Belajar Sabar dari Kehidupan: Kisah Omjay Menemukan Guru di Setiap Ujian
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Blog https://wijayalabs.com/about
Kehidupan adalah ruang belajar yang tidak pernah menutup pintunya. Setiap hari selalu ada pelajaran baru yang Allah titipkan kepada kita melalui berbagai peristiwa dan orang-orang yang kita jumpai. Ada yang datang membawa kebahagiaan, ada pula yang menghadirkan ujian. Kadang pelajaran itu hadir melalui keberhasilan yang membanggakan, tetapi tidak jarang justru datang dalam bentuk kekecewaan, kegagalan, atau pertemuan dengan orang-orang yang menguji kesabaran kita.
Ketika saya membaca sebuah pesan inspiratif tentang sabar, memaafkan, memberi, dan rendah hati, hati saya seolah diajak menelusuri kembali perjalanan panjang selama lebih dari tiga puluh empat tahun mengabdi sebagai guru. Saya semakin yakin bahwa sekolah terbaik bukan hanya ruang kelas tempat saya mengajar, melainkan kehidupan itu sendiri. Di sanalah Allah menghadirkan guru-guru terbaik dalam wujud berbagai peristiwa dan manusia yang kita temui setiap hari. Setiap pertemuan, setiap cobaan, dan setiap pengalaman merupakan bagian dari proses Allah mendidik hamba-Nya agar menjadi pribadi yang lebih bijaksana, lebih bersyukur, lebih ikhlas, lebih penuh kasih sayang, dan lebih matang dalam menjalani kehidupan.
Pesan inspirasi yang saya baca pagi ini sangat sederhana, tetapi maknanya begitu dalam.
Mau belajar sabar? Nanti kita akan bertemu orang-orang yang keras kepala kepada kita.
Mau belajar memaafkan? Nanti kita akan bertemu orang-orang yang akan menyakiti kita.
Mau belajar memberi? Sebentar lagi kita akan dihadapkan dengan orang-orang yang berkekurangan.
Mau belajar rendah hati? Tunggu saja, akan ada orang-orang yang merendahkan diri kita.
Sepintas kalimat-kalimat itu terlihat sederhana. Namun, jika direnungkan lebih dalam, itulah kenyataan hidup yang kita alami hampir setiap hari. Tidak ada satu pun manusia yang hidup tanpa ujian. Justru melalui ujian itulah kualitas diri kita ditempa.
Saya teringat masa-masa awal menjadi guru. Semangat mengajar begitu besar. Saya berharap semua siswa mudah memahami pelajaran, semua rekan kerja memiliki pemikiran yang sama, dan setiap program berjalan sesuai rencana. Kenyataannya tidak demikian. Ada siswa yang sulit diatur, ada yang malas belajar, ada pula yang berkali-kali mengulangi kesalahan yang sama.
Saat itu saya sering merasa lelah. Saya bertanya dalam hati, mengapa begitu sulit mengubah seseorang?
Kini, setelah puluhan tahun mengajar, saya menemukan jawabannya. Tugas guru bukan mengubah semua orang dalam waktu singkat. Tugas guru adalah terus menanam benih kebaikan. Soal kapan benih itu tumbuh, biarlah Allah yang menentukan waktunya.
Dari sanalah saya belajar arti sabar yang sesungguhnya.
Sabar bukan berarti menyerah. Sabar juga bukan berarti membiarkan kesalahan terus terjadi. Sabar adalah kemampuan mengendalikan hati ketika hasil belum sesuai harapan. Sabar adalah tetap berbuat baik meskipun belum melihat hasilnya.
Banyak siswa yang dahulu dikenal nakal, bertahun-tahun kemudian datang menemui saya. Mereka bercerita bahwa nasihat yang dulu mereka abaikan ternyata baru mereka pahami setelah dewasa. Ada yang kini menjadi guru, pengusaha, pegawai negeri, bahkan pemimpin di tempat kerjanya.
Saat mendengar kisah mereka, hati saya terharu. Ternyata setiap kebaikan yang kita tanam tidak pernah sia-sia.
Pelajaran berikutnya adalah memaafkan.
Dalam kehidupan, kita tidak mungkin menyenangkan semua orang. Ada yang menyukai kita, ada pula yang kurang berkenan dengan sikap atau pendapat kita. Sebagai guru, narasumber, maupun penulis, saya pernah menerima kritik yang tajam. Ada yang mengomentari tulisan tanpa membaca sampai selesai. Ada pula yang memberikan penilaian berdasarkan prasangka.
Jika mengikuti emosi, mungkin saya akan membalas dengan kemarahan. Namun pengalaman mengajarkan bahwa kemarahan hanya memperpanjang persoalan.
Saya memilih memaafkan.
Memaafkan ternyata bukan hadiah untuk orang lain, melainkan hadiah bagi diri sendiri. Ketika kita memaafkan, hati menjadi lebih tenang. Pikiran menjadi lebih jernih. Energi yang semula habis untuk memelihara kebencian dapat digunakan untuk berkarya dan menebarkan manfaat.
Pelajaran berikutnya adalah memberi.
Selama aktif mendampingi guru-guru dari berbagai daerah melalui Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN), saya bertemu banyak sosok luar biasa. Ada guru yang mengajar di sekolah sederhana dengan fasilitas terbatas. Ada yang harus menempuh perjalanan jauh melewati sungai, perbukitan, bahkan jalan berlumpur demi mendidik anak-anak bangsa.
Mereka mengajarkan kepada saya bahwa memberi tidak selalu identik dengan harta.
Memberi bisa berupa ilmu yang dibagikan dengan tulus.
Memberi bisa berupa waktu untuk mendengarkan.
Memberi bisa berupa semangat kepada mereka yang hampir menyerah.
Memberi bisa berupa senyuman yang menguatkan.
Memberi bisa berupa doa yang dipanjatkan dengan penuh keikhlasan.
Semakin sering kita berbagi, semakin kita menyadari bahwa rezeki tidak selalu bertambah dalam bentuk materi. Rezeki juga hadir dalam bentuk kesehatan, persahabatan, kesempatan, ilmu yang bermanfaat, dan hati yang damai.
Kemudian saya belajar tentang rendah hati.
Semakin lama mengajar, semakin banyak kesempatan yang Allah berikan kepada saya. Saya dipercaya menjadi narasumber, menulis buku, berbagi pengalaman di berbagai forum, hingga bertemu banyak guru hebat dari seluruh Indonesia.
Semua itu tentu patut disyukuri.
Namun pada saat yang sama, saya menyadari bahwa setiap pencapaian bisa menjadi ujian baru jika tidak disertai kerendahan hati.
Allah sering menghadirkan orang-orang yang mengkritik, meremehkan, bahkan meragukan kemampuan kita. Dahulu saya menganggap mereka sebagai pengganggu. Kini saya justru menganggap mereka sebagai pengingat agar tidak terjebak dalam kesombongan.
Karena sesungguhnya tidak ada manusia yang benar-benar hebat. Apa pun yang kita miliki hanyalah titipan Allah. Ilmu adalah titipan. Jabatan adalah titipan. Kesehatan adalah titipan. Bahkan kesempatan untuk terus bernapas pun merupakan nikmat yang setiap saat dapat diambil kembali.
Beberapa tahun terakhir saya juga belajar banyak dari ujian kesehatan. Ketika tubuh tidak lagi sekuat dahulu, saya mulai memahami betapa berharganya nikmat sehat. Hal-hal sederhana yang dulu dianggap biasa kini terasa sangat istimewa. Bisa berjalan, mengajar, menulis, bercengkerama dengan keluarga, dan berkumpul dengan sahabat merupakan anugerah yang luar biasa.
Pengalaman itu mengajarkan bahwa rasa syukur tidak boleh menunggu datangnya musibah. Bersyukur harus menjadi kebiasaan setiap hari.
Saya juga semakin yakin bahwa menulis adalah salah satu bentuk rasa syukur. Selama tangan masih mampu mengetik dan pikiran masih mampu berpikir, saya ingin terus berbagi pengalaman kepada sebanyak mungkin orang. Barangkali ada satu kalimat yang mampu menguatkan hati seseorang. Barangkali ada satu cerita yang mampu mengubah cara pandang seorang pembaca. Itulah yang membuat saya terus menulis hingga hari ini.
Saya selalu memegang teguh kalimat yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidup saya:
"Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi."
Kalimat itu bukan sekadar ajakan untuk rajin menulis. Kalimat tersebut mengajarkan bahwa perubahan besar lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Begitu pula dengan kesabaran, keikhlasan, memaafkan, dan berbagi. Semua membutuhkan latihan yang terus-menerus.
Kehidupan adalah sekolah yang tidak pernah meluluskan kita sebelum waktunya. Setiap hari ada pelajaran baru. Setiap ujian adalah soal yang harus kita jawab dengan sikap terbaik. Setiap orang yang hadir dalam hidup kita membawa pesan yang berbeda-beda.
Ada yang hadir untuk membuat kita tersenyum.
Ada yang hadir untuk mengajarkan kesabaran.
Ada yang hadir untuk mengajarkan keikhlasan.
Ada yang hadir agar kita belajar memaafkan.
Ada pula yang hadir untuk mengingatkan bahwa kita hanyalah manusia biasa yang harus terus belajar.
Karena itu, jangan terlalu cepat mengeluh ketika bertemu orang yang keras kepala. Mungkin Allah sedang mengajari kita sabar.
Jangan terlalu kecewa ketika disakiti orang lain. Mungkin Allah sedang mengajari kita memaafkan.
Jangan menutup mata terhadap mereka yang kekurangan. Mungkin Allah sedang membuka kesempatan bagi kita untuk berbagi.
Dan jangan marah ketika diremehkan. Mungkin Allah sedang menjaga hati kita agar tetap rendah hati.
Pada akhirnya saya memahami bahwa semua yang terjadi dalam hidup ini tidak pernah sia-sia. Setiap peristiwa mengandung hikmah. Setiap ujian menyimpan pelajaran. Setiap air mata membawa kedewasaan. Selama kita mau merenung, kehidupan akan terus menjadi guru terbaik yang membimbing langkah kita menuju pribadi yang lebih baik.
Semoga kita semua diberi hati yang lapang untuk bersabar, jiwa yang lembut untuk memaafkan, tangan yang ringan untuk berbagi, serta hati yang tetap rendah meskipun diberi banyak nikmat. Mari menjalani setiap hari dengan penuh rasa syukur dan menjadikan setiap ujian sebagai kesempatan untuk semakin mendekat kepada Allah SWT.
Sebab pada akhirnya, kebahagiaan sejati bukanlah hidup tanpa masalah, melainkan memiliki hati yang mampu menemukan hikmah di balik setiap ujian kehidupan.
Salam literasi.
Salam Blogger Persahabatan.
Wijaya Kusumah - omjay
Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.