Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Rabu, 08 Juli 2026

Kasih Ibu Kepada Beta Tak Terhingga Sepanjang Masa

Hanya Memberi Tak Harap Kembali, Bagai Sang Surya Menyinari Dunia

Kisah Omjay Mengenang Kasih Ibu Sepanjang Masa

Penggalan lirik lagu Kasih Ibu kepada Beta yang berbunyi, "Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia. Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa," selalu memiliki tempat yang istimewa di hati saya. Setiap kali mendengarnya, saya tidak hanya teringat kepada almarhumah ibu yang telah melahirkan dan membesarkan saya dengan penuh cinta, tetapi juga merenungkan betapa besar pengorbanan seorang ibu yang sering kali tidak pernah benar-benar dapat dibalas oleh anak-anaknya. Lagu sederhana yang diajarkan sejak duduk di bangku sekolah dasar itu ternyata menyimpan makna kehidupan yang semakin dalam ketika usia bertambah dan pengalaman hidup semakin panjang. Kini, setelah lebih dari tiga puluh tahun mengabdi sebagai guru, menjadi seorang ayah, bahkan telah merasakan kebahagiaan menjadi seorang kakek, saya semakin memahami bahwa kasih ibu adalah cinta yang paling tulus di dunia. Cinta yang tidak mengenal syarat, tidak mengenal batas, dan tidak pernah meminta balasan sedikit pun.

Saya sering mengatakan kepada para peserta Komunitas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) bahwa tulisan terbaik lahir dari hati. Ketika hati berbicara, kata-kata akan mengalir dengan sendirinya tanpa harus dipaksakan. Demikian pula ketika saya menulis tentang ibu. Rasanya tidak ada habisnya mengenang setiap pengorbanan beliau yang begitu besar dalam perjalanan hidup saya. Semakin dewasa, semakin saya menyadari bahwa keberhasilan yang saya raih hari ini sesungguhnya dibangun di atas doa-doa panjang seorang ibu yang mungkin tidak pernah saya dengar secara langsung, tetapi selalu dipanjatkan dalam setiap sujudnya kepada Allah SWT.

Saya lahir dari keluarga sederhana. Orang tua saya, Achmad Abdullah dan Siti Khodijah, membesarkan enam orang anak dengan penuh kasih sayang, kesabaran, dan kerja keras. Kehidupan kami jauh dari kemewahan, tetapi rumah kami selalu dipenuhi kehangatan. Dari kedua orang tua, terutama ibu, saya belajar bahwa kebahagiaan tidak ditentukan oleh banyaknya harta, melainkan oleh rasa syukur, kejujuran, saling menyayangi, dan semangat untuk terus berjuang. Sejak kecil saya menyaksikan bagaimana ibu bangun jauh sebelum matahari terbit. Beliau menyiapkan makanan, mencuci pakaian, membersihkan rumah, dan memastikan semua anaknya siap menjalani hari. Ketika malam tiba dan kami semua sudah terlelap, beliau masih memikirkan kebutuhan keluarga untuk esok hari. Semua dilakukan tanpa pernah mengeluh dan tanpa berharap dipuji.

Ketika masih kecil, saya menganggap semua itu adalah sesuatu yang biasa. Baru setelah saya berkeluarga dan memiliki anak, saya memahami betapa luar biasanya pengorbanan seorang ibu. Menjadi orang tua bukan hanya soal memenuhi kebutuhan makan dan pakaian, melainkan juga memberikan rasa aman, perhatian, pendidikan, dan kasih sayang yang tidak pernah putus. Seorang ibu rela mengurangi waktu tidurnya agar anak-anak dapat tidur dengan nyaman. Ia rela menahan lapar agar anak-anaknya kenyang lebih dahulu. Bahkan ketika tubuhnya sakit, ia tetap berusaha tersenyum agar anak-anaknya tidak ikut bersedih. Pengorbanan seperti itu tidak mungkin dapat dinilai dengan uang.

Lirik lagu, "Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia," benar-benar menggambarkan sosok ibu. Matahari setiap hari menyinari bumi tanpa pernah meminta balasan. Ia memberikan cahaya kepada siapa saja tanpa membedakan kaya atau miskin, pintar atau bodoh, tua atau muda. Begitu pula kasih seorang ibu. Ia mencintai anak-anaknya tanpa syarat. Ia tidak pernah menghitung berapa banyak yang telah diberikan. Yang ada dalam hatinya hanyalah keinginan melihat anak-anaknya tumbuh sehat, berakhlak baik, memperoleh pendidikan yang layak, dan kelak menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama.

Selama mengabdi sebagai Guru Informatika di SMP Labschool Jakarta, saya telah bertemu ribuan peserta didik dengan berbagai latar belakang kehidupan. Ada anak yang hidup berkecukupan, tetapi kurang mendapatkan perhatian dari orang tuanya. Ada pula anak yang hidup sederhana, tetapi memperoleh limpahan kasih sayang dari ibunya. Dari pengalaman itulah saya belajar bahwa kasih sayang jauh lebih berharga daripada kekayaan. Anak-anak yang mendapatkan cinta dan perhatian dari orang tua biasanya tumbuh lebih percaya diri, lebih kuat menghadapi masalah, dan lebih mudah bangkit ketika mengalami kegagalan. Di balik keberhasilan mereka, hampir selalu ada doa seorang ibu yang tidak pernah putus.

Saya juga menyaksikan begitu banyak kisah perjuangan seorang ibu demi pendidikan anaknya. Ada yang bekerja dari pagi hingga malam agar anaknya tetap bisa sekolah. Ada yang menjual perhiasan terakhirnya demi membayar biaya kuliah. Ada yang rela menahan keinginan membeli kebutuhan pribadi agar anak-anaknya dapat membeli buku pelajaran. Semua pengorbanan itu dilakukan dengan wajah penuh keikhlasan. Tidak pernah ada catatan utang yang harus dibayar. Tidak pernah ada perjanjian bahwa semua pengorbanan itu harus dikembalikan ketika anak telah sukses. Ibu hanya ingin melihat anak-anaknya hidup lebih baik daripada dirinya.

Sebagai guru, saya mencoba meneladani kasih seorang ibu dalam mendidik murid-murid. Saya percaya bahwa pendidikan sejatinya adalah bentuk kasih sayang. Guru bukan hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga membimbing, menguatkan, memotivasi, dan mendoakan peserta didiknya agar berhasil. Ketika seorang guru mengajar dengan hati, ia sedang meneladani sifat seorang ibu yang hanya ingin melihat anak-anaknya berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Itulah sebabnya guru sering disebut sebagai orang tua kedua di sekolah.

Perjalanan panjang sebagai guru, penulis, blogger, dan narasumber membawa saya bertemu banyak orang dari berbagai daerah di Indonesia. Dalam setiap perjalanan, saya selalu menemukan satu kesamaan, yaitu besarnya cinta seorang ibu kepada anak-anaknya. Tidak peduli tinggal di kota besar maupun di pelosok desa, kasih seorang ibu selalu sama. Ia selalu hadir dalam doa, perhatian, pengorbanan, dan keikhlasan yang tidak pernah habis. Semakin sering saya berinteraksi dengan para guru dan orang tua, semakin saya yakin bahwa pendidikan pertama dan utama sesungguhnya dimulai dari rumah, melalui sentuhan kasih seorang ibu.

Kini saya juga telah menjadi seorang kakek. Kehadiran cucu membuat saya semakin memahami bagaimana cinta dalam sebuah keluarga terus mengalir dari satu generasi ke generasi berikutnya. Saya melihat anak-anak saya berusaha memberikan kasih sayang yang sama kepada cucu saya sebagaimana dahulu saya menerima kasih sayang dari ibu. Di situlah saya menyadari bahwa cinta seorang ibu tidak pernah berhenti. Ia terus hidup melalui nilai-nilai yang diwariskan kepada anak-anaknya.

Kehidupan modern yang serba cepat sering membuat kita lupa meluangkan waktu bersama orang tua. Banyak orang baru menyadari betapa berharganya sosok ibu setelah beliau tiada. Penyesalan itu tidak akan mampu mengembalikan waktu. Karena itu, selagi ibu masih ada, jangan pernah menunda untuk membahagiakannya. Luangkan waktu untuk menelepon, mengunjunginya, memeluknya, mendengarkan ceritanya, atau sekadar menemaninya minum teh di sore hari. Hal-hal sederhana seperti itu sering kali jauh lebih bermakna daripada hadiah yang mahal.

Jika ibu telah dipanggil Allah SWT, jangan pernah berhenti mengirimkan doa. Doa anak yang saleh akan menjadi hadiah terindah bagi orang tua yang telah mendahului kita. Kenangan tentang kasih sayangnya akan tetap hidup sepanjang masa dan menjadi cahaya yang menerangi perjalanan hidup kita. Semakin bertambah usia, saya semakin merasakan bahwa doa ibu adalah kekuatan yang tidak terlihat, tetapi nyata pengaruhnya dalam setiap langkah kehidupan.

Melalui tulisan ini saya ingin mengajak para pembaca untuk kembali menghargai sosok ibu. Jangan menunggu Hari Ibu untuk mengucapkan terima kasih. Jangan menunggu sukses untuk membahagiakannya. Jangan menunggu kehilangan untuk menyadari betapa berharganya kehadirannya. Selagi masih ada kesempatan, bahagiakanlah ibu dengan bakti, perhatian, doa, dan kasih sayang. Sebab, sesungguhnya surga berada di bawah telapak kaki ibu, dan ridha Allah bergantung pada ridha kedua orang tua.

Akhirnya saya memahami bahwa lirik sederhana yang dahulu sering kami nyanyikan di sekolah ternyata mengandung pelajaran kehidupan yang luar biasa. "Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia." Itulah hakikat kasih seorang ibu. Memberi tanpa menghitung. Mencintai tanpa syarat. Berkorban tanpa pamrih. Menguatkan tanpa lelah. Mendoakan tanpa henti. Semoga kita semua menjadi anak-anak yang mampu menghormati, menyayangi, dan membalas kasih ibu dengan bakti terbaik selama hayat masih dikandung badan. Karena sesungguhnya, kasih ibu kepada kita memang tak terhingga sepanjang masa.

Penulis: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Guru Blogger Indonesia | Guru Paling Ngeblog Kompasiana 
Blog https://wijayalabs.com
Wijaya Kusumah - omjay

1 komentar:

  1. Tulisan ini begitu menyentuh sisi terdalam kehidupan, mengingatkan jasa tak ternilai orang tua yang telah membesarkan dan membuat kita bernilai

    BalasHapus

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.