Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Selasa, 14 Juli 2026

Perjuangan ketua Umum PB PGRI yang Luar Biasa

Menggugat Pemahaman, Menegaskan Perjuangan: Napas Panjang Perjuangan PGRI untuk Guru Indonesia

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Blog https://wijayalabs.com/about

Menjadi pemimpin organisasi profesi guru terbesar di Indonesia bukanlah pekerjaan yang mudah. Setiap hari ada harapan yang harus dijaga, ada aspirasi yang harus diperjuangkan, dan tidak sedikit kritik yang harus diterima dengan lapang dada. Di balik setiap keputusan yang diambil, terdapat proses panjang yang sering kali tidak terlihat oleh publik.

Dalam beberapa waktu terakhir, muncul berbagai komentar yang menyatakan bahwa PGRI tidak bekerja, bahkan ada yang menuduh organisasi ini hanya diam melihat berbagai persoalan yang dihadapi guru, terutama guru honorer dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Tuduhan seperti ini tentu menyakitkan, terutama bagi mereka yang setiap hari berada di garis depan memperjuangkan kebijakan pendidikan.

Padahal, perjuangan organisasi tidak selalu terlihat di media sosial. Banyak pertemuan resmi, rapat koordinasi, penyusunan naskah akademik, audiensi dengan kementerian, DPR RI, Badan Kepegawaian Negara, hingga diskusi panjang bersama para ahli hukum yang tidak pernah menjadi konsumsi publik. Semua dilakukan dengan satu tujuan, yaitu memperjuangkan masa depan guru Indonesia.

Di bawah kepemimpinan Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd., Ketua Umum PB PGRI, organisasi ini terus memilih jalan dialog, argumentasi ilmiah, dan advokasi kebijakan. Jalan ini memang tidak selalu menghasilkan keputusan secara instan, tetapi itulah cara yang bermartabat dalam memperjuangkan hak-hak guru.

Masih banyak yang lupa bahwa lahirnya skema PPPK bukan hadir begitu saja. Ketika Undang-Undang ASN mulai disusun, PGRI menjadi salah satu organisasi yang aktif menyampaikan berbagai masukan agar guru honorer memperoleh kepastian hukum yang lebih baik. Salah satu hasil perjuangan yang sering terlupakan adalah perubahan masa perjanjian kerja. Pada awal pembahasan, masa kontrak yang dirancang jauh lebih pendek dan menimbulkan ketidakpastian. Melalui berbagai masukan dan perjuangan panjang, akhirnya masa perjanjian kerja dapat diperpanjang sehingga memberikan rasa aman yang lebih baik bagi para guru.

Perjuangan itu tentu belum selesai. Ketika berbagai persoalan PPPK kembali muncul, mulai dari ketidakjelasan formasi, pengangkatan yang belum merata, hingga evaluasi kebijakan di berbagai daerah, PGRI kembali hadir. Organisasi ini terus menyampaikan aspirasi agar guru yang telah mengabdi bertahun-tahun tidak menjadi korban perubahan kebijakan.

Sayangnya, tidak semua orang melihat proses tersebut. Sebagian hanya melihat hasil akhirnya. Ketika hasil belum sesuai harapan, yang muncul adalah tudingan bahwa PGRI tidak bekerja.

Padahal, memperjuangkan kebijakan nasional tidak sama seperti membalikkan telapak tangan. Ada regulasi yang harus dihormati, ada mekanisme legislasi yang harus dilalui, ada kajian akademik yang harus dipersiapkan, dan ada kepentingan nasional yang harus dipertimbangkan. Semua itu membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan napas perjuangan yang panjang.

Sikap inilah yang selalu ditunjukkan oleh Ketua Umum PB PGRI. Berulang kali beliau menerima kritik, bahkan tidak jarang hujatan yang sangat keras. Namun, semuanya dijawab dengan kerja nyata, bukan dengan kemarahan.

Beliau pernah menggambarkan bahwa PGRI harus menjadi seperti lautan. Laut menerima semua aliran sungai, baik yang jernih maupun yang keruh. Laut tidak memilih siapa yang datang kepadanya. Begitu pula PGRI. Organisasi ini tetap membuka pintu bagi seluruh guru Indonesia, termasuk mereka yang sering mengkritik dengan kata-kata yang kurang pantas.

Filosofi tersebut bukan sekadar ungkapan. Itulah sikap yang terus dipraktikkan dalam kepemimpinan organisasi. Sebagai organisasi profesi, PGRI memahami bahwa setiap guru memiliki harapan, kekecewaan, bahkan kemarahan. Namun semuanya tetap dipandang sebagai bagian dari keluarga besar pendidikan Indonesia.

Dalam berbagai kesempatan, PGRI juga aktif memperjuangkan peningkatan anggaran pendidikan, termasuk memberikan masukan mengenai dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Setiap usulan yang disampaikan selalu didasarkan pada data lapangan, kajian akademik, dan kebutuhan nyata sekolah. Bukan sekadar tuntutan emosional, melainkan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Kini perjuangan memasuki babak yang lebih besar. Salah satu fokus utama yang terus didorong adalah revisi Undang-Undang ASN. Harapan besar yang diperjuangkan adalah menghadirkan sistem kepegawaian yang semakin memberikan kepastian bagi guru, termasuk penyempurnaan pengelolaan PPPK dan perlindungan profesi guru. Semua gagasan tersebut disusun melalui naskah akademik, diskusi dengan para pakar, serta komunikasi intensif dengan berbagai pemangku kepentingan.

Inilah perjuangan yang sering tidak terlihat. Tidak ada sorotan kamera ketika berjam-jam menyusun naskah akademik. Tidak ada tepuk tangan ketika berdiskusi hingga larut malam mencari rumusan terbaik. Tidak ada unggahan viral ketika menyampaikan argumentasi di hadapan para pengambil kebijakan. Namun pekerjaan itulah yang sesungguhnya menentukan arah masa depan pendidikan Indonesia.

Kita tentu boleh berbeda pendapat. Kritik juga merupakan bagian dari demokrasi. Namun kritik akan jauh lebih bermakna apabila didasarkan pada pemahaman yang utuh, bukan sekadar asumsi atau potongan informasi yang beredar di media sosial.

PGRI bukan organisasi yang sempurna. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Masih banyak guru yang menunggu keadilan. Masih banyak persoalan kesejahteraan yang harus diperjuangkan. Akan tetapi, mengatakan bahwa PGRI tidak melakukan apa-apa tentu tidak mencerminkan kenyataan.

Perjuangan organisasi adalah perjuangan maraton, bukan lari cepat. Kadang hasilnya baru terlihat setelah bertahun-tahun. Banyak kebijakan yang hari ini dinikmati guru merupakan hasil advokasi panjang yang dimulai jauh sebelumnya.

Karena itu, sudah saatnya seluruh guru Indonesia memperkuat persatuan. Perbedaan pandangan tidak seharusnya memecah barisan. Justru dalam kebersamaanlah suara guru akan semakin didengar oleh para pengambil kebijakan.

Sebagaimana yang terus dicontohkan oleh Ketua Umum PB PGRI, perjuangan tidak dibangun dengan kemarahan, melainkan dengan keteguhan hati, kecerdasan berpikir, dan keikhlasan mengabdi. Mungkin tidak semua orang memahami setiap langkah yang ditempuh organisasi. Namun sejarah selalu mencatat bahwa perubahan besar lahir dari mereka yang tetap bekerja, bahkan ketika usahanya tidak banyak mendapat tepuk tangan.

Semoga seluruh ikhtiar yang dilakukan PGRI menjadi amal kebaikan bagi kemajuan pendidikan Indonesia. Dan semoga setiap guru tetap percaya bahwa perjuangan yang dilakukan dengan kesabaran, ilmu pengetahuan, persatuan, dan doa pada akhirnya akan menghadirkan perubahan yang membawa keadilan bagi seluruh insan pendidikan di negeri ini.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.