Payung Kehidupan Omjay: Tetap Melindungi Meski Sering Dilupakan
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah
Pagi itu langit Jakarta tampak mendung. Gerimis kecil turun membasahi jalanan ibu kota. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh. Ada yang memakai jas hujan, ada yang menunggu di halte, dan ada pula yang sibuk membuka payungnya.
Omjay memandangi sebuah payung hitam tua yang selalu dibawanya ke sekolah. Payung itu sudah lama menemaninya. Warnanya mulai pudar, gagangnya sedikit longgar, tetapi tetap setia melindungi dari panas dan hujan.
Saat melihat payung itu, Omjay tiba-tiba tersenyum kecil. Dalam hati ia berkata, “Ternyata hidup manusia sering seperti payung.”
Payung hanya dicari ketika hujan datang. Ketika cuaca cerah, ia dilipat, disimpan, bahkan kadang dilupakan di sudut rumah. Namun payung tidak pernah marah. Ia tetap siap dipakai kembali saat dibutuhkan.
Begitulah kehidupan seorang guru.
Selama puluhan tahun menjadi pendidik, Omjay merasakan betapa sering guru hanya dicari ketika diperlukan. Saat ada masalah pendidikan, guru diminta membantu. Ketika siswa membutuhkan motivasi, guru dipanggil. Saat sekolah ingin prestasi, guru dituntut bekerja keras.
Namun setelah semuanya berjalan baik, jasa guru terkadang terlupakan.
Meski demikian, Omjay memilih untuk tetap menjadi “payung” bagi banyak orang.
Ia teringat ketika dulu mengajar di sekolah dengan fasilitas yang sangat terbatas. Komputer belum memadai, internet masih lambat, bahkan banyak guru belum mengenal dunia digital. Namun Omjay tidak menyerah. Ia belajar menulis blog, belajar teknologi, lalu membagikan ilmunya kepada sesama guru di seluruh Indonesia.
Banyak guru yang awalnya tidak percaya diri menulis akhirnya mampu menerbitkan buku. Banyak guru yang takut teknologi akhirnya berani tampil di dunia digital. Semua itu membuat Omjay bahagia.
Anehnya, tidak semua orang mengingat proses perjuangan tersebut.
Ada yang datang hanya ketika membutuhkan bantuan membuat tulisan. Ada yang mendekat saat ingin belajar teknologi. Bahkan ada yang tiba-tiba akrab ketika membutuhkan rekomendasi atau dukungan.
Namun setelah berhasil, sebagian perlahan menjauh.
Kalau dipikir dengan perasaan manusia biasa, tentu hal itu bisa membuat kecewa. Tetapi Omjay memilih belajar dari payung.
Payung tidak pernah memilih siapa yang akan dilindungi. Ia tidak bertanya apakah orang itu akan berterima kasih atau melupakannya nanti. Tugas payung hanyalah melindungi.
Begitu pula hidup seorang guru.
Guru sejati mengajar bukan untuk dipuji manusia. Guru mengajar karena itu adalah panggilan hati. Ada kebahagiaan yang sulit dijelaskan ketika melihat murid berhasil. Ada rasa syukur ketika ilmu yang diberikan menjadi manfaat bagi orang lain.
Omjay percaya, kebaikan yang tulus tidak akan pernah sia-sia.
Suatu hari, Omjay pernah bertemu mantan muridnya di sebuah pusat perbelanjaan. Murid itu kini sudah sukses bekerja di perusahaan besar. Dengan mata berkaca-kaca, murid tersebut berkata:
“Pak Omjay, dulu bapak pernah menyemangati saya ketika saya hampir putus sekolah. Kata-kata bapak masih saya ingat sampai sekarang.”
Omjay terdiam sesaat.
Ia bahkan hampir lupa pernah mengucapkan kalimat itu. Tetapi bagi muridnya, nasihat sederhana tersebut menjadi titik perubahan hidup.
Dari situ Omjay sadar bahwa kebaikan kecil yang dilakukan dengan ikhlas bisa menjadi sangat besar di mata orang lain.
Kadang kita merasa lelah membantu orang. Kadang kita kecewa karena tidak dihargai. Kadang kita sedih karena dilupakan setelah berjuang.
Namun hidup bukan tentang seberapa banyak manusia mengingat jasa kita.
Hidup adalah tentang seberapa tulus kita menjalankan amanah dari Allah ﷻ.
Bukankah matahari tetap bersinar walaupun banyak manusia tidak pernah mengucapkan terima kasih?
Bukankah pohon tetap memberi buah walaupun sering dilempari batu?
Bukankah payung tetap melindungi walaupun hanya dicari saat hujan?
Omjay kemudian teringat firman Allah ﷻ dalam Al-Qur’an:
"Dan berbuat baiklah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik."
(QS. Al-Baqarah: 195)
Ayat itu menjadi penguat hati.
Kebaikan sejati memang tidak selalu mendapatkan balasan langsung dari manusia. Namun Allah melihat setiap niat baik, setiap langkah kecil, dan setiap ketulusan hati hamba-Nya.
Karena itulah Omjay terus menulis.
Ia tetap berbagi inspirasi setiap hari melalui blog dan media sosialnya. Ia terus memotivasi guru-guru agar semangat berkarya. Ia ingin para guru Indonesia sadar bahwa mereka sangat berharga.
Guru bukan hanya pengajar di ruang kelas.
Guru adalah pelita kehidupan.
Guru adalah payung yang melindungi generasi bangsa dari kebodohan.
Guru adalah matahari yang terus bersinar memberi cahaya ilmu.
Dalam perjalanan hidup, Omjay belajar bahwa semakin dewasa seseorang, semakin ia memahami arti keikhlasan. Membantu tanpa banyak menuntut balasan ternyata membuat hati lebih tenang.
Sebab jika semua kebaikan hanya dilakukan demi pujian manusia, maka hati akan mudah kecewa.
Tetapi jika semua dilakukan karena Allah, maka sekecil apa pun amal akan terasa bermakna.
Pagi itu hujan mulai reda. Matahari perlahan muncul di balik awan. Orang-orang mulai menutup payung mereka dan melanjutkan perjalanan.
Omjay pun melipat payung hitam tuanya sambil tersenyum.
“Tak apa dilupakan manusia,” gumamnya pelan. “Yang penting tetap bermanfaat.”
Dan begitulah hidup seharusnya dijalani.
Menjadi pribadi yang tetap memberi manfaat, tetap menolong, tetap berbagi ilmu, meski kadang tidak dipuji dan tidak selalu diingat.
Karena pada akhirnya, yang paling penting bukanlah penghargaan manusia, melainkan ridha Allah ﷻ.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.