Menulis untuk Pencerahan, Bukan Sekadar Sensasi
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. — Omjay, Guru Blogger Indonesia
Pagi itu Omjay duduk sendirian di teras rumah kampung di Wanaraja Garut. Udara masih terasa dingin. Kabut tipis menggantung di antara pepohonan. Burung-burung kecil bernyanyi seolah sedang menyampaikan pesan dari langit.
Di tangan Omjay ada secangkir kopi hangat. Di hadapannya terbentang hamparan sawah yang hijau. Namun pikiran Omjay justru sedang berjalan jauh menembus ruang digital yang kini dipenuhi jutaan tulisan setiap hari.
Saat membuka ponsel, Omjay membaca sebuah tulisan berjudul “Menulis untuk Pencerahan, Bukan Sekadar Sensasi.” Judul itu membuat Omjay terdiam cukup lama. Hati Omjay seperti disentuh oleh sebuah pertanyaan yang sederhana, tetapi sangat dalam.
Mengapa kita menulis?Apakah untuk mencari perhatian? Apakah untuk mengejar viral? Ataukah untuk meninggalkan cahaya bagi kehidupan orang lain? Pertanyaan itu terus berputar di kepala Omjay.
Sebab sebagai seorang guru yang sudah puluhan tahun mengajar dan menulis, Omjay melihat perubahan yang sangat besar dalam dunia literasi. Dahulu orang menulis dengan penuh kesabaran. Mereka mencari referensi, membaca buku, merenung, lalu menuliskan pemikirannya dengan hati-hati.
Hari ini semuanya berubah. Banyak orang ingin cepat terkenal. Banyak orang ingin cepat viral. Banyak orang lebih sibuk menghitung jumlah like dibanding menghitung manfaat tulisannya.
Padahal tulisan yang viral belum tentu bernilai. Tulisan yang ramai dibicarakan belum tentu membawa pencerahan.
Omjay teringat saat pertama kali membuat blog bertahun-tahun lalu. Saat itu tidak banyak orang membaca tulisannya. Kadang hanya satu atau dua orang. Bahkan sering kali tidak ada komentar sama sekali. Namun Omjay tetap menulis.
Setiap hari. Setiap waktu. Apa yang dilihat ditulis. Apa yang didengar ditulis. Apa yang dirasakan ditulis. Bukan karena ingin terkenal. Tetapi karena Omjay percaya bahwa tulisan adalah jejak kehidupan.
Tulisan adalah rekaman perjalanan manusia. Tulisan adalah tabungan amal yang mungkin suatu hari akan dibaca oleh orang yang membutuhkannya.
Bertahun-tahun kemudian Omjay mulai merasakan keajaiban dari menulis.Tulisan yang dahulu sepi pembaca ternyata perlahan menemukan jalannya sendiri.
Ada guru dari pelosok yang menghubungi Omjay. Ada mahasiswa yang menjadikan tulisan Omjay sebagai referensi. Ada orang tua yang mengaku kembali bersemangat hidup setelah membaca kisah sederhana yang Omjay tulis.
Saat itulah Omjay sadar. Ternyata tulisan tidak bekerja seperti petir yang langsung menyambar. Tulisan bekerja seperti air.
Pelan. Tenang. Tetapi mampu menghidupkan banyak kehidupan.
Di era media sosial saat ini, banyak orang berlomba-lomba membuat sensasi. Judul dibuat bombastis. Isi dibuat provokatif. Emosi pembaca sengaja dipancing agar tulisan cepat menyebar. Fenomena ini menjadi tantangan besar bagi dunia literasi. Banyak tulisan yang mengejar perhatian sesaat tetapi kehilangan makna jangka panjang.
Omjay tidak mengatakan bahwa viral itu salah.
Tidak.
Viral bisa menjadi jalan kebaikan.
Namun ketika viral menjadi tujuan utama, sering kali substansi mulai ditinggalkan.
Yang dicari bukan lagi kebenaran.
Tetapi perhatian.
Yang dicari bukan lagi manfaat.
Tetapi popularitas.
Padahal sejarah membuktikan bahwa peradaban besar dibangun oleh tulisan-tulisan yang mencerahkan.
Buku-buku yang mengubah dunia tidak lahir dari sensasi.
Mereka lahir dari kejujuran berpikir.
Dari ketekunan belajar.
Dari ketulusan berbagi ilmu.
Tulisan yang baik bukan sekadar membuat orang berkata, “Wah, keren!”
Tetapi membuat pembaca berkata, “Saya mendapatkan pelajaran berharga hari ini.”
Itulah pencerahan.
Omjay teringat sebuah pengalaman yang membuatnya menangis.
Berkat menulis, Omjay yang hanya seorang guru biasa pernah diundang ke berbagai daerah di Indonesia.
Berkat menulis, Omjay bisa belajar hingga ke Jepang dan China.
Berkat menulis, Omjay bertemu banyak sahabat yang sebelumnya tidak pernah dikenal.
Semua itu bukan karena Omjay hebat.
Semua itu karena tulisan membuka jalan yang tidak pernah disangka.
Saat berada di China tahun 2019, Omjay berdiri memandangi negeri yang begitu maju.
Saat itu Omjay membatin.
“Ya Allah, kalau dulu saya menyerah menulis, mungkin saya tidak akan pernah sampai di sini.”
Air mata Omjay menetes.
Bukan karena sedih.
Tetapi karena bersyukur.
Dari sebuah kebiasaan sederhana bernama menulis, Allah membuka begitu banyak pintu kehidupan.
Karena itu Omjay selalu mengatakan kepada para guru:
Menulislah setiap hari.
Jangan tunggu sempurna.
Jangan tunggu hebat.
Jangan tunggu viral.
Tulislah apa yang ada di hati.
Tulislah pengalamanmu.
Tulislah perjuanganmu.
Tulislah kegagalanmu.
Tulislah harapanmu.
Sebab tulisan yang lahir dari hati akan menemukan jalannya menuju hati yang lain.
Hari ini mungkin tulisanmu dibaca sepuluh orang.
Besok mungkin seratus orang.
Lima tahun lagi mungkin ribuan orang.
Tetapi yang paling penting bukan jumlah pembacanya.
Yang paling penting adalah manfaatnya.
Menulis yang berorientasi pada kebermanfaatan akan menghadirkan nilai yang jauh lebih panjang dibanding sensasi sesaat. Tulisan yang reflektif, edukatif, dan bermakna mampu menjadi bagian dari sedekah peradaban yang terus hidup melintasi zaman.
Matahari pagi mulai naik.
Kabut perlahan menghilang.
Suara ayam jantan bersahutan dari kejauhan.
Omjay menatap layar ponselnya sekali lagi.
Lalu tersenyum.
Di zaman yang penuh kegaduhan ini, dunia tidak kekurangan orang yang bisa berbicara.
Dunia juga tidak kekurangan orang yang bisa membuat sensasi.
Yang masih sangat dibutuhkan adalah orang-orang yang mau menghadirkan pencerahan. Orang-orang yang menulis dengan hati. Orang-orang yang menjadikan pena sebagai jalan pengabdian.Karena pada akhirnya, tulisan yang paling berharga bukanlah tulisan yang paling viral.
Melainkan tulisan yang mampu membuat seseorang menjadi lebih baik setelah membacanya. Maka jika hari ini engkau mulai menulis, jangan tanyakan berapa banyak yang membaca.
Tanyakanlah:
Apakah tulisan ini memberi cahaya bagi kehidupan orang lain?
Jika jawabannya iya, teruslah menulis.
Sebab mungkin suatu hari nanti, ketika dirimu sudah tiada, tulisan itulah yang masih berbicara.
Menyapa pembacanya. IkutnMenguatkan hatinya. Dan menjadi saksi bahwa pernah ada seorang penulis yang memilih menghadirkan pencerahan, bukan sekadar sensasi.Tulisan ini terinspirasi dari refleksi literasi yang menekankan pentingnya menulis sebagai jalan pencerahan, kebermanfaatan, dan sedekah peradaban, bukan sekadar mengejar viralitas atau sensasi sesaat.
Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru blogger Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.