Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Senin, 18 Mei 2026

Tanggalkan Baju Kesombonganmu

Menulis dengan Hati, Bukan Sekadar Mengejar Panggung

Di sebuah grup menulis, kita tidak hanya sedang belajar merangkai kata. Kita juga sedang belajar menghargai rasa, menjaga empati, dan memahami etika dalam berinteraksi. Sebab dunia literasi bukan sekadar tempat memamerkan tulisan, melainkan ruang bersama untuk saling menguatkan.

Apa yang disampaikan dalam pesan tersebut sebenarnya bukan hanya tentang satu orang atau satu peristiwa tertentu. Ada kegelisahan yang cukup dalam di sana. Kegelisahan tentang bagaimana sebagian orang terkadang terlalu sibuk mengejar perhatian, sampai lupa menjaga perasaan orang lain.

Menulis memang membutuhkan keberanian. Namun keberanian tanpa empati sering kali berubah menjadi sikap yang melukai.

Dalam kehidupan bermedia sosial maupun di grup komunitas, ada satu hal sederhana yang kadang terlupakan, yaitu menghargai momentum orang lain. Ketika seseorang baru saja membagikan karya, pengalaman, atau tulisannya, sesungguhnya ia sedang membuka pintu hati. Ia ingin berbagi cerita, berbagi ilmu, atau sekadar berharap ada teman yang membaca dengan tulus.

Namun apa jadinya jika beberapa detik kemudian ada orang lain langsung menimpali dengan memposting karya miliknya sendiri demi mencari perhatian yang sama?

Mungkin bagi sebagian orang itu dianggap biasa. Tidak ada aturan tertulis yang dilanggar. Tidak ada kata-kata kasar yang diucapkan. Tetapi dalam etika pergaulan, terutama di komunitas literasi, sikap seperti itu bisa terasa kurang bijak.

Mengapa?

Karena komunikasi bukan hanya soal apa yang dilakukan, tetapi juga soal kapan dan bagaimana melakukannya.

Ada perasaan yang kadang tidak tertulis. Ada ruang penghormatan yang semestinya dijaga. Saat seseorang sedang berbagi, alangkah indahnya bila kita memberi ruang sejenak untuk karya itu bernapas. Membaca, mengapresiasi, atau sekadar memberikan dukungan kecil jauh lebih bermakna daripada buru-buru mengalihkan perhatian kepada diri sendiri.

Inilah yang disebut empati digital.

Sayangnya, di era media sosial hari ini, banyak orang terjebak dalam budaya “aku juga harus terlihat.” Akibatnya, setiap momen orang lain dianggap peluang untuk ikut naik panggung. Dalam bahasa populer, mungkin disebut “riding the wave.” Menumpang gelombang perhatian yang sedang mengarah kepada orang lain.

Padahal penulis sejati tidak dibentuk oleh seberapa sering ia muncul, tetapi oleh seberapa dalam ia menghargai sesama.

Kita semua tentu pernah merasa diabaikan. Pernah merasa apa yang kita bagikan seolah tenggelam karena orang lain lebih sibuk mempromosikan dirinya sendiri. Rasanya tidak nyaman. Dan ketika itu terus berulang, perlahan muncul rasa lelah.

Lebih menyedihkan lagi bila kebiasaan itu menjadi pola.

Komunitas menulis semestinya menjadi rumah yang hangat. Tempat setiap anggota merasa dihargai. Tempat senior memberi teladan dan junior belajar adab. Karena sesungguhnya kekuatan komunitas bukan pada banyaknya postingan, tetapi pada kualitas hubungan antar anggotanya.

Kita patut belajar dari para penulis senior yang tetap rendah hati meski karya mereka luar biasa. Mereka tidak sibuk berebut sorotan. Mereka justru lebih banyak memberi ruang kepada orang lain untuk tumbuh.

Sikap itulah yang membuat mereka dihormati.

Banyak penulis besar tidak lahir karena rajin mencari perhatian, melainkan karena rajin menjaga perasaan orang lain. Mereka memahami bahwa tulisan yang baik lahir dari hati yang baik.

Apa gunanya tulisan indah jika sikap kita membuat orang lain tidak nyaman?

Apa artinya ribuan pembaca bila kita kehilangan empati?

Kadang kita terlalu fokus pada angka: jumlah viewer, komentar, like, dan share. Sampai lupa bahwa di balik layar ada manusia dengan hati dan perasaan. Ada teman yang ingin dihargai. Ada sahabat yang ingin didengar.

Etika dalam komunitas sebenarnya sederhana.

Jika teman sedang berbagi cerita, dengarkan dulu.

Jika orang lain sedang mendapat perhatian, jangan terburu-buru mencuri panggung.

Jika ingin dihargai, maka belajarlah menghargai.

Karena rasa hormat tidak lahir dari aturan grup, tetapi dari kedewasaan diri.

Tulisan yang hebat bukan hanya yang viral. Tulisan yang hebat adalah tulisan yang membuat pembacanya merasa dihormati sebagai manusia. Dan itu dimulai dari perilaku penulisnya sendiri.

Kita semua tentu masih belajar. Tidak ada manusia yang sempurna. Bisa jadi seseorang tidak sadar bahwa tindakannya mengganggu orang lain. Bisa jadi ia hanya terlalu bersemangat menunjukkan karyanya. Karena itu, teguran yang disampaikan dengan baik juga merupakan bentuk kasih sayang dalam komunitas.

Terkadang kita memang perlu bercermin.

Sudahkah kita hadir sebagai teman yang menyenangkan?

Ataukah tanpa sadar kita justru membuat ruang bersama terasa sesak?

Dunia literasi membutuhkan lebih banyak empati daripada ego. Sebab menulis sejatinya adalah pekerjaan hati. Kata-kata yang lahir dari hati akan sampai ke hati. Namun sikap yang tidak berempati juga akan terasa, meskipun tidak diucapkan secara langsung.

Mari kita jadikan komunitas menulis sebagai taman yang indah. Tempat setiap orang bisa tumbuh tanpa saling menutupi cahaya satu sama lain. Karena matahari tidak pernah iri kepada bulan. Dan bulan tidak pernah marah ketika bintang bersinar.

Semua punya waktunya sendiri untuk bercahaya.

Semoga kita semua dapat belajar, bukan hanya menjadi penulis yang pandai merangkai kata, tetapi juga manusia yang mampu menjaga etika dan empati di mana pun berada.

Sebab pada akhirnya, orang mungkin lupa apa yang kita tulis. Tetapi mereka akan selalu ingat bagaimana sikap kita terhadap sesama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.