Guru Biasa dengan Kisah Luar Biasa
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah
“Omjay, saya bingung mau menulis apa. Hidup saya biasa saja.”
Kalimat itu sering sekali saya dengar dari para guru. Mereka merasa tidak punya pengalaman hebat. Tidak pernah menjadi pembicara internasional. Tidak pernah viral di media sosial. Tidak punya penghargaan nasional. Bahkan ada yang berkata lirih kepada saya, “Saya hanya guru biasa.”
Padahal justru di situlah letak keistimewaannya.
Saya tersenyum setiap mendengar kalimat itu. Sebab saya tahu, banyak guru tidak sadar bahwa ruang kelas kecil yang setiap hari mereka masuki sesungguhnya menyimpan ribuan kisah luar biasa. Kisah yang mungkin sederhana, tetapi mampu menyentuh hati banyak orang.
Saya teringat seorang guru di daerah pinggiran yang pernah menghubungi saya lewat WhatsApp. Ia mengatakan ingin belajar menulis, tetapi merasa minder.
“Omjay, murid saya biasa saja. Sekolah saya juga kecil. Tidak ada cerita menarik.”
Saya lalu bertanya sederhana.
“Apakah Ibu pernah membantu murid yang menangis?”
“Iya, sering.”
“Apakah Ibu pernah membelikan makanan untuk siswa yang lupa membawa bekal?”
“Iya pernah.”
“Apakah Ibu pernah merasa sedih ketika murid tidak masuk sekolah karena membantu orang tuanya bekerja?”
“Iya, pernah sekali sampai saya menangis.”
Saya lalu berkata pelan kepadanya:
“Itulah tulisan yang paling berharga.”
Tiba-tiba ia terdiam.
Banyak guru mengira tulisan hebat harus penuh teori, data rumit, atau bahasa tinggi. Padahal tulisan yang paling kuat justru lahir dari kejujuran hati. Dari pengalaman nyata. Dari perjuangan sederhana yang manusiawi.
Tulisan yang mampu membuat pembaca berkata, “Saya pernah merasakan itu.”
Menjadi guru bukan hanya soal mengajar matematika, bahasa Indonesia, atau informatika. Menjadi guru adalah perjalanan emosi yang panjang. Ada tawa. Ada lelah. Ada kecewa. Ada harapan. Semua itu adalah bahan tulisan yang tidak akan pernah habis.
Saya sendiri belajar banyak dari ruang kelas.
Dulu ketika mulai menulis blog, saya juga tidak merasa punya kisah istimewa. Saya hanya guru biasa yang setiap hari berangkat pagi, mengajar, lalu pulang sore. Namun ketika saya mulai menulis pengalaman sederhana, ternyata banyak orang merasa dekat.
Saya pernah menulis tentang murid yang tertidur di kelas karena semalaman membantu orang tuanya berjualan. Ada juga kisah tentang siswa yang diam-diam menyimpan surat kecil berisi ucapan terima kasih kepada gurunya. Hal-hal sederhana seperti itu justru membuat pembaca terharu.
Karena manusia selalu tersentuh oleh ketulusan.
Kadang guru tidak sadar bahwa dirinya sedang menjadi cahaya bagi orang lain.
Seorang guru mungkin lupa apa yang dia ajarkan hari itu. Namun murid bisa mengingat selamanya cara gurunya tersenyum, memberi semangat, atau memaafkan kesalahan mereka.
Itulah mengapa pengalaman guru sangat layak ditulis.
Jangan tunggu menjadi terkenal untuk mulai menulis.
Jangan tunggu sempurna untuk mulai berkarya.
Tulislah sekarang. Tulislah apa yang dilihat, dirasakan, dan diperjuangkan setiap hari.
Bisa jadi tulisan sederhana itu menjadi penguat bagi guru lain yang hampir menyerah.
Saya pernah bertemu seorang guru honorer yang gajinya sangat kecil. Untuk pergi ke sekolah saja ia harus naik motor tua puluhan kilometer setiap hari. Ketika saya bertanya mengapa masih bertahan menjadi guru, jawabannya membuat hati saya diam lama.
“Karena saya ingin anak-anak di kampung saya punya masa depan lebih baik.”
Kalimat itu sederhana. Namun ketika ditulis dengan hati, ia mampu mengguncang perasaan pembaca.
Banyak orang mungkin melihat guru hanya berdiri di depan kelas. Tetapi sesungguhnya guru sedang menjaga masa depan bangsa sedikit demi sedikit.
Ada guru yang diam-diam menahan sakit demi tetap mengajar.
Ada guru yang tetap tersenyum meski masalah hidupnya berat.
Ada guru yang menggunakan uang pribadinya untuk membantu murid membeli buku.
Ada guru yang pulang paling akhir karena memastikan siswanya aman.
Bukankah semua itu layak dituliskan?
Menulis bukan tentang siapa yang paling pintar merangkai kata. Menulis adalah keberanian membagikan makna hidup kepada orang lain.
Tulisan guru memiliki kekuatan karena lahir dari pengalaman nyata. Tidak dibuat-buat. Tidak penuh pencitraan. Apa adanya, tetapi mengandung nilai kehidupan.
Saya percaya, setiap guru sesungguhnya adalah penulis kehidupan.
Ruang kelas adalah perpustakaan cerita.
Papan tulis adalah saksi perjuangan.
Dan murid-murid adalah halaman-halaman kenangan yang tidak akan pernah habis dibaca.
Karena itu saya selalu mengajak para guru untuk mulai menulis dari hal paling sederhana.
Tulislah tentang murid yang membuat Anda tersenyum hari ini.
Tulislah tentang rasa haru ketika siswa akhirnya bisa membaca.
Tulislah tentang perjuangan datang ke sekolah saat hujan deras.
Tulislah tentang kegagalan, lalu bagaimana Anda bangkit kembali.
Percayalah, tulisan yang keluar dari hati akan menemukan jalannya sendiri menuju hati pembaca.
Di era digital seperti sekarang, guru tidak boleh hanya menjadi pembaca. Guru juga harus menjadi pencipta karya. Sebab tulisan guru bukan sekadar rangkaian kata, tetapi jejak perjuangan yang akan dikenang sepanjang masa.
Mungkin hari ini tulisan itu hanya dibaca beberapa orang.
Namun siapa tahu, suatu hari nanti ada seseorang yang kembali bersemangat hidup karena membaca pengalaman sederhana seorang guru.
Dan bukankah itu sudah sangat berarti?
Saya selalu percaya, guru yang menulis bukan hanya sedang mengabadikan cerita. Ia sedang menyalakan harapan.
Maka jangan pernah berkata:
“Saya tidak punya kisah istimewa.”
Karena sesungguhnya, setiap guru adalah kisah istimewa itu sendiri.
Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru blogger indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.