Tiga Malam Tahlilan dan Air Mata yang Tak Pernah Benar-Benar Kering
Hari Rabu, 13 Mei 2026, menjadi hari yang tidak akan pernah dilupakan oleh keluarga besar Omjay. Hari itu, kakak pertama Omjay meninggal dunia. Rasanya seperti mimpi yang begitu cepat berubah menjadi kenyataan pahit. Baru kemarin bercanda, baru kemarin saling menyapa di grup keluarga, baru kemarin mendengar suaranya. Kini semuanya tinggal kenangan.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Siang itu keluarga langsung bergerak menuju TPU Malaka 1 Pondok Kelapa, Jakarta Timur. Langit mendung seakan ikut bersedih. Tanah merah yang basah perlahan menutupi liang lahat kakak tercinta. Suara isak tangis keluarga pecah ketika jenazah mulai ditimbun tanah. Tidak ada seorang pun yang benar-benar siap menghadapi perpisahan.
Omjay berdiri memandangi makam kakaknya dengan hati yang terasa kosong. Ada banyak kenangan yang tiba-tiba berputar di kepala. Masa kecil bersama. Pertengkaran kecil antar saudara. Canda sederhana saat berkumpul keluarga. Semua datang bersamaan seperti tayangan film yang diputar ulang oleh Tuhan.
Kematian memang selalu mengajarkan satu hal penting: manusia hanya sedang singgah.
Malam harinya, rumah keluarga kakak dipenuhi pelayat. Kursi-kursi dan karpet disusun rapi. Karpet digelar di depan halaman rumah. Aroma teh hangat dan kopi bercampur dengan suasana duka yang masih sangat terasa. Tahlilan pertama dimulai. Bacaan Yasin dan doa-doa menggema pelan di dalam rumah.
Tidak sedikit yang menitikkan air mata.
Ada yang diam menunduk. Ada yang memandangi foto almarhum. Ada yang sibuk menyembunyikan kesedihannya agar tampak tegar di depan keluarga.
Padahal sesungguhnya hati mereka remuk.
Tahlilan berlangsung hingga tiga malam berturut-turut. Semalam menjadi malam ketiga. Bacaan doa masih sama, tetapi rasa kehilangan justru semakin terasa. Sebab setelah tamu mulai pulang, rumah kembali sunyi. Kursi kosong itu masih ada. Gelas yang biasa dipakai almarhum masih tersimpan. Bahkan suara langkahnya seperti masih terdengar di telinga.
Kesedihan keluarga belum benar-benar selesai.
Kebetulan hari Kamis sampai Jumat Omjay libur sekolah. Namun liburan kali ini terasa berbeda. Tidak ada keinginan pergi ke mana-mana. Tidak ada semangat berjalan-jalan atau sekadar mencari hiburan. Omjay memilih tetap di rumah.
Kadang duduk diam. Kadang membuka ponsel lalu melihat kembali foto-foto lama bersama kakak. Kadang tanpa sadar air mata jatuh begitu saja.
Ternyata kehilangan seseorang yang sangat dekat tidak pernah mudah.
Banyak orang mengira setelah pemakaman semuanya selesai. Padahal justru setelah semua tamu pulang, rasa sepi itu datang perlahan. Kita mulai sadar bahwa ada seseorang yang biasanya hadir, kini benar-benar sudah tiada.
Rumah terasa berbeda. Grup keluarga terasa berbeda. Bahkan hari-hari terasa berjalan lebih lambat.
Namun di balik kesedihan itu, keluarga Omjay tetap berusaha kuat. Sebab hidup harus terus berjalan. Doa-doa terus dipanjatkan agar almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT.
Hari Sabtu ini keluarga kembali mengadakan doa bersama di rumah. Doa itu bukan hanya untuk kakak Omjay yang telah meninggal dunia, tetapi juga untuk keponakan Omjay yang bernama Alda yang kini sedang hamil empat bulan.
Di tengah suasana duka, keluarga juga ingin memohon keselamatan untuk calon bayi yang sedang tumbuh dalam kandungan.
Begitulah hidup berjalan.
Ada yang pergi meninggalkan dunia. Ada pula kehidupan baru yang sedang dipersiapkan Allah untuk hadir ke bumi.
Sungguh, hidup dan mati berjalan berdampingan.
Omjay sudah meminta Ustadz Sijai untuk memberikan ceramah dan memimpin doa nanti siang selepas salat Zuhur sekitar pukul 13.00 WIB. Keluarga berharap acara sederhana itu membawa ketenangan hati.
Sebab terkadang manusia hanya membutuhkan satu hal saat sedang berduka: doa dan kebersamaan keluarga.
Dalam suasana seperti ini, Omjay kembali menyadari betapa berharganya waktu bersama orang-orang tercinta. Kita sering sibuk bekerja, sibuk mengejar dunia, sibuk memikirkan banyak hal, sampai lupa bahwa umur manusia tidak ada yang tahu.
Mungkin hari ini kita masih bisa bercanda. Mungkin besok kita tinggal nama.
Karena itu, jangan pelit memberi perhatian kepada keluarga. Jangan gengsi meminta maaf. Jangan menunda menyayangi orang-orang yang masih ada.
Sebab ketika seseorang sudah pergi, penyesalan tidak akan mampu mengembalikannya lagi.
Kematian kakak pertama Omjay juga mengajarkan bahwa keluarga adalah tempat pulang paling sejati. Saat duka datang, keluarga saling menguatkan. Saat air mata jatuh, keluarga saling memeluk. Saat hati terasa rapuh, keluarga menjadi sandaran.
Dan malam-malam tahlilan itu bukan sekadar tradisi.
Di sana ada cinta. Di sana ada kerinduan. Di sana ada harapan agar doa-doa yang dikirimkan menjadi cahaya bagi almarhum di alam kuburnya.
Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa kakak Omjay, melapangkan kuburnya, menerima amal ibadahnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.
Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan keikhlasan.
Dan semoga keponakan Omjay, Alda, selalu diberikan kesehatan bersama calon bayinya hingga persalinan nanti.
Aamiin ya rabbal alamin.
Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru blogger Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.