Kisah Omjay: Hibah Buku yang Menghidupkan Cahaya Ilmu
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd — Omjay, Guru Blogger Indonesia
Pagi itu udara Wanaraja Garut terasa sejuk. Matahari baru saja muncul dari balik pegunungan. Burung-burung kecil berkicau di halaman rumah, sementara Omjay duduk santai di teras sambil menyeruput kopi hangat. Di hadapan Omjay, beberapa kardus berisi buku tersusun rapi. Ada buku agama, buku pendidikan, buku motivasi, hingga buku keterampilan hidup.
Saat melihat tumpukan buku itu, hati Omjay tiba-tiba teringat pada sosok Pak Haji Romlan. Beliau dikenal sebagai pribadi sederhana yang memiliki kepedulian tinggi terhadap pendidikan dan masyarakat. Di tengah zaman ketika banyak orang sibuk mengumpulkan harta, Pak Haji Romlan justru ingin berbagi ilmu melalui hibah buku.
Omjay tersenyum pelan.
“Masya Allah… masih ada orang yang berpikir tentang masa depan generasi melalui buku,” gumam Omjay dalam hati.
Bagi Omjay, hibah buku bukan sekadar memberi benda. Hibah buku adalah menanam benih peradaban. Buku bisa mengubah cara berpikir seseorang. Buku mampu membuat anak desa berani bermimpi tinggi. Buku juga bisa menjadi teman terbaik ketika hidup terasa sepi.
Omjay lalu teringat masa kecilnya dulu. Ketika akses buku sangat terbatas, satu buku saja bisa dibaca berkali-kali sampai hafal isinya. Bahkan buku pinjaman dari perpustakaan sekolah terasa sangat berharga. Dari buku-buku itulah Omjay mulai mencintai dunia menulis dan pendidikan.
Kini zaman berubah. Anak-anak lebih akrab dengan layar handphone dibandingkan lembaran buku. Banyak yang sibuk bermain media sosial, tetapi jarang membaca buku berkualitas. Karena itulah Omjay merasa hibah buku yang dilakukan Pak Haji Romlan menjadi sangat penting.
Siang itu Omjay berbincang santai dengan beberapa warga. Mereka bercerita bahwa masih banyak sekolah, mushola, taman bacaan, dan perpustakaan kecil yang kekurangan buku. Ada anak-anak yang ingin membaca, tetapi bahan bacaannya sangat terbatas.
Mendengar cerita itu, hati Omjay semakin terenyuh.
“Betapa banyak anak hebat di negeri ini yang sebenarnya haus ilmu,” pikir Omjay.
Omjay lalu menyampaikan beberapa saran untuk Pak Haji Romlan agar hibah buku ini benar-benar memberi manfaat besar bagi masyarakat.
Menurut Omjay, yang paling penting bukan hanya jumlah buku yang dibagikan, tetapi ketepatan manfaatnya. Buku yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan pembacanya. Anak-anak membutuhkan buku cerita yang mendidik dan menyenangkan. Remaja membutuhkan buku motivasi, teknologi, dan pengembangan diri. Guru membutuhkan buku pendidikan yang menginspirasi.
Omjay juga menyarankan agar hibah buku tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata. Akan jauh lebih indah bila kegiatan itu dilakukan secara berkelanjutan. Sedikit demi sedikit, tetapi rutin. Sebab perpustakaan yang hidup adalah perpustakaan yang terus bertambah ilmunya.
“Jangan hanya memberi buku lalu selesai,” kata Omjay pelan. “Buku harus dihidupkan dengan kegiatan membaca dan menulis.”
Omjay percaya, budaya membaca harus berjalan bersama budaya menulis. Karena itulah Omjay selalu menyampaikan pesan kepada banyak guru dan siswa:
“Tulisanku adalah tabunganku untuk menjadi buku yang bermutu dan tersimpan di alat rekam yang ajaib bernama blog.”
Kalimat itu lahir dari pengalaman panjang Omjay sebagai guru blogger Indonesia. Menulis setiap hari membuat Omjay memahami bahwa ilmu yang ditulis akan hidup lebih lama dibandingkan hanya disimpan dalam pikiran.
Pak Haji Romlan tampak mendengarkan penuh perhatian.
Omjay lalu melanjutkan nasihatnya.
“Pak Haji, akan sangat bagus jika setiap buku hibah diberi pesan singkat yang menyentuh hati pembacanya.”
Misalnya:
‘Bacalah buku ini dengan hati, karena ilmu akan menerangi jalan hidupmu.’
Pesan sederhana seperti itu bisa menjadi motivasi besar bagi anak-anak yang membaca.
Tak terasa obrolan sore itu semakin hangat. Omjay melihat wajah-wajah penuh harapan. Ada guru, ada orang tua, dan ada anak-anak kecil yang memandang buku-buku itu dengan mata berbinar.
Saat itulah Omjay sadar bahwa buku memang memiliki kekuatan luar biasa. Buku bisa mempertemukan banyak hati dalam satu tujuan mulia: membangun manusia yang berilmu.
Omjay kemudian teringat sebuah kenyataan hidup. Ketika manusia meninggal dunia, yang dibawa bukanlah harta benda, bukan mobil mewah, bukan jabatan tinggi. Yang dibawa hanyalah amal kebaikan.
Hibah buku termasuk amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Selama buku itu dibaca dan ilmunya diamalkan, pahala akan terus sampai kepada pemberinya.
Betapa indahnya bila suatu hari ada seorang anak sukses menjadi guru, dokter, ulama, atau pemimpin bangsa karena dulu pernah membaca buku hibah dari Pak Haji Romlan.
Mungkin Pak Haji Romlan tidak akan pernah tahu siapa saja yang berubah hidupnya karena buku-buku itu. Namun Allah SWT mengetahui semuanya.
Langit mulai berubah jingga ketika percakapan sore itu berakhir. Angin Garut berhembus lembut. Omjay memandang tumpukan buku di depannya dengan hati yang hangat.
Di tengah dunia yang semakin sibuk mengejar materi, ternyata masih ada orang-orang baik yang percaya bahwa ilmu pengetahuan adalah cahaya kehidupan.
Sebelum pulang, Omjay kembali menyampaikan pesan yang sangat dalam kepada Pak Haji Romlan.
“Pak Haji, bangunan bisa rusak dimakan waktu. Harta bisa habis. Tetapi ilmu yang ditanam melalui buku akan hidup dalam hati manusia. Itulah warisan terbaik.”
Pak Haji Romlan tersenyum haru.
Dan Omjay percaya, dari hibah buku sederhana itu, akan lahir cahaya-cahaya kecil yang kelak menerangi Indonesia.
Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru blogger indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.