Kisah Omjay: Rujak Bebek di Siang Hari Wanaraja Garut
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd — Omjay, Guru Blogger Indonesia
Siang itu matahari bersinar cukup terik di Kampung Wanaraja Garut. Udara terasa hangat, tetapi angin pegunungan Garut masih menyisakan kesejukan yang sulit ditemukan di kota besar. Omjay duduk santai di teras rumah kakak ipar sambil menikmati suasana kampung yang damai.
Sesekali terdengar suara motor lewat. Anak-anak kecil berlarian di jalan kampung. Burung berkicau di pepohonan. Semuanya terasa sederhana, tetapi justru di situlah letak kebahagiaan yang sesungguhnya.
Omjay memandang jalan depan rumah sambil tersenyum kecil. Sudah lama rasanya tidak menikmati suasana kampung seperti ini. Hidup di Jakarta sering kali membuat manusia lupa bahwa kebahagiaan ternyata tidak selalu datang dari gedung mewah, restoran mahal, atau pusat perbelanjaan modern.
Kadang kebahagiaan datang dari hal-hal kecil yang sederhana.
Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara khas yang sangat akrab di telinga masyarakat Sunda.
“Ruuujakkk… rujakkk bebekkk…”
Suara itu semakin mendekat.
Ternyata seorang tukang rujak tumbuk sedang lewat di depan rumah.
Spontan Omjay langsung memanggilnya.
“Pak… sini dulu!”
Tukang rujak itu pun berhenti sambil tersenyum ramah. Di depan motornya ada perlengkapan sederhana untuk membuat rujak bebek. Cobek batu, ulekan kayu, mangga muda, kedondong, bengkuang, nanas, timun, gula merah, cabai, garam, dan terasi tersusun rapi.
Melihat itu saja sudah membuat air liur terasa menetes.
“Pakai cabai banyak, Pak,” kata salah satu keluarga sambil tertawa.
Tukang rujak mulai bekerja dengan cekatan. Suara ulekan yang menghantam cobek terdengar begitu khas.
Cek… cek… cek…
Cabai rawit merah diulek bersama gula merah dan sedikit garam. Aroma terasi mulai tercium menggoda hidung. Setelah itu buah-buahan segar dimasukkan dan ditumbuk perlahan hingga bumbu meresap sempurna.
Itulah sebabnya disebut rujak tumbuk atau rujak bebek.
Bukan karena ada daging bebek di dalamnya.
Dalam bahasa Sunda, “dibebek” artinya diaduk dan ditumbuk hingga menyatu.
Siang itu suasana rumah langsung berubah ramai. Semua berkumpul menunggu rujak selesai dibuat. Ada yang sudah tidak sabar. Ada yang tertawa melihat cabai yang begitu banyak dimasukkan.
Ketika rujak selesai dan dibagikan ke piring kecil, aroma segarnya langsung menyebar.
Gigitan pertama benar-benar luar biasa.
Pedas.
Asam.
Manis.
Segar.
Semuanya bercampur menjadi rasa yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Omjay tersenyum sambil menikmati suapan demi suapan rujak bebek itu. Keringat mulai keluar karena pedasnya cabai, tetapi justru di situlah kenikmatannya.
Kadang hidup memang seperti rujak bebek.
Ada rasa pedasnya.
Ada rasa asamnya.
Ada rasa manisnya.
Dan semuanya bercampur menjadi pengalaman hidup yang lengkap.
Omjay tiba-tiba teringat perjalanan hidupnya selama ini. Menjadi guru, penulis, blogger, narasumber webinar, hingga harus berpindah-pindah kota demi berbagi ilmu kepada banyak orang.
Semua perjalanan itu tidak selalu mudah.
Ada lelahnya.
Ada kecewanya.
Ada sedihnya.
Namun ada juga kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Seperti siang itu.
Makan rujak bersama keluarga di kampung ternyata mampu menghadirkan rasa bahagia yang begitu tulus.
Omjay kemudian memandangi tukang rujak itu lebih lama. Wajahnya sederhana. Bajunya penuh peluh. Tangannya kasar karena bekerja keras setiap hari. Namun dari pekerjaannya itulah ia menghidupi keluarga.
Omjay kembali belajar bahwa setiap manusia sedang berjuang dengan caranya masing-masing.
Tukang rujak itu mungkin tidak terkenal.
Namanya mungkin tidak masuk televisi.
Tidak viral di media sosial.
Tetapi pekerjaannya membawa kebahagiaan bagi banyak orang.
Siang itu ia berhasil membuat satu keluarga tersenyum bahagia hanya lewat seporsi rujak bebek.
Betapa sering manusia meremehkan pekerjaan kecil.
Padahal di mata Allah, setiap pekerjaan halal adalah mulia.
Omjay semakin menikmati suasana kampung yang penuh kehangatan itu. Tidak ada suara klakson panjang seperti di Jakarta. Tidak ada hiruk-pikuk kemacetan. Yang ada hanyalah suara manusia bercengkerama dan tertawa bersama.
Kebersamaan seperti inilah yang sekarang mulai mahal harganya.
Di zaman modern, banyak keluarga duduk satu meja tetapi sibuk dengan handphone masing-masing. Ada yang bermain media sosial. Ada yang sibuk membuat konten. Ada yang tenggelam dalam dunia digital.
Namun siang itu berbeda.
Rujak bebek sederhana berhasil menyatukan semua orang dalam obrolan hangat penuh tawa.
Omjay percaya, makanan bukan hanya soal rasa.
Makanan juga tentang kenangan.
Tentang kebersamaan.
Tentang cinta keluarga.
Karena itulah banyak orang selalu merindukan masakan ibu di rumah.
Bukan semata-mata karena rasanya enak, tetapi karena ada kasih sayang di dalamnya.
Begitu juga dengan rujak bebek siang itu.
Mungkin jika dimakan di restoran mewah rasanya tidak akan sama.
Karena yang membuatnya istimewa adalah suasananya.
Kampung Wanaraja Garut siang itu menghadirkan rasa damai yang sulit dijelaskan.
Omjay lalu berkata pelan kepada anak-anak dan keluarga yang ada di sana:
“Nikmati momen sederhana seperti ini. Karena suatu hari nanti kita akan merindukannya.”
Semua mendadak diam sejenak.
Benar sekali.
Hidup berjalan begitu cepat.
Anak-anak tumbuh dewasa.
Orang tua menua.
Waktu terus bergerak tanpa pernah berhenti.
Yang nantinya tersisa hanyalah kenangan.
Dan kenangan indah sering kali lahir dari momen-momen sederhana seperti makan rujak bersama keluarga.
Omjay kemudian kembali teringat pesan yang selalu ia tuliskan di blognya di [wijayalabs.com](https://wijayalabs.com?utm_source=chatgpt.com):
“Tulisan adalah rekaman kehidupan.”
Karena itulah Omjay senang menulis.
Lewat tulisan, momen sederhana tidak hilang begitu saja.
Suara ulekan cobek.
Tawa keluarga.
Pedasnya cabai.
Segarnya buah.
Semua bisa hidup kembali lewat tulisan.
Omjay percaya, tulisan yang lahir dari hati akan selalu menemukan jalan menuju hati pembacanya.
Dan siang itu, di Wanaraja Garut, Omjay kembali belajar satu hal penting:
Bahagia ternyata tidak serumit yang manusia bayangkan.
Kadang bahagia hanya sesederhana memanggil tukang rujak yang lewat di depan rumah… lalu menikmatinya bersama orang-orang tercinta.
Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru blogger Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.