Belajar Mengukir di Atas Batu
Kisah Omjay Belajar Sepanjang Hayat dari Tulisan Prof. Jejen Musfah
Oleh: Wijaya Kusumah
Pagi itu grup WhatsApp para guru kembali hidup dengan diskusi yang menarik. Tulisan dari Prof Jejen Musfah tentang buku Make It Stick membuat saya merenung cukup lama. Saya membacanya perlahan sambil menyeruput kopi hangat.
Tulisan itu sederhana, tetapi sangat dalam maknanya. Tentang bagaimana manusia belajar dan mengapa kita mudah lupa. Tentang bagaimana ilmu bisa melekat kuat seperti ukiran di atas batu atau justru hilang seperti ukiran di atas air.
Di tengah obrolan grup, Pak Arlis menuliskan bait lagu lama dari grup qasidah legendaris Nasida Ria:
> “Belajar waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu, belajar sesudah dewasa laksana mengukir di atas…”
Lalu saya spontan menjawab:
> “Air.”
Jawaban singkat itu ternyata membawa diskusi menjadi lebih bermakna. Pak Melkianus kemudian menjelaskan bahwa belajar saat kecil akan membekas kuat seperti pahatan di batu, sedangkan belajar saat dewasa seperti mengukir di atas air—mudah hilang karena pikiran sudah dipenuhi banyak persoalan hidup.
Saya terdiam cukup lama membaca penjelasan itu.
Saya lalu bertanya kepada diri sendiri, “Apakah saya masih mampu mengukir di atas batu meski usia terus bertambah?”
Sebagai guru yang dikenal banyak orang dengan panggilan Omjay, saya merasa proses belajar justru semakin berat ketika usia bertambah. Ketika muda, otak terasa lebih segar. Menghafal lebih cepat. Mengingat lebih mudah. Sekarang, membaca satu buku saja kadang harus diulang berkali-kali agar benar-benar paham.
Namun tulisan Prof. Jejen menyadarkan saya bahwa belajar bukan soal usia, tetapi soal cara.
Belajar Tidak Harus Mudah
Dalam tulisannya, Prof. Jejen mengutip pesan penting dari buku Make It Stick bahwa belajar yang terasa sulit justru lebih kuat tertanam dalam ingatan. Saya langsung teringat pengalaman pribadi saat mulai belajar menulis di blog bertahun-tahun lalu.
Awalnya sangat sulit.
Saya harus belajar mengetik lebih cepat. Belajar menyusun ide. Belajar membuat judul menarik. Bahkan saya sering lupa password blog sendiri. Artikel yang saya tulis juga sering dianggap biasa saja. Tidak banyak yang membaca.
Tetapi karena dilakukan terus-menerus dengan usaha sungguh-sungguh, perlahan kemampuan itu tumbuh. Saya mulai menikmati prosesnya. Dari yang awalnya hanya menulis beberapa paragraf, akhirnya mampu menulis artikel panjang hampir setiap hari.
Kini saya memahami bahwa kesulitan dalam belajar sebenarnya adalah proses mengukir batu itu sendiri. Batu tidak bisa diukir dengan lembut. Dibutuhkan tekanan, kesabaran, dan ketekunan.
Begitu pula ilmu.
Menulis Membuat Ilmu Tidak Mudah Hilang
Bagian yang paling saya sukai dari tulisan Prof. Jejen adalah tambahan pendapat beliau tentang menulis. Menurut beliau, menulis membuat seseorang tidak mudah lupa.
Saya sangat setuju.
Sebagai guru dan blogger pendidikan, saya merasakan sendiri manfaat menulis. Ketika saya membaca buku lalu menuliskan kembali isi buku tersebut dengan bahasa sendiri, pemahaman saya menjadi jauh lebih kuat.
Menulis memaksa otak untuk memanggil kembali pengetahuan yang tersimpan di memori. Saat itulah proses belajar sebenarnya terjadi.
Karena itu saya selalu mendorong guru dan siswa untuk rajin menulis. Tidak harus langsung hebat. Tidak harus langsung viral. Yang penting menulis dengan hati.
Banyak orang membaca lalu lupa. Tetapi orang yang membaca dan menulis ulang biasanya lebih lama mengingat.
Itulah sebabnya blog pribadi saya di blog https://wijayalabs.com menjadi rumah belajar yang sangat berarti bagi saya. Di sana bukan hanya tersimpan tulisan, tetapi juga jejak perjalanan belajar saya selama bertahun-tahun.
Bahaya Ketergantungan pada AI
Tulisan Prof. Jejen juga mengingatkan tentang bahaya bergantung sepenuhnya kepada AI. Pesan ini sangat relevan di zaman sekarang.
AI memang membantu. Saya sendiri menggunakan teknologi untuk mencari inspirasi, merapikan ide, dan mempercepat pekerjaan. Namun jika semua diserahkan kepada AI tanpa proses berpikir, maka kemampuan manusia akan perlahan melemah.
Menulis sejatinya bukan sekadar menghasilkan teks. Menulis adalah proses berpikir, merenung, dan menemukan makna.
Jika seseorang hanya menyalin hasil AI tanpa memahami isinya, maka ia seperti orang yang meminjam otak orang lain. Tulisan mungkin terlihat bagus, tetapi kosong dari pengalaman dan jiwa.
Karena itu saya selalu percaya bahwa teknologi harus menjadi alat bantu, bukan pengganti hati dan pikiran manusia.
Guru Adalah Pembelajar Seumur Hidup
Sebagai guru, saya merasa tulisan Prof. Jejen sangat penting dibaca para pendidik. Guru sejatinya adalah pembelajar sepanjang hayat.
Ketika guru berhenti belajar, sebenarnya ia sedang perlahan meninggalkan murid-muridnya.
Dunia berubah cepat. Teknologi berubah cepat. Cara belajar siswa juga berubah. Maka guru harus terus membaca, berdiskusi, menulis, dan berbagi ilmu.
Saya bersyukur masih berada di lingkungan guru-guru hebat yang senang belajar bersama. Grup WhatsApp yang awalnya hanya tempat berbagi informasi kadang berubah menjadi ruang belajar yang luar biasa.
Dari satu tulisan sederhana, lahirlah refleksi panjang tentang ilmu, ingatan, dan kehidupan.
Mengukir di Atas Batu
Kini saya memahami bahwa pepatah “belajar saat kecil seperti mengukir di atas batu” bukan berarti orang dewasa tidak bisa belajar.
Orang dewasa tetap bisa belajar dengan baik jika mau mengulang, menulis, berdiskusi, dan mempraktikkan ilmunya secara terus-menerus.
Air memang sulit diukir.
Namun bila dilakukan berulang-ulang dengan kesungguhan, tetesan air bahkan mampu melubangi batu.
Begitulah ilmu bekerja dalam kehidupan manusia.
Belajar membutuhkan kesabaran. Membutuhkan ketekunan. Membutuhkan kerendahan hati untuk terus merasa belum cukup pintar.
Dan mungkin itulah pesan paling indah dari tulisan Prof. Jejen Musfah pagi ini: jangan pernah berhenti belajar, sebab ilmu yang terus diasah akan menjadi cahaya dalam kehidupan.
Sebagai Omjay, saya percaya satu hal:
“Guru yang terus belajar akan tetap hidup di hati murid-muridnya, bahkan ketika usianya terus bertambah.”
Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru blogger indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.