Semestinya Presiden Bertanya Soal MBG kepada Murid, Bukan kepada Buruh
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay)
“Kalau ingin tahu rasa makanan di sekolah, tanyalah kepada murid yang memakannya. Jangan kepada buruh yang sedang memikirkan harga beras dan biaya kontrakan.”
Kalimat itu tiba-tiba terlintas di kepala Omjay ketika membaca berbagai komentar di media sosial tentang program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ada yang memuji, ada yang mengkritik, dan ada pula yang merasa program tersebut belum menyentuh kebutuhan utama rakyat kecil.
Omjay jadi teringat obrolan sederhana dengan seorang buruh harian di pinggir jalan dekat sekolah. Wajahnya lelah. Bajunya penuh debu. Tangannya kasar karena bekerja dari pagi hingga malam.
“Pak, bagaimana menurut bapak soal MBG?” tanya seseorang dalam sebuah video yang viral.
Buruh itu tersenyum tipis.
“Yang saya pikirkan sekarang bukan makan gratis di sekolah, Pak. Anak saya memang senang kalau dapat makan di sekolah. Tapi saya bingung bayar kontrakan, harga beras naik, gas naik, ongkos naik. Gaji saya segitu-gitu saja.”
Jawaban itu terasa sangat jujur. Sangat sederhana. Namun menampar kesadaran kita semua.
Omjay memahami bahwa program MBG memiliki niat baik. Tidak ada yang salah dengan memberi makanan bergizi kepada anak-anak sekolah. Bahkan sebagai guru, Omjay sangat mendukung anak Indonesia mendapatkan asupan gizi yang baik agar bisa belajar dengan sehat dan semangat.
Karena Omjay melihat sendiri di sekolah, ada siswa yang datang pagi tanpa sarapan. Ada yang menahan lapar sampai siang. Ada pula yang hanya membawa uang jajan seadanya. Ketika pelajaran berlangsung, konsentrasi mereka buyar bukan karena malas belajar, tetapi karena perut kosong.
Bagi anak-anak seperti itu, program MBG bisa menjadi penolong.
Namun persoalannya menjadi berbeda ketika suara buruh justru dipakai untuk mengukur keberhasilan program tersebut. Buruh tentu memiliki sudut pandang yang berbeda. Mereka hidup dalam tekanan ekonomi yang nyata setiap hari.
Harga kebutuhan pokok terus bergerak naik. Beras mahal. Cabai mahal. Minyak goreng mahal. Gas elpiji naik. Air mineral naik. Ongkos transportasi juga naik perlahan-lahan.
Sementara gaji mereka sering kali tidak bergerak secepat kenaikan kebutuhan hidup.
Omjay pernah duduk lama bersama seorang penjaga sekolah yang juga bekerja sambilan sebagai buruh bangunan. Ia bercerita sambil menyeruput kopi sachet murah.
“Pak Omjay, kami ini bukan menolak program pemerintah. Tapi kadang kami berharap pemerintah juga mendengar keluhan kami. Anak memang perlu makan bergizi. Tapi orang tuanya juga perlu hidup layak.”
Kalimat itu terus terngiang di telinga Omjay.
Karena sesungguhnya rakyat kecil tidak pernah banyak menuntut. Mereka hanya ingin hidup lebih tenang. Bisa membeli beras tanpa cemas. Bisa mengisi gas tanpa menghitung sisa uang di dompet. Bisa menyekolahkan anak tanpa takut tunggakan.
Itulah sebabnya Omjay merasa, semestinya ketika ingin mengevaluasi program MBG, Presiden lebih tepat bertanya langsung kepada murid-murid di sekolah.
Tanyakan kepada mereka:
“Apakah makanannya enak?” “Apakah kalian jadi lebih semangat belajar?” “Apakah kalian lebih sehat?” “Apakah kalian senang datang ke sekolah?”
Karena merekalah penerima manfaat utama program tersebut.
Anak-anak akan menjawab dengan polos dan jujur. Kalau makanannya enak, mereka bilang enak. Kalau kurang enak, mereka juga akan bicara apa adanya. Anak-anak belum pandai berpura-pura seperti orang dewasa.
Sedangkan buruh memiliki persoalan hidup yang berbeda. Pikiran mereka dipenuhi kebutuhan rumah tangga. Mereka memikirkan biaya sekolah anak, cicilan motor, listrik, dan harga sembako yang terus naik.
Maka wajar bila jawaban mereka lebih banyak bicara soal penghasilan dibanding MBG.
Omjay percaya pemerintah memiliki niat baik. Tetapi niat baik harus dibarengi dengan kepekaan membaca kebutuhan rakyat dari sudut yang tepat.
Jangan sampai rakyat kecil merasa suaranya hanya dibutuhkan untuk mendukung sebuah program, tetapi keluhan hidup mereka sehari-hari tidak benar-benar didengar.
Sebagai guru, Omjay melihat pendidikan tidak bisa dipisahkan dari kesejahteraan keluarga. Anak yang lapar sulit belajar. Tetapi anak yang orang tuanya stres karena ekonomi juga sulit tumbuh bahagia.
Guru di sekolah sering menjadi saksi diam kondisi itu.
Ada murid yang tidak fokus belajar karena ayahnya baru terkena PHK. Ada anak yang murung karena ibunya terlambat membayar uang sekolah. Ada siswa yang tertidur di kelas karena malamnya membantu orang tua berjualan.
Semua itu nyata.
Karena itu, memperbaiki pendidikan Indonesia tidak cukup hanya memberi makan gratis. Pendidikan juga membutuhkan keluarga yang kuat secara ekonomi. Orang tua yang tenang akan melahirkan anak yang lebih siap belajar.
Omjay membayangkan betapa indahnya bila program MBG berjalan berdampingan dengan kebijakan yang memperkuat kesejahteraan buruh dan rakyat kecil.
Upah yang layak. Harga kebutuhan pokok yang stabil. Lapangan kerja yang baik. Akses pendidikan yang murah. Pelayanan kesehatan yang mudah.
Jika semua itu berjalan bersama, maka anak-anak Indonesia akan tumbuh lebih sehat lahir dan batin.
Di ruang kelas, Omjay sering melihat secercah harapan di mata murid-muridnya. Mereka ingin masa depan yang lebih baik. Mereka ingin sekolah tinggi. Mereka ingin membanggakan orang tua mereka.
Namun harapan itu tidak boleh hanya dibebankan kepada anak-anak. Negara juga harus hadir untuk menjaga kehidupan keluarga mereka.
Pada akhirnya, tulisan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Omjay hanya ingin mengingatkan bahwa setiap rakyat memiliki sudut pandang berbeda.
Murid akan bicara tentang makanan sekolah. Guru akan bicara tentang pendidikan. Buruh akan bicara tentang penghasilan dan kebutuhan hidup.
Semua suara itu penting untuk didengar.
Karena bangsa yang besar bukan bangsa yang hanya pandai membuat program, tetapi bangsa yang mau mendengar suara rakyatnya dengan hati.
Salam hangat dari Omjay, Guru yang percaya bahwa pendidikan dan kesejahteraan harus berjalan beriringan demi masa depan Indonesia yang lebih manusiawi.
Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru blogger indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.