Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Minggu, 31 Mei 2026

Jadikan Menulis Sebagai Proses Pencerahan Diri

Menulis untuk Pencerahan, Bukan Sekadar Sensasi

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. — Omjay, Guru Blogger Indonesia

Pagi itu Omjay duduk sendirian di teras rumah kampung di Wanaraja, Garut. Udara terasa sejuk. Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan. Burung-burung kecil berkicau riang seolah sedang menyampaikan pesan kehidupan kepada siapa saja yang mau mendengarkan.

Di tangan Omjay ada secangkir kopi hangat.

Di hadapannya terbentang hamparan sawah hijau yang memanjakan mata.

Namun pikiran Omjay justru sedang berjalan jauh menembus ruang digital yang kini dipenuhi jutaan tulisan setiap hari.

Saat membuka ponsel, Omjay membaca sebuah tulisan yang membuat hatinya bergetar.

Judulnya sederhana.

"Menulis untuk Pencerahan, Bukan Sekadar Sensasi."

Omjay terdiam cukup lama.

Ada sesuatu yang terasa menancap dalam hati.

Sebab di tengah dunia yang semakin gaduh, pertanyaan itu terasa sangat penting.

Mengapa kita menulis?

Apakah untuk mencari perhatian?

Apakah untuk mengejar popularitas?

Apakah untuk menjadi viral?

Ataukah untuk menghadirkan cahaya bagi kehidupan orang lain?

Pertanyaan itu terus berputar di kepala Omjay.

Sebagai seorang guru yang telah mengajar lebih dari tiga dekade dan menulis selama bertahun-tahun, Omjay melihat perubahan besar dalam dunia literasi.

Dahulu orang menulis dengan kesabaran.

Mereka membaca banyak buku.

Mencatat gagasan.

Berdiskusi.

Merenung.

Lalu menuliskan pemikirannya dengan hati-hati.

Hari ini semuanya terasa berbeda.

Segalanya bergerak sangat cepat.

Orang ingin cepat terkenal.

Cepat viral.

Cepat mendapatkan perhatian.

Bahkan terkadang lebih sibuk menghitung jumlah like daripada menghitung manfaat dari tulisannya sendiri.

Padahal tulisan yang viral belum tentu bernilai.

Tulisan yang ramai diperbincangkan belum tentu membawa pencerahan.

Sebaliknya, tulisan yang sederhana dan nyaris tak terdengar justru sering kali mampu mengubah kehidupan seseorang.

Omjay teringat masa-masa awal ketika membuat blog.

Saat itu belum banyak orang mengenal dirinya.

Tulisan yang dipublikasikan sering kali hanya dibaca satu atau dua orang.

Kadang tidak ada komentar sama sekali.

Sepi.

Sunyi.

Namun Omjay tetap menulis.

Hari demi hari.

Minggu demi minggu.

Tahun demi tahun.

Apa yang dilihat ditulis.

Apa yang didengar ditulis.

Apa yang dirasakan ditulis.

Apa yang dipelajari ditulis.

Bukan karena ingin terkenal.

Tetapi karena Omjay percaya bahwa tulisan adalah jejak kehidupan.

Tulisan adalah rekaman perjalanan manusia.

Tulisan adalah saksi zaman.

Tulisan adalah warisan pemikiran yang akan tetap hidup meskipun penulisnya telah tiada.

Banyak orang mengira menulis itu pekerjaan yang sia-sia.

Padahal sesungguhnya menulis adalah cara manusia mengabadikan makna hidupnya.

Bertahun-tahun kemudian Omjay mulai merasakan keajaiban dari kebiasaan sederhana itu.

Tulisan-tulisan yang dahulu sepi pembaca perlahan menemukan jalannya sendiri.

Ada guru dari pelosok negeri yang menghubungi Omjay dan berkata bahwa tulisannya membuat mereka kembali bersemangat mengajar.

Ada mahasiswa yang menjadikan tulisan Omjay sebagai referensi penelitian.

Ada orang tua yang mengaku kembali bangkit dari keterpurukan setelah membaca kisah-kisah sederhana yang Omjay bagikan.

Saat itulah Omjay memahami satu hal.

Tulisan tidak bekerja seperti petir yang langsung menyambar langit.

Tulisan bekerja seperti air.

Pelan.

Tenang.

Diam-diam mengalir.

Namun mampu menghidupkan banyak kehidupan.

Di era media sosial saat ini, sensasi sering kali lebih menarik daripada substansi.

Judul dibuat bombastis.

Isi dibuat provokatif.

Emosi pembaca sengaja dipancing agar tulisan cepat menyebar.

Akibatnya, banyak tulisan hanya hidup beberapa jam lalu hilang tanpa meninggalkan makna.

Hari ini viral.

Besok dilupakan.

Padahal sejarah membuktikan bahwa peradaban besar dibangun oleh tulisan-tulisan yang mencerahkan.

Buku-buku yang mengubah dunia tidak lahir dari sensasi.

Mereka lahir dari kejujuran berpikir.

Dari ketekunan belajar.

Dari keberanian menyampaikan kebenaran.

Dan dari ketulusan berbagi ilmu kepada sesama.

Tulisan yang baik bukan sekadar membuat pembaca berkata,

"Wah, keren sekali!"

Tetapi membuat pembaca berkata,

"Hari ini saya mendapatkan pelajaran berharga."

Itulah pencerahan.

Itulah tujuan sejati dari sebuah tulisan.

Omjay masih ingat ketika pertama kali mendapat kesempatan belajar ke Jepang pada tahun 2016.

Kemudian pada tahun 2019 Omjay berkesempatan belajar ke China.

Saat berdiri di negeri yang maju itu, Omjay memandangi gedung-gedung tinggi dan perkembangan teknologi yang begitu luar biasa.

Tiba-tiba air mata menetes tanpa disadari.

Omjay membatin dalam hati.

"Ya Allah, kalau dulu saya menyerah menulis, mungkin saya tidak akan pernah sampai di sini."

Air mata itu bukan karena kesedihan.

Air mata itu lahir dari rasa syukur.

Siapa sangka kebiasaan sederhana menulis setiap hari mampu membuka begitu banyak pintu kehidupan?

Menulis mempertemukan Omjay dengan ribuan sahabat.

Menulis membawa Omjay berkeliling Indonesia.

Menulis mengantarkan Omjay belajar ke berbagai negara.

Menulis membuka kesempatan yang dahulu hanya menjadi mimpi.

Karena itu Omjay selalu berpesan kepada para guru, mahasiswa, siswa, dan siapa saja yang ingin mulai menulis:

Menulislah setiap hari.

Jangan menunggu sempurna.

Jangan menunggu hebat.

Jangan menunggu terkenal.

Jangan menunggu viral.

Tulislah sekarang juga.

Tulislah apa yang ada di hati.

Tulislah pengalamanmu.

Tulislah perjuanganmu.

Tulislah kegagalanmu.

Tulislah harapanmu.

Sebab tulisan yang lahir dari hati akan menemukan jalannya menuju hati yang lain.

Hari ini mungkin tulisanmu hanya dibaca sepuluh orang.

Besok mungkin seratus orang.

Lima tahun lagi mungkin ribuan orang.

Tetapi sesungguhnya yang paling penting bukan jumlah pembacanya.

Yang paling penting adalah manfaatnya.

Sebab tulisan yang bermanfaat akan hidup jauh lebih lama dibanding sensasi sesaat.

Tulisan yang mencerahkan akan terus menyala seperti lilin di tengah kegelapan.

Tulisan yang menginspirasi akan menjadi sedekah ilmu yang pahalanya terus mengalir.

Matahari pagi mulai meninggi.

Kabut perlahan menghilang.

Suara ayam jantan masih terdengar bersahutan dari kejauhan.

Omjay menatap layar ponselnya sekali lagi.

Lalu tersenyum.

Di zaman yang penuh kegaduhan ini, dunia tidak kekurangan orang yang bisa berbicara.

Dunia juga tidak kekurangan orang yang bisa membuat sensasi.

Tetapi dunia masih membutuhkan lebih banyak orang yang mau menghadirkan pencerahan.

Orang-orang yang menulis dengan hati.

Orang-orang yang menjadikan pena sebagai jalan pengabdian.

Orang-orang yang percaya bahwa tulisan bukan sekadar rangkaian kata, tetapi cahaya yang mampu menerangi kehidupan manusia.

Karena pada akhirnya, tulisan yang paling berharga bukanlah tulisan yang paling viral.

Melainkan tulisan yang mampu membuat seseorang menjadi lebih baik setelah membacanya.

Maka jika hari ini engkau mulai menulis, jangan tanyakan berapa banyak orang yang membaca tulisanmu.

Jangan tanyakan berapa banyak yang memberi tanda suka.

Jangan tanyakan apakah tulisanmu viral atau tidak.

Tanyakanlah satu hal yang lebih penting:

"Apakah tulisan ini mampu memberi cahaya bagi kehidupan orang lain?"

Jika jawabannya "iya", teruslah menulis.

Sebab mungkin suatu hari nanti, ketika dirimu sudah tiada, tulisan itulah yang masih berbicara.

Menyapa para pembacanya.

Menguatkan hati mereka.

Menginspirasi langkah mereka.

Dan menjadi saksi bahwa pernah ada seorang penulis yang memilih menghadirkan pencerahan, bukan sekadar sensasi.

Karena sesungguhnya umur manusia terbatas.

Tetapi tulisan yang lahir dari hati bisa hidup melintasi zaman.

---

Salam Blogger Persahabatan

Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Guru Blogger Indonesia

🌐 Blog: https://wijayalabs.com

"Tulisan adalah jejak kehidupan. Menulislah setiap hari dan lihatlah keajaiban yang Allah hadirkan dalam hidupmu."

1 komentar:

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.