Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Sabtu, 09 Mei 2026

Barang Bercerai Berai Bisa Jadi Bahan ajar yang Bernilai Tinggi


Barang Bercerai-Berai Bisa Jadi Bahan Ajar yang Bernilai Tinggi
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah

Di sudut ruang kerja Omjay, ada tumpukan kertas yang terlihat tidak beraturan. Ada catatan kecil hasil seminar, potongan materi pelatihan, foto kegiatan siswa, coretan ide tulisan, hingga lembar tugas murid yang sudah mulai kusam dimakan waktu. Sekilas semua itu tampak seperti barang biasa yang tidak lagi berguna. Namun bagi Omjay, serpihan-serpihan kecil itu justru menyimpan energi besar untuk melahirkan karya.

Saat membaca tulisan di blog Annisa Menulis Masa Kini, Omjay teringat perjalanan panjangnya sebagai guru sekaligus penulis. Banyak orang mengira buku lahir dari inspirasi besar yang datang tiba-tiba. Padahal kenyataannya, buku sering lahir dari potongan pengalaman kecil yang dikumpulkan dengan sabar setiap hari.

Omjay percaya, tidak ada pengalaman yang benar-benar sia-sia. Bahkan catatan sederhana di pinggir meja guru pun bisa berubah menjadi bahan ajar yang menyentuh hati siswa jika diolah dengan cinta dan ketekunan.

Sebagai guru yang aktif menulis sejak lama, Omjay sering menyimpan berbagai “serpihan ilmu”. Kadang hanya berupa kalimat pendek dari murid. Kadang berupa pertanyaan polos siswa yang terdengar sederhana tetapi sangat dalam maknanya. Semua itu dicatat. Semua itu disimpan.

Dari kebiasaan kecil itulah lahir banyak artikel, modul pembelajaran, hingga buku pendidikan yang menginspirasi banyak guru di Indonesia.

Omjay pernah mengalami masa ketika bahan ajar terasa membosankan. Siswa terlihat pasif. Guru berbicara panjang lebar, tetapi murid tidak benar-benar terhubung dengan materi. Dari situ Omjay sadar bahwa bahan ajar terbaik bukan hanya yang rapi dan penuh teori, melainkan yang dekat dengan kehidupan nyata.

Maka Omjay mulai mengubah cara pandangnya.

Foto kegiatan sekolah dijadikan bahan refleksi. Pengalaman lucu di kelas dijadikan cerita pembelajaran. Percakapan dengan siswa dijadikan bahan diskusi. Bahkan perjalanan naik kereta menuju sekolah pun bisa menjadi inspirasi tulisan literasi.

Di tangan guru kreatif, barang yang tampak “bercerai-berai” ternyata dapat menjadi harta karun pendidikan.

Omjay sering mengatakan kepada guru-guru muda bahwa menulis tidak harus menunggu sempurna. Mulailah dari apa yang ada di sekitar kita. Kumpulkan serpihan pengalaman. Rekam ide kecil. Dokumentasikan aktivitas harian. Lama-lama semua itu akan menjadi mozaik ilmu yang indah.

Banyak guru gagal menulis bukan karena tidak mampu, tetapi karena merasa tidak punya bahan. Padahal bahan itu ada di mana-mana.

Seorang siswa yang terlambat datang ke sekolah bisa menjadi inspirasi tulisan tentang disiplin. Seorang murid yang tertidur di kelas bisa menjadi bahan refleksi tentang kondisi keluarga dan kesehatan mental anak. Sebuah kegiatan asesmen sekolah bisa menjadi artikel pendidikan yang menyentuh jika ditulis dengan hati.

Omjay membuktikan sendiri bahwa kekuatan tulisan lahir dari kepekaan melihat hal kecil.

Ketika pandemi melanda beberapa tahun lalu, banyak guru kebingungan membuat pembelajaran menarik. Namun Omjay justru melihat peluang besar. Ia mengumpulkan pengalaman guru-guru selama mengajar daring, lalu mengubahnya menjadi tulisan inspiratif. Dari situ lahir banyak karya yang dibaca ribuan orang.

Semua bermula dari serpihan pengalaman yang sebelumnya dianggap biasa saja.

Tulisan di blog tersebut mengingatkan Omjay bahwa kreativitas guru sebenarnya tidak pernah habis. Yang sering habis hanyalah keberanian untuk memulai. Banyak guru takut tulisannya jelek. Takut dikritik. Takut dianggap tidak penting. Padahal setiap guru memiliki kisah yang layak dibagikan.

Anak-anak di kelas tidak hanya membutuhkan guru pintar. Mereka membutuhkan guru yang mampu menghidupkan pembelajaran dengan pengalaman nyata.

Karena itu, Omjay selalu mengajak guru untuk menjadi “pengarsip kehidupan”. Simpan foto kegiatan. Catat ide mendadak. Rekam percakapan inspiratif. Dokumentasikan proses belajar siswa. Semua itu kelak akan menjadi bahan ajar yang kaya makna.

Bayangkan jika setiap guru di Indonesia menulis pengalaman mengajarnya setiap hari. Betapa luar biasanya kekayaan literasi pendidikan bangsa ini.

Omjay sendiri merasakan manfaat besar dari kebiasaan sederhana tersebut. Banyak tulisan yang awalnya hanya catatan pribadi ternyata disukai pembaca. Bahkan beberapa di antaranya menjadi materi seminar dan buku.

Inilah bukti bahwa karya besar sering lahir dari hal-hal kecil yang dikumpulkan secara konsisten.

Di era digital sekarang, guru sebenarnya sangat dimudahkan. Ponsel bisa menjadi alat dokumentasi. Blog bisa menjadi ruang berbagi. Media sosial dapat menjadi tempat menyebarkan inspirasi. Tinggal bagaimana guru mau memanfaatkannya.

Omjay percaya, guru yang menulis adalah guru yang sedang meninggalkan jejak peradaban. Ketika guru berhenti menulis, banyak pengalaman berharga ikut hilang tanpa sempat diwariskan.

Karena itu, jangan remehkan serpihan kecil di sekitar kita.

Barang yang berserakan di meja kerja mungkin tampak tidak penting hari ini. Tetapi bisa jadi itulah bahan utama lahirnya buku hebat di masa depan.

Coretan kecil murid hari ini mungkin akan menjadi inspirasi besar esok hari.

Foto sederhana kegiatan sekolah mungkin akan menjadi sejarah berharga beberapa tahun mendatang.

Semua bergantung pada cara kita memandangnya.

Omjay belajar bahwa kreativitas bukan tentang memiliki fasilitas mahal. Kreativitas adalah kemampuan melihat nilai dari hal-hal sederhana. Guru kreatif mampu mengubah pengalaman menjadi pembelajaran. Mengubah kenangan menjadi tulisan. Mengubah serpihan menjadi karya.

Dan dari sanalah pendidikan yang hidup akan lahir.

Karena sejatinya, pendidikan bukan hanya soal kurikulum dan angka nilai. Pendidikan adalah tentang bagaimana pengalaman manusia diolah menjadi pelajaran kehidupan yang bermakna.

Maka jangan buang catatan lama. Jangan abaikan pengalaman kecil. Jangan anggap remeh aktivitas harian di sekolah.

Sebab bisa jadi, dari barang yang tampak bercerai-berai itu, lahir sebuah adikarya yang menginspirasi Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.