Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Rabu, 07 Oktober 2026

Mengapa Guru Perlu Menulis?

Salam Blogger Persahabatan Omjay http://wijayalabs.com Menulislah Terus setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi




MATERI KBMN PGRI GELOMBANG 35

Mengapa Guru Perlu Menulis?

Menulis untuk Mengabadikan Pengalaman, Menginspirasi, dan Meninggalkan Jejak

Narasumber: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. – Omjay Guru Blogger Indonesia

A. Pembuka: Guru dan Tulisan

Bapak/Ibu guru peserta KBMN PGRI Gelombang 35 yang saya banggakan,

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri:

“Kalau semua pengalaman mengajar kita hilang begitu saja, apa yang akan tersisa?”


Setiap hari guru mengajar. Setiap hari guru berbicara. Setiap hari guru menghadapi berbagai karakter peserta didik. Ada siswa yang membuat kita tersenyum, ada yang membuat kita berpikir keras, bahkan ada yang membuat kita hampir menyerah.

Namun, banyak pengalaman berharga itu berhenti menjadi cerita lisan.

Padahal, pengalaman seorang guru sesungguhnya adalah harta yang sangat mahal.

Ketika pengalaman itu ditulis, pengalaman pribadi dapat berubah menjadi pengetahuan yang bermanfaat bagi orang lain.

Karena itu saya sering mengatakan:

“Guru menulis adalah guru yang menginspirasi.”


B. Mengapa Guru Perlu Menulis?

Ada banyak alasan mengapa guru perlu menulis.

1. Karena Guru Memiliki Banyak Cerita

Guru setiap hari berhadapan dengan manusia.

Bukan hanya dengan buku dan kurikulum, tetapi dengan anak-anak yang mempunyai mimpi, masalah, karakter, dan kehidupan yang berbeda.

Ada siswa yang awalnya tidak bisa membaca lalu menjadi lancar.

Ada siswa yang tidak percaya diri kemudian berani tampil di depan kelas.

Ada siswa yang dahulu malas belajar kemudian menemukan cita-citanya.

Semua itu adalah cerita pendidikan.

Sayangnya, jika tidak ditulis, cerita tersebut akan hilang bersama waktu.

Menulis membuat pengalaman itu tetap hidup.

2. Menulis Membuat Guru Berpikir

Menulis bukan sekadar memindahkan kata dari pikiran ke kertas.

Menulis membuat kita bertanya:

• Apa yang sebenarnya terjadi?

• Mengapa hal itu terjadi?

• Apa yang saya pelajari?

• Apa kesalahan saya?

• Apa yang bisa diperbaiki?

• Apa manfaat pengalaman ini bagi guru lain?

Dengan menulis, guru melakukan refleksi.

Guru tidak hanya mengajar, tetapi belajar dari proses mengajarnya sendiri.

3. Menulis Membantu Guru Berbagi Praktik Baik

Setiap guru memiliki pengalaman baik.

Namun pengalaman itu sering hanya diketahui oleh guru tersebut dan beberapa orang di sekolahnya.

Bayangkan jika pengalaman tersebut ditulis di blog, media pendidikan, jurnal, atau buku.

Guru dari Jakarta dapat belajar dari guru di Papua.

Guru di Bandung dapat belajar dari guru di Makassar.

Guru di sekolah kecil dapat berbagi inspirasi kepada guru di sekolah besar.

Inilah kekuatan tulisan.

Satu pengalaman yang ditulis dapat menginspirasi ribuan orang.


4. Menulis Membangun Personal Branding Guru

Pada zaman digital, guru tidak hanya dikenal melalui sekolah tempatnya bekerja.

Guru dapat dikenal karena gagasan dan karya yang dihasilkan.

Blog, buku, artikel, video, dan media sosial dapat menjadi ruang bagi guru untuk menunjukkan kompetensinya.

Misalnya, seorang guru yang konsisten menulis tentang:

Informatika → Coding → AI → Pendidikan

lama-kelamaan akan dikenal sebagai guru yang mempunyai keahlian di bidang tersebut.

Inilah yang disebut personal branding.

Personal branding bukan berarti mencari popularitas semata.

Personal branding adalah membangun reputasi melalui karya dan konsistensi.

5. Menulis Membuka Pintu Kesempatan

Saya percaya bahwa tulisan dapat membuka pintu yang tidak pernah kita duga.

Sebuah artikel dapat membuat kita diundang menjadi narasumber.

Sebuah buku dapat mempertemukan kita dengan komunitas baru.

Sebuah blog dapat mempertemukan kita dengan orang-orang dari berbagai daerah bahkan berbagai negara.

Sebuah tulisan sederhana dapat menjadi awal perjalanan yang luar biasa.

Karena itu jangan pernah meremehkan tulisan sendiri.

Tulisan hari ini mungkin menjadi pintu kesempatan kita di masa depan.

6. Menulis Membantu Guru Naik Kelas

Guru yang menulis akan semakin terlatih untuk:

• berpikir kritis,

• membaca,

• melakukan refleksi,

• menyusun gagasan,

• berkomunikasi,

• mendokumentasikan pengalaman,

• dan menghasilkan karya.

Menulis juga dapat menjadi bagian dari pengembangan profesional guru.

Guru tidak berhenti menjadi pengajar.

Guru berkembang menjadi:

guru → penulis → pembelajar → penggerak → inspirator.

7. Menulis Adalah Cara Mengabadikan Gagasan

Manusia mempunyai umur yang terbatas.

Namun tulisan dapat hidup lebih lama daripada penulisnya.

Kita mungkin tidak selamanya berada di sekolah.

Suatu saat kita pensiun.

Suatu saat kita tidak lagi mengajar.

Tetapi buku yang kita tulis masih dapat dibaca.

Artikel yang kita publikasikan masih dapat ditemukan.

Blog yang kita bangun masih dapat memberikan manfaat.

Karena itu saya mempunyai prinsip:

“Menulislah sebelum terlambat. Terbitkan bukumu sebelum ajal menjemput.”


Kalimat ini bukan untuk menakut-nakuti.

Ini adalah pengingat bahwa waktu tidak pernah bisa kita ulang.

C. Apa yang Bisa Ditulis Guru?

Bapak/Ibu tidak perlu mencari topik yang terlalu rumit.

Mulailah dari kehidupan sehari-hari.

1. Pengalaman Mengajar

Contoh:

“Ketika Siswa Saya Akhirnya Berani Bertanya”

2. Kisah Inspiratif Siswa

Contoh:

“Dari Siswa Pemalu Menjadi Juara Pidato”

3. Praktik Baik Pembelajaran

Contoh:

“Mengajarkan Coding Tanpa Komputer di Sekolah”

4. Refleksi Guru

Contoh:

“Hari Ini Saya Belajar dari Murid Saya”

5. Teknologi Pendidikan

Contoh:

“Menggunakan AI Secara Bijak dalam Pembelajaran”

6. Pengalaman Mengikuti Pelatihan

Contoh:

“Apa yang Saya Dapatkan dari Pelatihan Guru Hari Ini?”

7. Kisah Kegagalan

Jangan takut menulis kegagalan.

Kegagalan dapat menjadi tulisan yang sangat menarik.

Misalnya:

“Saya Gagal, tetapi Saya Belajar Sesuatu yang Berharga.”

D. Rumus Sederhana Menulis Artikel

Bapak/Ibu yang masih bingung memulai tulisan dapat menggunakan rumus:

5W + 1H + REFLEKSI

What — Apa yang terjadi?

Who — Siapa yang terlibat?

When — Kapan terjadi?

Where — Di mana terjadi?

Why — Mengapa terjadi?

How — Bagaimana prosesnya?

Kemudian tambahkan:

Apa yang saya pelajari?

Bagian refleksi inilah yang sering membuat tulisan guru menjadi lebih hidup.

E. Jangan Menunggu Tulisan Sempurna

Salah satu penyakit penulis pemula adalah:

“Saya belum bisa menulis.”


Alasan lainnya:

“Saya tidak punya ide.”


“Saya tidak pandai merangkai kata.”


“Tulisan saya jelek.”


“Nanti kalau sudah punya waktu.”


Padahal menulis adalah keterampilan.

Keterampilan tidak lahir karena menunggu.

Keterampilan lahir karena berlatih.

Jangan menunggu menjadi penulis hebat untuk mulai menulis.

Mulailah menulis agar menjadi penulis hebat.

F. Menulis dengan Hati

Teknologi kecerdasan artifisial sekarang dapat membantu guru mencari ide, membuat kerangka, memperbaiki struktur kalimat, dan mengembangkan tulisan.

Tetapi ada satu hal yang tidak boleh hilang:

HATI PENULIS.

AI dapat membantu mengolah kata.

Tetapi pengalaman hidup kita adalah milik kita sendiri.

Karena itu saya mempunyai prinsip:

“Menulislah dengan hati, bukan sekadar dengan ChatGPT.”


Gunakan AI sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti pengalaman dan pemikiran guru.

Tuliskan apa yang benar-benar kita alami.

Tuliskan apa yang kita rasakan.

Tuliskan pelajaran yang kita dapatkan.

Dengan demikian tulisan akan terasa manusiawi dan mempunyai jiwa.

G. Dari Pengalaman Menjadi Buku

Bapak/Ibu tidak perlu langsung berpikir:

“Bagaimana saya menulis buku 100 halaman?”

Itu terlalu berat.

Mulailah dari satu tulisan.

Kemudian tulisan kedua.

Tulisan ketiga.

Tulisan keempat.

Terus menulis.

Misalnya:

30 hari = 30 tulisan.

Jika setiap tulisan rata-rata 1.000 kata, kita sudah memiliki sekitar:

30.000 kata.

Tulisan tersebut kemudian dapat diedit, dikelompokkan, diberi judul bab, dan dikembangkan menjadi sebuah buku.

Jadi sebenarnya:

Buku yang tebal dapat dimulai dari tulisan yang sederhana.


H. Tantangan 7 Hari Menulis

Untuk peserta KBMN PGRI Gelombang 35, saya mengajak Bapak/Ibu mengikuti tantangan sederhana.

Hari 1

Tuliskan pengalaman mengajar yang paling berkesan.

Hari 2

Tuliskan satu siswa yang pernah menginspirasi Anda.

Hari 3

Tuliskan satu kegagalan yang pernah Anda alami.

Hari 4

Tuliskan praktik baik pembelajaran Anda.

Hari 5

Tuliskan guru yang paling menginspirasi Anda.

Hari 6

Tuliskan perubahan terbesar dalam perjalanan Anda sebagai guru.

Hari 7

Tuliskan alasan mengapa Anda ingin terus menjadi guru.

Jangan memikirkan jumlah pembaca terlebih dahulu.

Yang penting selesai.

I. Tugas Praktik KBMN PGRI Gelombang 35

Tugas Utama

Buatlah satu artikel dengan tema:

“Mengapa Saya sebagai Guru Perlu Menulis?”

Panjang tulisan:

500–1.000 kata.

Tulisan dipublikasikan di blog pribadi masing-masing peserta.

Struktur tulisan:

Judul

Pembukaan

Ceritakan pengalaman atau alasan pribadi.

Isi

Jelaskan pengalaman, tantangan, manfaat, dan alasan Anda menulis.

Refleksi

Apa yang Anda pelajari dari pengalaman tersebut?

Penutup

Tuliskan komitmen Anda setelah mengikuti KBMN.

J. Tantangan untuk Peserta

Setelah tulisan dipublikasikan, peserta dapat membagikan:

1. Link artikel

2. Judul tulisan

3. Satu kalimat paling inspiratif dari tulisan

Contoh:

“Saya menulis bukan karena saya sudah hebat, tetapi karena saya ingin belajar menjadi lebih baik.”


K. Penutup: Guru Menulis, Guru Menginspirasi

Bapak/Ibu guru peserta KBMN PGRI Gelombang 35,

Jangan berpikir bahwa tulisan kita harus sempurna.

Tidak ada tulisan pertama yang langsung sempurna.

Tulisan pertama adalah latihan.

Tulisan kedua adalah perbaikan.

Tulisan ketiga adalah keberanian.

Tulisan berikutnya adalah konsistensi.

Dan suatu hari nanti kita akan melihat kembali tulisan-tulisan itu dan berkata:

“Ternyata saya sudah menghasilkan begitu banyak karya.”

Guru bukan hanya orang yang berdiri di depan kelas.

Guru adalah manusia pembelajar yang mempunyai pengalaman, gagasan, dan cerita.

Jangan biarkan semua itu hilang begitu saja.

Tulislah.

Tuliskan pengalaman Anda.

Tuliskan kegagalan Anda.

Tuliskan keberhasilan Anda.

Tuliskan pembelajaran Anda.

Tuliskan kisah murid-murid Anda.

Tuliskan perjalanan hidup Anda sebagai seorang guru.

Sebab mungkin bagi kita cerita itu biasa.

Tetapi bagi orang lain, cerita kita bisa menjadi inspirasi luar biasa.

Dan akhirnya saya ingin menitipkan satu kalimat kepada seluruh peserta KBMN PGRI Gelombang 35:

“Guru menulis adalah guru yang menginspirasi. Guru yang menulis buku sedang menyiapkan jejak kebaikan yang akan tetap hidup ketika dirinya sudah tidak lagi berada di ruang kelas.”


Mari menulis. Mari berbagi. Mari menginspirasi.

Salam literasi.

Omjay – Guru Blogger Indonesia - Blog https://wijayalabs.com

9 komentar:

  1. Materi Omjay hari ini sangat menginspirasi, terutama pertanyaan "kalau pengalaman mengajar hilang, apa yang tersisa?" yang langsung menohok hati saya. Sebagai guru sekaligus ibu rumah tangga, jujur saja keinginan untuk menulis sering kali terbentur keterbatasan waktu dan tenaga akibat setumpuk tugas di sekolah serta kewajiban di rumah.
    ​Namun, dari pemaparan ini saya sadar bahwa menulis harus disempatkan, bukan menunggu waktu luang. 🫡

    BalasHapus
  2. Terima kasih tulisannya Om Jay.....ini sangat memotivasi kami sebagai guru untuk selalu menulis

    BalasHapus
  3. Bismillah , mulai mencoba untuk menulis . Terimakasih atas motivasinya

    BalasHapus
  4. Alhamdulillah, ada link and match dari insting saya yang selalu ingin mendokumentasikan kegiatan yang istimewa saat mengajar dengan materi malam ini. Terima kasih.

    BalasHapus
  5. Menulis bukti otentik kisah hidup kita. Terima kasih Om Jay

    BalasHapus

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.