Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay Guru Blogger Indonesia)
Bismillahirrahmanirrahim.
Pagi itu udara terasa begitu segar. Matahari baru saja menyapa bumi dengan sinarnya yang hangat. Setelah beberapa hari terakhir disibukkan dengan aktivitas mengajar, menulis, dan berbagai kegiatan organisasi, hari itu saya memilih menikmati suasana rumah dengan cara yang berbeda. Saya ingin belajar berkebun.
Sudah lama sebenarnya saya memiliki keinginan menanam sayuran sendiri di halaman rumah. Selain sebagai hobi baru, saya juga berharap dapat menikmati sayuran segar hasil tangan sendiri. Apalagi setelah mengalami berbagai ujian kesehatan, saya semakin menyadari pentingnya mengonsumsi makanan sehat setiap hari.
Hari itu saya memulai langkah kecil dengan menanam bayam unggul.
Sebelum mulai bekerja, saya mengangkat kedua tangan sambil berdoa.
"Bismillah. Ya Allah, semoga tanaman ini tumbuh subur, membawa keberkahan, dan menjadi pengingat bahwa setiap usaha yang baik akan Engkau tumbuhkan pada waktunya."
Saya tidak sendiri. Ada seseorang yang dengan sabar membimbing saya, yaitu Mang Sukirno, sahabat yang berasal dari Kuningan, Jawa Barat. Beliau sudah lama terbiasa bercocok tanam sehingga banyak ilmu praktis yang saya pelajari darinya.
"Pak Omjay, tanahnya jangan terlalu padat. Benih bayam itu kecil, jadi cukup ditabur tipis saja," katanya sambil tersenyum.
Saya mengikuti setiap arahan beliau. Mulai dari menggemburkan tanah, membersihkan rumput liar, mencampurkan pupuk organik, hingga menaburkan benih bayam secara merata. Ternyata berkebun tidak sesederhana yang saya bayangkan. Ada teknik, ada ketelitian, dan tentu saja ada kesabaran.
Mang Sukirno berkali-kali mengingatkan bahwa tanaman tidak bisa dipaksa tumbuh.
"Yang penting dirawat setiap hari. Disiram secukupnya, jangan berlebihan. Insya Allah nanti tumbuh sendiri."
Kalimat sederhana itu langsung mengingatkan saya pada dunia pendidikan.
Bukankah mendidik anak juga demikian?
Guru tidak bisa memaksa murid menjadi pintar dalam semalam. Orang tua pun tidak dapat memaksa anak menjadi dewasa hanya dengan sekali nasihat. Semua membutuhkan proses, perhatian, kasih sayang, dan doa yang tidak pernah putus.
Benih bayam yang saya taburkan pagi itu seolah menjadi simbol harapan. Hari ini mungkin belum terlihat hasilnya. Besok pun mungkin belum tampak perubahan. Namun jika dirawat dengan tekun, beberapa minggu lagi daun-daun hijau akan mulai bermunculan.
Begitulah kehidupan.
Setiap kebaikan yang kita tanam hari ini mungkin belum langsung kita petik hasilnya. Tetapi Allah tidak pernah menyia-nyiakan usaha hamba-Nya.
Saya teringat kebiasaan menulis setiap hari yang sudah saya lakukan bertahun-tahun. Dulu tulisan saya dibaca sedikit orang. Lama-kelamaan pembaca bertambah. Kemudian lahirlah buku-buku, komunitas menulis, pelatihan, hingga ribuan guru yang ikut belajar bersama.
Semuanya berawal dari satu benih kecil: kebiasaan menulis setiap hari.
Kini saya belajar bahwa berkebun pun memiliki filosofi yang sama.
Tanamlah yang baik.
Rawatlah dengan sabar.
Jangan bosan berdoa.
Lalu biarkan Allah yang menumbuhkannya.
Mang Sukirno juga bercerita bahwa seorang petani sejati tidak pernah marah ketika hujan datang atau matahari bersinar terik. Semua diterima sebagai bagian dari proses kehidupan.
Saya tersenyum mendengarnya.
Betapa sering manusia ingin hasil yang cepat, padahal alam mengajarkan bahwa segala sesuatu memiliki waktunya sendiri.
Sebelum mengakhiri kegiatan pagi itu, saya kembali melihat bedengan tempat benih bayam unggul telah ditanam.
Belum ada daun.
Belum ada batang.
Belum ada warna hijau.
Yang ada hanyalah keyakinan.
Keyakinan bahwa benih-benih kecil itu sedang bekerja di dalam tanah.
Demikian pula impian kita. Walaupun belum terlihat hasilnya, bukan berarti tidak sedang bertumbuh. Mungkin Allah sedang mempersiapkan waktu terbaik untuk memunculkannya.
Saya pulang ke dalam rumah dengan hati yang lebih tenang. Tangan memang sedikit kotor oleh tanah, tetapi hati terasa jauh lebih bersih.
Terima kasih, Mang Sukirno dari Kuningan, yang telah mengajarkan saya bahwa berkebun bukan sekadar menanam sayuran. Berkebun adalah belajar menghargai proses kehidupan.
Semoga bayam unggul yang kami tanam hari ini tumbuh subur, menghijau, dan kelak dapat dipanen bersama keluarga.
Lebih dari itu, semoga Allah juga menumbuhkan benih-benih kebaikan yang selama ini kita tanam dalam kehidupan.
Karena sesungguhnya, hidup adalah tentang apa yang kita tanam hari ini untuk kita petik di kemudian hari.
Bismillah... semoga bayamnya tumbuh subur. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.
Salam literasi, salam sehat, dan salam berkebun.
Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.
Blog https://wijayalabs.com
Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.