Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Kamis, 28 Mei 2026

Kisah Omjay: Perjalanan Idul adha dari Bandung hingga Garut

Kisah Omjay: Perjalanan Idul Adha dari Bandung hingga Wanaraja Garut

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd — Omjay, Guru Blogger Indonesia

Malam itu Omjay terbangun dari mimpi. Suasana rumah terasa begitu sunyi. Angin malam Wanaraja, Garut, berhembus perlahan menembus celah jendela rumah kakak ipar. Jam di dinding menunjukkan lewat tengah malam. Semua orang masih terlelap tidur, tetapi mata Omjay justru sulit terpejam kembali.

Di dalam keheningan malam itu, Omjay termenung panjang.

Betapa indahnya Allah mempertemukan keluarga dalam suasana Idul Adha yang penuh makna.

Hari itu terasa sangat panjang, tetapi juga sangat membahagiakan.

Pagi hari dimulai dengan gema takbir yang berkumandang di mana-mana. Udara terasa sejuk. Langit cerah seolah ikut menyambut datangnya Hari Raya Idul Adha. Setelah melaksanakan sholat Idul Adha bersama jamaah, Omjay merasakan ketenangan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Ada rasa syukur yang begitu besar di dalam hati.

Idul Adha bukan hanya tentang menyembelih hewan qurban. Lebih dari itu, Idul Adha mengajarkan tentang keikhlasan, pengorbanan, dan cinta kepada sesama manusia.

Seusai sholat Id, Intan dan Fazar, anak-anak Omjay, dengan penuh kasih mengantar Omjay dan istri menuju Bandung. Perjalanan pagi itu terasa hangat karena dipenuhi obrolan keluarga. Jalanan masih ramai oleh masyarakat yang mengenakan pakaian muslim terbaik mereka.

Sesekali terdengar suara takbir dari masjid-masjid yang dilewati.

OmJay memandangi wajah anak-anaknya dengan hati yang penuh haru. Waktu berjalan begitu cepat. Anak-anak yang dulu digendong dan diajari berjalan, kini sudah mampu mengantar kedua orang tuanya bepergian.

Dalam hati Omjay berdoa:

“Ya Allah, jadikan anak-anak kami anak yang saleh dan salehah, penyejuk hati kedua orang tuanya.”

Perjalanan menuju Bandung terasa menyenangkan. Sesampainya di kawasan Jamika, Bandung, Omjay dan istri langsung menuju Masjid Jami Al Islam Jamika.

Di tempat itulah istri Omjay berqurban sapi tahun ini.

Ada tiga ekor sapi yang disembelih di masjid tersebut. Namun ketika Omjay tiba di lokasi, seluruh proses penyembelihan sudah selesai dilakukan panitia qurban. Daging-daging qurban sudah mulai dipotong kecil-kecil dan dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Suasana masjid begitu hidup.

Panitia bekerja penuh semangat. Ada yang memotong daging, ada yang membungkus kantong qurban, ada pula yang mengatur antrean warga. Semua dilakukan dengan wajah penuh kebahagiaan.

Omjay memperhatikan para warga yang datang dengan penuh harap.

Sebagian mungkin jarang menikmati daging dalam keseharian mereka. Namun di Hari Raya Idul Adha, Allah menghadirkan kebahagiaan itu melalui tangan-tangan orang yang mau berbagi.

Saat melihat pembagian daging qurban berlangsung tertib, hati Omjay terasa hangat.

Omjay teringat satu hal penting dalam hidup:

Harta yang kita miliki sejatinya hanyalah titipan Allah.

Yang benar-benar menjadi milik kita adalah apa yang sudah kita sedekahkan dan kita ikhlaskan di jalan Allah.

Istri Omjay tersenyum bahagia melihat qurbannya dapat memberi manfaat bagi banyak orang. Tidak ada kebahagiaan yang lebih indah selain melihat orang lain tersenyum karena menerima rezeki dari Allah.

Idul Adha memang mengajarkan manusia untuk belajar melepaskan rasa cinta berlebihan terhadap dunia.

Nabi Ibrahim AS memberikan teladan luar biasa tentang keikhlasan. Nabi Ismail AS memberikan contoh tentang kepatuhan dan pengorbanan. Dari kisah itulah umat Islam belajar bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas segalanya.

Setelah kegiatan qurban selesai, kakak ipar Omjay mengajak Omjay dan istri melanjutkan perjalanan menuju Wanaraja, Garut.

Perjalanan dari Bandung menuju Garut dipenuhi pemandangan alam yang begitu indah. Gunung terlihat berdiri gagah. Hamparan sawah hijau menenangkan mata. Udara Garut yang sejuk membuat hati terasa damai.

Sepanjang perjalanan, Omjay banyak merenung.

Kadang manusia terlalu sibuk mengejar dunia sampai lupa menikmati kebersamaan dengan keluarga.

Padahal kebahagiaan sejati sering kali hadir dari hal-hal sederhana: duduk bersama keluarga, bercanda di perjalanan, makan bersama, dan saling mendoakan.

Sesampainya di rumah kakak ipar di Wanaraja, suasana kekeluargaan terasa begitu hangat. Aroma masakan khas kampung menyambut kedatangan Omjay dan istri. Obrolan keluarga mengalir tanpa terasa hingga malam tiba.

Mereka saling berbagi cerita kehidupan.

Tentang pekerjaan. Tentang anak-anak. Tentang kesehatan. Tentang perjuangan hidup masing-masing.

Dan seperti biasa, setiap keluarga selalu memiliki cerita perjuangan yang tidak mudah.

Malam semakin larut.

Satu per satu anggota keluarga mulai tertidur. Namun Omjay justru terbangun dari mimpi di tengah malam. Dalam sunyi itu, Omjay kembali merenungkan perjalanan hari ini.

Betapa Allah masih memberikan begitu banyak nikmat.

Masih bisa berkumpul dengan keluarga. Masih diberi kesehatan. Masih diberi kesempatan berbagi melalui qurban. Masih diberi anak-anak yang berbakti. Masih diberi perjalanan hidup yang penuh pelajaran.

Kadang manusia baru menyadari arti kebahagiaan setelah duduk diam dalam kesunyian malam.

Omjay lalu mengambil air wudhu.

Dalam dinginnya malam Garut, Omjay mendirikan sholat malam dengan hati yang penuh syukur. Di hadapan Allah, Omjay menyadari bahwa hidup ini begitu singkat.

Jabatan tidak dibawa mati. Harta tidak dibawa mati. Popularitas tidak dibawa mati.

Yang menemani manusia hanyalah amal baiknya.

Idul Adha kembali mengingatkan Omjay bahwa hidup terbaik adalah hidup yang memberi manfaat bagi orang lain.

Berqurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi juga menyembelih sifat egois di dalam diri manusia.

Menyembelih kesombongan. Menyembelih rasa tamak. Menyembelih cinta dunia yang berlebihan.

Di rumah sederhana di Wanaraja Garut itu, Omjay akhirnya kembali merebahkan tubuh dengan hati yang tenang.

Di luar rumah, udara malam Garut terasa dingin.

Namun hati Omjay terasa hangat oleh cinta keluarga, indahnya berbagi, dan syukur yang tak henti-hentinya dipanjatkan kepada Allah SWT.

Karena sesungguhnya…

Kebahagiaan bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki.

Tetapi tentang seberapa ikhlas kita berbagi kepada sesama.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.