Kesejahteraan Guru Jadi Prioritas: Harapan Baru Pendidikan Indonesia
Pidato Presiden Prabowo Subianto mengenai penyusunan RAPBN 2027 membawa angin segar bagi dunia pendidikan Indonesia. Dalam pidatonya di Sidang Paripurna DPR RI pada 20 Mei 2025, beliau menegaskan bahwa kesejahteraan guru akan menjadi salah satu prioritas utama dalam penyusunan RAPBN 2027. Kalimat itu terdengar sederhana, namun bagi jutaan guru di Indonesia, ucapan tersebut seperti embun yang menyejukkan hati setelah perjalanan panjang penuh pengabdian.
Guru adalah pondasi bangsa. Dari tangan seorang guru lahir dokter, tentara, polisi, pengusaha, menteri, bahkan presiden. Namun ironisnya, masih banyak guru yang hidup dalam keterbatasan. Ada guru honorer yang harus mengajar dari pagi hingga sore dengan gaji yang bahkan belum cukup memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Ada guru yang tetap datang ke sekolah meski harus menempuh perjalanan jauh dengan kendaraan seadanya. Bahkan tidak sedikit guru yang tetap tersenyum di depan murid-muridnya walaupun di rumah mereka sedang memikirkan biaya sekolah anak atau tagihan kebutuhan hidup.
Pernyataan Presiden Prabowo tentang kesejahteraan guru menjadi harapan besar bahwa negara mulai benar-benar memberi perhatian serius kepada para pendidik. Sebab selama ini, guru sering diminta profesional, kreatif, inovatif, dan berdedikasi tinggi, tetapi kesejahteraan mereka belum sepenuhnya sejalan dengan tuntutan tersebut.
Dalam kehidupan sehari-hari, guru bukan hanya mengajar pelajaran di kelas. Guru juga menjadi pendengar keluh kesah murid, menjadi motivator, bahkan sering menjadi orang tua kedua di sekolah. Banyak guru yang rela menggunakan uang pribadinya untuk membantu siswa membeli buku, seragam, atau sekadar memberi makan kepada murid yang belum sarapan. Pengabdian seperti itu tidak selalu terlihat, tetapi nyata adanya.
Saya teringat kisah seorang guru honorer di daerah pinggiran Bekasi. Setiap pagi beliau berangkat mengajar menggunakan sepeda motor tua. Saat hujan deras turun, jas hujan tipis yang dipakainya tak mampu menahan dinginnya angin. Namun beliau tetap datang ke sekolah tepat waktu. Ketika ditanya mengapa tetap semangat mengajar dengan penghasilan kecil, beliau menjawab pelan, “Kalau saya menyerah, siapa yang akan mengajar anak-anak ini?”
Jawaban itu sederhana, tetapi sangat menyentuh hati. Guru sering kali bekerja bukan hanya karena profesi, melainkan karena panggilan jiwa.
Karena itu, ketika pemerintah menyatakan bahwa kesejahteraan guru menjadi prioritas dalam RAPBN 2027, masyarakat tentu berharap bukan hanya menjadi slogan atau janji politik semata. Guru membutuhkan bukti nyata. Mereka berharap ada peningkatan kesejahteraan yang benar-benar dirasakan, mulai dari kenaikan gaji, perlindungan kerja, tunjangan yang tepat sasaran, hingga kepastian status bagi guru honorer.
Kesejahteraan guru bukan sekadar soal uang. Kesejahteraan juga berarti penghargaan terhadap martabat profesi guru. Guru harus merasa aman, dihormati, dan didukung dalam menjalankan tugasnya. Sebab pendidikan yang berkualitas tidak akan lahir dari guru yang hidup dalam tekanan ekonomi dan ketidakpastian.
Negara-negara maju memahami betul pentingnya guru. Mereka menjadikan profesi guru sebagai pekerjaan yang terhormat dengan kesejahteraan yang baik. Akibatnya, banyak generasi muda terbaik tertarik menjadi guru. Indonesia pun seharusnya bergerak ke arah yang sama. Jika guru disejahterakan, maka kualitas pendidikan akan meningkat. Jika pendidikan meningkat, maka masa depan bangsa juga akan menjadi lebih baik.
Pidato Presiden Prabowo itu juga menjadi pengingat bahwa investasi terbesar bangsa sebenarnya bukan pada gedung mewah atau proyek besar semata, melainkan pada manusia. Dan manusia berkualitas lahir dari pendidikan yang baik. Pendidikan yang baik lahir dari guru yang bahagia dan sejahtera.
Sebagai seorang guru, saya merasakan bahwa penghargaan paling indah bukan hanya sertifikat atau tepuk tangan, tetapi ketika negara hadir memperhatikan kehidupan para pendidiknya. Guru tidak ingin dipuji berlebihan. Guru hanya ingin hidup layak agar dapat fokus mendidik generasi bangsa dengan hati yang tenang.
Di berbagai pelosok Indonesia, masih ada guru yang mengajar di ruang kelas sederhana dengan fasilitas terbatas. Ada yang harus menyeberangi sungai, mendaki bukit, bahkan berjalan kaki berjam-jam demi menemui murid-muridnya. Mereka tetap bertahan karena percaya bahwa pendidikan adalah cahaya bagi masa depan bangsa.
Bayangkan jika seluruh guru Indonesia benar-benar sejahtera. Mereka dapat mengajar dengan lebih fokus, lebih kreatif, dan lebih bersemangat. Murid-murid akan mendapatkan pendidikan yang lebih berkualitas. Sekolah menjadi tempat yang menyenangkan. Dan Indonesia akan memiliki generasi emas yang cerdas sekaligus berkarakter.
Harapan itu kini mulai tumbuh kembali. Pernyataan Presiden Prabowo memberikan sinyal bahwa pemerintah memahami pentingnya peran guru dalam membangun bangsa. Namun tentu saja, masyarakat akan menunggu langkah konkret dan realisasi nyata dari komitmen tersebut.
Guru Indonesia sudah terlalu lama mengabdi dengan segala keterbatasan. Sudah saatnya mereka mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Sebab ketika guru sejahtera, sesungguhnya bangsa sedang menyiapkan masa depan yang lebih cerah.
Semoga RAPBN 2027 benar-benar menjadi titik awal perubahan besar bagi dunia pendidikan Indonesia. Semoga kesejahteraan guru bukan lagi sekadar wacana, tetapi menjadi kenyataan yang dirasakan hingga ke pelosok negeri.
Karena di balik kemajuan sebuah bangsa, selalu ada guru yang bekerja dalam diam, mengajar dengan hati, dan berjuang tanpa lelah demi masa depan anak negeri.
Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru blogger indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.