Kisah Omjay: Kemuliaan Sholat Tahajud yang Mengubah Hidup
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd
Guru Blogger Indonesia
Malam itu begitu sunyi. Jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari. Sebagian besar manusia masih terlelap dalam mimpi panjangnya. Jalanan sepi. Suara kendaraan nyaris tak terdengar. Hanya angin malam yang sesekali berhembus lembut menembus jendela rumah.
Di saat banyak orang masih menikmati tidurnya, Omjay perlahan bangun dari pembaringan. Mata masih terasa berat, tubuh pun belum sepenuhnya segar. Namun ada satu panggilan hati yang membuatnya berusaha melawan rasa malas. Panggilan itu adalah panggilan untuk bermunajat kepada Allah melalui sholat tahajud.
Omjay menyadari bahwa hidup ini tidak selalu berjalan mulus. Ada banyak persoalan yang datang silih berganti. Sebagai guru, penulis, pembicara, sekaligus ayah dalam keluarga, tanggung jawab yang dipikul terasa begitu besar. Terkadang hati lelah, pikiran penat, dan tubuh terasa rapuh menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Namun Omjay menemukan satu rahasia ketenangan yang luar biasa: sholat tahajud.
Awalnya memang tidak mudah. Bangun malam membutuhkan perjuangan. Apalagi ketika tubuh sangat lelah setelah aktivitas seharian mengajar, menulis artikel, mengikuti webinar, dan mendampingi keluarga. Ada kalanya alarm sudah berbunyi, tetapi tangan justru mematikannya lalu kembali tidur.
Akan tetapi Omjay terus belajar memaksa diri. Ia teringat pesan para ulama bahwa sholat tahajud adalah kebiasaan orang-orang saleh sejak zaman dahulu. Tahajud bukan hanya ibadah sunnah biasa, melainkan jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Dalam keheningan malam, Omjay mengambil air wudhu. Air dingin menyentuh wajahnya dan perlahan mengusir kantuk. Setelah itu ia berdiri menghadap kiblat. Tak ada sorotan kamera. Tak ada tepuk tangan manusia. Tak ada pujian. Hanya ada dirinya dan Allah SWT.
Saat itulah Omjay merasakan sesuatu yang berbeda.
Sholat tahajud menghadirkan ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Di dalam sujud panjangnya, Omjay mencurahkan semua isi hati. Tentang lelahnya menjadi guru. Tentang perjuangan mendidik anak bangsa. Tentang harapan agar keluarga selalu sehat. Tentang doa-doa sederhana yang mungkin tidak pernah ia sampaikan kepada siapa pun.
Air mata terkadang jatuh tanpa disadari.
Omjay merasakan bahwa manusia sebenarnya sangat kecil di hadapan Allah. Jabatan, harta, popularitas, dan pujian manusia tidak ada artinya ketika hati sedang gelisah. Yang mampu menenangkan hanyalah kedekatan dengan Sang Pencipta.
Sejak rutin melaksanakan tahajud, Omjay mulai merasakan banyak perubahan dalam hidupnya.
Bukan berarti hidup menjadi tanpa masalah. Ujian tetap datang. Tantangan tetap ada. Namun hati menjadi lebih kuat menghadapinya. Ada ketenangan yang sulit dibeli dengan uang.
Ketika menghadapi masalah pekerjaan, Omjay tidak mudah panik. Ketika tulisan mendapat kritik, ia belajar lebih sabar. Ketika tubuh lelah, jiwanya tetap terasa hidup.
Omjay juga merasakan kemudahan dalam banyak urusan. Ide-ide menulis mengalir lebih lancar. Kesempatan berbagi ilmu datang dari berbagai tempat. Banyak orang yang tiba-tiba menghubunginya untuk mengisi seminar, webinar, atau pelatihan menulis.
Ia percaya semua itu bukan semata-mata karena kemampuan dirinya. Ada pertolongan Allah yang datang melalui keberkahan sholat malam.
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman bahwa orang yang bangun malam untuk bersujud dan berdoa memiliki kedudukan mulia di sisi-Nya. Tahajud mengajarkan manusia untuk rendah hati. Sebab di malam hari, tidak ada yang melihat kecuali Allah.
Omjay pernah mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya. Ada saat di mana ekonomi terasa berat, kesehatan menurun, dan pekerjaan begitu melelahkan. Pada saat itulah tahajud menjadi tempat mengadu paling nyaman.
Di atas sajadah malam, Omjay belajar bahwa tidak semua masalah harus diceritakan kepada manusia. Ada luka yang cukup disampaikan kepada Allah. Ada air mata yang lebih indah jatuh saat sujud panjang di sepertiga malam.
Keajaiban tahajud bukan hanya soal terkabulnya doa. Namun bagaimana tahajud mengubah hati manusia menjadi lebih ikhlas, lebih sabar, dan lebih bersyukur.
Omjay juga sering mengajak para guru untuk membiasakan tahajud. Menjadi guru bukan pekerjaan ringan. Guru bukan hanya mengajar pelajaran, tetapi juga mendidik karakter anak bangsa. Beban moral seorang guru sangat besar. Karena itu guru membutuhkan kekuatan batin yang kokoh.
Menurut Omjay, kekuatan itu salah satunya lahir dari tahajud.
Guru yang dekat dengan Allah akan lebih sabar menghadapi murid. Lebih tenang menghadapi tekanan pekerjaan. Lebih ikhlas menjalani pengabdian.
Omjay teringat satu malam ketika dirinya sangat lelah sepulang kegiatan seminar pendidikan. Tubuh terasa capek luar biasa. Ia hampir saja melewatkan tahajud malam itu. Namun entah mengapa hatinya terus tergerak untuk bangun.
Dengan langkah pelan ia mengambil wudhu lalu sholat.
Di akhir doa, Omjay menangis cukup lama. Ia memohon agar Allah menjaga keluarganya, memberikan kesehatan, memudahkan rezeki, dan menjadikan dirinya guru yang bermanfaat.
Esok paginya, Omjay menerima kabar baik yang tak pernah disangka. Salah satu tulisannya mendapat apresiasi besar dan membuka jalan rezeki baru. Saat itulah Omjay semakin yakin bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang mau mendekat.
Tahajud bukan tentang menjadi manusia sempurna. Tahajud adalah tentang usaha memperbaiki diri setiap hari.
Omjay percaya, di balik gelapnya malam ada cahaya harapan bagi orang-orang yang mau bersujud kepada Allah. Ketika dunia terasa berat, tahajud menjadi tempat terbaik untuk menguatkan hati.
Kini Omjay memahami satu hal penting dalam hidup: manusia boleh punya banyak rencana, tetapi Allah adalah sebaik-baik penolong. Dan salah satu cara terbaik mengetuk pintu pertolongan-Nya adalah melalui sholat tahajud.
Karena di sepertiga malam, doa-doa yang lahir dari hati yang tulus akan terbang menuju langit, membawa harapan, air mata, dan keyakinan bahwa Allah selalu mendengar setiap hamba-Nya.
Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru blogger indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.