Pesta Babi di Papua dan Jeritan Rakyat yang Terpinggirkan
Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita membuka mata banyak orang tentang kenyataan pahit yang dialami masyarakat adat di Papua Selatan. Film karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale itu bukan sekadar tontonan biasa. Ia menjadi suara bagi rakyat kecil yang selama ini merasa tidak didengar di tanahnya sendiri.
Di balik gemerlap istilah pembangunan dan Proyek Strategis Nasional (PSN), tersimpan luka mendalam masyarakat adat Papua. Hutan dibuka, tanah ulayat diambil, dan ruang hidup perlahan menghilang. Pemerintah menyebutnya pembangunan demi ketahanan pangan nasional. Namun bagi banyak warga Papua, pembangunan itu terasa seperti badai besar yang datang tanpa meminta izin kepada pemilik tanah adat.
Film itu memperlihatkan kehidupan suku Marind, Awyu, Yei, dan Muyu yang selama turun-temurun hidup berdampingan dengan alam. Hutan bukan sekadar kumpulan pohon bagi mereka. Hutan adalah ibu yang memberi makan, sungai adalah sumber kehidupan, dan tanah adalah warisan leluhur yang sakral. Ketika alat berat masuk dan pohon-pohon tumbang, yang hilang bukan hanya lingkungan, tetapi juga identitas dan masa depan mereka.
Ironisnya, rakyat Papua sering kali hanya menjadi penonton di tanah sendiri. Kapal-kapal besar datang membawa ekskavator dan alat berat. Perusahaan-perusahaan raksasa masuk dengan izin negara. Namun masyarakat adat merasa suara mereka tidak benar-benar dilibatkan. Mereka melihat pembangunan berjalan cepat, tetapi kesejahteraan yang dijanjikan belum sepenuhnya mereka rasakan.
Banyak orang mungkin bertanya, mengapa judulnya “Pesta Babi”? Dalam budaya Papua, pesta babi adalah tradisi sakral yang melambangkan persaudaraan, syukur, dan kebersamaan. Namun dalam film ini, istilah itu menjadi metafora yang menyakitkan. Seolah ada pesta besar yang dinikmati para pemilik modal dan kekuasaan, sementara masyarakat adat hanya menerima sisa penderitaan dan kehilangan.
Yang membuat hati semakin sedih adalah munculnya berbagai cerita tentang intimidasi terhadap pemutaran film tersebut. Beberapa acara nonton bareng dibubarkan dengan alasan keamanan. Akibatnya, banyak orang merasa ruang diskusi dan kritik terhadap pembangunan menjadi semakin sempit.
Padahal kritik tidak selalu berarti menolak pembangunan. Banyak masyarakat Papua sebenarnya tidak anti kemajuan. Mereka juga ingin jalan bagus, sekolah layak, rumah sakit memadai, dan kehidupan yang lebih baik. Namun mereka ingin pembangunan yang manusiawi. Pembangunan yang menghormati hak adat, menjaga lingkungan, dan melibatkan rakyat sebagai subjek, bukan sekadar objek pembangunan.
Pemerintah dan sejumlah pihak memang menegaskan bahwa proyek food estate di Wanam bertujuan memperkuat ketahanan pangan nasional dan membuka lapangan pekerjaan. Mereka juga menyebut tidak semua lokasi dalam film berkaitan langsung dengan PSN tersebut. Namun perdebatan ini justru menunjukkan bahwa ada jurang besar antara narasi pembangunan dari pusat dengan kenyataan yang dirasakan sebagian masyarakat di lapangan.
Papua bukan tanah kosong. Papua memiliki manusia, budaya, sejarah, dan martabat yang harus dihormati. Ketika pembangunan hanya diukur dari jumlah hektare lahan yang dibuka atau angka investasi yang masuk, maka ada sisi kemanusiaan yang perlahan hilang. Alam Papua mungkin kaya, tetapi rakyatnya tidak boleh terus merasa miskin di tanah sendiri.
Kita harus belajar bahwa pembangunan sejati bukan sekadar membangun infrastruktur besar. Pembangunan sejati adalah ketika rakyat merasa aman, dihargai, dan dilibatkan. Ketika anak-anak Papua tetap bisa melihat hutan leluhurnya berdiri tegak. Ketika masyarakat adat tidak kehilangan identitas demi proyek yang katanya untuk masa depan bangsa.
Film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita akhirnya menjadi pengingat bahwa suara rakyat kecil tidak boleh dibungkam. Sebab bangsa yang besar bukan bangsa yang hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi bangsa yang mampu menjaga keadilan bagi seluruh rakyatnya, termasuk masyarakat adat Papua.
Papua terlalu indah untuk hanya dilihat sebagai sumber kekayaan alam. Papua adalah rumah bagi jutaan manusia yang ingin hidup damai dan dihormati. Jika pembangunan terus berjalan tanpa mendengar jeritan rakyatnya, maka yang tersisa hanyalah luka panjang yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Sudah waktunya pembangunan di Papua benar-benar berpihak kepada rakyat Papua. Bukan hanya menghadirkan proyek besar, tetapi juga menghadirkan keadilan, kesejahteraan, dan penghormatan terhadap manusia dan alam yang selama ini menjaga tanah itu dengan penuh cinta.
https://youtu.be/MpdrWgDRVf8?si=8gRbF4LUVlyAtKMK
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.