Kisah Omjay: Ketika Waktu Menjadi Guru Kehidupan
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd — Omjay, Guru Blogger Indonesia
“Waktu adalah uang.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Hampir semua orang pernah mengucapkannya. Namun semakin usia bertambah, Omjay justru menyadari satu kenyataan yang membuat hati bergetar:
Uang yang hilang masih bisa dicari.
Tetapi waktu yang pergi tidak akan pernah kembali.
Pagi itu, Selasa 26 Mei 2026, langit masih gelap ketika Omjay terbangun sebelum adzan Subuh. Rumah masih sunyi. Istri dan anak-anak masih tertidur lelap. Hanya suara kipas angin dan detik jam dinding yang terdengar perlahan.
Tik…
Tik…
Tik…
Omjay duduk di ruang kerja kecilnya. Di atas meja ada laptop tua yang setia menemani menulis, beberapa buku pendidikan yang mulai kusam, catatan webinar, dan secangkir kopi hangat yang mengepul perlahan.
Jam digital di layar laptop menunjukkan:
04.17…
04.18…
04.19…
Detik demi detik berjalan tanpa bisa dihentikan.
Saat itulah dada Omjay terasa sesak oleh sebuah kesadaran yang sering manusia lupakan: hidup ini sebenarnya sedang menghitung mundur umur kita.
Kita tahu saldo rekening kita.
Kita tahu umur kendaraan kita.
Kita tahu masa berlaku SIM dan KTP kita.
Namun tidak ada seorang pun yang tahu berapa sisa waktu hidupnya.
Dan justru itulah rahasia terbesar kehidupan.
Omjay menatap langit Subuh dari balik jendela rumah. Hatinya tiba-tiba teringat firman Allah:
وَالْعَصْرِ
“Demi masa.”
Ayat pendek. Hanya beberapa kata. Tetapi mampu mengguncang hati siapa pun yang mau merenung.
Mengapa Allah bersumpah dengan waktu?
Karena waktu adalah kehidupan itu sendiri.
Ketika waktu habis, habislah kesempatan manusia.
Air Mata Seorang Guru Tua
Beberapa tahun lalu, Omjay pernah bertemu seorang guru senior yang sudah pensiun. Rambutnya putih semua. Jalannya perlahan menggunakan tongkat kayu. Namun wajahnya terlihat teduh.
Mereka berbincang lama di sebuah acara pendidikan.
Tiba-tiba guru tua itu berkata pelan sambil menatap jauh:
“Jay… dulu saya terlalu sibuk mengejar pekerjaan. Saya pikir hidup hanya tentang karier dan penghasilan. Sampai akhirnya saya sadar… anak-anak saya tumbuh tanpa banyak waktu bersama saya.”
Suara beliau mulai bergetar.
“Saat mereka kecil, saya sibuk rapat. Saat mereka remaja, saya sibuk tugas luar kota. Sekarang mereka sudah dewasa… dan saya hanya punya kenangan.”
Omjay terdiam.
Guru tua itu lalu mengusap air matanya.
“Yang paling mahal dalam hidup ternyata bukan rumah… bukan mobil… tapi waktu bersama orang-orang yang kita cintai.”
Kalimat itu menghantam hati Omjay begitu dalam.
Betapa banyak manusia bekerja siang malam demi masa depan, tetapi lupa menikmati hari ini.
Betapa banyak ayah kehilangan masa kecil anaknya karena terlalu sibuk.
Betapa banyak manusia menunda ibadah karena merasa masih punya waktu panjang.
Padahal kematian tidak pernah memberi tanda.
Kehilangan yang Mengubah Omjay
Omjay pernah kehilangan sahabat baik secara mendadak.
Masih sempat bercanda.
Masih sempat mengirim pesan WhatsApp.
Masih sempat merencanakan pertemuan.
Namun esok paginya kabar duka datang.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un…”
Omjay tercekat.
Tidak percaya.
Baru kemarin berbicara, hari ini sudah terbujur kaku.
Saat melayat, Omjay melihat anak-anak sahabatnya menangis di samping jenazah ayah mereka. Istrinya duduk lemas memandangi wajah suaminya untuk terakhir kali.
Dan saat itulah Omjay sadar…
Hidup ini benar-benar singkat.
Manusia sering merasa masih punya banyak waktu:
nanti kalau tua baru ibadah,
nanti kalau kaya baru sedekah,
nanti kalau senggang baru membaca Al-Qur’an,
nanti kalau pensiun baru dekat keluarga.
Padahal belum tentu “nanti” itu datang.
Waktu yang Terbuang Diam-Diam
Omjay juga manusia biasa.
Pernah terlalu lama bermain media sosial.
Pernah sibuk membaca komentar yang tidak penting.
Pernah menunda pekerjaan yang sebenarnya bisa selesai hari itu.
Tanpa sadar, waktu habis sedikit demi sedikit.
Padahal Rasulullah SAW sudah mengingatkan bahwa ada dua nikmat yang sering manusia lalaikan:
kesehatan,
dan waktu luang.
Kini Omjay mulai belajar memperbaiki diri.
Omjay mencoba menjadikan sholat sebagai pengatur kehidupan.
Subuh menjadi awal perjuangan.
Zuhur menjadi jeda untuk mengingat Allah di tengah dunia yang sibuk.
Ashar menjadi alarm bahwa usia hari mulai senja.
Maghrib menjadi tanda pulang dari hiruk pikuk dunia.
Isya menjadi waktu kembali berserah sebelum tidur.
Ternyata sholat bukan hanya kewajiban.
Sholat adalah cara Allah menyelamatkan manusia dari kehilangan arah hidup.
Menulis untuk Melawan Lupa
Banyak orang bertanya kepada Omjay:
“Kenapa masih terus menulis sampai larut malam?”
Omjay hanya tersenyum kecil.
Karena Omjay sadar, umur manusia terbatas. Tetapi tulisan bisa hidup jauh lebih lama dibanding penulisnya.
Suatu hari nanti, Omjay mungkin sudah tiada.
Namun Omjay berharap tulisan-tulisan tentang guru, pendidikan, persahabatan, dan kehidupan masih bisa dibaca orang lain.
Mungkin ada seorang guru yang kembali semangat setelah membaca tulisan Omjay.
Mungkin ada anak muda yang kembali menghargai orang tuanya setelah membaca kisah sederhana ini.
Mungkin ada seseorang yang kembali rajin sholat setelah tersentuh oleh tulisan tentang waktu.
Dan jika itu terjadi, maka tulisan menjadi amal jariyah yang terus hidup.
Itulah sebabnya Omjay terus menulis.
Bukan untuk terkenal.
Tetapi agar hidup lebih bermanfaat.
Ketika Jam Kehidupan Berhenti
Hari demi hari berlalu begitu cepat.
Anak-anak tumbuh dewasa.
Rambut mulai memutih.
Tubuh mulai mudah lelah.
Dan tanpa terasa, umur terus berkurang.
Omjay akhirnya memahami:
Waktu = umur.
Umur = kesempatan.
Selama masih diberi napas, berarti Allah masih memberi kesempatan:
untuk meminta maaf,
memperbaiki diri,
memeluk orang tua,
menyayangi pasangan,
mendidik anak,
membantu sesama,
menulis kebaikan,
dan bersujud kepada-Nya.
Karena suatu hari nanti…
Jam kehidupan akan berhenti berdetak.
Laptop akan mati.
Aktivitas akan selesai.
Media sosial akan ditinggalkan.
Dan manusia hanya membawa amalnya.
Saat itu tidak ada lagi kesempatan mengulang waktu.
Pesan Omjay untuk Kita Semua
Jika hari ini kita masih diberi umur, jangan habiskan hidup hanya untuk hal yang sia-sia.
Kurangi:
scroll tanpa tujuan,
debat yang tidak bermanfaat,
iri hati,
dan menunda kebaikan.
Perbanyak:
membaca,
menulis,
berdzikir,
memeluk keluarga,
membantu sesama,
dan mendekat kepada Allah.
Karena pada akhirnya…
Orang yang paling bahagia bukan yang paling kaya.
Tetapi yang paling mampu menggunakan waktunya untuk sesuatu yang bermakna.
Semoga kita tidak menjadi manusia yang menyesal ketika waktu sudah habis.
Sebab waktu adalah amanah.
Dan setiap detiknya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Tetap semangat menebar kebaikan.
Barakallah fiikum.
Salam blogger persahabatan
Dr. Wijaya Kusumah
Guru Blogger Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.