Ketika Setiap Langkah Menjadi Dzikir, Syukur, dan Sumber Inspirasi
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay – Guru Blogger Indonesia)
Pagi itu langit Cisauk masih diselimuti cahaya lembut ketika saya membuka pintu rumah. Jam di tangan baru menunjukkan sekitar pukul enam. Udara terasa begitu segar. Angin berembus perlahan, membawa aroma pepohonan yang basah oleh embun. Burung-burung berkicau riang seolah mengajak setiap orang untuk menyambut hari dengan penuh semangat.
Saya pun melangkahkan kaki menyusuri jalan-jalan yang rapi di sekitar Perumahan Springhill Yume Lagoon, Cisauk, Tangerang. Tidak ada target harus berjalan berapa kilometer. Tidak ada keinginan memecahkan rekor langkah. Saya hanya ingin menikmati pagi, mensyukuri kesehatan, dan berdialog dengan diri sendiri.
Sejak Allah menguji saya dengan diabetes dan gejala stroke beberapa waktu lalu, cara saya memandang hidup berubah. Dahulu saya sering menganggap sehat sebagai sesuatu yang biasa. Kini saya menyadari bahwa kesehatan adalah nikmat luar biasa yang sering baru disadari ketika mulai berkurang.
Karena itulah setiap pagi saya berusaha meluangkan waktu berjalan kaki. Langkah demi langkah menjadi bagian dari ikhtiar menjaga amanah tubuh yang Allah titipkan.
Sepanjang perjalanan, saya melihat begitu banyak pemandangan yang menyejukkan hati. Ada anak-anak yang bersepeda sambil tertawa lepas. Ada pasangan lansia yang berjalan berdampingan dengan senyum bahagia. Ada seorang ayah yang menggandeng putrinya sambil mengajarkan cara menyeberang jalan dengan benar. Ada pula para pekerja yang berangkat lebih awal dengan semangat mencari rezeki halal.
Saya menyadari bahwa setiap orang sedang berjalan pada jalan hidupnya masing-masing. Ada yang sedang mengejar cita-cita, ada yang sedang berjuang melawan penyakit, ada yang sedang membangun keluarga, dan ada pula yang sedang berusaha bangkit dari kegagalan.
Bukankah hidup memang seperti perjalanan pagi?
Yang penting bukan seberapa cepat kita sampai, melainkan apakah kita tetap melangkah dengan hati yang bersyukur.
Di tepi danau, saya berhenti sejenak. Permukaan air tampak tenang memantulkan cahaya matahari yang mulai menghangat. Saya duduk di bangku taman sambil menarik napas panjang.
Dalam keheningan itu saya berdoa.
"Ya Allah, terima kasih Engkau masih memberiku kesempatan menikmati pagi ini. Berilah kesehatan agar aku terus dapat mengajar, menulis, dan berbagi manfaat kepada sesama."
Saya percaya doa yang dipanjatkan dengan hati yang tulus akan selalu menemukan jalannya.
Saya lalu teringat perjalanan hidup saya sebagai guru. Lebih dari tiga dekade saya mengabdikan diri di dunia pendidikan. Banyak generasi telah saya temui. Ada yang kini menjadi dosen, dokter, pengusaha, programmer, guru, bahkan pemimpin di berbagai bidang.
Semua berawal dari ruang kelas.
Saya semakin yakin bahwa profesi guru adalah profesi yang tidak pernah berhenti menanam. Hasilnya mungkin baru terlihat bertahun-tahun kemudian.
Ketika berjalan melewati deretan pepohonan yang rindang, saya melihat bagaimana pohon-pohon itu tetap berdiri tegak. Mereka tidak pernah meminta pujian. Mereka hanya terus memberi keteduhan.
Dalam hati saya berkata, "Beginilah seharusnya seorang guru."
Mengajar bukan untuk mencari tepuk tangan. Mengajar adalah menebarkan manfaat. Seperti pohon yang terus memberi kesejukan kepada siapa saja yang singgah di bawahnya.
Semakin jauh berjalan, semakin banyak ide bermunculan. Saya memang sering mendapatkan inspirasi ketika berjalan kaki. Pikiran menjadi lebih jernih. Hati menjadi lebih tenang.
Tidak heran jika banyak tulisan saya lahir dari perjalanan sederhana seperti ini.
Saya teringat kalimat yang selalu saya sampaikan kepada para peserta Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN):
"Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi."
Kalimat itu bukan hanya slogan. Itu adalah pengalaman hidup saya sendiri. Saya belajar bahwa tulisan-tulisan kecil yang dibuat dengan konsisten dapat membuka pintu-pintu rezeki, memperluas persahabatan, dan meninggalkan jejak kebaikan.
Berjalan pagi juga mengajarkan saya tentang kesabaran. Tidak semua jalan lurus. Ada tanjakan, ada tikungan, ada jalan yang harus dilewati dengan lebih hati-hati.
Begitu pula kehidupan.
Kadang kita menghadapi kegagalan, kehilangan, atau ujian yang terasa berat. Namun selama kita terus melangkah dan tidak menyerah, selalu ada harapan di ujung perjalanan.
Saya juga bersyukur karena masih diberi kesempatan mendampingi keluarga, mengajar para siswa, menulis di Kompasiana, membina komunitas guru, dan berbagi pengalaman kepada banyak orang. Semua itu adalah anugerah yang tidak boleh disia-siakan.
Pagi semakin terang. Matahari mulai bersinar penuh. Saya merasakan keringat membasahi punggung, tetapi hati justru terasa ringan. Tubuh memang lelah, tetapi jiwa terasa segar.
Saya pulang sambil membawa satu pelajaran penting.
Kebahagiaan tidak selalu ditemukan di tempat-tempat mewah. Kebahagiaan sering hadir dalam langkah-langkah sederhana, dalam udara pagi yang sejuk, dalam sapaan tetangga, dalam senyum orang-orang yang kita temui, dan dalam rasa syukur yang tumbuh di hati.
Sesampainya di rumah, saya menyiapkan secangkir teh hangat. Laptop pun saya buka. Jari-jari mulai menari di atas papan ketik. Semua pengalaman pagi itu saya tuangkan menjadi tulisan.
Saya percaya, setiap perjalanan akan menjadi kenangan. Setiap kenangan akan menjadi cerita. Dan setiap cerita yang ditulis dengan hati akan menemukan pembacanya sendiri.
Semoga kita semua diberikan kesehatan untuk terus melangkah, kekuatan untuk terus berjuang, dan kesempatan untuk terus berbagi manfaat kepada sesama.
Jangan menunggu sehat untuk bersyukur. Bersyukurlah, maka semoga Allah menjaga kesehatan kita. Jangan menunggu waktu luang untuk berbuat baik. Mulailah dari hal-hal kecil yang dapat kita lakukan hari ini.
Mari terus berjalan, terus belajar, terus mengajar, dan terus menulis. Sebab setiap langkah yang kita ayunkan bisa menjadi amal, setiap ilmu yang kita bagikan bisa menjadi pahala, dan setiap tulisan yang menginspirasi dapat menjadi warisan yang tetap hidup meski kelak kita telah tiada.
Salam sehat. Salam literasi. Salam blogger Indonesia.
Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.
Blog https://wijayalabs.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.