Ketika Saran Seorang Sahabat Menyentuh Hati Bangsa
Kisah Omjay tentang Perjalanan, Pengabdian, dan Efisiensi
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.
Omjay, Guru Blogger Indonesia
Pagi itu Omjay membuka ponsel sambil menikmati secangkir kopi hangat di kampung halaman Wanaraja Garut. Udara terasa sejuk. Burung-burung berkicau di pepohonan. Seperti biasa, Omjay membaca berbagai berita yang sedang ramai diperbincangkan masyarakat.
Salah satu berita yang menarik perhatian Omjay adalah pernyataan mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal. Beliau memberikan saran kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, agar mengurangi intensitas perjalanan ke luar negeri dan lebih memanfaatkan teknologi komunikasi seperti video call atau konferensi daring.
Ketika membaca berita itu, Omjay terdiam cukup lama.
Bukan karena setuju atau tidak setuju.
Tetapi Omjay teringat sebuah pelajaran hidup yang sangat sederhana.
Kadang-kadang, nasihat yang baik tidak selalu datang dari lawan. Justru sering datang dari sahabat yang peduli.
Dino Patti Djalal bukan orang sembarangan. Beliau pernah menjadi diplomat, duta besar, dan tokoh hubungan internasional Indonesia. Ketika beliau menyampaikan pendapat, tentu ada pengalaman panjang yang melatarbelakanginya. Dalam pernyataannya, Dino menilai perjalanan luar negeri yang terlalu sering dapat menimbulkan persepsi kurang baik di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang sedang menghadapi banyak tantangan. Ia juga mengusulkan penggunaan teknologi komunikasi agar lebih efisien dari sisi biaya negara.
Omjay kemudian membayangkan kehidupan sehari-hari sebagai seorang guru.
Bukankah guru juga sering mengalami hal yang sama?
Ketika seorang kepala sekolah memberikan masukan kepada guru, itu bukan berarti membenci gurunya.
Ketika pengawas sekolah memberikan kritik, bukan berarti ingin menjatuhkan.
Ketika murid memberi saran kepada guru, belum tentu murid itu kurang ajar.
Bisa jadi mereka peduli.
Bisa jadi mereka melihat sesuatu yang luput dari perhatian kita.
Omjay teringat masa-masa awal menjadi guru pada tahun 1994. Saat itu Omjay masih muda dan penuh semangat. Ketika mendapat kritik dari senior, hati kadang terasa panas. Rasanya ingin membela diri.
Namun seiring bertambahnya usia dan pengalaman, Omjay menyadari bahwa kritik yang tulus sebenarnya adalah hadiah yang sangat mahal.
Tidak semua orang mau mengingatkan.
Banyak orang memilih diam.
Banyak orang memilih menjadi penonton.
Banyak pula yang hanya berani berbicara di belakang.
Karena itu, ketika seseorang menyampaikan masukan dengan terbuka dan bertanggung jawab, sesungguhnya ia sedang menunjukkan kepeduliannya.
Dalam dunia pendidikan, Omjay sering mengajarkan kepada siswa bahwa teknologi seharusnya memudahkan pekerjaan manusia.
Ketika pandemi Covid-19 melanda dunia beberapa tahun lalu, jutaan guru dan siswa di Indonesia belajar melalui Zoom, Google Meet, dan berbagai platform digital lainnya.
Awalnya terasa sulit.
Namun perlahan semua beradaptasi.
Ternyata banyak pekerjaan yang dapat diselesaikan tanpa harus selalu bertemu secara langsung.
Bukan berarti pertemuan tatap muka tidak penting.
Tetap penting.
Sangat penting bahkan.
Tetapi kita belajar bahwa teknologi dapat membantu menghemat waktu, tenaga, dan biaya.
Apa yang disampaikan Dino Patti Djalal sebenarnya mengingatkan kita semua bahwa kemajuan teknologi harus dimanfaatkan dengan bijak. Ia mencontohkan bahwa komunikasi virtual bisa menjadi alternatif untuk beberapa agenda diplomasi tertentu sehingga negara dapat menghemat anggaran yang besar.
Saat membaca itu, Omjay tersenyum.
Karena Omjay sendiri merasakan manfaat teknologi.
Dulu jika ingin berbagi ilmu kepada guru-guru di seluruh Indonesia, Omjay harus naik pesawat, naik kereta, atau menempuh perjalanan panjang.
Sekarang?
Cukup membuka laptop.
Cukup membuka aplikasi Zoom.
Ribuan guru bisa belajar bersama dari Aceh sampai Papua.
Ilmu tetap tersampaikan.
Persaudaraan tetap terjalin.
Manfaat tetap dirasakan.
Namun Omjay juga memahami bahwa tidak semua urusan bisa digantikan teknologi.
Ada diplomasi yang membutuhkan kehadiran langsung.
Ada kerja sama yang membutuhkan tatapan mata.
Ada negosiasi yang membutuhkan sentuhan kemanusiaan.
Karena itu, yang terpenting bukan soal pergi atau tidak pergi.
Melainkan soal keseimbangan.
Soal efisiensi.
Soal memilih mana yang benar-benar penting dan mana yang bisa dilakukan dengan cara yang lebih sederhana.
Dalam kehidupan sehari-hari, Omjay sering melihat banyak orang yang lupa membedakan kebutuhan dan keinginan.
Mereka rela mengeluarkan uang besar untuk sesuatu yang sebenarnya bisa dilakukan dengan lebih hemat.
Padahal uang yang dihemat bisa digunakan untuk hal yang lebih bermanfaat.
Begitu pula dalam pengelolaan negara.
Setiap rupiah yang digunakan sesungguhnya berasal dari rakyat.
Karena itu harus dipertanggungjawabkan dengan sebaik-baiknya.
Omjay percaya bahwa siapa pun pemimpinnya pasti ingin memberikan yang terbaik untuk bangsa.
Presiden Prabowo tentu memiliki pertimbangan tersendiri dalam menjalankan diplomasi luar negeri. Bahkan berbagai lawatan internasional dilakukan untuk memperkuat hubungan ekonomi, pertahanan, perdagangan, dan kepentingan strategis Indonesia di dunia internasional.
Namun di sisi lain, suara masyarakat dan masukan dari tokoh-tokoh berpengalaman juga perlu didengar.
Karena bangsa yang besar bukanlah bangsa yang anti kritik.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mendengarkan berbagai pandangan dengan kepala dingin.
Pagi itu Omjay menutup ponselnya.
Kemudian Omjay membuka laptop.
Jari-jari mulai menari di atas keyboard.
Tulisan demi tulisan mengalir seperti air sungai yang tidak pernah berhenti mengalir menuju lautan.
Omjay kembali teringat sebuah pelajaran hidup yang selalu dipegang hingga hari ini.
Jika kita ingin menjadi pribadi yang terus bertumbuh, jangan takut mendengar kritik.
Jika kita ingin menjadi pemimpin yang dicintai rakyat, jangan alergi terhadap masukan.
Jika kita ingin menjadi guru yang dicintai murid, jangan pernah merasa paling benar.
Karena sesungguhnya manusia hebat bukanlah manusia yang selalu dipuji.
Manusia hebat adalah manusia yang mau belajar dari setiap suara yang datang menghampiri.
Dan seperti yang selalu Omjay yakini:
Menulislah setiap hari. Catat setiap peristiwa. Renungkan setiap pelajaran hidup. Sebab dari sebuah berita sederhana, kita bisa menemukan hikmah yang luar biasa untuk kehidupan.
Tulisan Omjay hari ini kembali mengingatkan bahwa perjalanan terjauh bukanlah perjalanan ke luar negeri.
Perjalanan terjauh adalah perjalanan menuju kebijaksanaan hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.