Malas Membaca dalam Kisah Omjay: Ketika Buku Tak Lagi Menjadi Sahabat
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau membaca.” Kalimat itu sering kita dengar, tetapi dalam kenyataan sehari-hari, budaya membaca justru semakin memudar. Banyak orang lebih senang menggulir layar ponsel dibanding membuka lembar demi lembar buku. Fenomena inilah yang juga menjadi kegelisahan Omjay, seorang guru, blogger, sekaligus pegiat literasi yang selama bertahun-tahun mengajak masyarakat Indonesia mencintai membaca dan menulis.
Omjay pernah bercerita bahwa saat masih kecil, membaca adalah jendela utama untuk mengenal dunia. Di masa itu belum ada internet seperti sekarang. Anak-anak pergi ke perpustakaan sekolah, meminjam buku cerita, membaca majalah anak, atau menunggu koran datang setiap pagi. Buku menjadi hiburan sekaligus sumber ilmu pengetahuan.
Namun kini keadaan berubah drastis. Teknologi memang mempermudah hidup, tetapi di sisi lain membuat banyak orang kehilangan minat membaca. Ironisnya, masyarakat sekarang lebih suka membaca judul daripada isi. Banyak yang langsung berkomentar tanpa memahami keseluruhan tulisan. Bahkan ada yang hanya membaca potongan informasi di media sosial lalu merasa paling benar.
Omjay melihat kondisi ini sebagai tantangan besar dunia pendidikan. Sebagai guru, beliau sering menemukan siswa yang malas membaca buku pelajaran. Ketika diberi tugas, sebagian siswa lebih memilih menyalin jawaban dari internet tanpa memahami isi materi. Mereka ingin serba cepat dan instan. Padahal membaca membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan kemauan berpikir.
Dalam sebuah kesempatan, Omjay pernah bertanya kepada murid-muridnya, “Berapa halaman buku yang kalian baca minggu ini?” Sebagian besar hanya tersenyum malu. Ada yang mengaku tidak membaca sama sekali selain chat WhatsApp dan media sosial. Jawaban itu membuat Omjay prihatin. Sebab rendahnya minat baca akan berdampak panjang terhadap kualitas generasi masa depan.
Menurut Omjay, malas membaca bukan sekadar masalah kebiasaan, tetapi juga masalah pola pikir. Banyak orang menganggap membaca itu membosankan. Mereka tidak sadar bahwa membaca justru membuka pintu kesuksesan. Hampir semua tokoh besar dunia memiliki kebiasaan membaca. Mereka memperluas wawasan melalui buku.
Omjay sendiri menjadi bukti nyata kekuatan membaca. Dari kebiasaan membaca, beliau kemudian rajin menulis di blog pribadi. Tulisan-tulisannya dibaca banyak orang dan menginspirasi guru-guru di seluruh Indonesia. Ia dikenal sebagai Guru Blogger Indonesia bukan karena kebetulan, melainkan karena konsistensi belajar melalui membaca dan menulis.
Beliau sering mengatakan bahwa membaca adalah olahraga otak. Jika tubuh perlu makanan bergizi, maka pikiran juga membutuhkan asupan ilmu dari bacaan. Orang yang rajin membaca biasanya memiliki kemampuan berpikir lebih baik, lebih kritis, dan lebih bijaksana dalam mengambil keputusan.
Manfaat Membaca
1. Menambah Ilmu Pengetahuan
Membaca membuat seseorang mengetahui banyak hal baru. Dari buku, artikel, dan berbagai bacaan lainnya, kita dapat memahami dunia lebih luas. Orang yang rajin membaca biasanya lebih mudah berdiskusi karena memiliki banyak referensi pengetahuan.
2. Melatih Kemampuan Berpikir
Membaca membantu otak bekerja aktif. Ketika membaca, kita belajar memahami informasi, menganalisis masalah, dan menarik kesimpulan. Karena itu membaca sangat penting untuk melatih kemampuan berpikir kritis.
3. Menambah Kosakata dan Kemampuan Berbahasa
Orang yang gemar membaca biasanya lebih lancar berbicara dan menulis. Mereka memiliki banyak kosakata sehingga mampu menyampaikan ide dengan baik. Hal inilah yang dialami Omjay ketika aktif membaca dan menulis blog setiap hari.
4. Membuka Peluang Kesuksesan
Banyak orang sukses memiliki kebiasaan membaca. Buku memberi inspirasi dan pengalaman dari orang lain. Dengan membaca, seseorang bisa belajar tanpa harus mengalami semua kesalahan sendiri.
5. Mengurangi Stres
Membaca buku favorit dapat membuat pikiran lebih tenang. Saat membaca, seseorang seolah masuk ke dunia baru yang menyenangkan. Karena itu membaca juga baik untuk kesehatan mental.
6. Menumbuhkan Empati dan Kebijaksanaan
Melalui bacaan, kita memahami kehidupan orang lain. Novel, biografi, maupun kisah inspiratif mengajarkan nilai kemanusiaan. Membaca membuat hati lebih peka terhadap penderitaan dan perjuangan sesama.
Kerugian Kurang Membaca
1. Wawasan Menjadi Sempit
Orang yang jarang membaca biasanya sulit memahami berbagai persoalan. Pengetahuannya terbatas sehingga mudah percaya hoaks atau informasi palsu.
2. Sulit Berpikir Kritis
Kurang membaca membuat seseorang malas menganalisis informasi. Akibatnya mudah terpengaruh opini orang lain tanpa mencari kebenaran terlebih dahulu.
3. Kemampuan Berbahasa Menurun
Kurang membaca menyebabkan seseorang miskin kosakata. Ia kesulitan menyampaikan pendapat secara baik dan runtut.
4. Mudah Bosan dan Tidak Kreatif
Membaca dapat merangsang imajinasi dan kreativitas. Jika jarang membaca, ide-ide segar sulit muncul karena otak tidak terbiasa menerima informasi baru.
5. Prestasi Belajar Menurun
Banyak siswa gagal memahami pelajaran karena malas membaca. Mereka hanya mengandalkan hafalan tanpa benar-benar mengerti isi materi.
6. Mudah Terjebak Informasi Dangkal
Di era media sosial, banyak orang hanya membaca judul tanpa memahami isi berita. Akibatnya muncul kesalahpahaman, fitnah, bahkan perpecahan.
Omjay percaya bahwa budaya membaca harus dibangun sejak dini. Orang tua, guru, dan masyarakat perlu memberi contoh nyata. Jangan hanya menyuruh anak membaca, tetapi orang dewasa juga harus menunjukkan kebiasaan membaca di rumah maupun di sekolah.
Beliau sering mengingatkan bahwa membaca tidak harus langsung buku tebal. Mulailah dari bacaan ringan yang disukai. Yang penting adalah membiasakan diri membaca setiap hari. Sedikit demi sedikit, kebiasaan itu akan tumbuh menjadi kebutuhan.
Di tengah derasnya arus digital, membaca tetap menjadi kunci utama kemajuan bangsa. Teknologi boleh berkembang, tetapi buku dan literasi tidak boleh ditinggalkan. Sebab bangsa yang malas membaca akan sulit bersaing di masa depan.
Omjay berharap generasi muda Indonesia kembali mencintai buku. Karena dari membaca lahir pemikiran besar, karya hebat, dan perubahan positif bagi negeri. Membaca bukan sekadar aktivitas mengisi waktu luang, melainkan investasi masa depan yang nilainya tidak ternilai.
Mari mulai hari ini kita luangkan waktu membaca. Lima belas menit sehari pun sudah sangat berarti. Sebab perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Dan mungkin, dari satu buku yang kita baca hari ini, lahirlah mimpi besar untuk masa depan Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.