Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Selasa, 19 Mei 2026

waktu

Jam Kehidupan yang Hanya Diputar Sekali

Kisah Omjay dan Pelajaran Tentang Waktu

Pagi itu udara di sekolah masih terasa sejuk. Matahari belum sepenuhnya naik ketika Omjay melangkahkan kaki memasuki halaman sekolah. Beberapa siswa terlihat berjalan tergesa sambil membawa tas besar di punggung mereka. Ada yang masih mengantuk, ada yang sibuk bercanda, dan ada pula yang berjalan sambil menatap layar ponsel.

Omjay hanya tersenyum.

Di tangannya ada secangkir kopi hangat dan sebuah buku kecil berisi catatan harian. Seperti biasa, sebelum memulai aktivitas, beliau duduk sejenak di ruang guru sambil merenung tentang kehidupan.

Hari itu beliau membaca sebuah kalimat sederhana:

> “Jam kehidupan hanya diputar satu kali saja.”

Kalimat itu tampak singkat, tetapi terasa begitu dalam menghunjam hati. Omjay terdiam cukup lama. Beliau membayangkan perjalanan hidupnya selama ini. Dari seorang guru biasa, kemudian dikenal banyak orang sebagai Guru Blogger Indonesia, hingga akhirnya mampu menulis ribuan artikel yang menginspirasi banyak guru di seluruh Indonesia.

Semua itu ternyata tidak terjadi dalam semalam.

Ada waktu yang dipakai dengan sungguh-sungguh. Ada malam-malam panjang ketika orang lain tidur, tetapi Omjay masih menulis. Ada hari-hari lelah ketika tubuh ingin beristirahat, tetapi hati tetap ingin berkarya.

Omjay pernah berkata kepada murid-muridnya:

“Orang sukses bukan karena punya waktu lebih banyak. Tetapi karena mereka menghargai waktu yang dimiliki.”

Kalimat itu kembali terngiang di kepalanya pagi itu.

Beliau lalu teringat pada seorang teman lama yang dulu sangat pandai. Temannya memiliki banyak mimpi besar. Ingin menulis buku. Ingin menjadi pembicara. Ingin melanjutkan kuliah hingga doktoral. Namun semua hanya tinggal rencana.

Mengapa?

Karena terlalu sering berkata:

“Nanti saja.” “Besok masih ada waktu.” “Tahun depan saja mulai serius.”

Padahal hidup tidak pernah memberi jaminan bahwa “besok” itu pasti ada.

Omjay kemudian membuka laptopnya dan mulai mengetik sebuah tulisan. Jarinya bergerak cepat menuliskan pengalaman hidup yang pernah ia alami.

Beliau pernah berada di titik lelah luar biasa. Mengajar sejak pagi, menghadiri seminar, membimbing guru, menulis artikel, hingga larut malam masih membalas pesan para sahabat literasi. Banyak orang bertanya:

“Pak Jay kok tidak capek?”

Omjay hanya tersenyum sambil berkata:

“Capek itu biasa. Tapi waktu yang hilang tidak akan kembali.”

Kalimat itu sederhana, tetapi penuh makna.

Beliau sadar betul bahwa umur manusia terbatas. Karena itu, setiap detik harus memiliki nilai ibadah dan manfaat. Menjadi guru bukan sekadar datang ke sekolah lalu pulang menerima gaji. Menjadi guru adalah meninggalkan jejak kebaikan yang terus hidup meskipun suatu hari jasad sudah tiada.

Omjay sering mengingatkan bahwa tulisan adalah warisan abadi. Ketika seseorang meninggal dunia, hartanya mungkin habis. Jabatan bisa digantikan orang lain. Namun ilmu dan tulisan akan terus hidup.

Karena itulah beliau memilih menulis setiap hari.

Kadang tulisannya dibaca ribuan orang. Kadang hanya dibaca beberapa orang saja. Namun beliau tidak pernah berhenti. Sebab baginya, menulis adalah cara menghidupkan waktu.

Suatu hari, seorang guru muda bertanya kepada Omjay:

“Bagaimana caranya agar bisa produktif seperti Bapak?”

Omjay menjawab dengan tenang:

“Jangan tunggu semangat datang. Mulailah bergerak, nanti semangat akan mengikuti.”

Jawaban itu membuat guru muda tersebut terdiam.

Memang benar. Banyak orang gagal bukan karena tidak mampu, tetapi karena terlalu banyak menunda. Mereka menunggu waktu yang sempurna. Menunggu suasana hati baik. Menunggu kondisi nyaman.

Padahal waktu terus berjalan.

Jarum jam kehidupan tidak pernah berhenti menunggu kesiapan manusia.

Omjay sendiri pernah merasakan kehilangan orang-orang tercinta secara mendadak. Ada sahabat yang kemarin masih bercanda, hari ini sudah dipanggil Allah SWT. Ada rekan guru yang dulu aktif mengajar, tiba-tiba sakit dan tak lagi mampu berdiri di depan kelas.

Peristiwa-peristiwa itu membuat beliau semakin sadar bahwa hidup benar-benar singkat.

Karena itu Omjay selalu berusaha mengisi hidup dengan hal-hal baik: menulis, mengajar, berbagi ilmu, memotivasi guru, membantu siswa, dan menyebarkan semangat literasi.

Beliau percaya, hidup yang bermakna bukan hidup yang panjang, tetapi hidup yang bermanfaat.

Pagi itu, setelah selesai menulis, Omjay memandang keluar jendela ruang guru. Siswa-siswa mulai memenuhi lapangan sekolah. Suara tawa mereka terdengar riang.

Omjay tersenyum haru.

Beliau sadar, mungkin suatu hari dirinya akan pensiun. Rambut semakin memutih. Tenaga semakin berkurang. Tetapi selama masih diberi kesempatan hidup, beliau ingin terus berkarya.

Sebab tidak ada yang tahu kapan jarum jam kehidupan berhenti.

Mungkin satu jam lagi. Mungkin besok. Mungkin bulan depan. Mungkin tahun depan.

Tidak ada manusia yang tahu.

Yang kita miliki hanyalah hari ini.

Karena itu Omjay selalu mengajak para guru dan murid untuk menghargai waktu. Jangan habiskan hidup hanya untuk mengeluh. Jangan sibuk iri pada kehidupan orang lain. Jangan terlalu lama marah dan menyimpan dendam.

Gunakan waktu untuk sesuatu yang membuat hidup bernilai.

Jika punya ilmu, bagikan. Jika punya rezeki, bantulah orang lain. Jika punya kesempatan, berkaryalah. Jika punya mimpi, mulailah sekarang.

Jangan menunggu sempurna untuk bergerak.

Sebab hidup bukan tentang siapa yang paling kaya atau paling terkenal. Hidup adalah tentang siapa yang paling banyak memberi manfaat sebelum waktu habis.

Di akhir tulisannya, Omjay menuliskan kalimat sederhana yang sangat menyentuh:

> “Ketika jarum jam kehidupan berhenti, yang tersisa hanyalah amal, ilmu, dan kebaikan yang pernah kita tinggalkan.”

Semoga pagi ini menjadi pengingat bagi kita semua.

Bahwa hidup terlalu berharga untuk disia-siakan.

Mari bekerja dengan sungguh-sungguh. Mari berkarya selagi mampu. Mari mencintai keluarga sebelum terlambat. Mari menulis, mengajar, dan berbagi ilmu selama masih diberi kesempatan.

Karena jam kehidupan hanya diputar satu kali saja.

Salam blogger persahabatan
Omjay
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.