Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Jumat, 03 Juli 2026

Omjay Lahir Zaman Presiden Soeharto Tapi Kamu Kok Masih Jomblo?

Lahir Zaman Soeharto, Kok Masih Jomblo? Ternyata Presidennya Sudah Berganti Tujuh Kali

"Usia itu memang angka, tetapi jumlah presiden yang sudah berganti kadang lebih menyadarkan daripada angka di KTP."

Ada seorang teman yang sedang duduk santai sambil menyeruput kopi. Tiba-tiba ia berkata, "Saya lahir zaman Pak Soeharto."

Saya mengangguk.

Lalu ia melanjutkan, "Sekarang presidennya sudah Pak Prabowo."

Saya kembali mengangguk.

Ia kemudian menarik napas panjang dan berkata, "Yang berubah banyak sekali. Jalan berubah, gedung berubah, teknologi berubah, harga cabai berubah, model rambut berubah, bahkan anak tetangga yang dulu saya gendong sekarang sudah punya anak. Yang belum berubah cuma satu..."

"Apa?"

"Status saya."

Kami pun tertawa bersama.

Kalau dipikir-pikir memang lucu. Kita lahir ketika Presiden Soeharto masih memimpin Indonesia. Waktu itu telepon rumah adalah barang mewah, internet masih terdengar seperti nama planet baru, dan foto harus dicetak dulu sebelum bisa dipamerkan kepada tetangga.

Kemudian sejarah bergulir.

Pak Soeharto mengakhiri masa jabatannya, lalu digantikan oleh B.J. Habibie. Orang-orang mulai kagum dengan kecerdasan beliau. Dunia teknologi mulai berkembang. Namun, sebagian dari kita masih sibuk mengejar layang-layang.

Setelah itu datang Gus Dur. Beliau terkenal dengan humor-humornya yang cerdas. Banyak orang tertawa, tetapi juga berpikir. Sayangnya, saat itu kita masih lebih sibuk memikirkan nilai rapor daripada politik negara.

Lalu hadir Megawati Soekarnoputri sebagai presiden perempuan pertama Indonesia. Zaman mulai berubah lagi. Sementara itu, sebagian anak sekolah mulai belajar bahwa PR bukan hanya pekerjaan rumah, tetapi juga singkatan dari "Pusing Rame-rame."

Kemudian Indonesia dipimpin Susilo Bambang Yudhoyono selama dua periode. Pada masa ini, media sosial mulai ramai. Facebook menjadi tempat reuni nasional. Semua orang mendadak menjadi fotografer, penyair, sekaligus pakar segala bidang.

Setelah itu datang era Joko Widodo. Jalan tol bertambah panjang, kereta cepat hadir, layanan digital berkembang pesat. Belanja cukup dari ponsel. Bayar cukup pakai QR. Bahkan memesan makanan tinggal klik. Yang sulit tetap sama: mengajak teman mengembalikan uang pinjaman.

Kini Indonesia memasuki era Presiden Prabowo Subianto. Harapan baru kembali tumbuh. Program-program baru mulai berjalan. Masyarakat berharap Indonesia semakin maju.

Namun, di tengah pergantian presiden yang silih berganti, ada satu kenyataan yang membuat kita tersenyum.

Dompet tetap terasa tipis setiap akhir bulan.

Ada juga yang bercanda, "Presiden sudah berganti tujuh kali, tetapi password Wi-Fi tetangga tetap tidak berubah."

Yang lain menimpali, "Presiden berganti, tetapi pertanyaan keluarga saat Lebaran tetap sama. Kapan nikah?"

Begitulah hidup.

Pergantian presiden adalah bagian dari perjalanan bangsa. Setiap pemimpin memiliki tantangan dan kontribusinya masing-masing. Sebagai rakyat, kita boleh bercanda, tetapi tetap menghargai siapa pun yang diberi amanah memimpin negeri.

Kalau ada pelajaran yang bisa kita ambil, mungkin sederhana saja.

Jangan terlalu sering mengeluh karena waktu berjalan sangat cepat. Tahu-tahu rambut sudah mulai beruban. Tahu-tahu anak kecil yang dulu memanggil kita "Om" sekarang memanggil kita "Pakde". Tahu-tahu lagu yang kita anggap baru ternyata sudah masuk kategori lagu nostalgia.

Yang paling penting, jangan sampai semangat ikut berganti setiap kali presiden berganti.

Tetaplah bekerja, tetaplah berkarya, tetaplah menjadi orang baik. Karena siapa pun presidennya, nasi goreng tetap enak dimakan malam hari, kopi tetap nikmat diminum pagi hari, dan tawa tetap menjadi obat paling murah untuk mengusir penat.

Jadi, kalau hari ini Anda merasa usia sudah bertambah, jangan sedih. Anggap saja Anda bukan semakin tua, tetapi semakin berpengalaman menyaksikan sejarah Indonesia.

Dan kalau ada teman berkata, "Aku lahir zaman Pak Soeharto."

Jawablah sambil tersenyum, "Berarti kamu saksi hidup perjalanan bangsa. Sekarang tinggal buktikan, jangan cuma umur yang bertambah, saldo rekening juga ikut bertambah."

Semoga kita semua bisa tertawa, tersenyum, dan tetap optimis menyongsong masa depan Indonesia yang lebih baik.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.