Seorang kawan di WA Group The writres bertanya kepada Omjay.
Chat GPT punya data dari ribuan buku, ide orang lain, dan dari berbagai sumber. Namun Chat GPT tidak pernah menyebutkan sumber-sumber tersebut dalam mengutip untuk memberikan jawaban. Menurut Om Jay apakah wajar kalau kita melakukan copy-paste dari chat GPT dan mengklaimnya ?
Tidak wajar. Bahkan itu bisa menjadi bentuk “pembajakan intelektual” yang halus tetapi berbahaya.
Memang benar, ChatGPT belajar dari sangat banyak data: buku, artikel, jurnal, forum, percakapan, dan berbagai sumber lain. Namun ChatGPT bukan mesin penyalin langsung. Ia menghasilkan jawaban baru berdasarkan pola bahasa yang dipelajari. Karena itu, sering kali sumber asli tidak muncul secara otomatis dalam jawaban.
Tetapi di sinilah letak persoalannya.
Ketika seseorang tinggal copy-paste hasil ChatGPT lalu mengaku, “Ini karya saya sepenuhnya,” maka ada masalah etika di sana. Apalagi jika dipublikasikan, dilombakan, dijadikan buku, karya ilmiah, atau bahkan dipakai mencari keuntungan tanpa proses berpikir dan pengolahan pribadi.
Bayangkan seorang guru memberi tugas menulis kepada muridnya. Tujuannya bukan sekadar menghasilkan teks, tetapi melatih cara berpikir, kejujuran, dan karakter. Jika murid hanya menyalin jawaban AI tanpa memahami isinya, maka yang tumbuh bukan kemampuan, melainkan ketergantungan.
AI itu seharusnya seperti:
- kalkulator untuk berhitung,
- kamera untuk mengabadikan momen,
- atau mesin pencari untuk membantu menemukan informasi.
Ia alat bantu, bukan pengganti nurani dan kreativitas manusia.
Masalah terbesar dari budaya copy-paste bukan hanya soal hak cipta. Yang lebih berbahaya adalah matinya proses belajar. Orang jadi malas membaca, malas merenung, malas mengalami, dan malas menulis dari hati. Padahal tulisan yang paling kuat sering lahir bukan dari kecanggihan kata, melainkan dari pengalaman hidup dan kejujuran penulisnya.
Banyak tulisan AI terlihat rapi, tetapi terasa dingin.
Sementara tulisan manusia kadang sederhana, tetapi punya jiwa.
Karena itu, menggunakan ChatGPT secara bijak jauh lebih penting daripada sekadar menggunakannya. Misalnya:
- meminta ide kerangka tulisan,
- mencari referensi awal,
- memperbaiki tata bahasa,
- membantu menyusun poin-poin,
- atau memancing inspirasi.
Setelah itu, manusialah yang harus memberi:
- pengalaman,
- sudut pandang,
- emosi,
- nilai,
- dan tanggung jawab moral.
Kalau ada orang memakai ChatGPT lalu mengedit, menambahkan pengalaman pribadi, melakukan riset tambahan, memberi analisis sendiri, lalu menyebut bahwa tulisan dibantu AI — itu masih etis.
Namun kalau:
- copy mentah,
- tidak membaca ulang,
- tidak memahami isi,
- lalu mengaku karya asli pribadi,
maka itu sama saja memakai “otak pinjaman” sambil berharap mendapat pengakuan sebagai pemikir.
Ironisnya, pembaca yang berpengalaman biasanya bisa merasakan.
Tulisan yang lahir dari pengalaman hidup memiliki napas. Ada luka, ada harapan, ada detail manusiawi. Sedangkan tulisan copy-paste AI sering terasa terlalu licin, terlalu sempurna, tetapi kosong ruhnya.
Di era AI sekarang, menurut saya ukuran kecerdasan bukan lagi “siapa paling cepat menghasilkan tulisan”, tetapi:
- siapa yang paling jujur,
- siapa yang mampu memberi nilai tambah,
- dan siapa yang tetap punya suara asli di tengah banjir teks buatan mesin.
Menulis dengan bantuan AI itu boleh.
Tetapi kehilangan keaslian diri demi pujian instan, itu kerugian besar bagi masa depan literasi kita.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.