Ketika Omjay Belajar Memahami PGRI: Dari Kecurigaan Menjadi Kesadaran
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah
Dulu saya pernah memiliki cara pandang yang keras terhadap organisasi guru, terutama PGRI. Saya sering bertanya dalam hati, “Mengapa organisasi sebesar PGRI terlihat begitu dekat dengan birokrasi?” Bahkan saya pernah berpikir, jangan-jangan organisasi ini hanya menjadi tempat nyaman bagi pejabat pendidikan dan para pengurus yang sibuk dengan jabatan.
Perasaan itu muncul bukan tanpa alasan. Sebagai guru yang hidup di lapangan, saya melihat sendiri berbagai persoalan pendidikan yang dihadapi guru setiap hari. Ada guru yang kesejahteraannya belum layak. Ada guru honorer yang mengabdi bertahun-tahun tetapi nasibnya tidak jelas. Ada guru yang takut bersuara karena khawatir berhadapan dengan atasan. Di sisi lain, saya melihat sebagian pejabat tampak hidup nyaman di ruang ber-AC sambil berbicara tentang pendidikan tanpa benar-benar merasakan denyut kehidupan sekolah.
Karena itulah, ketika mendengar ada Kepala Dinas Pendidikan menjadi pengurus PGRI, hati saya dulu ikut bertanya-tanya. Bukankah organisasi guru seharusnya berdiri independen? Bukankah organisasi perjuangan seharusnya menjaga jarak dengan kekuasaan?
Saya yakin, pertanyaan seperti itu bukan hanya muncul di hati saya. Banyak guru lain juga memiliki kegelisahan yang sama.
Suatu hari saya berdiskusi panjang dengan seorang sahabat lama, Tabrani Yunis. Beliau menyampaikan keresahan yang sangat jujur tentang dunia pendidikan, tentang jabatan yang dianggap semakin transaksional, dan tentang kekhawatiran jika organisasi guru terlalu dekat dengan kekuasaan.
Saya memahami kegelisahan itu.
Sebab orang yang pernah menjadi guru biasanya memiliki luka batin ketika melihat pendidikan berjalan tidak sesuai harapan. Guru hidup dengan idealisme. Maka ketika melihat birokrasi terasa jauh dari suara rakyat kecil di sekolah, kekecewaan itu mudah muncul.
Namun semakin lama saya terlibat dalam organisasi dan bertemu banyak orang di dunia pendidikan, saya mulai menyadari bahwa hidup tidak selalu hitam putih.
Saya mulai bertemu kepala dinas yang ternyata sangat peduli kepada guru. Ada yang rela turun langsung ke sekolah pelosok. Ada yang berani memperjuangkan anggaran pendidikan meski harus berhadapan dengan tekanan politik. Ada pula yang diam-diam membantu guru honorer tanpa mencari popularitas.
Di situlah saya belajar satu hal penting: jabatan tidak selalu menentukan hati seseorang.
Tidak semua pejabat buruk. Dan tidak semua aktivis organisasi otomatis benar.
Saya pun mulai memahami bahwa banyak kepala dinas pendidikan sejatinya lahir dari rahim perjuangan guru. Mereka pernah berdiri di depan kelas, mengajar murid, membuat RPP hingga larut malam, menghadapi orang tua siswa, dan merasakan beratnya menjadi guru.
Karena itu, ketika ada kepala dinas yang aktif di PGRI, persoalannya sebenarnya bukan boleh atau tidak boleh. Yang jauh lebih penting adalah apakah ia tetap amanah atau tidak.
Kalau seorang pejabat tetap mendengar suara guru, memperjuangkan pendidikan dengan tulus, dan tidak menjadikan organisasi sebagai alat kekuasaan, maka kehadirannya justru bisa menjadi jembatan komunikasi yang baik antara guru dan pemerintah.
Sebaliknya, kalau organisasi hanya dijadikan kendaraan politik atau pencitraan, maka lambat laun kepercayaan anggota akan runtuh.
Dari pengalaman itu saya belajar bahwa organisasi sebesar PGRI memang tidak mungkin memuaskan semua orang. Selalu ada kritik. Selalu ada kekecewaan. Tetapi organisasi juga tetap dibutuhkan.
Bayangkan kalau guru tidak memiliki organisasi profesi yang kuat. Siapa yang akan memperjuangkan perlindungan guru ketika menghadapi persoalan hukum? Siapa yang akan menyuarakan kesejahteraan guru honorer? Siapa yang akan menjadi rumah besar tempat guru berdiskusi dan saling menguatkan?
Karena itulah, meski kritik terhadap PGRI terus muncul, saya percaya organisasi ini tetap penting bagi masa depan pendidikan Indonesia.
Saya juga belajar bahwa kritik tidak boleh dimatikan.
Guru harus tetap berani bersuara. Organisasi harus siap menerima masukan. Sebab kritik yang lahir dari cinta terhadap pendidikan sesungguhnya adalah vitamin bagi organisasi agar tidak kehilangan arah.
Namun kritik juga perlu disampaikan dengan etika dan hati yang jernih.
Jangan sampai perbedaan pendapat membuat sesama guru saling membenci. Jangan sampai media sosial menjadi tempat membuka aib dan memperkeruh suasana tanpa solusi.
Guru seharusnya menjadi teladan dalam berdialog secara dewasa.
Saya teringat percakapan dengan Bang Tabrani ketika beliau berkata bahwa sekarang banyak jabatan terasa transaksional. Saya memahami rasa kecewa itu. Masyarakat memang sering melihat jabatan lebih dekat dengan kepentingan politik daripada pengabdian.
Tetapi saya juga percaya, bangsa ini masih memiliki orang-orang baik.
Kalau kita berhenti percaya bahwa masih ada pejabat yang amanah, maka pendidikan akan kehilangan harapan. Padahal perubahan justru membutuhkan orang-orang baik di dalam sistem.
Hari ini mungkin banyak orang mengejar jabatan. Tetapi sejarah tidak pernah benar-benar menghormati jabatan semata. Yang dikenang adalah pengabdian.
Banyak orang pernah menjadi pejabat, tetapi dilupakan begitu masa jabatannya selesai. Sebaliknya, ada guru sederhana yang tidak pernah memiliki jabatan tinggi, tetapi tetap dikenang murid-muridnya sepanjang hidup.
Karena itu saya akhirnya memahami bahwa perjuangan pendidikan tidak cukup hanya dengan kemarahan. Pendidikan membutuhkan dialog, kebijaksanaan, dan hati yang tetap bersih meski sering kecewa.
Dan saya bersyukur pernah mengalami proses berpikir itu.
Dulu saya mudah curiga kepada organisasi. Dulu saya mudah kecewa kepada birokrasi. Dulu saya melihat semuanya dengan emosi.
Namun sekarang saya belajar melihat lebih luas: bahwa memperbaiki pendidikan tidak bisa hanya dengan menyalahkan orang lain. Kita juga harus ikut menjadi bagian dari solusi.
PGRI bukan milik pejabat. PGRI juga bukan milik kelompok tertentu.
PGRI adalah rumah besar guru Indonesia.
Rumah itu mungkin belum sempurna. Kadang gaduh. Kadang penuh perbedaan pendapat. Kadang mengecewakan.
Tetapi rumah itu tetap perlu dijaga bersama.
Sebab di sanalah guru belajar saling menguatkan, saling mengingatkan, dan terus memperjuangkan pendidikan Indonesia agar tetap memiliki hati nurani.
Dan saya, Omjay, pernah menjadi orang yang sangat curiga kepada organisasi itu.
Sampai akhirnya saya belajar: bahwa perubahan tidak selalu lahir dari orang yang berada di luar pagar, tetapi sering dimulai oleh mereka yang mau masuk, berdialog, dan memperbaiki dari dalam dengan cinta dan kejujuran.
Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru blogger indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.