Panen Labu di Kampung Tegalpanjang Garut: Nikmat Sederhana yang Mengajarkan Rasa Syukur
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. — Omjay, Guru Blogger Indonesia
Pagi itu udara di Kampung Tegalpanjang, Garut, terasa begitu sejuk. Embun masih menempel di dedaunan. Burung-burung kecil berkicau merdu seolah menyambut datangnya mentari pagi. Langit tampak cerah membiru. Di kejauhan terlihat hamparan sawah dan kebun yang menghijau, menghadirkan ketenangan yang sulit ditemukan di tengah hiruk-pikuk kota.
Omjay berdiri di halaman rumah sambil menghirup udara segar khas pegunungan Garut. Hati terasa damai. Tidak ada suara klakson kendaraan yang saling bersahutan. Tidak ada kemacetan yang membuat kepala pening. Yang terdengar hanya suara alam yang mengajak manusia untuk kembali mengingat Sang Pencipta.
Saat berjalan menuju kebun kecil milik keluarga, Omjay melihat sesuatu yang membuat hati terasa gembira. Di bawah rimbunnya daun-daun hijau, bergelantungan buah labu yang siap dipanen. Bentuknya unik, berwarna hijau muda, tampak segar dan sehat.
“Alhamdulillah, panennya banyak sekali,” kata Omjay sambil tersenyum.
Satu per satu labu dipetik dengan hati-hati. Ada yang berukuran besar, ada pula yang masih kecil. Semuanya dikumpulkan ke dalam ember hitam besar. Tidak terasa ember itu perlahan penuh oleh hasil panen pagi itu.
Melihat tumpukan labu yang memenuhi ember, Omjay teringat sebuah pelajaran hidup yang sangat berharga.
Manusia sering kali sibuk mengejar sesuatu yang besar hingga lupa mensyukuri hal-hal kecil yang sudah Allah berikan.
Padahal kebahagiaan tidak selalu datang dari rumah mewah, kendaraan mahal, atau jabatan tinggi. Kebahagiaan justru sering hadir melalui hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Seperti pagi itu.
Melihat hasil panen labu saja sudah mampu menghadirkan rasa syukur yang begitu besar di dalam hati.
Omjay kemudian duduk di bawah pohon sambil memperhatikan hasil panen yang telah terkumpul. Tiba-tiba teringat masa kecil dahulu ketika tinggal di kampung.
Dulu, hampir setiap rumah memiliki kebun sendiri. Tidak perlu pergi ke pasar untuk membeli sayuran. Di belakang rumah sudah tersedia cabai, tomat, kangkung, singkong, pepaya, dan berbagai tanaman lainnya.
Ketika musim panen tiba, hasilnya tidak hanya dinikmati sendiri. Tetangga pun ikut merasakan.
Jika satu rumah panen banyak, maka sebagian hasil panen dibagikan kepada tetangga.
Begitulah kehidupan kampung mengajarkan arti berbagi.
Tidak ada yang merasa rugi ketika memberi.
Justru kebahagiaan bertambah ketika melihat orang lain ikut menikmati rezeki yang Allah titipkan.
Omjay tersenyum mengingat masa-masa itu.
Hari ini, nilai-nilai tersebut mulai jarang ditemukan di kota besar. Banyak orang hidup berdampingan tetapi tidak saling mengenal. Rumah berdempetan, tetapi hati terasa berjauhan.
Karena itulah setiap kali pulang ke Garut, Omjay selalu merasa sedang pulang ke sekolah kehidupan.
Kampung mengajarkan banyak hal.
Kampung mengajarkan kesederhanaan.
Kampung mengajarkan gotong royong.
Kampung mengajarkan rasa syukur.
Dan kampung mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu diukur dengan materi.
Sambil memandangi hasil panen labu, Omjay kembali merenung.
Labu-labu itu tidak tumbuh dalam semalam.
Mereka membutuhkan waktu.
Mereka membutuhkan sinar matahari.
Mereka membutuhkan air.
Mereka membutuhkan kesabaran.
Sama seperti kehidupan manusia.
Kesuksesan tidak datang secara instan.
Ilmu tidak datang dalam semalam.
Buku tidak selesai ditulis dalam satu hari.
Gelar doktor yang diraih Omjay pun tidak diperoleh dengan mudah.
Delapan tahun perjalanan kuliah S3 dijalani dengan penuh perjuangan. Ada rasa lelah. Ada rasa ingin menyerah. Ada biaya yang harus dikeluarkan. Ada waktu yang harus dikorbankan.
Namun semua itu akhirnya membuahkan hasil.
Persis seperti tanaman labu yang dirawat dengan penuh kesabaran.
Apa yang ditanam dengan baik akan menghasilkan buah yang baik.
Karena itu Omjay selalu berpesan kepada para guru dan murid di seluruh Indonesia:
“Jangan pernah bosan menanam kebaikan.”
Hari ini mungkin kita belum melihat hasilnya.
Besok mungkin belum terlihat juga.
Tetapi suatu saat nanti, Allah akan menunjukkan buah dari semua usaha yang telah kita lakukan.
Melihat panen labu pagi itu membuat Omjay semakin yakin bahwa kehidupan selalu memberi pelajaran kepada siapa saja yang mau belajar.
Bahkan dari sebuah labu sederhana.
Labu tidak pernah protes ketika terkena panas matahari.
Labu tidak mengeluh ketika harus tumbuh perlahan.
Labu hanya terus bertumbuh hingga akhirnya siap dipanen.
Begitu pula manusia.
Jika ingin berhasil, teruslah bertumbuh.
Teruslah belajar.
Teruslah memperbaiki diri.
Teruslah berbuat baik.
Dan biarkan waktu yang membuktikan hasilnya.
Menjelang siang, sebagian labu mulai dibersihkan. Ada yang akan dimasak menjadi sayur. Ada yang akan dibagikan kepada keluarga dan tetangga.
Melihat itu semua, hati Omjay terasa hangat.
Rezeki memang akan terasa lebih nikmat ketika dibagikan.
Sebagaimana ilmu yang dibagikan kepada murid-murid akan menjadi amal jariyah.
Sebagaimana tulisan yang dibagikan kepada pembaca akan menjadi warisan peradaban.
Karena itulah Omjay selalu mengatakan:
“Tulisanku adalah tabunganku. Tulisanku kusimpan dalam alat rekam yang ajaib bernama blog. Kelak ketika usia tak lagi muda, tulisan-tulisan itu akan tetap hidup, menginspirasi, dan memberi manfaat bagi banyak orang.”
Panen labu di Kampung Tegalpanjang Garut pagi itu bukan sekadar kegiatan memetik hasil kebun.
Lebih dari itu, panen tersebut menjadi pengingat bahwa hidup ini sesungguhnya adalah proses menanam dan memanen.
Siapa yang menanam kebaikan akan memanen keberkahan.
Siapa yang menanam ilmu akan memanen kebijaksanaan.
Siapa yang menanam kesabaran akan memanen kebahagiaan.
Dan siapa yang menanam rasa syukur akan memanen ketenangan hati.
Di tengah dunia yang semakin sibuk dan serba cepat, semoga kita tetap mampu menikmati kebahagiaan sederhana seperti menikmati hasil panen di kampung halaman.
Karena sering kali, kebahagiaan yang paling tulus justru lahir dari hal-hal yang paling sederhana.
Alhamdulillah, panen labu hari ini mengajarkan Omjay satu hal penting: jangan pernah berhenti bersyukur atas nikmat kecil, sebab dari situlah Allah menghadirkan nikmat yang jauh lebih besar.
Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru blogger Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.