Kisah Omjay: Antara Mobil Ambulance dan Mobil Jenazah
Malam itu hujan turun perlahan di kota Bekasi. Jalanan basah, lampu kendaraan memantul di genangan air, dan suara sirine terdengar memecah kesunyian malam. Saya berdiri di pinggir jalan sambil memandangi dua kendaraan yang melintas hampir bersamaan. Satu mobil ambulance dengan suara sirine yang meraung keras membawa harapan kehidupan. Satu lagi mobil jenazah melaju pelan tanpa banyak suara, membawa seseorang yang perjalanan hidupnya telah selesai.
Saat itulah hati saya bergetar.
Dua mobil itu sama-sama berwarna putih. Sama-sama melaju di jalan raya. Sama-sama menjadi perhatian banyak orang. Tetapi isinya sangat berbeda. Yang satu membawa harapan agar seseorang tetap hidup. Yang satu lagi membawa tubuh manusia yang sudah tidak lagi bernapas.
Saya termenung cukup lama.
Tiba-tiba pikiran saya melayang pada perjalanan hidup manusia. Bukankah hidup kita sebenarnya hanya berjalan di antara dua kendaraan itu? Ketika lahir, kita disambut dengan harapan. Ketika sakit, kita berharap ambulance datang cepat menyelamatkan nyawa. Namun suatu hari nanti, kita semua pasti akan berada di mobil jenazah itu. Tidak ada yang bisa menolak. Tidak ada yang bisa bersembunyi.
Malam itu saya pulang dengan hati yang berbeda.
Sesampainya di rumah, saya melihat anak-anak tertidur lelap. Istri saya sedang merapikan pakaian sekolah. Rumah kecil kami terasa begitu hangat. Tetapi entah mengapa dada saya terasa sesak. Saya membayangkan, suatu hari nanti mungkin saya yang akan dibawa mobil jenazah itu. Saya tidak lagi bisa memeluk keluarga. Tidak lagi bisa menulis. Tidak lagi bisa mengajar murid-murid di sekolah.
Air mata saya jatuh perlahan.
Selama ini saya terlalu sibuk mengejar banyak hal. Kadang sibuk dengan pekerjaan. Sibuk dengan media sosial. Sibuk memikirkan penilaian orang lain. Bahkan sering lupa bahwa hidup ini sangat singkat.
Sirine ambulance malam itu seperti teguran keras untuk saya.
Beberapa hari kemudian, saya mendapat kabar salah satu teman lama meninggal dunia mendadak karena serangan jantung. Padahal sehari sebelumnya beliau masih aktif menulis status di WhatsApp. Masih bercanda di grup guru. Masih tersenyum dalam foto yang dikirimkan ke teman-temannya.
Namun kini beliau sudah tidak ada.
Saya datang melayat dengan langkah berat. Di depan rumah duka sudah terparkir mobil jenazah. Banyak orang menangis. Anak-anak almarhum memeluk peti sambil memanggil ayahnya. Saya melihat wajah almarhum untuk terakhir kali. Tenang. Diam. Tidak lagi bicara tentang jabatan, uang, atau kesibukan dunia.
Saat itulah saya sadar.
Hidup manusia ternyata sangat rapuh.
Kita sering merasa masih punya banyak waktu. Padahal kematian tidak pernah menunggu usia tua. Tidak menunggu semua impian selesai. Tidak menunggu rumah mewah selesai dibangun. Tidak menunggu tabungan penuh. Kematian datang kapan saja.
Di perjalanan pulang, saya sengaja memperlambat kendaraan. Di lampu merah saya melihat sebuah ambulance berhenti sambil tetap menyalakan sirine. Pengendara lain perlahan memberi jalan. Saya melihat wajah sopir ambulance itu begitu serius. Di dalamnya mungkin ada seseorang yang sedang berjuang antara hidup dan mati.
Tiba-tiba hati saya berdoa diam-diam.
“Ya Allah, jika suatu hari Engkau memanggilku, panggillah dalam keadaan husnul khatimah.”
Saya lalu teringat pada ibu saya. Dulu beliau sering berkata, “Nak, hidup itu jangan hanya mencari dunia. Karena akhirnya semua manusia akan dibungkus kain kafan.”
Waktu kecil saya tidak terlalu memahami kata-kata itu. Namun kini saya mengerti sepenuhnya.
Kita boleh punya mobil bagus, rumah besar, dan jabatan tinggi. Tetapi pada akhirnya tubuh kita akan dibawa mobil jenazah menuju liang kubur. Tidak ada yang ikut selain amal baik.
Malam demi malam setelah kejadian itu, saya mulai banyak merenung. Saya mulai mengurangi kemarahan. Mulai belajar meminta maaf. Mulai belajar menghargai waktu bersama keluarga. Saya sadar hidup ini terlalu singkat untuk dipenuhi kebencian.
Kadang saya masih melihat ambulance melintas di jalan raya. Sirinenya terdengar sangat menyayat hati. Namun sekarang saya tidak hanya melihat kendaraan itu sebagai alat transportasi. Saya melihatnya sebagai pengingat kehidupan.
Bahwa selama napas masih ada, berarti Allah masih memberi kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik.
Dan ketika saya melihat mobil jenazah, hati saya selalu bergetar. Karena suatu hari nanti saya pun akan berada di sana. Tubuh saya akan dibaringkan diam tanpa daya. Orang-orang mungkin menangis mengantar kepergian saya. Lalu hidup terus berjalan seperti biasa.
Dunia tidak berhenti hanya karena satu orang meninggal.
Kesadaran itu membuat saya ingin hidup lebih bermakna.
Saya ingin tulisan-tulisan saya menjadi amal jariyah. Saya ingin murid-murid mengenang saya sebagai guru yang tulus mengajar. Saya ingin keluarga mengenang saya sebagai suami dan ayah yang penuh kasih sayang.
Karena pada akhirnya manusia tidak dikenang dari seberapa kaya dirinya, tetapi dari seberapa besar manfaatnya bagi orang lain.
Kini setiap mendengar suara sirine ambulance, saya selalu terdiam sejenak. Saya mendoakan orang yang ada di dalamnya. Dan ketika melihat mobil jenazah melintas, saya membaca doa pelan sambil menahan haru.
Hidup ternyata hanya perjalanan singkat.
Hari ini kita mungkin masih mengendarai kendaraan sendiri, tertawa bersama keluarga, bercanda dengan teman, dan sibuk mengejar mimpi. Namun suatu hari nanti, orang lainlah yang akan mengantar tubuh kita menuju peristirahatan terakhir.
Antara mobil ambulance dan mobil jenazah, saya belajar satu hal penting.
Selama masih diberi kesempatan hidup, jadilah manusia yang lebih baik. Sebab ketika mobil jenazah itu datang menjemput, tidak ada lagi kesempatan untuk kembali.
Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru blogger indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.