Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Sabtu, 11 Juli 2026

Seandainya Omjay Tiada

Seandainya Omjay Tiada

Jejak Cinta Seorang Guru yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay Guru Blogger Indonesia)
Blog https://wijayalabs.com

Suatu hari, mungkin telepon genggam banyak orang akan berdering. Sebuah kabar akan menyebar dari grup WhatsApp ke grup WhatsApp lainnya. Dari komunitas guru ke komunitas penulis. Dari ruang kelas ke ruang keluarga. Kabar itu hanya terdiri dari beberapa kalimat, tetapi mampu membuat banyak orang terdiam.

"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Omjay telah berpulang."

Seandainya hari itu benar-benar datang, mungkin banyak orang tidak akan langsung percaya. Mereka akan membuka kembali media sosial Omjay. Mereka akan membaca lagi tulisan-tulisannya. Mereka akan melihat foto-fotonya saat tersenyum bersama guru-guru dari berbagai daerah. Mereka berharap kabar itu keliru.

Namun hidup memang memiliki aturan yang tidak pernah bisa ditawar. Setiap yang bernyawa pasti akan kembali kepada Sang Pencipta. Tidak ada seorang pun yang dapat menghindarinya.

Lalu, apa yang akan tertinggal ketika Omjay tiada?

Bukan rumah yang megah. Bukan mobil mewah. Bukan pula harta yang berlimpah. Yang tertinggal hanyalah kenangan, doa, ilmu, dan tulisan yang pernah ditinggalkan.

Omjay hanyalah seorang guru biasa. Mengajar dari pagi hingga siang, lalu menulis ketika malam tiba. Ketika orang lain memilih beristirahat, Omjay memilih menyalakan laptop. Jemarinya menari di atas papan ketik, merangkai kata demi kata. Ia percaya bahwa tulisan adalah sedekah ilmu yang akan terus hidup, bahkan ketika penulisnya telah tiada.

Banyak yang bertanya mengapa Omjay begitu rajin menulis.

Jawabannya sederhana.

Karena umur manusia terbatas, tetapi tulisan dapat melintasi zaman.

Karena suara manusia suatu hari akan berhenti, tetapi tulisan akan terus berbicara kepada siapa pun yang membacanya.

Karena guru sejati bukan hanya mengajar di dalam kelas, melainkan juga mengajar melalui setiap kalimat yang ditinggalkannya.

Jika suatu hari Omjay tiada, mungkin ruang kerja kecilnya akan menjadi sunyi. Laptop yang biasa digunakan menulis akan tertutup. Kursi yang selama ini menjadi saksi perjuangan menyelesaikan artikel demi artikel akan kosong.

Namun sunyi itu tidak akan benar-benar sepi.

Di balik layar komputer itu masih tersimpan ribuan naskah. Masih ada artikel yang pernah menguatkan hati guru. Masih ada kisah yang menginspirasi siswa. Masih ada tulisan yang mengajak orang untuk tidak pernah berhenti belajar.

Setiap tulisan akan menjadi saksi bahwa pernah ada seorang guru yang begitu mencintai dunia literasi.

Mungkin ada peserta KBMN yang akan mengenang bagaimana Omjay selalu menyemangati mereka.

"Jangan takut menulis."

"Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi."

Kalimat sederhana itu mungkin akan terus bergema di hati banyak orang. Kalimat itu tidak hanya menjadi slogan, tetapi menjadi semangat hidup.

Ada yang akhirnya menerbitkan buku karena dorongan Omjay.

Ada yang berani membuat blog.

Ada yang kembali percaya diri setelah bertahun-tahun merasa tidak mampu menulis.

Semua itu mungkin tampak kecil.

Namun bagi orang yang merasakannya, itu adalah titik balik kehidupan.

Jika Omjay tiada, mungkin siswa-siswanya akan mengenang sosok guru yang tidak pernah lelah belajar. Guru yang selalu berkata bahwa teknologi harus menjadi sahabat, bukan musuh. Guru yang mengajarkan bahwa kecerdasan buatan hanyalah alat, sedangkan hati manusia tetap menjadi penulis terbaik.

Mungkin rekan-rekan guru akan mengenang perjuangannya memperjuangkan literasi digital, pembelajaran informatika, dan kecintaan kepada dunia pendidikan.

Banyak perjalanan telah dilalui.

Ada tawa.

Ada air mata.

Ada kegagalan.

Ada keberhasilan.

Ada saat tubuh sakit karena diabetes, tekanan darah tinggi, bahkan ketika stroke sempat menguji kehidupan. Namun Omjay tetap berusaha bangkit. Sebab ia percaya, selama masih diberi napas, masih ada kesempatan untuk berkarya.

Mungkin keluarganya akan menjadi orang yang paling merasakan kehilangan.

Istri yang selama ini menemani dalam suka dan duka.

Anak-anak yang selalu menjadi kebanggaan.

Cucu yang menjadi pelipur lara.

Mereka akan mengenang bahwa Omjay bukan manusia sempurna. Ia juga pernah lelah. Pernah sedih. Pernah kecewa. Namun ia selalu berusaha kembali tersenyum karena yakin bahwa Allah tidak akan memberikan ujian di luar kemampuan hamba-Nya.

Jika Omjay tiada, janganlah terlalu lama menangis.

Karena setiap manusia pasti memiliki waktu untuk pulang.

Yang lebih penting adalah melanjutkan semua kebaikan yang pernah dimulainya.

Teruslah membaca.

Teruslah menulis.

Teruslah berbagi.

Teruslah mengajar dengan hati.

Jangan biarkan semangat itu ikut terkubur bersama jasadnya.

Biarlah semangat itu hidup dalam diri setiap guru Indonesia.

Suatu hari nanti, mungkin ada seorang guru muda yang berkata, "Saya mulai menulis karena membaca artikel Omjay."

Mungkin ada seorang siswa yang berkata, "Saya mencintai teknologi karena dulu diajarkan Omjay."

Mungkin ada seorang penulis yang berkata, "Buku pertama saya lahir karena dulu Omjay pernah menyemangati saya."

Bukankah itu adalah kebahagiaan yang luar biasa?

Sesungguhnya manusia tidak benar-benar mati ketika napasnya berhenti.

Manusia baru benar-benar mati ketika tidak ada lagi kebaikan yang dikenang.

Karena itu, selama masih diberi kesempatan hidup, mari memperbanyak amal, ilmu, dan karya yang bermanfaat.

Semoga ketika suatu hari Omjay benar-benar dipanggil Allah SWT, tidak hanya keluarga yang mendoakannya, tetapi juga ribuan murid, guru, sahabat, dan pembaca yang pernah merasakan manfaat dari ilmu dan tulisannya.

Semoga setiap artikel yang pernah ditulis menjadi cahaya di alam kubur.

Semoga setiap ilmu yang diamalkan menjadi pahala yang terus mengalir.

Semoga setiap huruf yang pernah menginspirasi menjadi saksi bahwa hidup ini tidak dijalani dengan sia-sia.

Dan semoga ketika nama Omjay disebut, orang tidak hanya berkata, "Beliau seorang guru."

Tetapi mereka berkata, "Beliau telah mengajarkan kami cara hidup yang bermanfaat bagi sesama."

Karena pada akhirnya, usia hanyalah angka.

Jabatan hanyalah titipan.

Harta hanyalah pinjaman.

Yang benar-benar abadi adalah amal saleh, ilmu yang bermanfaat, anak yang saleh, dan doa-doa tulus yang dipanjatkan oleh mereka yang pernah disentuh oleh kebaikan kita.

Maka, sebelum hari itu benar-benar tiba, marilah kita saling memaafkan, saling menguatkan, dan berlomba-lomba meninggalkan jejak kebaikan. Sebab kita tidak pernah tahu, tulisan mana yang akan menjadi penyelamat, senyuman mana yang akan menjadi penghapus dosa, dan pertolongan kecil mana yang akan menjadi sebab datangnya rahmat Allah SWT.

Seandainya Omjay tiada, jangan biarkan kisahnya berakhir. Lanjutkanlah semangatnya. Teruskanlah perjuangannya. Hidupkanlah budaya membaca dan menulis di mana pun berada.

Sebab seorang guru mungkin akan pergi, tetapi ilmu, cinta, dan keteladanannya akan tetap hidup di hati orang-orang yang pernah disentuhnya.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan, umur yang penuh keberkahan, dan kesempatan untuk terus berkarya sebelum tiba saat kembali kepada-Nya. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.