Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Kamis, 28 Mei 2026

Tulisanku Adalah Tabunganku

Inspirasi Pagi: Semua Hanya Titipan Allah 

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd — Omjay, Guru Blogger Indonesia

Pagi itu, Kamis 28 Mei 2026, udara Garut terasa dingin menusuk kulit. Kabut tipis masih menyelimuti pepohonan di sekitar rumah kakak ipar Omjay di Wanaraja. Suara ayam berkokok bersahutan, sementara adzan Subuh baru saja selesai berkumandang dari masjid dekat rumah.

Omjay duduk pelan di teras rumah sambil memegang secangkir kopi hangat. Sesekali mata memandang langit yang perlahan mulai terang. Di tangan Omjay, sebuah pesan inspirasi pagi muncul di layar ponsel:

“Semua orang di dunia ini adalah tamu, sedangkan harta seluruhnya adalah titipan. Semua tamu pasti pergi, sedangkan barang titipan itu harus dikembalikan kepada pemilikNya.”

Kalimat sederhana itu tiba-tiba membuat hati Omjay bergetar.

Betapa sering manusia merasa memiliki segalanya. Rumah dianggap milik sendiri. Jabatan dianggap hasil perjuangan pribadi. Harta dianggap simbol keberhasilan. Bahkan kadang manusia merasa hidup akan berlangsung selamanya.

Padahal kenyataannya tidak demikian.

Kita semua hanyalah tamu di dunia ini.

Omjay terdiam cukup lama. Ingatan melayang kepada banyak peristiwa kehidupan yang telah dilewati. Ada masa ketika Omjay sibuk mengejar pekerjaan, mengejar target, mengejar pengakuan, bahkan mengejar hal-hal duniawi yang sebenarnya tidak akan ikut masuk ke liang kubur.

Namun waktu perlahan mengajarkan sebuah kebenaran besar.

Tidak ada yang benar-benar milik kita.

Semua hanyalah titipan Allah.

Mobil yang kita banggakan suatu hari akan berpindah tangan. Rumah megah yang kita bangun akan diwariskan. Jabatan akan berakhir. Uang akan habis atau ditinggalkan. Bahkan tubuh yang hari ini sehat dan kuat pun suatu saat akan kembali lemah dimakan usia.

Yang abadi hanyalah amal kebaikan.

Omjay teringat sebuah pengalaman yang sangat membekas di hati. Beberapa waktu lalu, Omjay pernah ikut mengantar jenazah kakak dan seorang sahabat. Ketika tubuh sahabat itu dimasukkan ke liang lahat, suasana mendadak sunyi. Tangis keluarga pecah. Semua yang hadir menundukkan kepala.

Saat itulah Omjay sadar.

Tidak ada satu pun harta yang ikut dibawa.

Tidak ada sertifikat rumah. Tidak ada ATM. Tidak ada mobil. Tidak ada jabatan. Tidak ada popularitas.

Yang ikut hanyalah amal ibadah dan kebaikan selama hidup di dunia.

Ayat Al-Qur’an yang dikutip dalam inspirasi pagi itu terasa begitu menenangkan:

“Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan di bumi; dan kepada Allahlah dikembalikan segala urusan.”
(QS. Ali ‘Imron [3]:109)

Ayat itu seperti menegur hati manusia yang sering lupa diri.

Omjay kemudian membuka laptop kecil yang selalu menemani perjalanan hidupnya. Jari-jari mulai menari di atas keyboard. Menulis sudah menjadi bagian dari kehidupan Omjay. Dari tulisan-tulisan sederhana, Omjay belajar memahami kehidupan dengan lebih dalam.

Bagi Omjay, menulis bukan sekadar merangkai kata.

Menulis adalah cara menyimpan jejak kebaikan.

Menulis adalah cara berbagi ilmu.

Menulis adalah sedekah yang bisa terus mengalir meski tubuh sudah tiada.

Karena itulah Omjay selalu berkata:

“Tulisanku adalah tabunganku untuk menjadi buku yang bermutu dan tersimpan di alat rekam yang ajaib bernama blog.”

Kalimat itu bukan sekadar slogan.

Omjay benar-benar merasakan keajaiban blog dalam perjalanan hidupnya. Tulisan yang dibuat bertahun-tahun lalu ternyata masih dibaca hingga hari ini. Ada guru dari pelosok Indonesia yang menghubungi Omjay karena merasa termotivasi oleh tulisan di blog. Ada siswa yang kembali semangat belajar setelah membaca kisah perjuangan seorang guru. Ada pula pembaca yang mengaku menangis setelah membaca artikel tentang kehidupan dan kematian.

Dari situlah Omjay memahami bahwa tulisan bisa menjadi amal jariyah.

Blog bukan hanya tempat menyimpan artikel.

Blog adalah alat rekam kehidupan.

Di dalamnya tersimpan jejak pemikiran, pengalaman, perjuangan, doa, bahkan air mata penulisnya. Ketika manusia sudah tidak lagi mampu berbicara, tulisan akan tetap hidup dan berbicara kepada dunia.

Pagi semakin terang.

Anak-anak mulai bermain di halaman. Suara motor terdengar berlalu-lalang di jalan kampung. Kehidupan berjalan seperti biasa. Namun hati Omjay pagi itu terasa berbeda.

Ada rasa syukur yang begitu besar.

Syukur karena masih diberi kesempatan hidup. Syukur karena masih bisa menulis. Syukur karena masih bisa berbagi ilmu. Syukur karena masih diberi kesempatan memperbaiki diri.

Omjay percaya, hidup bukan tentang siapa yang paling kaya, paling terkenal, atau paling tinggi jabatannya.

Hidup adalah tentang siapa yang paling bermanfaat bagi sesama.

Sebab pada akhirnya semua akan kembali kepada Allah.

Kita datang tanpa membawa apa-apa. Dan nanti kita pergi pun tanpa membawa apa-apa.

Yang tersisa hanyalah nama baik dan amal kebaikan.

Karena itu Omjay terus belajar menulis dengan hati. Bukan sekadar mengejar viral atau popularitas. Omjay ingin setiap tulisan menjadi pengingat bahwa hidup ini sementara.

Hari ini kita masih bisa tersenyum. Besok belum tentu.

Hari ini kita masih bisa berkumpul bersama keluarga. Besok mungkin tinggal kenangan.

Hari ini kita masih diberi kesempatan berbuat baik. Maka jangan ditunda.

Sebelum menutup laptopnya, Omjay kembali menuliskan satu kalimat sederhana di blog pribadinya di [wijayalabs.com](https://wijayalabs.com?utm_source=chatgpt.com):

“Hidup hanyalah singgah sementara. Maka tinggalkanlah jejak kebaikan melalui tulisan yang lahir dari hati.”

Semoga setiap tulisan yang kita buat menjadi cahaya, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang lain.

Barakallah fiikum.

Tetap semangat menebar kebaikan melalui ilmu, tulisan, dan ketulusan hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.