Mengapa Tulisan Kita Tidak Pernah Selesai dan Diposting di Blog?
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. — Omjay, Guru Blogger Indonesia
"Omjay, mengapa ya tulisan saya tidak pernah selesai dan akhirnya tidak jadi diposting di blog?"
Pertanyaan itu datang dari seorang kawan penulis saat kami berdiskusi santai seusai sebuah webinar literasi. Ia terlihat serius ketika mengajukan pertanyaan tersebut. Mungkin karena ia merasa sudah memiliki banyak ide, sudah sering membuka laptop, bahkan sudah berkali-kali membuat judul tulisan. Namun hingga hari itu, blognya masih sepi dari tulisan baru.
Omjay tersenyum.
Pertanyaan itu sebenarnya bukan hanya milik satu orang. Banyak guru, dosen, mahasiswa, bahkan penulis pemula mengalami hal yang sama. Mereka memiliki banyak ide, tetapi sedikit tulisan yang benar-benar selesai dan dipublikasikan.
Dulu Omjay juga pernah mengalami hal serupa.
Menunggu Waktu Luang yang Tidak Pernah Datang
Banyak orang berpikir bahwa menulis membutuhkan waktu yang panjang dan suasana yang sempurna.
Akibatnya mereka terus menunggu.
Menunggu hari libur.
Menunggu inspirasi datang.
Menunggu mood bagus.
Menunggu pekerjaan selesai.
Menunggu rumah sepi.
Menunggu anak-anak tidur.
Menunggu laptop baru.
Menunggu kopi hangat.
Sayangnya, waktu yang ditunggu itu sering kali tidak pernah datang.
Omjay belajar satu hal penting selama puluhan tahun menulis di blog.
Tulisan tidak selesai karena kita terlalu banyak menunggu.
Sementara penulis yang produktif tidak menunggu waktu luang. Mereka justru meluangkan waktu untuk menulis.
Lima belas menit sehari jauh lebih baik daripada menunggu dua jam yang tidak pernah ada.
Terlalu Ingin Sempurna
Penyebab kedua adalah penyakit yang sering menyerang para penulis.
Namanya adalah perfeksionisme.
Banyak orang ingin tulisan pertamanya langsung sempurna.
Judulnya harus menarik.
Kalimatnya harus indah.
Datanya harus lengkap.
Bahasanya harus mengalir.
Tidak boleh ada kesalahan.
Akibatnya tulisan terus diedit dan tidak pernah selesai.
Omjay sering mengingatkan peserta pelatihan menulis:
> "Tulisan yang selesai selalu lebih baik daripada tulisan sempurna yang tidak pernah diterbitkan."
Ketika Omjay mulai aktif menulis blog, banyak tulisan yang sebenarnya sederhana. Bahkan jika dibaca sekarang mungkin masih banyak kekurangannya.
Namun tulisan-tulisan itu sudah dipublikasikan.
Dari situlah kemampuan menulis berkembang.
Kalau menunggu sempurna, mungkin sampai hari ini Omjay masih sibuk memperbaiki paragraf pertama.
Terlalu Banyak Berpikir, Terlalu Sedikit Menulis
Ada juga yang senang mengumpulkan teori menulis.
Membaca buku menulis.
Mengikuti webinar menulis.
Menyimpan ratusan materi menulis.
Menonton video tentang menulis.
Namun jarang benar-benar menulis.
Mereka tahu cara membuat artikel.
Mereka tahu teknik SEO.
Mereka tahu struktur tulisan.
Tetapi pengetahuan itu hanya berhenti di kepala.
Tulisan tidak pernah lahir karena tangan tidak pernah bergerak.
Omjay selalu mengatakan kepada peserta KBMN PGRI:
Menulis bukan keterampilan yang dipelajari dengan membaca saja. Menulis adalah keterampilan yang harus dipraktikkan.
Sama seperti belajar berenang.
Membaca buku renang tidak akan membuat kita bisa berenang jika tidak pernah masuk ke air.
Takut Dikritik
Alasan berikutnya lebih dalam lagi.
Banyak orang takut tulisannya dibaca orang lain.
Takut dikritik.
Takut dianggap tidak pintar.
Takut salah.
Takut tidak ada yang membaca.
Takut tidak mendapatkan komentar.
Padahal semua penulis pernah mengalami fase itu.
Ketika pertama kali menulis blog, Omjay juga pernah merasa gugup.
Apakah tulisan ini bagus?
Apakah ada yang akan membacanya?
Apakah orang akan menyukai tulisan saya?
Namun kemudian Omjay menyadari sesuatu.
Kita tidak bisa mengendalikan penilaian orang lain.
Yang bisa kita kendalikan adalah keberanian untuk terus berkarya.
Tulisan yang tidak dipublikasikan tidak akan pernah memberi manfaat kepada siapa pun.
Terjebak di Folder Draft
Penyakit lain yang sering menyerang penulis adalah terlalu banyak menyimpan draft.
Judulnya sudah ada.
Paragraf pembuka sudah dibuat.
Foto sudah disiapkan.
Tetapi tulisan berhenti di tengah jalan.
Hari berganti minggu.
Minggu berganti bulan.
Bulan berganti tahun.
Draft itu tetap berada di dalam folder laptop.
Akhirnya ide yang tadinya terasa menarik menjadi basi.
Semangat menulis pun hilang.
Omjay pernah menemukan puluhan draft lama yang belum selesai. Sebagian akhirnya dilanjutkan dan dipublikasikan. Sebagian lagi terpaksa dihapus karena sudah tidak relevan.
Sejak saat itu Omjay membuat kebiasaan sederhana.
Kalau mulai menulis, usahakan selesai pada hari yang sama.
Tidak harus panjang.
Tidak harus sempurna.
Yang penting selesai.
Menulis Setiap Hari adalah Solusinya
Banyak orang bertanya apa rahasia Omjay bisa terus menulis.
Jawabannya sederhana.
Bukan karena Omjay lebih pintar.
Bukan karena Omjay memiliki banyak waktu.
Bukan karena Omjay selalu mendapat inspirasi.
Rahasianya adalah membangun kebiasaan.
Menulis sedikit demi sedikit setiap hari.
Kadang hanya 300 kata.
Kadang 500 kata.
Kadang lebih dari 1.000 kata.
Yang penting konsisten.
Lama-kelamaan menulis menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Seperti makan.
Seperti minum.
Seperti beribadah.
Ketika kebiasaan itu terbentuk, menulis tidak lagi terasa berat.
Blog Adalah Alat Rekam yang Ajaib
Omjay selalu mengatakan kepada para guru dan peserta pelatihan menulis:
"Tulisanmu adalah tabunganmu."
Ketika tulisan diposting di blog, ia tidak akan hilang begitu saja.
Ia akan tersimpan.
Dibaca orang lain.
Menginspirasi banyak orang.
Menjadi jejak pemikiran kita.
Menjadi warisan intelektual yang berharga.
Karena itulah Omjay sering menyampaikan kalimat yang sangat disukai para peserta pelatihan:
> "Tulisan saya adalah tabungan saya untuk menjadi buku yang bermutu dan tersimpan di alat rekam yang ajaib bernama blog."
Blog bukan sekadar tempat menyimpan tulisan.
Blog adalah saksi perjalanan hidup.
Blog adalah museum kenangan.
Blog adalah rumah bagi ide-ide yang lahir dari pengalaman sehari-hari.
Mulailah Hari Ini
Sebelum kami berpisah, kawan yang bertanya tadi tersenyum.
Ia akhirnya memahami bahwa masalahnya bukan karena tidak punya ide.
Bukan pula karena tidak bisa menulis.
Masalahnya adalah terlalu banyak alasan yang membuat tulisan tertunda.
Omjay kemudian berkata kepadanya,
"Jangan pulang membawa ide. Pulanglah membawa satu tulisan yang selesai."
Karena sesungguhnya perbedaan antara penulis dan orang yang ingin menulis sangat sederhana.
Orang yang ingin menulis terus memikirkan tulisannya. Sedangkan penulis benar-benar menyelesaikannya dan mempublikasikannya.
Maka jika hari ini ada satu ide yang sedang berputar-putar di kepala Anda, jangan ditunda lagi.
Bukalah laptop atau ponsel Anda.
Tulislah paragraf pertama.
Lanjutkan hingga selesai.
Lalu tekan tombol "Publikasikan."
Sebab tulisan yang mengubah hidup orang lain bukanlah tulisan yang tersimpan rapi di folder draft, melainkan tulisan yang berani hadir dan menemukan pembacanya di dunia nyata.
Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru blogger indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.