Mengapa Masih Ada Guru Digaji Kecil? Sebuah Renungan dari Kisah Omjay
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd
Suatu hari, Omjay menonton sebuah video yang membahas kompetensi guru dan kesejahteraan mereka. Pembicara dalam video itu menggunakan daya nalar kritis dan analitis. Ia tidak hanya melihat persoalan guru dari permukaan, tetapi mencoba menghubungkan antara kompetensi, kebijakan pemerintah, status kepegawaian, anggaran pendidikan, dan realitas kehidupan para guru di lapangan.
Daya nalar yang digunakan adalah nalar sebab-akibat (kausalitas). Ia mencoba menjawab pertanyaan besar: Mengapa guru yang memiliki tanggung jawab besar masih banyak yang digaji kecil?
Pertanyaan itu terus berputar di kepala Omjay.
Malam semakin larut. Namun pikiran Omjay justru semakin terjaga. Sebagai guru yang telah mengajar lebih dari tiga dekade, Omjay melihat sendiri bagaimana banyak guru berjuang dalam diam.
Mereka datang paling pagi.
Pulang paling sore.
Mengoreksi tugas hingga larut malam.
Menjadi guru, konselor, orang tua, motivator, bahkan terkadang menjadi tempat curhat siswa.
Namun ketika tanggal tua datang, sebagian dari mereka masih harus menghitung uang di dompet dengan hati-hati.
Ada guru yang gajinya bahkan belum cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya selama satu bulan.
Ironis sekali.
Padahal semua orang sepakat bahwa pendidikan adalah fondasi kemajuan bangsa.
Namun mengapa orang-orang yang membangun fondasi itu justru sering kali hidup dalam keterbatasan?
Omjay teringat seorang guru honorer yang pernah ditemuinya dalam sebuah pelatihan.
Guru itu datang dari daerah yang jauh.
Ia mengajar setiap hari dengan penuh semangat.
Murid-murid mencintainya.
Orang tua menghormatinya.
Namun ketika Omjay bertanya berapa penghasilannya setiap bulan, ia hanya tersenyum.
"Kadang tiga ratus ribu, Om. Kadang lima ratus ribu. Kalau sekolah sedang kesulitan dana, ya harus menunggu."
Omjay terdiam.
Dalam hati ia bertanya:
Bagaimana mungkin seorang guru yang mengajar puluhan anak setiap hari harus bertahan hidup dengan penghasilan sebesar itu?
Padahal harga kebutuhan pokok terus naik.
Biaya pendidikan anak terus bertambah.
Biaya kesehatan tidak pernah murah.
Persoalan ini ternyata bukan hanya terjadi di satu daerah.
Banyak penelitian dan laporan menunjukkan bahwa kesejahteraan guru honorer masih menjadi masalah besar di Indonesia. Sebuah kajian dalam Jurnal Pendidikan Tambusai menyebutkan bahwa guru honorer menghadapi rendahnya kesejahteraan, ketidakjelasan status kerja, dan terbatasnya kesempatan pengembangan profesional. Beban kerja mereka sering kali hampir sama dengan guru ASN, tetapi hak dan fasilitas yang diterima jauh berbeda.
Di sisi lain, pemerintah sebenarnya terus berupaya memperbaiki kondisi tersebut.
Tahun 2026 pemerintah meningkatkan berbagai tunjangan guru non-ASN, memperluas program sertifikasi, serta melanjutkan pengangkatan guru honorer menjadi PPPK. Lebih dari 900 ribu guru honorer telah diangkat menjadi ASN PPPK dalam lima tahun terakhir.
Namun persoalan guru ternyata tidak sesederhana menaikkan angka tunjangan.
Masalahnya jauh lebih kompleks.
Pertama, jumlah guru honorer yang sangat besar membuat proses penataan membutuhkan waktu panjang.
Kedua, kemampuan keuangan setiap daerah berbeda-beda.
Ketiga, masih ada sekolah yang sangat bergantung pada dana terbatas untuk menggaji guru.
Keempat, distribusi anggaran pendidikan belum sepenuhnya dirasakan merata oleh semua guru.
Omjay melihat persoalan ini seperti sebuah rumah besar.
Semua orang ingin rumah pendidikan Indonesia berdiri kokoh.
Namun sebagian tukangnya masih bekerja dengan upah yang belum layak.
Tentu rumah itu tetap bisa dibangun.
Tetapi pembangunan akan berjalan lebih baik jika para tukangnya hidup dengan sejahtera.
Ada sebuah kenyataan yang kadang menyedihkan.
Masyarakat sering memuji guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.
Kalimat itu memang indah.
Namun terkadang pujian tidak mampu membayar kebutuhan hidup.
Guru juga manusia.
Mereka memiliki keluarga.
Mereka memiliki anak yang harus sekolah.
Mereka memiliki orang tua yang harus dirawat.
Mereka memiliki kebutuhan hidup seperti profesi lainnya.
Karena itu penghargaan kepada guru tidak cukup hanya melalui kata-kata.
Penghargaan harus diwujudkan dalam bentuk kesejahteraan yang layak.
Omjay pernah mendengar sebuah kalimat yang sangat mengena.
"Bangsa yang besar tidak hanya menghormati gurunya ketika Hari Guru, tetapi juga memastikan gurunya hidup dengan layak setiap hari."
Kalimat itu terus membekas dalam hati.
Sebab Omjay tahu, di balik senyum para guru terdapat banyak perjuangan yang tidak terlihat.
Ada guru yang naik motor puluhan kilometer setiap hari.
Ada guru yang mengajar sambil berjualan kecil-kecilan demi menambah penghasilan.
Ada guru yang harus mengajar di dua atau tiga sekolah sekaligus.
Ada pula guru yang tetap masuk kelas meskipun sedang menghadapi masalah ekonomi yang berat.
Mereka tetap tersenyum.
Mereka tetap mengajar.
Mereka tetap memberikan ilmu terbaik untuk anak-anak bangsa.
Inilah yang membuat Omjay selalu hormat kepada profesi guru.
Karena menjadi guru bukan hanya soal pekerjaan.
Menjadi guru adalah panggilan jiwa.
Namun panggilan jiwa tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan kesejahteraan mereka.
Kompetensi guru memang penting.
Pelatihan guru memang penting.
Sertifikasi guru memang penting.
Tetapi kesejahteraan guru juga sama pentingnya.
Karena guru yang sejahtera akan lebih fokus mengajar.
Guru yang tenang akan lebih kreatif mendidik.
Guru yang dihargai akan lebih bersemangat membimbing generasi masa depan.
Ketika menutup laptop malam itu, Omjay kembali menulis sebuah kalimat di blognya:
"Jangan pernah bertanya mengapa pendidikan belum maju jika kita masih membiarkan banyak guru berjuang sendirian. Sebab di ruang kelas yang sederhana itu, ada guru yang sedang menanam masa depan bangsa dengan penghasilan yang kadang tidak cukup untuk masa depannya sendiri."
Semoga suatu hari nanti tidak ada lagi guru yang harus memilih antara membeli buku untuk muridnya atau membeli kebutuhan dapur keluarganya.
Semoga suatu hari nanti profesi guru benar-benar dihargai setinggi jasa yang mereka berikan.
Karena sesungguhnya, ketika kita memuliakan guru, kita sedang memuliakan masa depan bangsa Indonesia. ✍️
**Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi. Sebab tulisan mampu menyuarakan jeritan yang tak terdengar dan memperjuangkan harapan yang sering terlupakan.**
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.