Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Sabtu, 16 Mei 2026

Menyusuri Jalan Pengabdian Bersama ibu Prof Unifah Rosyidi Ketua Umum PB PGRI


Menyusuri Jalan Pengabdian Bersama Ibu Ketua Umum PB PGRI di Sulawesi Selatan

Perjalanan panjang dari Majene, Sulawesi Barat menuju Makassar, Sulawesi Selatan, bukan sekadar perpindahan dari satu kota ke kota lain. Di balik jalan berliku, panas matahari, dan rasa lelah yang menyertai perjalanan darat itu, tersimpan banyak pelajaran hidup yang begitu menyentuh hati. Perjalanan ini menjadi saksi bagaimana kesederhanaan, persahabatan, perjuangan, dan kerendahan hati masih hidup di tengah para pejuang pendidikan Indonesia.

Di tengah perjalanan itu, rombongan singgah di Sidrap untuk menikmati kuliner khas Sulawesi Selatan yang sangat terkenal, yaitu coto Makassar. Tempat sederhana itu mendadak terasa begitu hangat karena dipenuhi canda, tawa, dan rasa kekeluargaan. Bersama rombongan tampak sosok Ibu Ketua Umum PB PGRI, Unifah Rosyidi, yang selama ini dikenal sebagai figur tegas, cerdas, sekaligus penuh kasih kepada para guru di seluruh Indonesia.

Tidak ada kemewahan berlebihan dalam perjalanan itu. Semua berlangsung apa adanya. Justru di situlah letak keindahannya. Di sebuah rumah makan coto Makassar yang sederhana, para pejuang pendidikan duduk bersama menikmati hidangan hangat setelah perjalanan panjang. Coto Makassar yang kaya rempah itu terasa semakin nikmat karena disantap bersama orang-orang yang memiliki hati tulus untuk memajukan pendidikan bangsa.

“Waduh, makasih Prof. Hasnawi traktirannya,” begitu ungkapan spontan penuh rasa syukur dan bahagia. Ternyata, Prof. Hasnawi dan timnya bergerak lebih cepat. Bahkan makanan tambahan yang awalnya disiapkan untuk kucing pun sudah lebih dulu “diamankan” oleh tim beliau. Suasana langsung pecah oleh gelak tawa. Perjalanan yang melelahkan berubah menjadi penuh kehangatan.

Di balik candaan sederhana itu, tersimpan makna yang sangat dalam. Kebersamaan ternyata tidak membutuhkan tempat mewah. Cukup ada ketulusan, rasa hormat, dan kebersamaan, maka perjalanan apa pun akan terasa indah. Itulah yang dirasakan sepanjang perjalanan menuju Makassar.

Perjalanan ini juga membawa kabar menggembirakan. Di tengah suasana santai dan penuh keakraban itu, datang berita bahwa perjuangan hukum yang panjang akhirnya membuahkan hasil. Peninjauan Kembali (PK) atas gugatan pihak sebelah yang sebelumnya juga kalah di tingkat kasasi, kembali dimenangkan.

Kabar kemenangan itu tentu membahagiakan. Namun yang paling mengagumkan justru respons dari para tokoh pendidikan dalam rombongan tersebut. Tidak ada pesta berlebihan. Tidak ada sikap jumawa. Tidak ada kata-kata yang merendahkan pihak lain. Yang muncul justru pesan bijak:

“Tetap merunduk dan rendah hati. Jangan jumawa.”

Kalimat sederhana itu terasa begitu kuat. Dalam kehidupan, kemenangan sering kali membuat manusia lupa diri. Banyak orang berubah ketika berada di atas. Namun para pejuang pendidikan ini justru menunjukkan sebaliknya. Semakin tinggi ilmu dan kedudukannya, semakin rendah hati sikapnya.

Perjalanan bersama Ibu Ketua Umum PB PGRI ini menjadi pelajaran nyata bahwa guru bukan hanya pengajar di ruang kelas. Guru adalah teladan kehidupan. Guru mengajarkan bagaimana menghadapi kemenangan dengan kepala dingin dan hati yang tetap bersih.

Sosok Unifah Rosyidi selama ini memang dikenal dekat dengan para guru di berbagai daerah. Dalam banyak kesempatan, beliau selalu mengingatkan bahwa perjuangan guru bukan sekadar mengejar jabatan atau penghargaan, tetapi menjaga marwah pendidikan Indonesia.

Di sepanjang perjalanan Sulawesi Barat menuju Sulawesi Selatan itu, tampak jelas bagaimana hubungan antarsesama pejuang pendidikan begitu hangat. Tidak ada sekat jabatan. Semua bercanda bersama. Semua makan bersama. Semua saling membantu.

Perjalanan darat yang panjang itu seolah menjadi simbol perjalanan panjang dunia pendidikan Indonesia. Jalannya kadang mulus, kadang berlubang, kadang melelahkan. Namun jika dijalani bersama orang-orang baik, semuanya terasa ringan.

Di rumah makan sederhana itu pula terlihat bahwa kebahagiaan sejati tidak datang dari kemewahan, tetapi dari rasa syukur. Sepiring coto Makassar terasa begitu nikmat karena disantap dalam suasana penuh persaudaraan.

Mungkin bagi orang lain, kejadian rebutan makanan tambahan hanyalah candaan biasa. Namun justru dari momen-momen kecil seperti itulah lahir kenangan indah yang akan selalu diingat sepanjang hidup. Kadang yang paling membekas bukan acara resmi atau pidato besar, tetapi tawa sederhana di tengah perjalanan.

Perjalanan ini juga mengingatkan bahwa perjuangan organisasi guru bukan perkara mudah. Banyak tantangan yang harus dihadapi. Banyak ujian yang harus dilewati. Bahkan terkadang perjuangan itu harus dibawa hingga ke meja hijau pengadilan. Namun ketika perjuangan dilakukan dengan niat baik dan hati bersih, hasil akhirnya akan menemukan jalannya sendiri.

Kemenangan PK itu bukan sekadar kemenangan hukum. Lebih dari itu, kemenangan tersebut menjadi simbol bahwa kebenaran dan ketulusan pada akhirnya akan menemukan tempatnya. Namun sekali lagi, kemenangan sejati bukan saat berhasil mengalahkan orang lain, melainkan saat mampu menjaga hati tetap rendah meski berada di atas.

Pesan “jangan jumawa” terasa sangat relevan di zaman sekarang. Dunia saat ini terlalu ramai oleh orang-orang yang ingin terlihat hebat. Sedikit keberhasilan sering dipamerkan berlebihan. Padahal semakin tinggi pohon, semakin ia merunduk.

Nilai itulah yang terasa begitu kuat dalam perjalanan ini. Para tokoh pendidikan yang memiliki ilmu tinggi, jabatan tinggi, dan pengalaman luas justru menunjukkan sikap sederhana dan penuh kehangatan. Mereka tertawa bersama di warung sederhana, berbagi makanan, dan tetap menjaga adab dalam kemenangan.

Perjalanan menuju Makassar itu akhirnya bukan hanya perjalanan fisik. Ia menjadi perjalanan batin. Mengajarkan bahwa hidup akan terasa indah jika dijalani dengan rasa syukur, persaudaraan, dan kerendahan hati.

Semoga kebersamaan para pejuang pendidikan ini menjadi inspirasi bagi guru-guru Indonesia di mana pun berada. Bahwa perjuangan harus terus dilakukan dengan hati yang bersih. Bahwa kemenangan tidak boleh membuat lupa diri. Dan bahwa setinggi apa pun jabatan seseorang, ia tetap harus mampu duduk bersama rakyat kecil, menikmati coto Makassar di warung sederhana sambil tertawa bersama sahabat seperjuangan.

Karena pada akhirnya, yang paling dikenang bukan seberapa tinggi jabatan kita, melainkan seberapa hangat kita memperlakukan orang lain dalam perjalanan hidup ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.