Empat Tahun Berlalu, Buku Ini Tetap Mengajarkan Saya Menjadi Manusia
Blog https://wijayalabs.com/about
Empat tahun telah berlalu sejak buku Kisah Omjay: 50 Tahun Menjadi Manusia terbit. Waktu bergerak begitu tenang, tetapi meninggalkan jejak yang begitu dalam. Saat buku itu pertama kali hadir di tangan para pembaca, usia saya tepat lima puluh tahun. Kini, tanpa terasa, saya telah menginjak usia lima puluh empat. Angka memang bertambah, namun makna kehidupan terus bertumbuh bersama pengalaman yang tak pernah berhenti memberi pelajaran.
Ketika memandang kembali sampul buku itu, saya tidak sekadar melihat foto diri sendiri. Saya melihat potongan perjalanan panjang yang penuh warna. Ada kisah perjuangan sebagai seorang guru, suami, ayah, sahabat, penulis, sekaligus pembelajar sepanjang hayat. Buku tersebut bukan sekadar kumpulan tulisan, melainkan cermin yang memantulkan perjalanan batin seorang manusia yang terus berusaha memperbaiki diri.
Selama empat tahun terakhir, kehidupan memberikan banyak kejutan. Ada saat-saat membahagiakan ketika bertemu ribuan pembaca, berbagi ilmu kepada guru dari berbagai daerah, menerbitkan buku-buku baru, hingga menyaksikan teknologi kecerdasan buatan mengubah cara manusia bekerja. Namun, ada pula masa yang menguji ketabahan. Kondisi kesehatan mengingatkan saya bahwa tubuh mempunyai batas, sedangkan semangat sering kali ingin melampaui kemampuan fisik.
Di situlah saya memahami sebuah kenyataan yang dahulu belum sepenuhnya saya mengerti. Menjadi manusia bukanlah perlombaan menuju kesempurnaan. Menjadi manusia berarti belajar menerima keterbatasan tanpa kehilangan harapan. Kesadaran seperti inilah yang justru menghadirkan kedewasaan.
Banyak orang mengira usia hanyalah hitungan kalender. Padahal, usia sesungguhnya adalah akumulasi kebijaksanaan yang berhasil dipetik dari setiap peristiwa. Ada orang yang berumur panjang, tetapi miskin hikmah. Sebaliknya, ada yang usianya tidak terlalu tua, namun pemikirannya telah matang karena mampu merenungkan setiap pengalaman.
Ilmu psikologi perkembangan menyebutkan bahwa semakin bertambah umur, seseorang memiliki peluang lebih besar membangun generativity, yaitu dorongan untuk meninggalkan warisan yang bermanfaat bagi generasi berikutnya. Warisan itu tidak selalu berupa harta. Gagasan, keteladanan, karya tulis, dan inspirasi sering kali jauh lebih bernilai karena dapat terus hidup meskipun pemiliknya telah tiada.
Kesadaran itulah yang membuat saya tetap menulis hingga hari ini. Setiap tulisan adalah ikhtiar meninggalkan jejak kebaikan. Kata-kata mungkin sederhana, tetapi mampu menyeberangi ruang dan waktu. Seorang pembaca yang belum pernah saya temui bisa memperoleh semangat hanya karena membaca sebuah pengalaman yang saya bagikan dengan tulus.
Empat tahun setelah buku ini terbit, saya juga belajar bahwa perjalanan hidup tidak selalu bergerak naik. Ada kalanya seseorang harus melambat. Justru ketika langkah diperlambat, kita memiliki kesempatan mengamati hal-hal kecil yang sebelumnya terlewat. Senyum keluarga, sapaan murid, doa sahabat, udara pagi, bahkan secangkir teh hangat ternyata menyimpan kebahagiaan yang dahulu sering diabaikan.
Saya semakin yakin bahwa rasa syukur bukan muncul setelah memperoleh semuanya. Sebaliknya, rasa syukur membuat kita mampu menikmati apa pun yang telah dimiliki. Inilah pengetahuan yang sangat berharga. Otak manusia memiliki kecenderungan yang disebut hedonic adaptation, yaitu cepat terbiasa dengan pencapaian baru sehingga kebahagiaan mudah memudar. Karena itu, melatih syukur setiap hari membantu menjaga kesehatan mental sekaligus memperkuat optimisme.
Teknologi berkembang sangat pesat. Kecerdasan buatan kini mampu membantu manusia menulis, menerjemahkan, menganalisis data, bahkan menghasilkan karya visual. Namun satu hal tetap tidak dapat digantikan mesin, yaitu ketulusan hati. Pengalaman hidup yang lahir dari air mata, tawa, perjuangan, dan doa akan selalu mempunyai nilai yang berbeda dibanding sekadar rangkaian kalimat yang tersusun rapi.
Itulah sebabnya saya terus percaya bahwa menulis bukan hanya kegiatan intelektual, melainkan juga perjalanan spiritual. Ketika seseorang menulis dengan hati, ia sedang berdialog dengan dirinya sendiri. Setiap paragraf menjadi ruang refleksi, sedangkan setiap titik mengajarkan bahwa semua perjalanan memiliki jeda untuk merenung.
Kini, pada usia lima puluh empat tahun, saya tidak lagi mengejar pengakuan. Saya lebih ingin menjadi manusia yang bermanfaat. Jika suatu hari nama saya terlupakan, semoga tulisan-tulisan yang pernah saya tinggalkan masih mampu menyalakan semangat belajar, menumbuhkan keberanian berkarya, serta menguatkan mereka yang sedang berjuang menghadapi kehidupan.
Buku Kisah Omjay: 50 Tahun Menjadi Manusia mungkin telah berusia empat tahun. Kertasnya bisa menguning, sampulnya mungkin mulai memudar, tetapi nilai yang dikandungnya justru semakin menemukan makna baru. Sebab kehidupan tidak berhenti pada usia lima puluh, lima puluh empat, atau angka berapa pun. Kehidupan adalah kesempatan tanpa henti untuk terus belajar menjadi manusia yang lebih arif, lebih rendah hati, lebih peduli, dan lebih mencintai sesama.
Saya menutup tulisan ini dengan keyakinan sederhana. Selama napas masih berembus, masih ada halaman baru yang dapat ditulis. Selama hati tetap menyala, selalu ada pengalaman yang layak dibagikan. Dan selama ilmu terus diamalkan, usia bukan sekadar pertambahan angka, melainkan perjalanan indah menuju kematangan jiwa. Menjadi tua adalah keniscayaan, tetapi terus bertumbuh menjadi manusia yang membawa manfaat adalah pilihan yang akan selalu saya perjuangkan.
Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru blogger indinesia
Blog https://wijayalabs.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.