Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Kamis, 30 Juli 2026

Ketika Omjay Dicela

Ketika Dicela, Saya Memilih Berkaca dan Terus Berkarya

Inspirasi Pagi
Kamis, 30 Juli 2026

"Jika orang berkata buruk tentangmu tidak usah galau. Karena sebenarnya mereka tidak berbicara tentang engkau. Mereka sedang memperlihatkan watak mereka sendiri."

Perjalanan hidup mengajarkan saya bahwa tidak semua orang akan menyukai apa yang kita lakukan. Ada yang memberikan apresiasi dengan tulus, tetapi tidak sedikit pula yang melontarkan kritik yang menyakitkan, bahkan menilai tanpa mengenal siapa diri kita sebenarnya. Dulu, setiap kali mendengar ucapan yang merendahkan, hati saya mudah terluka. Pikiran dipenuhi pertanyaan mengapa masih ada orang yang memilih menjatuhkan sesamanya. Namun, semakin bertambah usia dan pengalaman, saya menyadari bahwa tidak semua perkataan buruk pantas disimpan dalam hati. Sebagian cukup dijadikan pelajaran agar kita semakin kuat menjalani kehidupan.

Sebagai guru yang telah puluhan tahun mengabdikan diri di dunia pendidikan sekaligus penulis yang hampir setiap hari membagikan tulisan kepada masyarakat, saya merasakan betul bahwa berkarya selalu mengundang beragam tanggapan. Ada pembaca yang memperoleh manfaat lalu mengirimkan doa, ucapan terima kasih, bahkan menjadikan tulisan saya sebagai penyemangat hidup. Sebaliknya, ada pula yang memberikan komentar sinis, mengejek, atau meragukan kemampuan saya. Pada awalnya saya mencoba menjawab satu per satu, tetapi akhirnya saya memahami bahwa energi akan jauh lebih bermanfaat jika digunakan untuk melahirkan karya berikutnya daripada melayani perdebatan yang tidak menghasilkan kebaikan.

Saya teringat sebuah nasihat yang dinisbatkan kepada Imam Ghazali, "Saat satu jarimu menuduh buruk orang lain, maka empat jarimu sedang menuduh buruk pada dirimu." Kalimat sederhana itu memiliki makna yang sangat dalam. Ketika seseorang sibuk mencari kesalahan orang lain, sesungguhnya ia sedang memperlihatkan isi hatinya sendiri. Cara seseorang berbicara sering kali menjadi cermin karakter yang dimilikinya. Oleh sebab itu, saya belajar untuk tidak tergesa-gesa membalas perkataan yang menyakitkan. Diam yang penuh kesabaran sering kali lebih bermakna daripada jawaban panjang yang hanya memperkeruh suasana.

Pengalaman hidup juga mengajarkan bahwa setiap ujian membawa pelajaran berharga. Ketika saya mengalami berbagai cobaan, mulai dari masalah kesehatan hingga tantangan dalam perjalanan karier, banyak orang yang memberikan dukungan sehingga saya mampu bangkit kembali. Akan tetapi, ada juga yang memandang sinis dan menganggap saya tidak akan mampu melanjutkan aktivitas seperti sebelumnya. Kenyataannya, justru dari keterbatasan itulah saya semakin terdorong untuk terus belajar, mengajar, menulis, dan berbagi inspirasi. Saya ingin membuktikan bahwa seseorang tidak ditentukan oleh komentar orang lain, melainkan oleh ketekunan dalam memperbaiki diri setiap hari.

Menulis telah menjadi sahabat terbaik dalam perjalanan hidup saya. Melalui tulisan, saya menuangkan pengalaman, kegagalan, harapan, dan rasa syukur agar dapat menjadi pelajaran bagi siapa pun yang membacanya. Saya percaya bahwa karya akan berbicara lebih lantang daripada perdebatan. Orang boleh saja meragukan kemampuan kita, tetapi waktu akan menunjukkan siapa yang tetap konsisten menebarkan manfaat. Ketika niat kita lurus untuk berbagi ilmu dan menginspirasi sesama, setiap langkah akan menemukan jalannya sendiri.

Karena itulah, saya tidak ingin menghabiskan hidup dengan memikirkan penilaian yang tidak membangun. Saya memilih memaafkan, mendoakan, lalu melanjutkan pekerjaan yang memberi manfaat bagi banyak orang. Sikap tersebut bukan berarti lemah, melainkan bentuk kedewasaan dalam menyikapi kehidupan. Semakin kita sibuk memperbaiki diri, semakin sedikit waktu yang tersisa untuk memikirkan keburukan orang lain.

Semoga setiap perkataan yang kita ucapkan menjadi sumber kebaikan, bukan penyebab luka bagi sesama. Marilah menjadikan lisan sebagai sarana menyebarkan harapan, semangat, dan kasih sayang. Apabila suatu hari kita menjadi sasaran cibiran, jangan biarkan hati dipenuhi kebencian. Tetaplah melangkah dengan kepala tegak, hati yang ikhlas, dan keyakinan bahwa Allah Swt. mengetahui setiap niat baik yang kita perjuangkan. Pada akhirnya, bukan penilaian manusia yang menentukan nilai hidup kita, melainkan seberapa besar manfaat yang berhasil kita tinggalkan untuk orang lain.

Salam literasi. Salam inspirasi.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.