Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Selasa, 26 Mei 2026

Resensi Buku Labschool Rumah Keduaku

Ringkasan Buku “Labschool: Rumah Keduaku”

Karya Dr. Wijaya Kusumah

Buku “Labschool: Rumah Keduaku” merupakan karya reflektif dan inspiratif yang ditulis oleh Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd atau yang akrab disapa Omjay. Buku ini bukan sekadar menceritakan perjalanan sebuah sekolah, tetapi menggambarkan bagaimana sebuah lembaga pendidikan mampu menjadi tempat tumbuh, tempat pulang, sekaligus rumah kedua bagi guru, siswa, dan seluruh warga sekolah.

Dalam buku setebal 187 halaman ini, Omjay membagikan pengalaman pengabdiannya selama 34 tahun di SMP Labschool Jakarta. Melalui gaya bahasa yang hangat dan menyentuh, pembaca diajak memahami bahwa pendidikan sejati bukan hanya tentang angka, nilai rapor, dan prestasi akademik, melainkan tentang membentuk manusia yang berkarakter, beretika, dan memiliki empati terhadap sesama.

Pada bagian awal buku, penulis menekankan bahwa Labschool bukan hanya sekolah biasa. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Labschool tahun 1992, Omjay merasakan suasana yang berbeda: lingkungan yang ramah, guru yang penuh dedikasi, dan budaya belajar yang hidup. Hubungan antara guru dan siswa digambarkan seperti hubungan orang tua dan anak. Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga membimbing, mendengar keluh kesah siswa, bahkan menjadi tempat bersandar ketika siswa menghadapi persoalan hidup.

Buku ini juga mengupas sejarah Labschool sebagai sekolah laboratorium di bawah IKIP Jakarta (kini Universitas Negeri Jakarta). Labschool didirikan pada tahun 1968 sebagai tempat praktik bagi calon guru sekaligus pusat inovasi pendidikan. Dari sinilah Labschool berkembang menjadi sekolah unggulan yang dikenal luas masyarakat karena mampu menyeimbangkan kecerdasan intelektual dan pembentukan karakter siswa.

Salah satu kekuatan utama buku ini adalah penggambaran suasana sekolah yang humanis. Omjay menegaskan bahwa sekolah ideal bukan sekolah yang menakutkan, melainkan sekolah yang membuat siswa bahagia datang setiap pagi. Di Labschool, siswa diajarkan untuk merasa aman, nyaman, dan dihargai. Guru hadir sebagai sahabat sekaligus teladan. Pendidikan dipandang sebagai proses memanusiakan manusia.

Penulis juga mengangkat pentingnya kolaborasi antara guru, kepala sekolah, orang tua, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat. Sekolah yang baik, menurut Omjay, adalah sekolah yang mampu membuat siswa merasa dicintai dan dipercaya. Bahkan senyum seorang guru ketika memasuki kelas dianggap mampu mengubah suasana hati siswa dan meninggalkan pengaruh mendalam dalam kehidupan mereka.

Selain membahas dunia pendidikan secara umum, buku ini juga dipenuhi kisah nyata dan pengalaman siswa Labschool. Ada cerita tentang kegiatan MPLS, SALAM, PERJUSA, SAKSI, hingga berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang membangun kedisiplinan, kepemimpinan, kerja sama, dan kepedulian sosial siswa. Kisah-kisah tersebut menunjukkan bahwa pendidikan terbaik sering lahir dari pengalaman sederhana yang membekas di hati siswa sepanjang hidup mereka.

Bagian lain yang menarik adalah pembahasan tentang motto Labschool: “Iman, Ilmu, dan Amal.” Tiga pilar ini menjadi fondasi pendidikan Labschool. Iman membentuk karakter dan moral siswa, ilmu menjadi bekal untuk menghadapi tantangan zaman, sedangkan amal mengajarkan bahwa ilmu harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang bermanfaat bagi masyarakat.

Omjay juga menyoroti bagaimana Labschool beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan era digital. Pembelajaran berbasis proyek, pemanfaatan teknologi, coding, literasi digital, hingga penggunaan kecerdasan buatan mulai diperkenalkan kepada siswa. Namun, di tengah kemajuan teknologi tersebut, Labschool tetap menjaga nilai-nilai kemanusiaan dan pendidikan karakter. Teknologi digunakan untuk memperkuat pembelajaran, bukan menggantikan sentuhan manusia dalam pendidikan.

Di bagian akhir, buku ini menegaskan bahwa Labschool bukan hanya tempat belajar, tetapi tempat membangun harapan dan masa depan. Sekolah digambarkan sebagai rumah kedua yang memberikan ilmu, kenangan, persahabatan, dan nilai kehidupan yang terus dibawa siswa hingga dewasa. Pendidikan yang baik, menurut Omjay, adalah pendidikan yang membuat siswa pulang dengan senyum dan mengenang sekolahnya dengan penuh syukur.


Resensi Buku

“Labschool: Rumah Keduaku”

Ketika Sekolah Menjadi Tempat Pulang yang Penuh Makna

Judul Buku: Labschool: Rumah Keduaku
Penulis: Dr. Wijaya Kusumah
Penerbit: Independen
Tebal: 187 halaman
Genre: Pendidikan, Motivasi, Inspirasi

Buku “Labschool: Rumah Keduaku” adalah karya yang sangat relevan dengan kondisi pendidikan Indonesia saat ini. Di tengah dunia pendidikan yang sering terjebak pada angka, ranking, dan kompetisi akademik, Omjay hadir membawa perspektif berbeda: sekolah harus menjadi tempat yang membahagiakan.

Kekuatan utama buku ini terletak pada kejujuran dan kedalaman pengalaman penulis. Omjay tidak menulis sebagai pengamat luar, tetapi sebagai pelaku pendidikan yang telah puluhan tahun hidup di dalam dunia sekolah. Karena itu, setiap cerita terasa nyata, hangat, dan dekat dengan kehidupan pembaca.

Bahasa yang digunakan sederhana, komunikatif, dan menyentuh hati. Banyak bagian dalam buku ini yang terasa seperti percakapan seorang guru kepada murid-muridnya. Pembaca tidak hanya mendapatkan informasi tentang Labschool, tetapi juga diajak merenungkan kembali hakikat pendidikan yang sesungguhnya.

Keunggulan lain buku ini adalah keberhasilannya memadukan kisah pribadi, sejarah sekolah, refleksi pendidikan, dan nilai-nilai kehidupan dalam satu alur yang mengalir. Omjay mampu menunjukkan bahwa sekolah yang baik bukan hanya menghasilkan siswa pintar, tetapi juga manusia yang baik.

Bagian tentang “Iman, Ilmu, dan Amal” menjadi salah satu inti terkuat buku ini. Nilai-nilai tersebut terasa relevan di era digital saat ini, ketika banyak generasi muda cerdas secara teknologi tetapi kehilangan arah moral dan empati sosial.

Meski demikian, buku ini masih memiliki beberapa pengulangan ide di beberapa bagian. Beberapa pembahasan tentang pendidikan karakter dan sekolah sebagai rumah kedua diulang dengan sudut pandang yang mirip. Namun, hal itu tidak terlalu mengurangi kekuatan emosional buku ini.

Secara keseluruhan, “Labschool: Rumah Keduaku” adalah buku yang layak dibaca oleh guru, siswa, orang tua, kepala sekolah, hingga siapa saja yang peduli terhadap masa depan pendidikan Indonesia. Buku ini mengingatkan kita bahwa pendidikan terbaik selalu dimulai dari hati.

Buku ini bukan hanya tentang Labschool. Buku ini tentang harapan. Tentang guru yang mengajar dengan cinta. Tentang sekolah yang memeluk siswanya. Tentang pendidikan yang memanusiakan manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.