Kisah Omjay: Menunggu TPG Cair dengan Hati yang Tetap Ikhlas
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd — Omjay, Guru Blogger Indonesia
Menjadi guru bukan hanya tentang mengajar di depan kelas. Menjadi guru adalah tentang kesabaran, pengabdian, dan perjuangan panjang yang sering kali tidak terlihat oleh banyak orang. Salah satu perjuangan yang setiap tahun selalu menjadi perhatian para guru adalah menunggu pencairan Tunjangan Profesi Guru (TPG).
Selasa sore itu, grup WhatsApp para guru kembali ramai. Ada yang bertanya, ada yang mulai cemas, ada pula yang mencoba menenangkan teman-temannya. Topiknya sama: “Kapan TPG cair?”
Omjay membaca satu per satu pesan yang masuk. Ada guru honorer yang berharap uang TPG bisa dipakai membayar cicilan sekolah anaknya. Ada guru ASN yang sudah menghitung kebutuhan rumah tangga menjelang akhir bulan. Ada pula yang hanya bisa tersenyum sambil berkata, “Sabar ya, mungkin memang belum waktunya.”
Di tengah ramainya percakapan itu, muncul penjelasan tentang mengapa pencairan TPG ASN dan Non ASN berbeda waktu. Penjelasan tersebut sebenarnya cukup menenangkan karena memberikan gambaran bahwa keterlambatan bukan karena ada pilih kasih, melainkan karena jalur birokrasi yang berbeda.
Guru ASN harus melewati proses panjang. Dari pusat, masuk ke pemerintah daerah, diverifikasi lagi, diterbitkan SPM dan SP2D, lalu diproses melalui KPPN sebelum akhirnya masuk ke rekening guru. Sementara guru Non ASN memiliki jalur yang lebih singkat karena dana langsung dikirim dari pusat ke rekening penerima.
Ada yang mengibaratkan: “ASN lewat jalan biasa yang penuh lampu merah dan persimpangan.” “Non ASN lewat jalan tol.”
Omjay tersenyum membaca analogi itu. Sederhana, tetapi mudah dipahami.
Namun di balik semua penjelasan teknis tersebut, Omjay justru memikirkan hal yang lebih dalam. Mengapa TPG begitu dinanti para guru?
Karena realitas kehidupan guru memang tidak selalu mudah.
Masih banyak guru yang hidup sederhana. Gaji bulanan sering kali sudah habis untuk kebutuhan pokok, biaya sekolah anak, listrik, transportasi, hingga membantu orang tua di kampung halaman. Maka ketika TPG belum cair, sebagian guru mulai mengatur ulang pengeluaran mereka.
Ada yang menunda membeli kebutuhan rumah. Ada yang menahan diri untuk tidak bepergian. Ada yang mulai membuka catatan hutang kecil di warung tetangga.
Ironisnya, semua itu tetap dijalani sambil tersenyum di depan murid-muridnya.
Pagi hari mereka tetap datang ke sekolah. Tetap menyapa siswa dengan ramah. Tetap mengajar dengan penuh semangat.
Padahal mungkin di dalam hati, mereka sedang memikirkan banyak hal.
Omjay teringat perkataan seorang guru senior di sekolah:
“Guru itu sering menguatkan orang lain, padahal dirinya sendiri sedang lelah.”
Kalimat itu sangat dalam maknanya.
Guru mengajarkan optimisme kepada murid-muridnya, meski dirinya sendiri sedang menunggu hak yang belum cair. Guru mengajarkan kesabaran kepada siswa, sementara dirinya juga sedang belajar sabar menghadapi sistem yang panjang. Guru mengajarkan kejujuran, meskipun terkadang perjuangan hidup membuat keadaan terasa berat.
Itulah kemuliaan seorang guru.
Ketika banyak profesi diukur dari keuntungan materi, guru sering kali diukur dari pengabdiannya.
TPG sejatinya bukan hadiah. TPG adalah bentuk penghargaan negara kepada guru profesional yang telah menjalankan tugas mendidik generasi bangsa. Karena itu, wajar jika para guru berharap pencairannya tepat waktu.
Namun Omjay juga memahami bahwa sistem birokrasi negara memang memiliki tahapan yang harus dijalankan dengan hati-hati. Apalagi dana negara harus melalui proses verifikasi yang ketat agar tidak terjadi kesalahan penyaluran.
Dalam informasi terbaru disebutkan bahwa pencairan TPG Triwulan 2 Gelombang 1 bulan Mei 2026 sedang diproses oleh Kementerian Keuangan dan KPPN, serta diperkirakan cair pada tanggal 30 Mei 2026 setelah libur nasional selesai.
Bagi sebagian orang, menunggu beberapa hari mungkin hal biasa. Namun bagi guru yang sedang memiliki kebutuhan mendesak, beberapa hari bisa terasa sangat panjang.
Meski demikian, Omjay percaya bahwa guru Indonesia memiliki hati yang kuat.
Di ruang guru, sering terlihat kebersamaan yang mengharukan. Ada guru yang meminjamkan uang kepada rekannya. Ada yang saling menghibur. Ada pula yang berkata sambil bercanda:
“Yang penting masih bisa makan gorengan sama kopi.”
Tawa kecil itu sering menjadi penguat di tengah lelahnya perjuangan.
Omjay belajar bahwa kebahagiaan guru ternyata bukan hanya soal uang. Guru bahagia ketika muridnya berhasil. Guru bangga ketika siswanya sopan dan berprestasi. Guru terharu ketika ada alumni datang sambil berkata:
“Terima kasih ya Pak, Bu… dulu sudah membimbing saya.”
Kalimat sederhana itu kadang jauh lebih mahal daripada angka di rekening.
Namun tentu saja, kesejahteraan guru tetap penting diperjuangkan. Guru yang sejahtera akan lebih tenang dalam mengajar. Guru yang tidak dibebani kecemasan ekonomi akan lebih fokus mendidik anak bangsa.
Karena itulah, negara perlu terus memperbaiki sistem pelayanan pendidikan, termasuk pencairan hak-hak guru agar lebih cepat, tepat, dan manusiawi.
Omjay yakin para pengambil kebijakan juga terus berusaha memberikan pelayanan terbaik. Sebab di balik angka-angka administrasi itu, ada jutaan guru yang sedang berharap.
Ada keluarga yang menunggu. Ada anak-anak guru yang membutuhkan biaya sekolah. Ada kebutuhan hidup yang harus dipenuhi.
Dan di balik semua itu, para guru tetap memilih bertahan di jalan pengabdian.
Menjelang magrib, Omjay menutup laptopnya. Di luar rumah, suara anak-anak mengaji mulai terdengar dari mushola dekat rumah. Hati terasa lebih tenang.
Omjay percaya, rezeki tidak akan pernah tertukar.
Jika hari ini belum cair, mungkin Allah sedang mengajarkan kesabaran. Jika harus menunggu lebih lama, mungkin Allah sedang melatih keikhlasan.
Karena sejatinya, guru bukan hanya sedang mendidik murid-muridnya. Guru juga sedang dididik oleh kehidupan.
Dan dari semua pelajaran hidup itu, satu hal yang paling penting adalah tetap menjaga hati agar tidak lelah berbuat baik.
Semoga seluruh guru Indonesia selalu diberikan kesehatan, kekuatan, dan keberkahan rezeki. Semoga TPG segera cair dan membawa kebahagiaan bagi keluarga para guru di seluruh Nusantara.
Tetap semangat mengajar. Tetap ikhlas mendidik. Karena jasa guru akan selalu hidup dalam perjalanan bangsa Indonesia.
Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru blogger Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.