Kisah Omjay: Sholat Jumat di Masjid Jami Al Islam Bandung
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay), Guru Blogger Indonesia
Hari Jumat selalu memiliki tempat istimewa di hati Omjay. Ada ketenangan yang berbeda ketika adzan Jumat berkumandang. Kesibukan dunia seolah berhenti sejenak. Aktivitas pekerjaan, urusan keluarga, bahkan berbagai target yang ingin dicapai, semuanya ditinggalkan untuk memenuhi panggilan Allah SWT.
Jumat, 29 Mei 2026, Omjay berkesempatan menunaikan Sholat Jumat di Masjid Jami Al Islam Bandung. Sebuah masjid yang sederhana, tetapi menghadirkan suasana yang menenangkan jiwa. Saat melangkahkan kaki memasuki masjid, hati Omjay langsung terasa damai. Lantai kayu yang bersih, jamaah yang mulai berdatangan, dan lantunan ayat suci Al-Qur'an yang terdengar pelan membuat suasana semakin khusyuk.
Dalam foto yang diabadikan hari itu, tampak para jamaah duduk rapi menghadap mimbar. Ada yang mengenakan baju koko putih, ada yang memakai peci hitam, ada pula yang datang dengan pakaian kerja sederhana. Semua duduk sejajar tanpa memandang status sosial, jabatan, atau kekayaan. Di hadapan Allah SWT, semua manusia sama. Yang membedakan hanyalah ketakwaannya.
Omjay duduk di bagian belakang sambil memperhatikan suasana masjid. Di mimbar terlihat seorang khatib muda sedang menyampaikan khutbah Jumat. Suaranya tegas namun lembut. Setiap kalimat yang diucapkannya mengandung pesan yang begitu dalam.
Khutbah hari itu mengingatkan jamaah tentang pentingnya memanfaatkan waktu untuk beribadah dan berbuat kebaikan. Sang khatib menyampaikan bahwa kehidupan manusia di dunia sangat singkat. Banyak orang sibuk mengejar harta, jabatan, dan popularitas, tetapi lupa menyiapkan bekal untuk kehidupan yang kekal di akhirat.
Kalimat itu begitu menancap dalam hati Omjay.
Tiba-tiba Omjay teringat perjalanan hidup yang telah dilalui. Sejak menjadi guru pada tahun 1993 hingga sekarang, begitu banyak pengalaman yang telah Allah berikan. Ada masa sulit, ada masa bahagia, ada pula masa penuh perjuangan.
Omjay teringat ketika harus menyelesaikan studi doktoral selama delapan tahun. Teringat saat belajar di Jepang pada tahun 2016 dan di China pada tahun 2019. Teringat pula ketika harus membagi waktu antara mengajar, menulis, keluarga, dan organisasi.
Semua perjalanan itu terasa begitu cepat berlalu.
Seolah baru kemarin Omjay menjadi guru muda yang penuh semangat. Kini rambut mulai memutih dan usia terus bertambah. Waktu ternyata berjalan jauh lebih cepat daripada yang kita bayangkan.
Di tengah khutbah, Omjay merenungkan satu hal penting.
Apa yang akan dibawa ketika meninggalkan dunia ini?
Rumah yang megah akan ditinggalkan.
Mobil yang mahal akan ditinggalkan.
Jabatan yang tinggi akan berakhir.
Tabungan dan investasi tidak akan ikut masuk ke liang lahat.
Yang akan menemani hanyalah amal ibadah dan kebaikan yang pernah dilakukan selama hidup.
Karena itulah Omjay selalu berusaha menulis setiap hari.
Bagi Omjay, tulisan bukan sekadar rangkaian kata. Tulisan adalah jejak kehidupan. Tulisan adalah amal jariyah yang diharapkan terus memberikan manfaat kepada orang lain.
Omjay sering mengatakan:
"Tulisanku adalah tabunganku."
Tabungan itu bukan disimpan di bank. Bukan pula berupa emas atau deposito. Tabungan itu tersimpan dalam bentuk artikel, buku, blog, dan berbagai karya tulis yang dapat dibaca banyak orang.
Setiap kali seseorang mendapatkan manfaat dari tulisan tersebut, Omjay berharap akan mengalir pahala yang terus menerus.
Khutbah Jumat hari itu juga mengingatkan jamaah agar tidak menunda-nunda kebaikan.
Banyak orang berkata:
"Nanti kalau sudah pensiun saya akan rajin ibadah."
"Nanti kalau sudah kaya saya akan banyak bersedekah."
"Nanti kalau sudah punya waktu saya akan menulis buku."
Padahal tidak ada seorang pun yang tahu sampai kapan usianya.
Kematian tidak pernah menunggu seseorang selesai dengan urusan dunianya.
Maka yang terbaik adalah memulai kebaikan hari ini.
Saat melihat jamaah yang duduk khusyuk mendengarkan khutbah, Omjay merasa sangat bersyukur. Masih diberikan kesempatan untuk datang ke rumah Allah. Masih diberikan kesehatan untuk berjalan menuju masjid. Masih diberikan waktu untuk memperbaiki diri.
Betapa banyak orang yang ingin datang ke masjid tetapi terhalang sakit.
Betapa banyak orang yang ingin beribadah tetapi waktunya telah habis.
Karena itu setiap kesempatan beribadah adalah nikmat yang luar biasa.
Setelah khutbah selesai, iqamah pun dikumandangkan. Seluruh jamaah berdiri merapatkan shaf. Bahu bertemu bahu. Kaki sejajar dengan kaki.
Tidak ada perbedaan antara orang kaya dan miskin.
Tidak ada perbedaan antara pejabat dan rakyat biasa.
Semua berdiri sebagai hamba Allah yang berharap rahmat dan ampunan-Nya.
Ketika imam mengucapkan takbiratul ihram, suasana masjid menjadi sangat tenang. Hanya terdengar bacaan Al-Qur'an yang meresap ke dalam hati.
Dalam sujudnya, Omjay memanjatkan doa sederhana.
Semoga Allah selalu menjaga keluarga.
Semoga Allah memberikan kesehatan.
Semoga Allah memudahkan langkah dalam berbagi ilmu.
Semoga tulisan-tulisan yang lahir dari hati dapat menjadi manfaat bagi banyak orang.
Dan semoga Allah menerima seluruh amal ibadah yang dilakukan selama hidup.
Usai sholat Jumat, para jamaah saling bersalaman. Wajah-wajah penuh senyum terlihat di berbagai sudut masjid. Ada kehangatan persaudaraan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Omjay kemudian melangkah keluar masjid dengan hati yang terasa lebih ringan.
Jumat siang itu kembali mengingatkan bahwa hidup ini hanyalah perjalanan singkat. Dunia hanyalah tempat singgah sementara. Sedangkan kampung halaman yang sesungguhnya adalah akhirat.
Karena itu selama masih diberikan kesempatan hidup, mari kita isi hari-hari dengan amal kebaikan.
Menulis kebaikan.
Menyebarkan ilmu.
Membantu sesama.
Memakmurkan masjid.
Dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Sebab ketika usia telah berakhir, yang akan tersisa bukanlah apa yang kita miliki, melainkan apa yang telah kita berikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.