Omjay Hampir Mati Konyol: Ketika Kesibukan Membuat Tubuh Menyerah
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd
Menjadi guru itu melelahkan.
Menjadi guru yang suka menulis jauh lebih melelahkan.
Namun menjadi guru, penulis, narasumber, blogger, sekaligus pengurus organisasi dalam satu waktu, ternyata bisa sangat berbahaya bila lupa menjaga kesehatan.
Omjay pernah mengalaminya sendiri.
Sebuah pengalaman yang sampai hari ini masih membuat bulu kuduk berdiri bila diingat kembali. Pengalaman yang membuat Omjay sadar bahwa manusia bukan robot. Tubuh punya batas. Dan ketika batas itu dilanggar terus-menerus, tubuh akan “memberontak”.
Kejadian itu terjadi beberapa tahun lalu.
Saat itu aktivitas Omjay benar-benar padat. Pagi mengajar di sekolah. Siang rapat. Sore menjadi narasumber pelatihan guru. Malam menulis artikel di blog dan Kompasiana. Kadang masih harus membalas ratusan pesan WhatsApp dari guru-guru seluruh Indonesia yang ingin belajar menulis.
Omjay menikmati semua aktivitas itu. Rasanya bahagia sekali ketika tulisan dibaca banyak orang. Rasanya bangga ketika guru-guru mulai berani menulis buku setelah ikut kelas belajar menulis. Hidup terasa penuh makna.
Namun diam-diam tubuh Omjay mulai memberikan tanda bahaya.
Tidur makin sedikit.
Makan sering terlambat.
Minum kopi makin banyak.
Olahraga hampir tidak pernah.
Tetapi Omjay tetap keras kepala.
“Ah, saya kuat.”
Kalimat itu sering diucapkan Omjay dalam hati. Padahal sebenarnya tubuh sudah lemah. Kepala sering pusing. Lambung mulai sakit. Badan gampang lelah. Namun semuanya dianggap biasa.
Hingga akhirnya kejadian “hampir mati konyol” itu datang.
Malam itu Omjay baru selesai menulis artikel panjang untuk diposting di blog. Jam sudah menunjukkan lewat tengah malam. Mata mulai berat, tetapi Omjay masih memaksakan diri menatap layar laptop.
Tiba-tiba dada terasa sesak.
Awalnya Omjay mengira hanya masuk angin biasa. Omjay mencoba minum air hangat dan menarik napas panjang. Namun rasa sesak justru makin kuat. Kepala berputar. Keringat dingin bercucuran.
Omjay mulai panik.
Tubuh terasa lemas sekali. Bahkan untuk berdiri saja sulit. Jantung berdegup sangat cepat seperti genderang perang. Saat itulah Omjay benar-benar takut.
“Jangan-jangan ini serangan jantung?”
Pikiran buruk langsung bermunculan. Omjay teringat istri, anak-anak, murid-murid, dan begitu banyak tulisan yang belum selesai dibuat. Dalam kondisi setengah sadar, Omjay mencoba meminta bantuan keluarga.
Akhirnya Omjay dibawa ke rumah sakit tengah malam.
Di perjalanan, Omjay hanya bisa berdoa. Rasanya campur aduk. Takut, menyesal, sedih, semuanya menjadi satu. Omjay baru sadar bahwa selama ini terlalu memaksakan diri.
Setelah diperiksa dokter, ternyata kondisi Omjay drop karena kelelahan berat, kurang istirahat, pola makan buruk, dan asam lambung yang naik cukup parah hingga memicu sesak dada serta jantung berdebar kencang.
Dokter berkata dengan nada serius.
“Bapak ini terlalu capek. Kalau terus dipaksakan bisa berbahaya.”
Kalimat itu menampar Omjay keras sekali.
Selama ini Omjay sibuk memotivasi orang lain agar semangat berkarya, tetapi lupa menjaga diri sendiri. Padahal tubuh adalah kendaraan utama untuk beribadah, bekerja, dan berkarya.
Kalau tubuh rusak, semua aktivitas juga akan berhenti.
Sejak kejadian itu, Omjay mulai belajar mengatur hidup lebih baik. Tidak mudah memang. Apalagi bagi seseorang yang terbiasa aktif dan produktif. Namun Omjay sadar, produktif bukan berarti harus menyiksa diri.
Omjay mulai belajar tidur lebih cukup. Mengurangi begadang. Minum kopi tidak berlebihan. Makan lebih teratur. Sesekali berjalan kaki dan olahraga ringan.
Yang paling sulit adalah belajar berkata “tidak”.
Kadang ada undangan seminar, pelatihan, atau kegiatan menulis yang sangat menarik. Dulu semua diterima tanpa berpikir panjang. Sekarang Omjay mulai memilih mana yang benar-benar penting.
Sebab kesehatan jauh lebih mahal daripada popularitas.
Kejadian hampir mati konyol itu juga mengajarkan Omjay tentang makna hidup. Ternyata manusia sering merasa dirinya kuat dan hebat, padahal sangat rapuh.
Kita bisa sibuk mengejar prestasi, jabatan, uang, dan popularitas. Namun ketika tubuh jatuh sakit, semua itu mendadak terasa kecil.
Di ruang rumah sakit, Omjay melihat banyak orang kaya yang tetap menangis kesakitan. Ada pejabat yang tetap lemah di atas ranjang. Ada orang terkenal yang tetap membutuhkan bantuan perawat untuk sekadar berjalan ke kamar mandi.
Saat sakit datang, manusia benar-benar sadar bahwa dirinya hanyalah makhluk kecil di hadapan Tuhan.
Karena itu Omjay sekarang selalu mengingatkan guru-guru dan para penulis muda: berkaryalah sebaik mungkin, tetapi jangan melupakan kesehatan.
Jangan bangga begadang setiap malam.
Jangan merasa hebat karena tidak pernah libur.
Jangan menganggap tubuh akan selalu kuat.
Tubuh punya hak untuk istirahat.
Bahkan mesin saja bisa rusak bila dipakai terus-menerus tanpa henti. Apalagi manusia yang punya rasa lelah, rasa sakit, dan keterbatasan.
Omjay bersyukur masih diberi kesempatan hidup hingga hari ini. Masih bisa menulis. Masih bisa mengajar. Masih bisa berbagi pengalaman dengan banyak orang.
Mungkin Allah sedang menegur Omjay lewat cara yang cukup keras.
Teguran itu membuat Omjay sadar bahwa hidup bukan sekadar bekerja tanpa henti. Hidup juga tentang menjaga amanah tubuh yang telah diberikan Tuhan.
Kini setiap kali melihat jam sudah larut malam, Omjay sering tersenyum sendiri sambil mengingat kejadian itu.
Laptop boleh panas.
Ide boleh mengalir deras.
Target tulisan boleh banyak.
Tetapi kesehatan tetap nomor satu.
Sebab percuma punya seribu tulisan bila tubuh tumbang di tengah jalan.
Dan Omjay tidak ingin lagi “hampir mati konyol” hanya karena terlalu memaksakan diri demi pekerjaan yang sebenarnya masih bisa menunggu esok hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.