Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Senin, 25 Mei 2026

Bagaimana Mengelola Majalah Sekolah?

Majalah Sekolah: Pohon Literasi yang Menumbuhkan Mimpi

Dalam Kisah Dr. Wijaya Kusumah, Guru Blogger Indonesia

Malam itu, saya kembali membuka layar laptop sambil menatap sebuah flyer kegiatan KBMN PGRI Gelombang ke-34. Tema yang diangkat begitu menarik hati: Mengelola Majalah Sekolah. Sebuah tema sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan kekuatan besar dalam dunia pendidikan.

Saya tersenyum sendiri. Ingatan saya melayang jauh ke masa ketika majalah sekolah menjadi kebanggaan bersama. Di sanalah siswa belajar menulis, belajar berpikir, belajar menyampaikan gagasan, dan belajar percaya diri. Tidak sedikit siswa yang akhirnya menjadi penulis hebat karena pernah memulai langkah kecil dari majalah sekolah.

Majalah sekolah memang ibarat pohon literasi di sekolah.

Ia ditanam dari benih-benih kecil berupa tulisan sederhana. Lalu disiram dengan semangat membaca, rasa ingin tahu, dan keberanian berkarya. Seiring waktu, pohon itu tumbuh besar, menaungi banyak siswa dengan pengetahuan dan pengalaman.

Ketika melihat flyer kegiatan KBMN malam itu, saya merasa bahagia karena masih ada guru-guru hebat yang peduli terhadap budaya literasi sekolah. Narasumbernya adalah Widya Arema dengan moderator Mutmainah. Mereka akan berbagi pengalaman tentang bagaimana mengelola majalah sekolah agar hidup dan dicintai warga sekolah.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh PGRI melalui Kelas Belajar Menulis Nusantara PGRI. Sebuah komunitas yang selama ini terus menyalakan api literasi di tengah kesibukan guru-guru Indonesia.

Saya teringat pengalaman pribadi ketika pertama kali mengelola media sekolah. Saat itu fasilitas sangat terbatas. Komputer masih sedikit. Internet belum semudah sekarang. Bahkan mencetak majalah sekolah membutuhkan perjuangan luar biasa.

Namun justru dari keterbatasan itulah lahir kreativitas.

Saya masih ingat bagaimana siswa begitu antusias menyerahkan tulisan mereka. Ada yang menulis puisi tentang ibu, ada yang membuat cerpen persahabatan, ada pula yang melaporkan kegiatan sekolah seperti wartawan profesional. Semua tulisan itu dikumpulkan dengan penuh semangat.

Kadang saya membaca tulisan siswa sambil tersenyum haru. Banyak tulisan mereka sederhana, tetapi jujur dan tulus. Di sanalah saya sadar bahwa tugas guru bukan hanya mengajar mata pelajaran, tetapi juga menyediakan ruang agar suara siswa dapat didengar.

Majalah sekolah menjadi ruang itu.

Banyak sekolah hari ini berlomba membangun gedung megah, membeli perangkat canggih, dan mempercantik fasilitas fisik. Namun sering kali mereka lupa membangun budaya literasi. Padahal sekolah akan dikenal luas bukan hanya karena bangunannya, tetapi karena karya-karya yang dihasilkan siswanya.

Majalah sekolah mampu menjadi wajah sebuah sekolah.

Ketika sebuah sekolah memiliki majalah yang aktif, masyarakat akan melihat bahwa sekolah tersebut hidup. Ada kreativitas di dalamnya. Ada semangat belajar. Ada keberanian siswa menyampaikan gagasan.

Majalah sekolah juga menjadi media dokumentasi perjalanan sekolah. Semua kegiatan, prestasi, dan cerita inspiratif dapat diabadikan di sana. Bertahun-tahun kemudian, majalah itu akan menjadi jejak sejarah yang sangat berharga.

Saya pernah bertemu seorang alumni yang masih menyimpan majalah sekolahnya puluhan tahun lalu. Dengan mata berkaca-kaca ia menunjukkan tulisan pertamanya yang dimuat saat SMP. Tulisan itu sederhana sekali, tetapi menjadi kenangan yang tidak terlupakan.

“Dari sinilah saya mulai suka menulis,” katanya kepada saya.

Kalimat itu begitu membekas di hati saya.

Karena itulah saya selalu percaya bahwa majalah sekolah bukan sekadar kumpulan tulisan. Ia adalah tempat lahirnya mimpi-mimpi besar.

Dalam dunia digital saat ini, majalah sekolah sebenarnya memiliki peluang lebih besar untuk berkembang. Jika dulu harus dicetak dengan biaya mahal, sekarang sekolah dapat membuat majalah digital, blog sekolah, bahkan media online sekolah.

Saya sendiri banyak belajar bahwa kekuatan tulisan dapat menjangkau banyak orang melalui internet. Blog sederhana yang saya kelola akhirnya mempertemukan saya dengan banyak guru hebat di seluruh Indonesia. Semua bermula dari keberanian menulis dan berbagi pengalaman.

Itulah sebabnya kegiatan KBMN malam ini menjadi sangat penting. Guru-guru perlu belajar bagaimana mengelola majalah sekolah secara kreatif dan menarik. Mulai dari menentukan tema, membangun tim redaksi, melatih siswa menulis, hingga mempublikasikan karya mereka kepada masyarakat luas.

Majalah sekolah tidak boleh mati.

Jika majalah sekolah mati, maka salah satu ruang ekspresi siswa ikut hilang. Anak-anak hanya menjadi pembaca pasif media sosial tanpa belajar menghasilkan karya sendiri.

Padahal menulis adalah keterampilan penting masa depan.

Siswa yang terbiasa menulis akan lebih terampil berpikir kritis, mampu menyampaikan pendapat dengan baik, dan memiliki kepercayaan diri tinggi. Mereka tidak hanya menjadi penonton perubahan zaman, tetapi juga mampu menjadi bagian dari perubahan itu sendiri.

Saya membayangkan malam ini banyak guru dari berbagai daerah akan berkumpul melalui Zoom. Mereka datang dengan semangat yang sama: ingin membangun budaya literasi di sekolah masing-masing.

Mungkin ada guru dari desa terpencil yang tetap berjuang menghidupkan majalah sekolah meski fasilitas terbatas. Ada pula guru muda yang ingin memulai media digital sekolah pertama mereka. Semua berkumpul dalam satu semangat: mencerdaskan anak bangsa melalui tulisan.

Sungguh indah melihat guru-guru Indonesia terus belajar.

Saya percaya, ketika guru mau belajar, maka siswa akan ikut tumbuh. Ketika guru gemar menulis, maka siswa akan berani berkarya. Dan ketika sekolah memiliki budaya literasi yang kuat, maka masa depan pendidikan Indonesia akan semakin cerah.

Majalah sekolah adalah pohon literasi itu.

Ia harus terus dirawat, disiram, dan dijaga bersama. Sebab dari pohon itulah akan lahir buah-buah pengetahuan yang bermanfaat bagi generasi masa depan.

Malam ini, kelas KBMN bukan hanya tentang belajar mengelola majalah sekolah. Lebih dari itu, ini adalah upaya menanam harapan agar budaya literasi tetap hidup di sekolah-sekolah Indonesia.

Dan saya yakin, selama masih ada guru yang mau menulis dan mengajak siswa berkarya, pohon literasi itu tidak akan pernah tumbang.

Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.
Guru Blogger Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.