Berkarya dan Berprestasi di Kancah Nasional Lewat Tulisan
Kisah Omjay dalam KBMN Gelombang 34
Senin malam, 18 Mei 2026, pukul 19.00.wib ruang virtual KBMN Gelombang 34 kembali dipenuhi semangat belajar. Para guru dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul dalam satu tujuan mulia: belajar menulis dan bertumbuh bersama.
Pertemuan ke-13 kali ini terasa begitu istimewa karena menghadirkan narasumber hebat, Rita Wati, seorang penulis dan akademisi yang telah membuktikan bahwa karya tulis mampu membawa seseorang dikenal di tingkat nasional.
Acara dipandu dengan hangat oleh moderator muda penuh semangat, Edmu Yulfizar Abdan Syakura. Tema malam itu sangat menggugah hati: “Berkarya dan Berprestasi di Kancah Nasional.”
Bagi Omjay, tema itu bukan sekadar kalimat motivasi. Tema itu adalah perjalanan hidup yang benar-benar beliau alami.
Di tengah kesibukan sebagai guru, Omjay pernah berada di titik lelah. Mengajar setiap hari, menyiapkan administrasi sekolah, mendampingi siswa, hingga menghadapi berbagai persoalan pendidikan membuat waktu terasa habis begitu saja. Namun di balik semua itu, ada satu kebiasaan kecil yang terus beliau jaga: menulis.
Awalnya sederhana. Omjay hanya ingin berbagi pengalaman mengajar. Kadang menulis tentang siswa, kadang tentang perjalanan hidup, kadang tentang keresahan dunia pendidikan. Tulisan-tulisan itu diunggah di blog pribadi tanpa berharap apa-apa.
Namun siapa sangka, dari tulisan sederhana itulah jalan prestasi mulai terbuka.
Omjay sering mengatakan bahwa tulisan memiliki kekuatan yang tidak terlihat. Ketika seseorang menulis dengan hati, tulisannya akan menemukan jalannya sendiri menuju hati pembaca. Dan benar saja, perlahan tulisan Omjay mulai dibaca banyak orang. Ada guru yang merasa termotivasi. Ada siswa yang kembali semangat belajar. Ada kepala sekolah yang terinspirasi memperbaiki budaya literasi di sekolahnya.
Menulis ternyata bukan hanya tentang kata-kata. Menulis adalah tentang memberi manfaat.
Dalam pertemuan KBMN malam itu, narasumber menjelaskan bahwa karya tulis bisa menjadi jembatan menuju prestasi nasional. Banyak guru yang akhirnya menjadi pembicara, penulis buku, bahkan mendapatkan penghargaan karena konsisten menulis.
Omjay tersenyum mendengar penjelasan tersebut. Sebab beliau pernah mengalami sendiri bagaimana tulisan membuka pintu-pintu yang sebelumnya terasa mustahil.
Dari blog sederhana, Omjay mulai diundang menjadi narasumber. Dari tulisan harian, lahirlah buku-buku inspiratif. Dari kebiasaan menulis, beliau dikenal sebagai Guru Blogger Indonesia.
Padahal semuanya dimulai dari satu langkah kecil: berani menulis.
Malam itu peserta KBMN tampak antusias. Banyak yang awalnya merasa tidak percaya diri menulis. Ada yang berkata dirinya tidak pandai merangkai kata. Ada yang takut tulisannya jelek. Ada pula yang merasa usianya sudah tidak muda lagi untuk mulai belajar.
Namun Omjay selalu punya jawaban sederhana.
“Menulislah dulu. Jangan takut salah. Karena penulis hebat pun dulu pernah menjadi penulis pemula.”
Kalimat itu terasa sederhana, tetapi sangat menguatkan.
Di sela diskusi, moderator membacakan beberapa resume peserta yang sudah diunggah ke blog. Salah satunya tulisan dari yang mengangkat semangat berkarya di tengah keterbatasan. Ada juga tulisan dari yang menekankan bahwa menulis bukan sekadar mengejar popularitas, tetapi sarana bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
Omjay merasa haru membaca semangat para peserta. Dulu beliau juga seperti mereka. Belajar perlahan. Menulis perlahan. Bahkan sering ditertawakan karena terlalu rajin menulis di blog.
Tetapi Omjay percaya satu hal: orang yang terus berkarya tidak akan pernah kalah oleh keadaan.
Prestasi tidak selalu dimulai dari panggung besar. Kadang prestasi dimulai dari keberanian menulis satu paragraf setiap hari. Dari keberanian mengunggah tulisan pertama. Dari keberanian menerima kritik dan terus belajar.
Malam semakin larut, tetapi suasana KBMN semakin hangat. Banyak peserta mulai sadar bahwa menulis bukan bakat bawaan. Menulis adalah keterampilan yang diasah setiap hari.
Omjay lalu bercerita bahwa beliau pernah mengalami masa ketika tulisannya sepi pembaca. Tidak ada komentar. Tidak ada apresiasi. Namun beliau tetap menulis. Sebab tujuan utama menulis bukan mencari pujian, melainkan menyampaikan kebaikan.
Dan ternyata konsistensi itulah yang akhirnya membawa hasil.
Kini banyak guru mulai sadar bahwa menulis dapat menjadi jalan pengabdian. Lewat tulisan, seorang guru bisa menginspirasi ribuan orang tanpa harus bertemu langsung. Lewat tulisan, pengalaman mengajar yang berharga tidak hilang begitu saja. Lewat tulisan, ilmu dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
KBMN Gelombang 34 malam itu bukan sekadar kelas menulis biasa. Ia menjadi ruang tumbuh bagi banyak guru Indonesia. Ruang tempat mimpi-mimpi kecil dirawat bersama. Ruang tempat para guru belajar percaya bahwa mereka juga mampu berkarya di tingkat nasional.
Di akhir sesi, Omjay kembali mengingatkan bahwa setiap orang memiliki cerita yang layak dituliskan. Jangan merasa hidup kita biasa saja. Justru pengalaman sederhana sering kali paling menyentuh hati pembaca.
Seorang guru yang sabar mengajar di pelosok desa punya cerita berharga. Seorang ibu yang membagi waktu antara keluarga dan menulis punya kisah luar biasa. Seorang guru honorer yang tetap mengabdi meski penuh keterbatasan juga memiliki inspirasi besar.
Semua itu pantas ditulis.
Karena tulisan bukan hanya meninggalkan jejak tinta. Tulisan meninggalkan jejak kehidupan.
KBMN Gelombang 34 kembali membuktikan bahwa gerakan literasi guru Indonesia masih terus menyala. Dan Omjay percaya, selama para guru terus menulis, harapan pendidikan Indonesia akan selalu hidup.
Mari berkunjung dan saling menguatkan melalui tulisan. 🔥🥰
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.