka minati. Dalam informasi yang saya baca, setiap peserta dijadwalkan menyampaikan presentasi selama sepuluh menit.
Saya menemukan 12 profil peserta pada dua halaman buku informasi tersebut.
Mereka berasal dari Lebanon, Vietnam, India, Nepal, Fiji, Tiongkok, Filipina, dan Kuwait. Latar belakang pendidikan serta bidang minat mereka berbeda-beda, tetapi semuanya memperlihatkan betapa luasnya persoalan internet yang perlu dipahami generasi muda.
Ada yang membahas keamanan DNS, penerapan IPv6, akses internet yang inklusif, identitas digital, hingga hubungan antara kecerdasan artifisial dan tata kelola internet.
Saya pun berpikir, alangkah baiknya jika semakin banyak pelajar Indonesia mendapat kesempatan mengenal persoalan-persoalan tersebut sejak dini.
Berikut beberapa gagasan menarik dari 12 peserta yang tercantum dalam buku informasi NextGen@ICANN87.
1. Ismail Ahmed dari Tiongkok: Membangun kepercayaan terhadap internet
Ismail Ahmed berasal dari University of Science and Technology of China dan memiliki minat pada diplomasi siber.
Ia dijadwalkan membawakan presentasi berjudul DNS Trust, Cybersecurity, and Cross-Border Digital Growth: Strengthening the Future of the Global Internet.
Topik tersebut membahas kepercayaan terhadap DNS, keamanan siber, dan pertumbuhan digital lintas negara.
DNS atau Domain Name System merupakan sistem yang membantu menerjemahkan nama domain menjadi informasi alamat IP yang diperlukan agar perangkat dapat berkomunikasi melalui internet.
Keamanan DNS sangat penting karena gangguan atau manipulasi terhadap sistem ini dapat memengaruhi akses pengguna ke layanan digital.
Saya melihat bahwa keamanan internet bukan hanya urusan satu negara. Ancaman siber dapat melintasi batas wilayah sehingga membutuhkan kerja sama internasional.
2. Anuja Gyawali dari Nepal: Membangun DNS yang aman
Anuja Gyawali berasal dari IOE Pulchowk Engineering Campus, Nepal. Ia memiliki minat pada teknik komputer.
Topik presentasinya adalah Building a Secure and Trusted DNS: Addressing DNS Abuse and Advancing DNSSEC.
DNSSEC merupakan teknologi yang menggunakan tanda tangan digital untuk membantu memverifikasi keaslian data DNS.
Pembahasan ini mengingatkan saya bahwa kepercayaan di dunia digital harus dibangun melalui sistem yang dapat diandalkan.
Murid-murid juga perlu memahami bahwa sebuah situs yang terlihat meyakinkan belum tentu aman. Mereka harus belajar memeriksa alamat situs, menjaga informasi pribadi, dan berhati-hati ketika menerima tautan yang mencurigakan.
3. Dean Mark Molde dari Filipina: Masa depan IPv6
Dean Mark Molde berasal dari Southville International School and Colleges, Filipina. Ia memiliki minat pada teknologi informasi.
Ia dijadwalkan membahas IPv6 Adoption in the Philippines: Challenges, Opportunities, and Multistakeholder Collaboration.
IPv6 merupakan versi protokol internet yang menyediakan ruang alamat IP jauh lebih besar dibandingkan IPv4.
Perkembangan perangkat yang terhubung ke internet membuat kebutuhan akan alamat IP terus bertambah. Karena itu, penerapan IPv6 menjadi bagian penting dari perkembangan infrastruktur internet.
Topik ini memberikan pelajaran bahwa perubahan teknologi membutuhkan kesiapan infrastruktur, sumber daya manusia, dan kerja sama berbagai pihak.
4. Walaa Jamaluddin dari Kuwait: Internet yang memahami keberagaman bahasa
Walaa Jamaluddin berasal dari Kuwait University dan mendalami teknik komputer.
Presentasinya berjudul Security Implications of IDNs and EAI, and The Role of ICANN.
IDN atau Internationalized Domain Names memungkinkan nama domain menggunakan karakter dari berbagai sistem tulisan. Sementara itu, EAI atau Email Address Internationalization memungkinkan alamat email menggunakan karakter yang lebih beragam, termasuk karakter non-Latin.
Gagasan ini penting bagi masyarakat dunia yang menggunakan berbagai bahasa.
Indonesia memiliki kekayaan bahasa dan budaya. Internet yang inklusif perlu memberikan kesempatan kepada masyarakat dengan latar belakang berbeda untuk berpartisipasi dalam dunia digital.
5. Siddhant Pant dari Nepal: Menghubungkan pendidikan dengan tata kelola internet
Siddhant Pant berasal dari Tribhuvan University, Nepal. Ia memiliki minat pada teknik komputer.
Ia akan membahas Bridging Higher Education to Global Governance: Bringing ICANN into Academia.
Topik ini sangat dekat dengan dunia pendidikan.
Perguruan tinggi dan sekolah tidak cukup hanya mengajarkan keterampilan teknis. Peserta didik juga perlu memahami kebijakan internet, etika digital, keamanan informasi, serta tanggung jawab sosial dalam menggunakan teknologi.
Sebagai guru Informatika, saya berharap pembelajaran di sekolah semakin terhubung dengan persoalan nyata di masyarakat.
6. Amrutha M dari India: Ketika AI menjadi bagian dari ekosistem internet
Amrutha M berasal dari Indian Institute of Information Technology dan memiliki minat pada jejaring komputer serta hubungan internasional.
Ia dijadwalkan membawakan presentasi When AI Becomes an Internet Actor: Rethinking DNS, Trust and Governance in the Agentic Internet.
Topik ini sangat relevan dengan perkembangan kecerdasan artifisial.
AI kini berkembang dari sekadar alat untuk menjawab pertanyaan menjadi sistem yang dapat menjalankan berbagai tugas berdasarkan instruksi dan tujuan tertentu.
Perkembangan tersebut memunculkan pertanyaan tentang keamanan, kepercayaan, dan tanggung jawab.
Bagaimana sistem AI berinteraksi dengan layanan internet? Bagaimana risiko penyalahgunaan dikendalikan? Siapa yang bertanggung jawab apabila terjadi kesalahan?
Pertanyaan semacam ini perlu menjadi bahan diskusi para pendidik, pengembang teknologi, dan pembuat kebijakan.
7. Loulwa Ramadan dari Lebanon: Mengenali nama domain yang asli
Loulwa Ramadan berasal dari Lebanese American University, Lebanon. Ia memiliki minat pada teknologi dan bioinformatika.
Topik presentasinya adalah Can You Spot the Real Domain Name in 5 Seconds?
Pertanyaan ini mengajak pengguna internet untuk mengenali nama domain asli di antara alamat-alamat yang terlihat mirip.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menerima tautan melalui email, media sosial, atau aplikasi percakapan. Sebagian tautan dapat mengarahkan pengguna ke situs palsu yang dirancang untuk mencuri informasi.
Bagi saya, keterampilan mengenali situs yang mencurigakan perlu diajarkan kepada murid sejak dini.
Literasi digital bukan hanya tentang mampu menggunakan aplikasi, tetapi juga mampu melindungi diri ketika berada di ruang digital.
8. Duy Dang Cong dari Vietnam: Membangun internet yang inklusif
Duy Dang Cong berasal dari Duy Tan University, Vietnam.
Ia dijadwalkan membahas Universal Acceptance (UA) & Email Address Internationalization (EAI): Breaking Digital Barriers & Building an Inclusive Internet for All.
Universal Acceptance berkaitan dengan kemampuan sistem menerima dan memproses nama domain serta alamat email yang sah dengan format dan karakter yang beragam.
Sementara itu, EAI memungkinkan alamat email menggunakan karakter non-Latin.
Pembahasan ini mengingatkan saya bahwa teknologi seharusnya membantu manusia mengatasi hambatan, bukan menciptakan hambatan baru.
Internet perlu semakin ramah bagi masyarakat dari berbagai bahasa dan latar belakang.
9. Jigmet Dolker dari India: Mengatasi kesenjangan digital
Jigmet Dolker berasal dari National Forensic Sciences University, India. Ia memiliki minat pada forensik digital.
Presentasinya berjudul At the Edge of the Internet: Digital Exclusion, IDNs, and Meaningful Access in Himalayan Border Communities.
Topik ini membahas kesenjangan digital dan akses internet yang bermakna bagi masyarakat di wilayah perbatasan Himalaya.
Kita perlu menyadari bahwa keberadaan jaringan internet belum tentu membuat semua masyarakat memperoleh manfaat yang sama.
Ada masyarakat yang memiliki koneksi cepat, perangkat memadai, dan kemampuan digital yang baik. Namun, ada pula masyarakat yang masih menghadapi keterbatasan jaringan, biaya, perangkat, maupun keterampilan.
Indonesia juga perlu terus memperhatikan pemerataan akses dan pendidikan digital agar semakin banyak masyarakat dapat menikmati manfaat teknologi.
10. Amrita Adhikari dari Nepal: Mengapa pengalaman menggunakan internet bisa berbeda?
Amrita Adhikari berasal dari Gandaki College of Engineering and Science, Nepal. Ia memiliki minat pada teknik komputer.
Topik presentasinya adalah One Country, Two Internets: How DNS Inequality Shapes Digital Access in Nepal.
Judul ini mengajak kita memikirkan bagaimana ketimpangan dalam ekosistem DNS dapat memengaruhi pengalaman dan akses digital masyarakat.
Bagi sebagian orang, internet membuka peluang belajar, bekerja, dan berusaha. Bagi sebagian lainnya, keterbatasan akses dapat menghambat kesempatan tersebut.
Saya berharap anak-anak Indonesia, di kota maupun di daerah, mendapatkan kesempatan yang semakin merata untuk mempelajari teknologi dan mengembangkan kemampuan digital.
11. Naayaab Bin Sarfraaz dari Fiji: Memperluas partisipasi kawasan Pasifik
Naayaab Bin Sarfraaz berasal dari University of the South Pacific, Fiji. Ia memiliki minat pada teknik elektro dan elektronika.
Ia dijadwalkan membahas Pacific Access to ICANN’s 2026 New gTLD Round.
Topik tersebut berkaitan dengan akses masyarakat kawasan Pasifik terhadap putaran baru program gTLD pada 2026. Program ini memberikan kesempatan untuk mengajukan nama domain tingkat atas baru sesuai persyaratan yang berlaku.
Pembahasan ini memperlihatkan pentingnya memberikan kesempatan kepada berbagai wilayah untuk berpartisipasi dalam perkembangan internet global.
Tata kelola internet membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk negara dan komunitas yang mungkin menghadapi keterbatasan sumber daya.
12. Sanjina Kshetri dari Nepal: Menjaga kepercayaan terhadap nama domain
Sanjina Kshetri berasal dari Tribhuvan University, Nepal. Ia memiliki minat pada hukum siber dan hukum komersial.
Presentasinya berjudul Addressing DNS Abuse and Trademark Misuse: What Can ICANN Do to Strengthen Trust in the Domain Name System?
Topik ini membahas penyalahgunaan DNS dan merek dagang serta upaya memperkuat kepercayaan terhadap sistem nama domain.
Nama domain merupakan bagian penting dari identitas sebuah situs. Penyalahgunaan nama domain dapat membingungkan pengguna dan berpotensi merugikan pemilik merek maupun masyarakat.
Persoalan ini menunjukkan bahwa internet tidak hanya membutuhkan ahli teknologi. Ahli hukum, pendidik, pemerintah, industri, dan masyarakat juga perlu berkolaborasi.
Apa yang saya pelajari dari 12 peserta NextGen@ICANN87?
Setelah membaca profil kedua belas peserta tersebut, saya semakin yakin bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam membangun masa depan internet.
Mereka membawa berbagai gagasan tentang keamanan, akses, infrastruktur, identitas digital, hukum, dan kecerdasan artifisial.
Saya tidak harus memahami seluruh persoalan tersebut sekaligus. Namun, sebagai guru, saya perlu terus membuka diri untuk belajar dan mencari tahu.
Ada satu pelajaran yang terasa sangat penting bagi saya: guru tidak boleh berhenti belajar hanya karena sudah lama mengajar.
Pengalaman puluhan tahun memang berharga, tetapi pengalaman perlu terus diperkaya dengan pengetahuan baru.
Jika dunia berubah, cara kita mengajar juga perlu berkembang. Murid-murid membutuhkan guru yang bukan hanya menguasai materi, tetapi juga mampu menghubungkan pelajaran dengan kehidupan nyata.
Dari Bali untuk murid-murid SMP Labschool Jakarta
Sebagai guru Informatika di SMP Labschool Jakarta, saya ingin membawa pulang semangat belajar yang saya dapatkan dari ICANN87.
Saya ingin murid-murid memahami bahwa Informatika bukan sekadar pelajaran tentang komputer. Informatika juga mengajarkan cara berpikir, memecahkan masalah, mengelola data, memahami jaringan, serta menggunakan teknologi dengan bertanggung jawab.
Ketika mengajarkan AI, misalnya, saya ingin murid tidak hanya belajar membuat perintah atau menghasilkan karya dengan bantuan kecerdasan artifisial. Mereka juga perlu memahami keterbatasan AI, memeriksa kebenaran informasi, menghargai karya orang lain, dan menjaga privasi.
Ketika mengajarkan internet, saya ingin mereka mengenal jaringan komputer, alamat IP, DNS, keamanan digital, dan etika berkomunikasi.
Dengan demikian, pembelajaran tidak berhenti pada teori di dalam buku. Murid dapat melihat hubungan antara pelajaran di sekolah dan persoalan yang dibahas dalam forum internasional.
Siapa tahu, suatu hari nanti ada murid Indonesia yang menjadi peserta NextGen@ICANN. Mereka mungkin akan datang dari SMP Labschool Jakarta atau sekolah lain di berbagai daerah Indonesia.
Mereka bisa saja menjadi ahli keamanan siber, peneliti AI, pengembang perangkat lunak, atau pemimpin yang ikut menentukan arah tata kelola internet dunia.
Impian itu layak diperjuangkan melalui pendidikan yang bermutu dan kesempatan belajar yang terbuka bagi semua.
Menulis sebagai cara berbagi pengalaman
Ada satu hal yang selalu saya lakukan setelah mendapatkan pengalaman baru, yaitu menulis.
Sejak membangun blog pada 2007, saya belajar bahwa menulis membantu kita mengingat, memahami, dan membagikan pengalaman kepada orang lain.
Pengalaman mengikuti ICANN87 di Bali pun ingin saya dokumentasikan agar tidak berhenti sebagai kenangan pribadi.
Saya ingin pembaca Indonesia, terutama para guru, memperoleh gambaran tentang pentingnya tata kelola internet dan keterlibatan generasi muda dalam perkembangan teknologi global.
Tidak semua orang harus menjadi ahli jaringan komputer untuk memahami pentingnya internet yang aman dan tepercaya. Tidak semua guru harus menjadi pakar AI untuk mengajarkan penggunaan teknologi secara bijaksana.
Namun, kita semua dapat memulai dengan kemauan untuk belajar, keberanian untuk bertanya, dan kesediaan untuk berbagi.
Bagi saya, itulah makna menjadi guru pembelajar.
Penutup: Belajar dari dunia, berbagi untuk negeri
Pengalaman mengikuti ICANN87 di Bali memberikan kesempatan bagi saya untuk memperluas wawasan tentang ekosistem internet global dan mengenal gagasan generasi muda dari berbagai negara.
Dari pembahasan IROS dan IANA hingga profil 12 peserta NextGen@ICANN87, saya memperoleh banyak bahan untuk direnungkan sebagai guru Informatika dan penulis.
Saya semakin menyadari bahwa masa depan internet tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi. Masa depan internet juga ditentukan oleh manusia yang mengembangkannya, aturan yang menjaganya, serta nilai-nilai yang menjadi landasan penggunaannya.
Kita perlu mempersiapkan generasi muda agar mampu memanfaatkan teknologi sekaligus memahami tanggung jawab di baliknya.
Mari kita jadikan sekolah sebagai tempat tumbuhnya rasa ingin tahu, kreativitas, dan kepedulian terhadap persoalan dunia.
Mari kita ajarkan kepada anak-anak bahwa menjadi cerdas bukan hanya tentang mampu menggunakan teknologi, tetapi juga tentang mampu menggunakannya untuk kebaikan.
Dari Bali, saya membawa pulang sebuah pengingat sederhana: belajar tidak mengenal batas negara, berbagi ilmu tidak mengenal jarak, dan menjadi guru berarti bersedia terus bertumbuh.
Semoga pengalaman ini menjadi inspirasi bagi saya untuk terus belajar dan berbagi, serta bagi para pendidik Indonesia untuk mempersiapkan generasi yang mampu mengambil bagian dalam masa depan digital dunia.
Belajar dari dunia, berbagi untuk Indonesia, dan mengajar dengan hati.
Salam Blogger Persahabatan.
Wijaya Kusumah (Omjay)
Guru Informatika SMP Labschool Jakarta
Guru Blogger Indonesia
Menulislah dengan hati, berbagi ilmu dengan tulus, dan jadilah guru pembelajar sepanjang hayat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.