Terlihat Lemah di Saat Kuat, Merasa Kuat di Saat Lemah
Kisah Omjay dan Pelajaran Hidup dari Seorang Guru setelah menonton drama china.
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. — Omjay, Guru Blogger Indonesia
Hidup sering kali penuh paradoks. Ada orang yang terlihat kuat, padahal hatinya sedang rapuh. Ada pula yang tampak lemah di mata manusia, tetapi justru memiliki kekuatan luar biasa di dalam dirinya. Dalam perjalanan hidup, saya belajar satu hal penting: jangan pernah menilai seseorang hanya dari apa yang tampak di permukaan.
Saya, Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd., yang akrab dipanggil Omjay, pernah berada di dua posisi itu. Pernah terlihat sangat kuat ketika hati sebenarnya sedang lelah. Dan pernah dianggap lemah saat justru sedang menemukan kekuatan terbesar dalam hidup.
Sebagai guru, penulis, dan pembicara pendidikan, banyak orang melihat hidup saya penuh semangat. Saya sering tampil di depan umum, menulis setiap hari, berbicara tentang motivasi, teknologi pendidikan, literasi digital, hingga semangat berbagi ilmu. Banyak yang mengira saya tidak pernah lelah.
Padahal kenyataannya tidak selalu demikian.
Ada masa ketika tubuh terasa lemah. Penyakit datang silih berganti. Aktivitas yang biasanya mudah dilakukan tiba-tiba terasa berat. Bahkan untuk sekadar bangun pagi dan tersenyum pun membutuhkan perjuangan besar. Namun anehnya, justru di masa-masa itulah saya merasa lebih kuat secara batin.
Saya mulai memahami bahwa kekuatan sejati bukanlah tentang tubuh yang selalu sehat atau hidup yang selalu mudah. Kekuatan sejati adalah kemampuan untuk tetap bersyukur di tengah kesulitan. Tetap tersenyum walau hati sedang diuji. Tetap menolong orang lain meski diri sendiri sedang membutuhkan pertolongan.
Banyak guru di Indonesia mengalami hal yang sama. Mereka datang ke sekolah dengan wajah ceria, padahal di rumah sedang memikirkan biaya pendidikan anak, cicilan, kesehatan keluarga, atau masa depan yang belum pasti. Di depan murid, mereka terlihat kuat. Mereka mengajar dengan penuh dedikasi. Mereka memotivasi siswa agar pantang menyerah. Namun siapa yang tahu bahwa setelah pulang sekolah, mereka menangis diam-diam dalam doa malamnya?
Guru memang sering terlihat biasa. Tetapi di balik kesederhanaannya, ada kekuatan hati yang luar biasa.
Saya teringat sebuah peristiwa ketika kondisi kesehatan saya menurun cukup drastis. Tubuh terasa lemah dan pikiran dipenuhi kekhawatiran. Saat itu saya merasa tidak mampu melakukan banyak hal seperti biasanya. Akan tetapi, justru di masa itulah banyak sahabat datang memberi dukungan. Banyak murid mengirim pesan doa. Banyak pembaca tulisan saya menyampaikan rasa terima kasih karena artikel-artikel sederhana yang saya tulis ternyata memberi semangat bagi hidup mereka.
Saat itulah saya sadar, kadang Allah membuat kita merasa lemah agar kita belajar rendah hati. Agar kita tidak sombong dengan kekuatan sendiri. Agar kita sadar bahwa manusia hanyalah makhluk kecil yang membutuhkan pertolongan-Nya setiap waktu.
Sebaliknya, ada juga masa ketika saya sedang berada di puncak aktivitas. Undangan mengajar datang dari berbagai tempat. Tulisan dimuat di banyak media. Nama dikenal di dunia pendidikan digital. Dari luar terlihat sangat kuat dan sukses. Namun diam-diam hati justru merasa kosong.
Mengapa?
Karena kesibukan kadang membuat manusia lupa pada dirinya sendiri. Terlalu sibuk mengejar pengakuan hingga lupa menjaga kesehatan. Terlalu sibuk membantu orang lain hingga lupa memberi waktu untuk keluarga. Terlalu sibuk terlihat kuat hingga lupa bahwa diri sendiri juga manusia yang boleh merasa lelah.
Di situlah saya belajar bahwa kekuatan yang hanya terlihat di luar belum tentu benar-benar kuat di dalam.
Pengalaman hidup mengajarkan saya untuk tidak malu mengakui kelemahan. Sebab manusia bukan malaikat. Kita punya batas tenaga, batas emosi, dan batas kemampuan. Justru orang yang mau mengakui kelemahannya sering kali lebih kuat dibanding mereka yang terus berpura-pura kuat.
Dalam dunia pendidikan, saya melihat banyak guru hebat yang sebenarnya sedang berjuang melawan rasa lelah, tekanan administrasi, perubahan kurikulum, bahkan masalah ekonomi. Namun mereka tetap hadir di kelas. Tetap mengajar dengan hati. Tetap tersenyum kepada murid-muridnya.
Itulah kekuatan sejati seorang guru.
Saya percaya, Allah tidak pernah salah memberi ujian. Ketika kita dibuat lemah, sebenarnya Allah sedang mengajarkan keteguhan. Ketika kita merasa sendirian, sebenarnya Allah sedang mendidik hati agar lebih dekat kepada-Nya.
Karena itu, jangan pernah meremehkan orang yang terlihat lemah. Bisa jadi dia sedang berjuang lebih keras daripada yang kita bayangkan. Dan jangan pula terlalu bangga ketika merasa kuat. Sebab hidup bisa berubah dalam sekejap.
Hari ini kita sehat, besok belum tentu. Hari ini kita dipuji, besok mungkin dilupakan. Hari ini kita berdiri tegak, besok bisa saja membutuhkan bantuan orang lain.
Hidup mengajarkan saya untuk lebih banyak bersyukur daripada mengeluh. Lebih banyak memahami daripada menghakimi. Lebih banyak mendengar daripada merasa paling benar.
Sebagai Omjay, Guru Blogger Indonesia, saya ingin terus menulis bukan untuk terlihat hebat, tetapi untuk berbagi pelajaran hidup. Sebab tulisan yang lahir dari pengalaman nyata biasanya lebih mudah menyentuh hati pembaca.
Saya ingin setiap guru percaya bahwa dirinya berharga. Meski kadang lelah. Meski kadang merasa tidak dihargai. Meski kadang terlihat lemah.
Karena sesungguhnya, banyak orang kuat lahir dari luka yang tidak pernah terlihat. Dan banyak orang hebat dibentuk dari masa-masa sulit yang penuh air mata.
Tetaplah melangkah. Tetaplah mengajar dengan hati. Tetaplah menebar kebaikan walau dunia kadang tidak memahami perjuangan kita.
Sebab di balik kelemahan manusia, selalu ada kekuatan besar yang Allah titipkan bagi mereka yang mau bersabar dan bersyukur.
Salam literasi.
Wijaya Kusumah - omjay
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.