Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Selasa, 14 Juli 2026

Ketika Nikmat Dicabut Allah

Ketika Nikmat Itu Dicabut, Barulah Kita Tersadar

Kisah Omjay tentang Rasa Syukur yang Datang Setelah Ujian

Oleh: Omjay (Wijaya Kusumah)

Pagi itu sebuah pesan singkat masuk ke telepon genggam Omjay. Isinya sederhana, tetapi begitu dalam maknanya. Pesan tersebut mengingatkan bahwa manusia sering kali baru menyadari berharganya sebuah nikmat ketika nikmat itu telah diambil oleh Allah SWT.

Kalimat pertama langsung mengetuk hati Omjay.

"Jika Allah tarik nikmat kaki, barulah kita rajin ke masjid."

Omjay terdiam cukup lama. Pikiran langsung melayang pada pengalaman hidup beberapa waktu lalu ketika kesehatan sempat menurun. Saat tubuh masih sehat, berjalan menuju masjid terasa begitu mudah. Bahkan kadang-kadang langkah kaki justru diarahkan ke tempat-tempat yang tidak terlalu penting dibandingkan rumah Allah.

Namun ketika tubuh melemah, berjalan beberapa langkah saja terasa berat. Saat itulah muncul kerinduan yang luar biasa untuk kembali melangkahkan kaki menuju masjid. Betapa benarnya, nikmat berjalan adalah karunia yang sering terlupakan.

Pesan berikutnya tidak kalah menyentuh.

"Jika Allah tarik nikmat tangan, barulah kita mau berwudhu dan berdoa."

Omjay kembali mengingat masa ketika tangan terasa lemah akibat gangguan kesehatan. Aktivitas sederhana seperti mengancingkan baju atau memegang gelas saja membutuhkan perjuangan. Pada saat itulah Omjay benar-benar memahami bahwa tangan yang sehat bukanlah sesuatu yang biasa. Ia adalah nikmat yang luar biasa.

Selama ini tangan digunakan untuk mengetik artikel, menulis buku, berjabat tangan dengan sahabat, memeluk keluarga, mengusap kepala cucu tercinta, hingga mengangkat kedua telapak tangan untuk berdoa kepada Allah SWT. Semua itu terasa begitu mudah ketika tubuh sehat.

Padahal tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama.

Lalu Omjay membaca kalimat berikutnya.

"Jika Allah tarik nikmat mata, barulah kita mau merenung bukti-bukti kebesaran-Nya."

Sebagai seorang guru dan penulis, mata adalah sahabat setia Omjay. Mata membantu membaca ratusan buku, meneliti berbagai referensi, memeriksa tugas siswa, menulis ribuan artikel, dan menikmati indahnya ciptaan Allah.

Tetapi pernah suatu ketika mata terasa kabur karena kelelahan dan kadar gula darah yang meningkat. Saat itulah muncul rasa takut kehilangan nikmat melihat.

Bagaimana mungkin seorang penulis dapat terus berkarya tanpa kemampuan membaca?

Bagaimana seorang guru dapat mengajar tanpa melihat wajah murid-muridnya?

Sejak saat itu Omjay semakin memahami bahwa setiap kali mata terbuka di pagi hari, sesungguhnya Allah sedang menghadiahkan nikmat yang luar biasa besar.

Kemudian pesan itu berlanjut.

"Jika Allah tarik nikmat telinga, barulah kita mau mendengar ceramah dan nasihat agama."

Betapa sering telinga kita dipenuhi berbagai informasi yang belum tentu bermanfaat. Kita rela berjam-jam mendengarkan hiburan, tetapi terkadang merasa berat meluangkan beberapa menit untuk mendengarkan kajian agama atau membaca Al-Qur'an.

Padahal telinga adalah pintu ilmu.

Melalui telinga kita belajar.

Melalui telinga kita menerima nasihat.

Melalui telinga kita memperbaiki diri.

Terakhir, Omjay membaca kalimat yang sangat menohok.

"Jika Allah tarik nikmat mulut, barulah kita mau berkata yang baik dan mengaji."

Betapa banyak kata yang keluar tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Terkadang mulut lebih cepat berbicara daripada hati yang bijaksana. Padahal Rasulullah SAW mengajarkan agar berkata baik atau lebih baik diam.

Mulut juga merupakan nikmat besar yang memungkinkan kita membaca Al-Qur'an, berdzikir, berdoa, mengajar, memberi semangat kepada orang lain, dan menyampaikan ilmu yang bermanfaat.

Sebagai guru, Omjay menyadari bahwa setiap kata yang diucapkan di depan kelas bisa menjadi penyemangat atau justru melemahkan semangat belajar siswa. Oleh karena itu, menjaga lisan adalah bagian dari ibadah yang harus terus dilatih.

Pengalaman hidup mengajarkan Omjay bahwa kesehatan bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh. Setelah melewati berbagai ujian kesehatan, Omjay semakin memahami arti syukur. Dulu mungkin Omjay sering terburu-buru menjalani aktivitas tanpa sempat menikmati nikmat yang telah Allah berikan.

Kini setiap pagi menjadi kesempatan untuk mengucapkan, "Alhamdulillah."

Masih bisa bangun tidur.

Masih bisa berjalan.

Masih bisa melihat.

Masih bisa mendengar.

Masih bisa menulis.

Masih bisa mengajar.

Masih bisa berkumpul bersama keluarga.

Semua itu bukan hak kita, melainkan anugerah Allah SWT yang dapat diambil kapan saja sesuai kehendak-Nya.

Allah SWT telah mengingatkan dalam firman-Nya:

"Jika kamu bersyukur, pasti akan Aku tambah nikmat-Ku kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS. Ibrahim: 7).

Ayat ini menjadi pengingat bahwa syukur bukan sekadar ucapan "Alhamdulillah", tetapi juga diwujudkan dalam tindakan nyata. Bersyukur berarti menggunakan mata untuk melihat hal-hal yang baik, telinga untuk mendengar ilmu, tangan untuk berbuat kebaikan, kaki untuk melangkah menuju tempat yang diridai Allah, dan lisan untuk menyampaikan kata-kata yang menenangkan hati.

Sebagai Omjay yang telah mengabdi puluhan tahun menjadi guru, ada satu pelajaran yang ingin dibagikan kepada para siswa, sahabat guru, dan siapa pun yang membaca tulisan ini. Jangan menunggu kehilangan untuk mulai menghargai. Jangan menunggu sakit untuk menjaga kesehatan. Jangan menunggu usia senja untuk memperbanyak ibadah. Jangan menunggu musibah untuk bersyukur.

Syukur adalah cara terbaik menikmati hidup.

Orang yang bersyukur akan selalu merasa cukup meskipun hartanya sedikit. Orang yang bersyukur akan tetap tersenyum meskipun sedang diuji. Orang yang bersyukur akan selalu menemukan alasan untuk bahagia karena ia menyadari bahwa setiap napas adalah hadiah dari Allah SWT.

Semoga setiap pagi yang kita jalani menjadi awal untuk memperbaiki diri. Semoga kaki kita senantiasa melangkah menuju kebaikan, tangan kita gemar menolong sesama, mata kita melihat kebesaran Allah, telinga kita mendengar nasihat yang bermanfaat, dan lisan kita selalu mengucapkan kata-kata yang baik.

Mari kita menjadi hamba yang pandai bersyukur sebelum Allah mengingatkan kita melalui kehilangan. Sebab nikmat yang paling indah bukanlah yang paling besar, melainkan nikmat yang masih kita miliki hari ini dan kita gunakan untuk beribadah kepada-Nya.

Tetap semangat, tetap bersyukur, dan teruslah menebarkan kebaikan. Insya Allah, hidup akan menjadi lebih bermakna dan penuh keberkahan. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.