Kalau dilihat dari esensinya, mendidik adalah mengajak (memotivasi, mendukung, membantu, menginspirasi, dst) orang lain untuk melakukan tindakan positif yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain (lingkungan). Dimana letak samanya? Tuhan memberikan tanggung jawab tugas ini kepada semua manusia, siapapun dia, dan apapun status sosialnya. Bahwa kemudian ada profesi yang kita kenal, misalnya saja: dai, pendeta, kyai, public speaker, penceramah, penulis motivasi, konselor, dan lain-lain, ya itu profesi. Lain profesi lain esensi.
Men-dakwah-kan hal-hal positif itu menjadi tugas semua orang karena, salah satu alasannya, di dalam praktek hidup itu ada kenyataan yang pas untuk disebut dengan istilah "konsekuensi dosa kolektif". Kalau dalam suatu daerah ada illegal logging besar-besaran dan membabi buta, lalu sebagian besar penduduk di situ berdiam atau malah mendukung praktek illegal itu, maka bencana banjir yang merupakan akibat logis dari praktek itu tidak dikenakan kepada hanya para penebang. Banjir itu akan melanda siapa saja. Ini contoh yang bisa dianalogikan secara umum.
Begitu juga dengan mengajar atau mendidik. Bahwa ada orang yang berprofesi sebagai guru, dosen, instruktur, dan seterusnya, ya itu profesi. Esensi pekerjaan mengajar sendiri ditugaskan kepada semua orang dan tidak pandang apa profesinya. Bukti riilnya adalah mengajarkan anak tentang hal-hal yang menurut kita itu baik, benar, dan bermanfaat kalau dijalankan.
Sah-sah saja kita punya alasan, misalnya saja, saya bukan berprofesi pendidik, bukan keturunan guru, saya tidak bakat mengajar, saya tidak sabaran mengajari anak kecil, dan lain-lain. Tetapi yang menjadi soal bukan itu. Persoalannya adalah, ketika kita tidak mengajarkan sesuatu maka anak-anak kita tidak mendapatkan pengajaran dari kita. Padahal keberadaan kita bagi mereka sangatlah penting. Ini tentu sudah mafhun bagi kita.
Saking pentingnya peranan kita itu bisa dilihat di berbagai temuan di bidang pendidikan. Ini misalnya dikatakan bahwa keluarga itu adalah sekolah yang pertama kali dilihat oleh anak. Banyak ahli mengatakan bahwa masa emas bagi perkembangan anak-anak itu pada masa lima tahun pertama. Ada yang mengatakan empat tahun. Ada yang mengatakan tiga sampai tujuh tahun. Ada yang mengatakan lagi sampai anak-anak itu menemukan dirinya sendiri dengan perkiraan usia minimalnya dua puluh tahun.
Mana yang paling benar sebetulnya? Mungkin masalahnya bukan pada usia berapa orangtua itu berperan emas bagi anak-anaknya. Kenapa? Prakteknya, peranan orangtua bagi anak-anak itu tidak terbatasi oleh usia. Menurut teori lain, otak manusia itu bisa diajari, bisa belajar, atau bisa menerima pelajaran sepanjang hidup. Ini berarti bahwa orangtua itu tetap punya peluang emas untuk mengajarkan sesuatu sepanjang peluang itu digunakan.
Nah, terlepas dari obrolan di atas, sebetulnya ada satu hal yang ingin kita angkat di sini. Ini terkait dengan bagaimana memilih metode pendidikan yang pas untuk kita yang memang bukan berprofesi sebagai pendidik. Seorang ibu bahkan sempat mengutarakan kebingungannya. "Katanya, kita ini tidak boleh keras sama anak. Tapi katanya lagi, kita tidak boleh memanjakan anak. Jadi mana dong metode mendidik anak yang perlu diikuti?"
Memang, dalam pendidikan dikenal sebuah sabda yang bunyinya begini: "Metode yang kita gunakan untuk mendidik itu lebih menentukan keberhasilan pendidikan ketimbang materi yang kita berikan." Dengan sabda ini, banyak orang, terutama yang bukan pendidik, tidak pede dengan cara-cara atau metode yang diciptakannya sendiri dalam mendidik anak-anaknya. "Apakah metode ini salah atau betul?", "Apakah saya terlalu keras atau terlalu memanjakan si anak?", dan seterusnya-dan seterusnya.
Kalau kita kembalikan ke esesi di atas, sebetulnya Tuhan sudah fair di sini. Fair nya adalah, semua orang sudah dibekali kapasitas tertentu untuk mengajarkan sesuatu kepada orang lain, misalnya saja, kepada anaknya atau adiknya atau lingkungannya. Bahwa ada yang bergaya tegas, galak, sedikit cerewet, bahasanya halus, sabaran, dan lain-lain dan seterusnya, itu semua adalah gaya – sesuatu yang pada prinsipnya bisa diubah sesuai usaha kita.
Bukan hanya itu saja. Selain kita sudah diberi kapasitas dasar untuk mengajarkan sesuatu, kita pun sudah diberi resources atau bekal untuk mengajar. Karena itu, apapun profesi kita, seperti apapun sifat-sifat dan kepribadian kita, ini semua tidak menjadi halangan untuk bisa menjadi pengajar atau pendidik di rumah.
Apa saja prinsip-prinsip dasar yang perlu kita jalankan (bukan sekedar untuk diketahui) dalam mengajar atau mendidik (meski profesi kita bukan pendidik atau pengajar)? Secara umum, prinsip-prinsip dasar itu bisa diuraikan sebagai berikut:
Pertama, menjauhi hal-hal yang ekstrim. Teori apapun di dunia ini pasti melarang yang satu ini. Contoh teori mendidik anak yang ekstrim itu misalnya kita dulu pernah mengalami perlakuan yang menurut kita keras dari orangtua. Sudah sedemikian keras orangtua itu mendidik kita, fasilitas hidup pun kurang, pas-pasan atau sangat dibatasi.
Sebagai reaksinya, kita menggunakan metode yang menjadi padanannya secara ekstrim. Misalnya saja kita terlalu memanjakan dan memberikan fasilitas yang berlebihan sebagai reaksi atau balasan atas masa lalu. Anak merasa punya kebebasan yang membuat dirinya tidak tahu apa yang boleh dan apa yang tidak, tidak tahu apa yang dilarang dan apa yang diperintahkan, dan seterusnya. Atau misalnya saja anak merasa semua hidupnya diselesaikan dengan pembantu atau asisten orangtua.
Nah, kalau menelaah temuan-temuan ilmu pengetahuan, anak yang menerima perlakuan terlalu ekstrim enaknya atau terlalu ekstrim tidak enaknya, itu sama-sama kurang bagus. Teori stress mengatakan, orang yang terlalu sedikit stress itu sama jeleknya dengan orang yang terlalu banyak stress. Teori kreativitas juga mengatakan yang sama. Untuk perkembangan kreativitas, terlalu tertekan itu sama-sama jeleknya dengan terlalu nyantai. Terlalu banyak tersedia fasilitas itu juga mungkin sama jeleknya dengan terlalu krisis.
Konon, dengan semakin banyaknya tumbuh generasi keluarga kedua yang lebih makmur dari orangtua-orangtuanya dulu, kini yang kerap dianggap menjadi persoalan adalah bagaimana me-militansi-kan mentalitas anak-anak. Militansi anak-anak terancam oleh berlimpahnya fasilitas dan kemanjaan yang tidak disentuh oleh nilai-nilai pendidikan. Seorang bapak yang dulu anaknya pernah saya ajar mengatakan anak-anak sekarang ini cenderung tidak mau susah, gampang nyerah, maunya fasilitas duluan.
Untuk bisa menghindari hal-hal yang ekstrim ini tentu tidak bisa kita capai dengan sekali-jadi. Ini adalah proses yang dinamis. Karena itu, idealnya adalah kita perlu me-record berbagai proses pendidikan yang pernah kita terima, entah dari orangtua, lingkungan, atau sekolah. Ini agar kita punya data atau landasan untuk bisa menemukan yang "proper" buat anak-anak yang hendak kita didik.
Kedua, mendidik atau mengajar itu adalah "the game" (permainan yang bukan sekedar main-main). Dikatakan permainan berarti kita dituntut untuk mengeluarkan jurus-jurus yang sesuai dengan kondisi dan situasi di lapangan atau fakta-fakta yang ada. Atau kalau dipendekkan, harus sesuai dengan tindakan si anak pada real time. Kalau kita membiarakan anak-anak hanya karena takut dikutuk teori pendidikan atau puisi pendidikan, padahal situasinya saat itu membutuhkan ketegasan sikap dari kita, ini juga tidak tepat.
Dengan kata lain, silahkan kita marah, lembut, diam, atau bersikap tegas, sejauh itu memang dibutuhkan oleh fakta-fakta di lapangan. Namanya juga bermain dan permainan. Yang terpenting dalam the game itu, menurut nasehat Sun Zhu, adalah menjaga emosi dan memperhatikan perilaku orang lain. Dalam konteksnya dengan pendidikan adalah, jurus apapun yang kita keluarkan, hendaknya itu perlu kita niati untuk mendidik (to educate). Artinya: menjaga emosi dan memperhatikan prilaku. Artinya lagi, teori apapun dalam pendidikan itu perlu kita tafsirkan dan jalankan dengan akal sehat dan jangan sampai "termakan" oleh teori.
Kekurangan yang kerapkali kita jalankan tanpa sadar adalah, kita men-judge anak bukan dari tindakannya atau kasusnya atau faktanya, melainkan menciptakan sebuah konsepsi-diri dalam bentuk sifat-sifat yang jeneral. Ini misalnya kita mengatakan si anak itu pemalas padahal yang kita maksudkan adalah anak menolak disuruh mengambil gelas di meja makan. Bahkan tak jarang anak menerima sebutan misalnya: anak yang bodoh, anak yang nakal, anak yang bla bla bla, dan seterusnya.
Kekurangan lainnya adalah kita menjadikan jurus-jurus itu tanpa tujuan. Artinya, ketika marah, yang membuat kita marah adalah hanya kejengkelan. Ketika kita baik, yang membuat kita baik adalah karena tidak tahan ditekan sama anak. Idealnya, baik kita sedang galak atau sedang lembut, semua itu kita niati untuk mendidik atau mengarahkan mereka pada yang baik berdasarkan keadaannya. Tradisi orangtua kita berpesan, mendidik itu terkadang harus di depan, di tengah atau di belakang. Ini tergantung situasi dan medan.
Ketiga, mempertimbangkan suasana batin dan lahir. Kalau mau jujur, metode pendidikan yang paling banyak kita gemari adalah metode ceramah, meskipun menurut rumus pendidikannya, anak-anak itu lebih banyak menyerap dari apa yang kita lakukan (imitasi).
Nah, metode ceramah pun sebetulnya oke-oke saja sejauh kita melihat ada pengaruh positif. Yang sangat penting untuk kita jalankan bersama adalah, hendaknya jangan sampai kita berceramah pada saat kita marah atau si anak dalam kondisi batin yang tidak mendukung. Kalau pun itu sudah terlanjur kita lakukan, akan lebih baik kita menciptakan atau menemukan suasana baru yang mendukung untuk menjelaskan ulang materi ceramah kita di kesempatan yang berbeda. Lebih-lebih jika itu kita lakukan secara dialogis dan berduaan.
Nasehat itu diibaratkan seperti salju. Semakin lembut salju itu, semakin kuat daya serapnya ke bawah. Tao berpesan, dimanapun di dunia ini, yang lembut pasti mengalahkan yang kasar. Sayangnya, semua orang berpikir untuk menggunakan kekasaran dan mengabaikan kelembutan. Kita lebih cenderung berkesimpulan secara cepat bahwa kekasaranlah yang akan menang padahal nyatanya seringkali itu tipuan. Justru kelembutan yang akhirnya menjadi the winner.
Keempat, kesabaran. Semua orang sudah tahu bahwa kesabaranlah yang akhirnya memenangkan proses pendidikan. Dalam beberapa kasus terkait dengan kenakalan anak yang sudah pada tahap luar biasa, misalnya mengkonsumsi narkoba, kebodohan akademik yang dibarengi dengan kenakalan, dan lain-lain, maka yang kita saksikan adalah kesabaran di sana menjadi pemenangnya.
Kesabaran di sini maksudnya bukan membiarkan penyimpangan atau memendam protes dan kejengkelan yang tidak sanggup kita nyatakan, melainkan kontinyuitas kesadaran dan tindakan. Jadi kalau kita tetap sadar untuk menempati posisi sebagai pendidik atau pengajar dan terus melakukan hal-hal yang dibutuhkan dalam proses pendidikan itu, berdasarkan fakta yang kita lihat, berarti kita telah menjalankan prinsip kesabaran. Contoh yang paling riil itu misalnya adalah kesabaran yang dilakukan ibundanya Edison. Anaknya dinyatakan tidak pantas mengikuti pendidikan sekolah formal tapi ibunya tetap tidak percaya itu dan sabar dalam mendidik anaknya.
Karena kesabaran itu letaknya pada kontinyuitas kesadaran dan tindakan, makanya kerap kita dengar bahwa kesabaran ada tiga, yaitu: a) kesabaran dalam melakukan hal-hal yang berdampak baik, b) kesabaran dalam melawan / meluruskan penyimpangan, c) kesabaran dalam menghindari hal-hal yang berdampak buruk. Bahkan kalau melihat literatur tentang perjuangan manusia, kesabaran ini diakui sebagai prinsip usaha yang tidak ada penggantinya. Kesabaran yang benar adalah kesabaran yang menjadi kekuatan kita.
Kelima, keteladanan. Ini juga prinsip dalam pendidikan dan pengajaran. Mau kita paham teori pendidikan atau tidak, keteladanan adalah prinsip yang harus ada dalam proses pendidikan. Karena itu, dikatakan bahwa keteladanan itu bukan salah satu teori pendidikan, melainkan satu-satunya. Artinya, metode apapun yang kita gunakan, tetap harus ada keteladanan ini.
Dengan menggunakan kalkulasi yang tidak ideal, kita kerap menyaksikan fakta-fakta dimana ada orang yang mungkin secara teori-tekstual tidak banyak tahu tentang perkembangan konsep-konsep pendidikan tetapi prakteknya berhasil mendidik orang, mau itu muridnya atau anaknya. Apa rahasia mereka? Dari yang kita lihat, rahasianya adalah ketaatan terhadap prinsip-prinsip utama yang jumlahnya sedikit, yang sudah kita ketahui, dan yang sudah dijalankan oleh mereka dengan sepenuh hati. Ini misalnya adalah kesabaran, ketegasan atau keteladanan.
Menurut Kahlil Ghibran, anak-anak itu memang bukan milik kita. Mau kita miliki atau tidak kita miliki, anak-anak akan tetap memiliki dirinya sendiri dan menjadi milik kekasihnya. Meskipun bukan milik kita, tetapi anak-anak itu menjadi tanggung jawab kita. Tanggung jawab inilah yang pas untuk menerjemahkan status anak sebagai amanat dan ujian.
Semoga bermanfaat.
Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah
Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com
Minggu, 20 Januari 2008
APLIKASI DAN POTENSI TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK) DALAM PEMBELAJARAN DI SEKOLAH
A. PENDAHULUAN
Perkembangan di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) saat ini sangat pesat dan berpengaruh sangat signifikan terhadap pribadi maupun komunitas, segala aktivitas, kehidupan, cara kerja, metoda belajar, gaya hidup maupun cara berpikir. Oleh karena itu, pemanfaatan TIK harus diperkenalkan kepada siswa agar mereka mempunyai bekal pengetahuan dan pengalaman yang memadai untuk bisa menerapkan dan menggunakannya dalam kegiatan belajar, bekerja serta berbagai aspek kehidupan sehari-hari.
Manusia secara berkelanjutan membutuhkan pemahaman dan pengalaman agar bisa memanfaatkan TIK secara optimal dalam menghadapi tantangan perkembangan zaman dan menyadari implikasinya bagi pribadi maupun masyarakat. Siswa yang telah mengikuti dan memahami serta mempraktekkan TIK akan memiliki kapasitas dan kepercayaan diri untuk memahami berbagai TIK dan menggunakannya secara efektif. Selain itu siswa memahami dampak negatif, dan keterbatasan TIK, serta mampu memanfaatkan TIK untuk mendukung proses pembelajaran dan dalam kehidupan.
Pendidikan sebagai pondasi pembangunan suatu bangsa memerlukan pembahuruan-pembaharuan sesuai dengan tuntutan zaman. Keberhasilan dalam pendidikan selalu berhubungan erat dengan kemajuan suatu bangsa yang dampaknya meningkatnya kesejahteraan kehidupan masyarakat.
Pada era teknologi tinggi (high technology) perkembangan dan transformasi ilmu berjalan begitu cepat. Akibatnya, sistem pendidikan konvensional tidak akan mampu lagi mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi. Pendekatan-pendekatan modern dalam proses pengajaran tidak akan banyak membantu untuk mengejar perkembangan ilmu dan teknologi jika sistem pendidikan masih dilakukan secara konvensional.
Keperluan akan penguasaan teknologi khususnya Teknologi Informasi (TI) telah diantisipasi oleh pemerintah dalam hal ini oleh Departemen Pendidikan Nasional dengan dimasukkannya kurikulum teknologi informasi dalam kurikulum 2004 dan sekarang Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mulai dari pendidikan dasar sampai ke perguruan tinggi. Diharapkan dengan diimplementasikannya kurikulum TI ini akan meningkatkan kualitas proses pengajaran, kualitas penilaian kemajuan siswa dan kualitas administrasi sekolah.
Adanya manajemen berbasis sekolah (MBS) memungkinkan setiap sekolah untuk mengembangkan dan mengaplikasikan TIK yang disesuaikan dengan tuntuntan zaman dan kemampuan/ daya dukung sekolah yang bersangkutan. Munculnya berbagai hardware dan software-software baru sekarang ini sangat membantu guru dalam menyampaikan bahan ajarnya.
Permasalahannya adalah Apakah para guru yang merupakan garda terdepan di sekolah telah memanfaatkan TIK dengan optimal? Bagaimanakah mengaplikasikan TIK dalam pembelajaran di sekolah? Bagaimanakah peran guru di sekolah dalam mengaplikasikan TIK dalam proses pembelajarannya? Adakah potensi yang dapat dikembangkan dalam TIK ini?
Makalah ini membahas aplikasi dan potensi TIK dalam pembelajaran di sekolah dan peran guru di sekolah dalam memanfaatkan TIK, serta implikasinya dalam pembelajaran.
Makalah ini membahas aplikasi dan potensi TIK dalam pembelajaran di sekolah dan peran guru di sekolah dalam memanfaatkan TIK, serta implikasinya dalam pembelajaran.
B. PEMBAHASAN
1. Pengertian Teknologi Informasi dan Komunikasi
1. Pengertian Teknologi Informasi dan Komunikasi
Teknologi Informasi adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan pribadi, bisnis, dan pemerintahan juga merupakan informasi yang strategis untuk pengambilan keputusan. Teknologi ini menggunakan seperangkat komputer untuk mengolah data, sistem jaringan untuk menghubungkan satu komputer dengan komputer yang lainnya sesuai dengan kebutuhan. Teknologi Komunikasi digunakan agar data dapat disebar dan diakses secara global. Peran yang dapat diberikan oleh aplikasi TIK adalah mendapatkan informasi untuk kehidupan pribadi seperti informasi tentang kesehatan, hobi, rekreasi, dan rohani. Juga dapat berkomunikasi dengan biaya murah seperti fasilitas email yang dapat kita pergunakan dengan mudah di internet.
Melalui TIK, sarana kerjasama antara pribadi atau kelompok yang satu dengan pribadi atau kelompok yang lainnya sudah tidak lagi mengenal batas jarak dan waktu, negara, ras, kelas ekonomi, ideologi atau faktor lainnya yang dapat menghambat bertukar pikiran antar sesama kita. Perkembangan TIK memicu suatu cara baru dalam kehidupan, dari kehidupan dimulai sampai dengan berakhir, kehidupan seperti ini dikenal dengan e-life, artinya kehidupan ini sudah dipengaruhi oleh berbagai kebutuhan secara elektronik. Dan sekarang ini sedang semarak dengan berbagai huruf yang dimulai dengan awalan eseperti e-commerce, e-government, e-education, e-learning, e-library, e-journal, e-medicine, e-laboratory, e-biodiversitiy, dan yang lainnya lagi yang berbasis TIK.
2. Aplikasi dan Potensi TIK dalam Pembelajaran di Sekolah
Menghadapi abad ke-21, UNESCO melalui “The International Commission on Education for the Twenty First Century" merekomendasikan pendidikan yang berkelanjutan (seumur hidup) yang dilaksanakan berdasarkan empat pilar proses pembelajaran, yaitu: Learning to know (belajar untuk menguasai. pengetahuan)Learning to do (belajar untuk menguasai keterampilan ), Learning to be (belajar untuk mengembangkan diri), dan Learning to live together (belajar untuk hidup bermasyarakat). Untuk dapat mewujudkan empat pilar pendidikan di era globalisasi informasi sekarang ini, para guru sebagai agen pembelajaran perlu menguasai dan menerapkan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran.
2. Aplikasi dan Potensi TIK dalam Pembelajaran di Sekolah
Menghadapi abad ke-21, UNESCO melalui “The International Commission on Education for the Twenty First Century" merekomendasikan pendidikan yang berkelanjutan (seumur hidup) yang dilaksanakan berdasarkan empat pilar proses pembelajaran, yaitu: Learning to know (belajar untuk menguasai. pengetahuan)Learning to do (belajar untuk menguasai keterampilan ), Learning to be (belajar untuk mengembangkan diri), dan Learning to live together (belajar untuk hidup bermasyarakat). Untuk dapat mewujudkan empat pilar pendidikan di era globalisasi informasi sekarang ini, para guru sebagai agen pembelajaran perlu menguasai dan menerapkan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran.
Menurut Rosenberg (2001), dengan berkembangnya penggunaan TIK ada lima pergeseran dalam proses pembelajaran yaitu:
(1) dari pelatihan ke penampilan,
(2) dari ruang kelas ke di mana dan kapan saja,
(3) dari kertas ke “on line” atau saluran,
(4) dari fasilitas fisik ke fasilitas jaringan kerja, dan
(5) dari waktu siklus ke waktu nyata.
Komunikasi sebagai media pendidikan dilakukan dengan menggunakan media-media komunikasi seperti telepon, komputer, internet, e-mail, dsb. Interaksi antara guru dan siswa tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi juga dilakukan dengan menggunakan media-media tersebut. Guru dapat memberikan layanan tanpa harus berhadapan langsung dengan siswa. Demikian pula siswa dapat memperoleh informasi dalam lingkup yang luas dari berbagai sumber melalui cyber space atau ruang maya dengan menggunakan komputer atau internet.
Hal yang paling mutakhir adalah berkembangnya apa yang disebut “cyber teaching” atau pengajaran maya, yaitu proses pengajaran yang dilakukan dengan menggunakan internet. Istilah lain yang makin poluper saat ini ialah e-learning yaitu satu model pembelajaran dengan menggunakan media teknologi komunikasi dan informasi khususnya internet.
Menurut Rosenberg (2001), e-learning merupakan satu penggunaan teknologi internet dalam penyampaian pembelajaran dalam jangkauan luas yang belandaskan tiga kriteria yaitu:
(1) e-learning merupakan jaringan dengan kemampuan untuk memperbaharui, menyimpan, mendistribusi dan membagi materi ajar atau informasi,
(2) pengiriman sampai ke pengguna terakhir melalui komputer dengan menggunakan teknologi internet yang standar,
(3) memfokuskan pada pandangan yang paling luas tentang pembelajaran di balik paradigma pembelajaran tradisional.
Sejalan dengan perkembangan TIK itu sendiri pengertian e-learning menjadi lebih luas yaitu pembelajaran yang pelaksanaannya didukung oleh jasa teknologi seperti telepon, audio, vidiotape, transmisi satellite atau computer (Soekartawi, Haryono dan Librero, 2002).
Saat ini e-learning telah berkembang dalam berbagai model pembelajaran yang berbasis TIK seperti: CBT (Computer Based Training), CBI (Computer Based Instruc-tion), Distance Learning, Distance Education, CLE (Cybernetic Learning Environment), Desktop Videoconferencing, ILS (Integrated Learning System), LCC (Learner-Cemterted Classroom), Teleconferencing, WBT (Web-Based Training), dsb.
Saat ini e-learning telah berkembang dalam berbagai model pembelajaran yang berbasis TIK seperti: CBT (Computer Based Training), CBI (Computer Based Instruc-tion), Distance Learning, Distance Education, CLE (Cybernetic Learning Environment), Desktop Videoconferencing, ILS (Integrated Learning System), LCC (Learner-Cemterted Classroom), Teleconferencing, WBT (Web-Based Training), dsb.
Selain e-learning, potensi TIK dalam pembelajaran di sekolah dapat juga memanfaatkan e-laboratory dan e-library. Adanya laboratorium virtual memungkinkan guru dan siswa dapat belajar menggunakan alat-alat laboratorium atau praktikum tidak di laboratorium secara fisik tapi dengan menggunakan media komputer. Perpustakaan elektronik (e-library) sekarang sudah menjangkau berbagai sumber buku yang tak terbatas untuk bisa diakses tanpa harus membeli buku/sumber belajar tersebut.
Globalisasi telah memicu kecenderungan pergeseran dalam dunia pendidikan dari pendidikan tatap muka yang konvensional ke arah pendidikan yang lebih terbuka. Globalisasi juga membawa peran yang sangat penting dalam mengarahkan dunia pendidikan kita dengan memanfaatkan TIK dalam pembelajaran. Sebenarnya, ada empat level pemanfaatan ICT untuk pendidikan menurut UNESCO, yaitu: Level 1: Emerging - baru menyadari pentingnya ICT untuk pendidikan; Level 2: Applying - baru mempelajari ICT (learning tom use ICT); Level 3: Integrating - belajar melalui dan atau meng-gunakan ICT (using ICT to learn); Level 4: Transforming - dimana ICT telah menjadi katalis efektifitas dan efisiensi pembelajaran serta reformasi pendidikan secara umum.
Salah satu bentuk produk TIK yang sedang ”ngetrend” adalah internet yang berkembang pesat di penghujung abad 20 dan di ambang abad 21. Kehadirannya telah memberikan dampak yang cukup besar terhadap kehidupan umat manusia dalam berbagai aspek dan dimensi. Internet merupakan salah satu instrumen dalam era globalisasi yang telah menjadikan dunia ini menjadi transparan dan terhubungkan dengan sangat mudah dan cepat tanpa mengenal batas-batas kewilayahan atau kebangsaan. Melalui internet setiap orang dapat mengakses ke dunia global untuk memperoleh informasi dalam berbagai bidang dan pada glirannya akan memberikan pengaruh dalam keseluruhan perilakunya.
Dalam kurun waktu yang amat cepat beberapa dasawarsa terakhir telah terjadi revolusi internet di berbagai negara serta penggunaannya dalam berbagai bidang kehidupan. Keberadaan internet pada masa kini sudah merupakan satu kebutuhan pokok manusia modern dalam menghadapi berbagai tantangan perkembangan global. Kondisi ini sudah tentu akan memberikan dampak terhadap corak dan pola-pola kehidupan umat manusia secara keseluruhan. Dalam kaitan ini, setiap orang atau bangsa yang ingin lestari dalam menghadapi tantangan global, perlu meningkatkan kualitas dirinya untuk beradaptasi dengan tuntutan yang berkembang. TIK telah mengubah wajah pembelajaran yang berbeda dengan proses pembelajaran tradisional yang ditandai dengan interaksi tatap muka antara guru dengan siswa baik di kelas maupun di luar kelas.
Di masa-masa mendatang, arus informasi akan makin meningkat melalui jaringan internet yang bersifat global di seluruh dunia dan menuntut siapapun untuk beradaptasi dengan kecenderungan itu kalau tidak mau ketinggalan jaman. Dengan kondisi demikian maka pendidikan khususnya proses pembelajaran cepat atau lambat tidak dapat terlepas dari keberadaan komputer dan internet sebagai alat bantu utama.
Salah satu tulisan yang berkenaan dengan dunia pendidikan disampaikan oleh Robin Paul Ajjelo dengan judul "Rebooting: The Mind Starts at School". Dalam tulisan tersebut dikemukakan bahwa ruang kelas di era millenium yang akan datang akan jauh berbeda dengan ruang kelas seperti sekarang ini yaitu dalam bentuk seperti laboratorium komputer di mana tidak terdapat lagi format anak duduk di bangku dan guru berada di depan kelas. Ruang kelas di masa yang akan datang disebut sebagai "cyber classroom" atau "ruang kelas maya" sebagai tempat anak-anak melakukan aktivitas pembelajaran secara individual maupun kelompok dengan pola belajar yang disebut "interactive learning" atau pembelajaran interaktif melalui komputer dan internet. Anak-anak berhadapan dengan komputer dan melakukan aktivitas pembelajaran secara interaktif melalui jaringan internet untuk memperoleh materi belajar dari berbagai sumber belajar. Anak akan melakukan kegiatan belajar yang sesuai dengan kondisi kemampuan individualnya sehingga anak yang lambat atau cepat akan memperoleh pelayanan pembelajaran yang sesuai dengan dirinya. Kurikulum dikembangkan sedemikian rupa dalam bentuk yang lebih kenyal atau lunak dan fleksibel sesuai dengan kondisi lingkungan dan kondisi anak sehingga memberikan peluang untuk terjadinya proses pembelajaran maju berkelanjutan baik dalam dimensi waktu maupun ruang dan materi. Dalam situasi seperti ini, guru bertindak sebagai fasilitator pembelajaran sesuai dengan peran-peran sebagaimana dikemukakan di atas.
Robin Paul Ajjelo juga mengemukakan secara ilustratif bahwa di masa-masa mendatang isi tas anak sekolah bukan lagi buku-buku dan alat tulis seperti sekarang ini, akan tetapi berupa:
(1) komputer notebook dengan akses internet tanpa kabel, yang bermuatan materi-materi belajar yang berupa bahan bacaan, materi untuk dilihat atau didengar, dan dilengkapi dengan kamera digital serta perekam suara,
(2) Jam tangan yang dilengkapi dengan data pribadi, uang elektronik, kode sekuriti untuk masuk rumah, kalkulator, dsb.
(3) Videophone bentuk saku dengan perangkat lunak, akses internet, permainan, musik, dan TV,
(4) alat-alat musik,
(5) alat olah raga, dan
(6) bingkisan untuk makan siang.
Hal itu menunjukkan bahwa segala kelengkapan anak sekolah di masa itu nanti berupa perlengkapan yang bernuansa internet sebagai alat bantu belajar.
Meskipun TIK dalam bentuk komputer dan internet telah terbukti banyak menunjang proses pembelajaran anak secara lebih efektif dan produktif, namun di sisi lain masih banyak kelemahan dan kekurangan. Dari sisi kegairahan kadang-kadang anak-anak lebih bergairah dengan internetnya itu sendiri dibandingkan dengan materi yang dipelajari. Dapat juga terjadi proses pembelajaran yang terlalu bersifat individual sehingga mengurangi pembelajaran yang bersifat sosial. Dari aspek informasi yang diperoleh, tidak terjamin adanya ketepatan informasi dari internet sehingga sangat berbahaya kalau anak kurang memiliki sikap kritis terhadap informasi yang diperoleh. Bagi anak-anak sekolah dasar penggunaan internet yang kurang proporsional dapat mengabaikan peningkatan kemampuan yang bersifat manual seperti menulis tangan, menggambar, berhitung, dsb. Dalam hubungan ini guru perlu memiliki kemampuan dalam mengelola kegiatan pembelajaran secara proporsional dan demikian pula perlunya kerjasama yang baik dengan orang tua untuk membimbing anak-anak belajar di rumah masing-masing.
a. Pergeseran pandangan tentang pembelajaran
Untuk dapat memanfaatkan TIK dalam memperbaiki mutu pembelajaran, ada tiga hal yang harus diwujudkan yaitu (1) siswa dan guru harus memiliki akses kepada teknologi digital dan internet dalam kelas, sekolah, dan lembaga pendidikan guru, (2) harus tersedia materi yang berkualitas, bermakna, dan dukungan kultural bagi siswa dan guru, dan (3) guru harus memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menggunakan alat-alat dan sumber-sumber digital untuk membantu siswa agar mencapai standar akademik. Sejalan dengan pesatnya perkembangan TIK, maka telah terjadi pergeseran pandangan tentang pembelajaran baik di kelas maupun di luar kelas. Dalam pandangan tradisional proses pembelajaran dipandang sebagai: (1) sesuatu yang sulit dan berat, (2) upaya mengisi kekurangan siswa, (3) satu proses transfer dan penerimaan informasi, (4) proses individual atau soliter, (5) kegiatan yang dilakukan dengan menjabarkan materi pelajaran kepada satuan-satuan kecil dan terisolasi, (6) suatu proses linear. Sejalan dengan perkembangan TIK telah terjadi perubahan pandangan mengenai pembelajaran yaitu pembelajaran sebagai: (1) proses alami, (2) proses sosial, (3) proses aktif dan pasif, (4) proses linear dan atau tidak linear, (5) proses yang berlangsung integratif dan kontekstual, (6) aktivitas yang berbasis pada model kekuatan, kecakapan, minat, dan kultur siswa, (7) aktivitas yang dinilai berdasarkan pemenuhan tugas, perolehan hasil, dan pemecahan masalah nyata baik individual maupun kelompok.
a. Pergeseran pandangan tentang pembelajaran
Untuk dapat memanfaatkan TIK dalam memperbaiki mutu pembelajaran, ada tiga hal yang harus diwujudkan yaitu (1) siswa dan guru harus memiliki akses kepada teknologi digital dan internet dalam kelas, sekolah, dan lembaga pendidikan guru, (2) harus tersedia materi yang berkualitas, bermakna, dan dukungan kultural bagi siswa dan guru, dan (3) guru harus memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menggunakan alat-alat dan sumber-sumber digital untuk membantu siswa agar mencapai standar akademik. Sejalan dengan pesatnya perkembangan TIK, maka telah terjadi pergeseran pandangan tentang pembelajaran baik di kelas maupun di luar kelas. Dalam pandangan tradisional proses pembelajaran dipandang sebagai: (1) sesuatu yang sulit dan berat, (2) upaya mengisi kekurangan siswa, (3) satu proses transfer dan penerimaan informasi, (4) proses individual atau soliter, (5) kegiatan yang dilakukan dengan menjabarkan materi pelajaran kepada satuan-satuan kecil dan terisolasi, (6) suatu proses linear. Sejalan dengan perkembangan TIK telah terjadi perubahan pandangan mengenai pembelajaran yaitu pembelajaran sebagai: (1) proses alami, (2) proses sosial, (3) proses aktif dan pasif, (4) proses linear dan atau tidak linear, (5) proses yang berlangsung integratif dan kontekstual, (6) aktivitas yang berbasis pada model kekuatan, kecakapan, minat, dan kultur siswa, (7) aktivitas yang dinilai berdasarkan pemenuhan tugas, perolehan hasil, dan pemecahan masalah nyata baik individual maupun kelompok.
Hal itu telah mengubah peran guru dan siswa dalam pembelajaran. Peran guru telah berubah dari: (1) sebagai penyampai pengetahuan, sumber utama informasi, akhli materi, dan sumber segala jawaban, menjadi sebagai fasilitator pembelajaran, pelatih, kolaborator, navigator pengetahuan, dan mitra belajar; (2) dari mengendalikan dan mengarahkan semua aspek pembelajaran, menjadi lebih banyak memberikan lebih banyak alternatif dan tanggung jawab kepada setiap siswa dalam proses pembelajaran. Sementara itu peran siswa dalam pembelajaran telah mengalami perubahan yaitu: (1) dari penerima informasi yang pasif menjadi partisipan aktif dalam proses pembelajaran, (2) dari mengungkapkan kembali pengetahuan menjadi menghasilkan dan berbagai pengetahuan, (3) dari pembelajaran sebagai aktiivitas individual (soliter) menjadi pembelajaran berkolaboratif dengan siswa lain.
Lingkungan pembelajaran yang di masa lalu berpusat pada guru telah bergesar menjadi berpusat pada siswa. Secara rinci dapat digambarkan sebagai berikut:
Lingkungan
Berpusat pada GURU
Berpusat pada SISWA
Aktivitas kelas
Guru sebagai sentral dan bersifat didaktis
Siswa sebagai sentral dan bersifat interaktif
Guru sebagai sentral dan bersifat didaktis
Siswa sebagai sentral dan bersifat interaktif
Peran guru
Menyampaikan fakta-fakta, guru sebagai akhli
Kolaboratif, kadang-kadang siswa sebagai akhli
Menyampaikan fakta-fakta, guru sebagai akhli
Kolaboratif, kadang-kadang siswa sebagai akhli
Penekanan pengajaran
Mengingat fakta-fakta
Hubungan antara informasi dan temuan
Mengingat fakta-fakta
Hubungan antara informasi dan temuan
Konsep pengetahuan
Akumulasi fakta secara kuantitas
Transformasi fakta-fakta
Akumulasi fakta secara kuantitas
Transformasi fakta-fakta
Penampilan keberhasilan
Penilaian acuan norma
Kuantitas pemahaman, pe-nilaian acuan patokan
Penilaian acuan norma
Kuantitas pemahaman, pe-nilaian acuan patokan
Penilaian
Soal-soal pilihan berganda
Portofolio, pemecahan masalah, dan penampilan
Soal-soal pilihan berganda
Portofolio, pemecahan masalah, dan penampilan
Penggunaan teknologi
Latihan dan praktek
Komunikasi, akses, kolaborasi, ekspresi
b. Kreativitas dan kemandirian belajar
Latihan dan praktek
Komunikasi, akses, kolaborasi, ekspresi
b. Kreativitas dan kemandirian belajar
Dengan memperhatikan pengalaman beberapa negara sebagaimana dikemukakan di atas, jelas sekali TIK mempunyai pengaruh yang cukup berarti terhadap proses dan hasil pembelajaran baik di kelas maupun di luar kelas. TIK telah memungkinkan terjadinya individuasi, akselerasi, pengayaan, perluasan, efektivitas dan produktivitas pembelajaran yang pada gilirannya akan meningkatkan kualitas pendidikan sebagai infrastruktur pengembangan SDM secara keseluruhan. Melalui penggunaan TIK setiap siswa akan terangsang untuk belajar maju berkelanjutan sesuai dengan potensi dan kecakapan yang dimilikinya. Pembelajaran dengan menggunakan TIK menuntut kreativitas dan kemandirian diri sehingga memungkinkan mengembangkan semua potensi yang dimilikinya.
Dalam menghadapi tantangan kehidupan modern di abad-21 ini kreativitas dan kemandirian sangat diperlukan untuk mampu beradaptasi dengan berbagai tuntutan. Kreativitas sangat diperlukan dalam hidup ini dengan beberapa alasan antara lain: pertama, kreativitas memberikan peluang bagi individu untuk mengaktualisasikan dirinya, kedua, kreativitas memungkinkan orang dapat menemukan berbagai alternatif dalam pemecahan masalah, ketiga, kreativitas dapat memberikan kepuasan hidup, dan keempat, kreativitas memungkinkan manusia meningkatkan kualitas hidupnya. Dari segi kognitifnya, kreativitas merupakan kemampuan berfikir yang memiliki kelancaran, keluwesan, keaslian, dan perincian. Sedangkan dari segi afektifnya kreativitas ditandai dengan motivasi yang kuat, rasa ingin tahu, tertarik dengan tugas majemuk, berani menghadapi resiko, tidak mudah putus asa, menghargai keindahan, memiliki rasa humor, selalu ingin mencari pengalaman baru, menghargai diri sendiri dan orang lain, dsb. Karya-karya kreatif ditandai dengan orisinalitas, memiliki nilai, dapat ditransformasikan, dan dapat dikondensasikan. Selanjutnya kemandirian sangat diperlukan dalam kehidupan yang penuh tantangan ini sebab kemandirian merupakan kunci utama bagi individu untuk mampu mengarahkan dirinya ke arah tujuan dalam kehidupannya. Kemandirian didukung dengan kualitas pribadi yang ditandai dengan penguasaan kompetensi tertentu, konsistensi terhadap pendiriannya, kreatif dalam berfikir dan bertindak, mampu mengendalikan dirinya, dan memiliki komitmen yang kuat terhadap berbagai hal.
Dengan memperhatikan ciri-ciri kreativitas dan kemandirian tersebut, maka dapat dikatakan bahwa TIK memberikan peluang untuk berkembangnya kreativitas dan kemandirian siswa. Pembelajaran dengan dukungan TIK memungkinkan dapat menghasilkan karya-karya baru yang orsinil, memiliki nilai yang tinggi, dan dapat dikembangkan lebih jauh untuk kepentingan yang lebih bermakna. Melalui TIK siswa akan memperoleh berbagai informasi dalam lingkup yang lebih luas dan mendalam sehingga meningkatkan wawasannya. Hal ini merupakan rangsangan yang kondusif bagi berkembangnya kemandirian anak terutama dalam hal pengembangan kompetensi, kreativitas, kendali diri, konsistensi, dan komitmennya baik terhadap diri sendiri maupun terhadap pihak lain.
2. Peran guru dalam mengaplikasikan TIK di sekolah
Semua hal itu tidak akan terjadi dengan sendirinya karena setiap siswa memiliki kondisi yang berbeda antara satu dengan lainnya. Siswa memerlukan bimbingan baik dari guru maupun dari orang tuanya dalam melakukan proses pembelajaran dengan dukungan TIK. Dalam kaitan ini guru memegang peran yang amat penting dan harus menguasai seluk beluk TIK dan yang lebih penting lagi adalah kemampuan memfasilitasi pembelajaran anak secara efektif. Peran guru sebagai pemberi informasi harus bergeser menjadi manajer pembelajaran dengan sejumlah peran-peran tertentu, karena guru bukan satu-satunya sumber informasi melainkan hanya salah satu sumber informasi. Dalam bukunya yang berjudul “Reinventing Education”, Louis V. Gerstmer, Jr. dkk (1995), menyatakan bahwa di masa-masa mendatang peran-peran guru mengalami perluasan yaitu guru sebagai: pelatih (coaches), konselor, manajer pembelajaran, partisipan, pemimpin, pembelajar, dan pengarang. Sebagai pelatih (coaches), guru harus memberikan peluang yang sebesar-besarnya bagi siswa untuk mengembangkan cara-cara pembelajarannya sendiri sesuai dengan kondisi masing-masing. Guru hanya memberikan prinsip-prinsip dasarnya saja dan tidak memberikan satu cara yang mutlak. Hal ini merupakan analogi dalam bidang olah raga, di mana pelatih hanya memberikan petunjuk dasar-dasar permainan, sementara dalam permainan itu sendiri para pemain akan mengembangkan kiat-kiatnya sesuai dengan kemampuan dan kondisi yang ada. Sebagai konselor, guru harus mampu menciptakan satu situasi interaksi belajar-mengajar, di mana siswa melakukan perilaku pembelajaran dalam suasana psikologis yang kondusif dan tidak ada jarak yang kaku dengan guru.
Disamping itu, guru diharapkan mampu memahami kondisi setiap siswa dan membantunya ke arah perkembangan optimal. Sebagai manajer pembelajaran, guru memiliki kemandirian dan otonomi yang seluas-luasnya dalam mengelola keseluruhan kegiatan belajar-mengajar dengan mendinamiskan seluruh sumber-sumber penunjang pembelajaran. Sebagai partisipan, guru tidak hanya berperilaku mengajar akan tetapi juga berperilaku belajar dari interaksinya dengan siswa. Hal ini mengandung makna bahwa guru bukanlah satu-satunya sumber belajar bagi anak, akan tetapi ia sebagai fasilitator pembelajaran siswa. Sebagai pemimpin, diharapkan guru mampu menjadi seseorang yang mampu menggerakkan orang lain untuk mewujudkan perilaku menuju tujuan bersama. Disamping sebagai pengajar, guru harus mendapat kesempatan untuk mewujudkan dirinya sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam berbagai kegiatan lain di luiar mengajar. Sebagai pembelajar, guru harus secara terus menerus belajar dalam rangka menyegarkan kompetensinya serta meningkatkan kualitas profesionalnya. Sebagai pengarang, guru harus selalu kreatif dan inovatif menghasilkan berbagai karya yang akan digunakan untuk melaksanakan tugas-tugas profesionalnya. Guru yang mandiri bukan sebagai tukang atau teknisi yang harus mengikuti satu buku petunjuk yang baku, melainkan sebagai tenaga yang kreatif yang mampu menghasilkan berbagai karya inovatif dalam bidangnya. Hal itu harus didukung oleh daya abstraksi dan komitmen yang tinggi sebagai basis kualitas profesionaliemenya.
Sayangnya saat ini, masih banyak guru kita yang belum melek TIK atau ICT. Mengacu pada hal tersebut di atas, sudah saatnya ”GERAKAN MELEK ICT (ICT LITERACY MOVEMENT)” menjadi gerakan nasional yang sama ”urgent”nya atau lebih ”urgent” dibandingkan dengan GERAKAN KELUARGA BERENCANA di jaman Orde Baru dahulu kala. Mudah-mudahan, dengan dibentuknya gerakkkan melek ICT di sekolah, para guru dapat memaksimalkan potensi TIK dalam proses pembelajarannya. Pemerintah maupun swasta perlu bekerja sama dalam membantu guru melakukan pelatihan-pelatihan di bidang ICT, seperti penguasaan power point, ngeblog di internet, bikin software untuk bahan ajarnya, seperti menguasai program Macromedia Flash.
Aplikasi dan potensi TIK dalam pembelajaran di sekolah yang dikembangkan oleh guru dapat memberikan beberapa manfaat antara lain.
a. Pembelajaran menjadi lebih interaktif, simulatif, dan menarik
b. Dapat menjelaskan sesuatu yang sulit / kompleks
c. Mempercepat proses yang lama
d. Mengahadirkan peristiwa yang jarang terjadi
e. Menunjukkan peristiwa yang berbahaya atau di luar jangkauan
a. Pembelajaran menjadi lebih interaktif, simulatif, dan menarik
b. Dapat menjelaskan sesuatu yang sulit / kompleks
c. Mempercepat proses yang lama
d. Mengahadirkan peristiwa yang jarang terjadi
e. Menunjukkan peristiwa yang berbahaya atau di luar jangkauan
C. PENUTUP
Aplikasi dan potensi teknologi informasi dan komunikasi telah membawa pergeseran pandangan tentang pembelajaran dan peran guru dalam proses pembelajaran di sekolah. Penerapan TIK dalam pembelajaran memungkinkan kegiatan belajar mengajar lebih interaktif, simulatif dan lebih menarik. Oleh karena itu guru di era globalisasi informasi ini dituntut untuk mampu menguasai dan mengalipkasikan TIK dalam pembelajaran.
Perubahan paradigma dalam proses pembelajaran dari pembelajaran konvensional ke pembelajaran yang beriorientasi pada penerapan TIK akan mempercepat peningkatan kualitas pendidikan yang pada akhirnya dapat mengejar ketetinggalan dari negara-negara lain di dunia.
Bagaimanapun banyaknya dampak positif dalam penerapan TIK dalam pembelajaran di sekolah kita punya tanggungjawab bersama dalam meminimalisasi dampak negatif yang muncul baik secara individual, maupun sosial.
Bagaimanapun banyaknya dampak positif dalam penerapan TIK dalam pembelajaran di sekolah kita punya tanggungjawab bersama dalam meminimalisasi dampak negatif yang muncul baik secara individual, maupun sosial.
Mulai saat ini marilah kita tidak GATEK, dan tidak ALERGI dengan TIK. Siapa yang menguasai TIK akan menguasai dunia ini.
D. DAFTAR PUSTAKA
Chaeruman, Uwes Anis., ”Urgensi Gerakan Melek ICT di Sekolah”, http:// http://www.wijayalabs.wordpress.com/
Natakusumah, E.K., “Perkembangan Teknologi Informasi di Indonesia.”, Pusat Penelitian informatika – LIPI Bandung, 2002-
Natakusumah, E.K., “Perkembangan Reknologi Informasi untuk Pembelajaran Jarak Jauh.”, Orasi Ilmiah disampaikan pada Wisuda STMIK BANDUNG, Januari 2002
Purbo, Onno W., Teknologi E-learning, Elex Media Komputindo, Jakarta, 2002.
Rahardjo, Budi., , “Implikasi Teknologi Informasi Dan Internet Terhadap Pendidikan, Bisnis, Dan Pemerintahan”, Pusat Penelitian Antar Univeristas bidang Mikroelektronika (PPAUME) Institut Teknologi Bandung tahun 2000.
Soekartawi, A. Haryono dan F. Librero (2002), Greater Learning Opportunities Through Distance Education: Experiences in Indonesia and the Philippines. Southeast Journal of Education (December 2002)
Surya, Mohamad., Makalah dalam Seminar ”Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Pendidikan Jarak Jauh dalam Rangka Peningkatan Mutu Pembelajaran”, diselenggarakan oleh Pustekkom Depdiknas, tanggal 12 Desember 2006 di Jakarta.
Sutisna, Entis.,”Pemanfaatan Teknologi Informasi dan komunikasi dalam Pembelajaran, Guru SMAN 4 Tangerang, tahun 2006
D. DAFTAR PUSTAKA
Chaeruman, Uwes Anis., ”Urgensi Gerakan Melek ICT di Sekolah”, http:// http://www.wijayalabs.wordpress.com/
Natakusumah, E.K., “Perkembangan Teknologi Informasi di Indonesia.”, Pusat Penelitian informatika – LIPI Bandung, 2002-
Natakusumah, E.K., “Perkembangan Reknologi Informasi untuk Pembelajaran Jarak Jauh.”, Orasi Ilmiah disampaikan pada Wisuda STMIK BANDUNG, Januari 2002
Purbo, Onno W., Teknologi E-learning, Elex Media Komputindo, Jakarta, 2002.
Rahardjo, Budi., , “Implikasi Teknologi Informasi Dan Internet Terhadap Pendidikan, Bisnis, Dan Pemerintahan”, Pusat Penelitian Antar Univeristas bidang Mikroelektronika (PPAUME) Institut Teknologi Bandung tahun 2000.
Soekartawi, A. Haryono dan F. Librero (2002), Greater Learning Opportunities Through Distance Education: Experiences in Indonesia and the Philippines. Southeast Journal of Education (December 2002)
Surya, Mohamad., Makalah dalam Seminar ”Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Pendidikan Jarak Jauh dalam Rangka Peningkatan Mutu Pembelajaran”, diselenggarakan oleh Pustekkom Depdiknas, tanggal 12 Desember 2006 di Jakarta.
Sutisna, Entis.,”Pemanfaatan Teknologi Informasi dan komunikasi dalam Pembelajaran, Guru SMAN 4 Tangerang, tahun 2006
Jangan Takut Berbuat Salah dan Menirulah untuk Belajar
Motivasi dari bapak Mario Teguh di O Channel patut kita Renungkan, begini kalimatnya :
"Kesalahan kita butuhkan untuk hasil yang lebih baik, karena timbulnya kesalahan adalah tanda diperlukannya cara-cara yang lebih baik. Membuat kesalahan dan bahkan gagal dalam melakukan sesuatu yang berguna, adalah lebih baik daripada tidak pernah salah karena tidak melakukan apapun".
Pengaruh terbesar Anda datang dari keuntungan yang Anda hasilkan bagi orang lain. Bila Anda menyumbangkan hasil yang baik-nya tidak biasa kepada lingkungan di mana Anda berada; suara Anda akan terdengar keras bahkan sebelum Anda berbicara.
Satu hari bersama seorang guru yang anggun - lebih baik daripada seribu hari belajar sendiri. Kelebihan orang lain adalah potensi kelebihan Anda, bila Anda tulus mempelajarinya. Menirulah dengan tulus. Karena hanya dengan peniruan yang tak terhambat di hati - Anda akan lebih mudah mencapai kesetaraan dengan kualitas yang Anda harapkan itu. (Copying To Greatness)
Salah satu cara untuk berhasil adalah belajar dari kegagalan. Dengan kegagalan, kita tahu cara untuk bisa berhasil. Tidak ada orang yang berhasil kalau belum pernah gagal. Persoalannya, kita tidak cukup waktu untuk belajar semua kegagalan. Maka cara yang terpendek untuk keberhasilan adalah belajar dari kegagalan orang lain.
Dalam meniru cara-cara yang terbukti telah berhasil, terkadang kita dihadapkan pada satu sisi, dimana kita merasa bukan diri kita, karena apa yang kita tiru tidak sesuai dengan kebiasaan kita sebelumnya. Ini menjadi pertanyaan saya pada sesi tanya jawab.
Untuk menjadikan kita bisa menerima yang bukan diri kita, adalah dengan membiasakan perilaku kita sesuai dengan yang kita tiru, dan itu bisa dilakukan kalau kita melakukan dari yang kecil dan sederhana. Kalau kita meniru yang kecil dan dilakukan se-sering mungkin, maka itu akan menjadi kebiasaan kita, dan kebiasaan yang dilakukan dengan konsisten akan menjadikannya sebagai pribadi kita.
Maka kalau kita ingin meniru satu pribadi yang terbukti baik dan berhasil, maka lakukanlah dari yang kecil dan sederhana dari yang Anda sukai dari pribadi tersebut.
”Menirulah dengan tulus. Karena hanya dengan peniruan yang tak terhambat di hati - Anda akan lebih mudah mencapai kesetaraan dengan kualitas yang Anda harapkan itu”.
Mario Teguh Bisnis Art, Setiap Kamis malam Pukul 21.00 di O Channel
"Kesalahan kita butuhkan untuk hasil yang lebih baik, karena timbulnya kesalahan adalah tanda diperlukannya cara-cara yang lebih baik. Membuat kesalahan dan bahkan gagal dalam melakukan sesuatu yang berguna, adalah lebih baik daripada tidak pernah salah karena tidak melakukan apapun".
Pengaruh terbesar Anda datang dari keuntungan yang Anda hasilkan bagi orang lain. Bila Anda menyumbangkan hasil yang baik-nya tidak biasa kepada lingkungan di mana Anda berada; suara Anda akan terdengar keras bahkan sebelum Anda berbicara.
Satu hari bersama seorang guru yang anggun - lebih baik daripada seribu hari belajar sendiri. Kelebihan orang lain adalah potensi kelebihan Anda, bila Anda tulus mempelajarinya. Menirulah dengan tulus. Karena hanya dengan peniruan yang tak terhambat di hati - Anda akan lebih mudah mencapai kesetaraan dengan kualitas yang Anda harapkan itu. (Copying To Greatness)
Salah satu cara untuk berhasil adalah belajar dari kegagalan. Dengan kegagalan, kita tahu cara untuk bisa berhasil. Tidak ada orang yang berhasil kalau belum pernah gagal. Persoalannya, kita tidak cukup waktu untuk belajar semua kegagalan. Maka cara yang terpendek untuk keberhasilan adalah belajar dari kegagalan orang lain.
Dalam meniru cara-cara yang terbukti telah berhasil, terkadang kita dihadapkan pada satu sisi, dimana kita merasa bukan diri kita, karena apa yang kita tiru tidak sesuai dengan kebiasaan kita sebelumnya. Ini menjadi pertanyaan saya pada sesi tanya jawab.
Untuk menjadikan kita bisa menerima yang bukan diri kita, adalah dengan membiasakan perilaku kita sesuai dengan yang kita tiru, dan itu bisa dilakukan kalau kita melakukan dari yang kecil dan sederhana. Kalau kita meniru yang kecil dan dilakukan se-sering mungkin, maka itu akan menjadi kebiasaan kita, dan kebiasaan yang dilakukan dengan konsisten akan menjadikannya sebagai pribadi kita.
Maka kalau kita ingin meniru satu pribadi yang terbukti baik dan berhasil, maka lakukanlah dari yang kecil dan sederhana dari yang Anda sukai dari pribadi tersebut.
”Menirulah dengan tulus. Karena hanya dengan peniruan yang tak terhambat di hati - Anda akan lebih mudah mencapai kesetaraan dengan kualitas yang Anda harapkan itu”.
Mario Teguh Bisnis Art, Setiap Kamis malam Pukul 21.00 di O Channel
Senin, 14 Januari 2008
13 LANGKAH MENUJU MASYARAKAT PEMBELAJAR BARU
- Posisikan kembali peran komunikasi elektronik di dunia pendidikan
- Pelajari komputer dan internet
- Perbaiki secara total pendidikan bagi orang tua, khususnya orang tua baru
- Galakkan layanan kesehatan bagi anak-anak demi menghindarkan mereka dari kesulitan belajar
- Ciptakan program pertumbuhan anak-anak yang bermutu bagi setiap orang
- Laksanakan program pengejaran ketinggalan pelajaran di sekolah
- Temukan gaya belajar dan kecerdasan individu, dan layani setiap gaya yang ada
- Agendakan bagi setiap orang ; belajar tentang cara belajar dan berpikir
- Definisikan ulang apa yang harus diajarkan di sekolah
- Polakan kurikulum dalam empat bagian, dengan penilaian diri dan pelatihan keterampilan hidup sebagai komponen kunci
- Terapkan tiga tujuan untuk sebagian besar studi
- Definisikan ulang tempat-tempat terbaik untuk pengajaran - bukan hanya di sekolah
- Bukalah pikiran, dan ciptakan komunikasi yang segar.
MEMBUAT ANAK KREATIF DI BIDANG ICT
Bagaimana Membuat anak menjadi kreatif dalam bidang ICT?
Jangan biasakan anak didik anda terus menerus bermain games dan hanya menjadi konsumen dalam bidang ICT. Giringlah anak didik anda untuk memproduksi sesuatu di bidang ICT. Bagaimana caranya?
Caranya arahkan anak didik kita untuk berlatih menulis, dan biasakan menulis hasil karyanya di blog mereka. Kalau mereka sudah terbiasa menulis, maka mereka tidak akan kesulitan memasukkan hasil tulisannya di blog pribadinya.
Cara berikutnya biasakan mereka menuliskan pengalamannya memakai komputer. Baik dari kemudahan maupun kesulitannya. kalau udah curhat begitu bisanya akan lebih mudah keluar unek-unek dan mengalir dengan deras kalimat-kalimat origonal
Cara ketiga ajarin mereka bikin program sederhana misalnya dengan menggunakan program visual basic atau bikin animasi pakai macromedia.
Untuk desain foto ajarin juga mereka photoshop, dan untuk dekstop publishing ajarin mereka Corel Draw. jadi bikinlah mereka kesibukan yang menantang, sehingga pembelajaran di kelas terjadi. Selamat Mencoba!
Jangan biasakan anak didik anda terus menerus bermain games dan hanya menjadi konsumen dalam bidang ICT. Giringlah anak didik anda untuk memproduksi sesuatu di bidang ICT. Bagaimana caranya?
Caranya arahkan anak didik kita untuk berlatih menulis, dan biasakan menulis hasil karyanya di blog mereka. Kalau mereka sudah terbiasa menulis, maka mereka tidak akan kesulitan memasukkan hasil tulisannya di blog pribadinya.
Cara berikutnya biasakan mereka menuliskan pengalamannya memakai komputer. Baik dari kemudahan maupun kesulitannya. kalau udah curhat begitu bisanya akan lebih mudah keluar unek-unek dan mengalir dengan deras kalimat-kalimat origonal
Cara ketiga ajarin mereka bikin program sederhana misalnya dengan menggunakan program visual basic atau bikin animasi pakai macromedia.
Untuk desain foto ajarin juga mereka photoshop, dan untuk dekstop publishing ajarin mereka Corel Draw. jadi bikinlah mereka kesibukan yang menantang, sehingga pembelajaran di kelas terjadi. Selamat Mencoba!
Sabtu, 12 Januari 2008
THE LITTLE BOY
BAB I
PENDAHULUAN
Menarik sekali membaca hasil karya seorang penulis yang sangat berpengalaman dalam dunia pendidikan. Tulisan yang merupakan buah karya Helen E. Bucklet dalam bukunya yang berjudul THE LITTLE BOY ini merupakan suatu tulisan yang menarik dan bagus untuk dibaca serta untuk direnungkan oleh para pendidik atau guru dan para orang tua.
Buku ini mengisahkan tentang seorang anak yang terbiasa dengan gaya kepemimpinan otokratis gurunya di sekolah sehingga pada akhirnya anak tersebut kehilangan kreativitasnya dan kemampuannya untuk memproduksi sesuatu. Suatu kejadian kecil yang tanpa kita sadari mungkin pernah terjadi di kelas kita, atau di sekolah kita.
Tanpa kita sadari, terkadang kita sering memperlakukan murid-murid kita seperti itu. Padahal kreativitas itu sangat mahal dan langka. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat bagi anak untuk mengembangkan potensi dirinya, juga kreativitasnya, justru malah menjadi tempat ”pembunuhan” kreativitas.
Piageat (1978) dalam Bransford dan Brown (1999) mengatakan “One of the challenges of schools is to build on children's motivation to explore, succeed, understand and harness it in the service of learning“ yang bisa diartikan bahwa suatu tantangan di sekolah berdasarkan pada semangat atau motivasi anak-anak menjelajahi, berhasil, memahami dan memiliki tenaga atau kemampuan pada pelayanan pembelajaran.
Sudahkah kita sebagai pendidik dan orang tua melakukan hal itu di sekolah dan juga di rumah? Atau tanpa kita sadari kita telah bersikap seperti guru pertama dalam tulisan Bucklet ini, sehingga pada akhirnya siswa dan anak kita hanya menjadi peniru yang ulung dan bukan seorang inovator.
Untuk saat ini sulit sekali mencari anak yang kreatif, karena tanpa disadari guru dan orang tua telah membuat anaknya tidak kreatif. Solusinya adalah memberikan sedikit kesempatan dan kebebasan anak dalam membuat sesuatu yang berbeda dan merupakan ide original dari anak tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN
Kita juga bisa membaca tentang teori perkembangan Kognitif, yang dikembangkan oleh Jean Piaget, seorang psikolog Swiss yang hidup tahun 1896-1980. Teorinya memberikan banyak konsep utama dalam lapangan psikologi perkembangan dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep kecerdasan, yang bagi Piaget, berarti kemampuan untuk secara lebih tepat merepresentasikan dunia dan melakukan operasi logis dalam representasi konsep yang berdasar pada kenyataan.
Teori ini membahas munculnya dan diperolehnya schemata—skema tentang bagaimana seseorang mempersepsi lingkungannya— dalam tahapan-tahapan perkembangan, saat seseorang memperoleh cara baru dalam merepresentasikan informasi secara mental. Teori ini digolongkan ke dalam konstruktivisme, yang berarti, tidak seperti teori nativisme (yang menggambarkan perkembangan kognitif sebagai pemunculan pengetahuan dan kemampuan bawaan), teori ini berpendapat bahwa kita membangun kemampuan kognitif kita melalui tindakan yang termotivasi dengan sendirinya terhadap lingkungan. Untuk pengembangan teori ini, Piaget memperoleh Erasmus Prize.
Piaget membagi skema yang digunakan anak untuk memahami dunianya melalui empat periode utama yang berkorelasi dengan dan semakin canggih seiring pertambahan usia:
1. Periode sensorimotor (usia 0–2 tahun)
2. Periode praoperasional (usia 2–7 tahun)
3. Periode operasional konkrit (usia 7–11 tahun)
4. Periode operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa)
Periode sensorimotor
Menurut Piaget, bayi lahir dengan sejumlah refleks bawaan selain juga dorongan untuk mengeksplorasi dunianya. Skema awalnya dibentuk melalui diferensiasi refleks bawaan tersebut. Periode sensorimotor adalah periode pertama dari empat periode. Piaget berpendapat bahwa tahapan ini menandai perkembangan kemampuan dan pemahaman spatial penting dalam enam sub-tahapan:
v Sub-tahapan skema refleks, muncul saat lahir sampai usia enam minggu dan berhubungan terutama dengan refleks.
v Sub-tahapan fase reaksi sirkular primer, dari usia enam minggu sampai empat bulan dan berhubungan terutama dengan munculnya kebiasaan-kebiasaan.
v Sub-tahapan fase reaksi sirkular sekunder, muncul antara usia empat sampai sembilan bulan dan berhubungan terutama dengan koordinasi antara penglihatan dan pemaknaan.
v Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular sekunder, muncul dari usia sembilan sampai duabelas bulan, saat berkembangnya kemampuan untuk melihat objek sebagai sesuatu yang permanen walau kelihatannya berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda (permanensi objek).
v Sub-tahapan fase reaksi sirkular tersier, muncul dalam usia dua belas sampai delapan belas bulan dan berhubungan terutama dengan penemuan cara-cara baru untuk mencapai tujuan.
v Sub-tahapan awal representasi simbolik, berhubungan terutama dengan tahapan awal kreativitas.
Tahapan praoperasional
Tahapan ini merupakan tahapan kedua dari empat tahapan. Dengan mengamati urutan permainan, Piaget bisa menunjukkan bahwa setelah akhir usia dua tahun jenis yang secara kualitatif baru dari fungsi psikologis muncul. Pemikiran (Pra)Operasi dalam teori Piaget adalah prosedur melakukan tindakan secara mental terhadap objek-objek. Ciri dari tahapan ini adalah operasi mental yang jarang dan secara logika tidak memadai. Dalam tahapan ini, anak belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan gambaran dan kata-kata. Pemikirannya masih bersifat egosentris: anak kesulitan untuk melihat dari sudut pandang orang lain. Anak dapat mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri, seperti mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya berbeda-beda atau mengumpulkan semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda.
Menurut Piaget, tahapan pra-operasional mengikuti tahapan sensorimotor dan muncul antara usia dua sampai enam tahun. Dalam tahapan ini, anak mengembangkan keterampilan berbahasanya. Mereka mulai merepresentasikan benda-benda dengan kata-kata dan gambar. Bagaimanapun, mereka masih menggunakan penalaran intuitif bukan logis. Di permulaan tahapan ini, mereka cenderung egosentris, yaitu, mereka tidak dapat memahami tempatnya di dunia dan bagaimana hal tersebut berhubungan satu sama lain. Mereka kesulitan memahami bagaimana perasaan dari orang di sekitarnya. Tetapi seiring pendewasaan, kemampuan untuk memahami perspektif orang lain semakin baik. Anak memiliki pikiran yang sangat imajinatif di saat ini dan menganggap setiap benda yang tidak hidup pun memiliki perasaan.
Tahapan operasional konkrit
Tahapan ini adalah tahapan ketiga dari empat tahapan. Muncul antara usia enam sampai duabelas tahun dan mempunyai ciri berupa penggunaan logika yang memadai. Proses-proses penting selama tahapan ini adalah:
· Pengurutan—kemampuan untuk mengurutan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, bila diberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke yang paling kecil.
· Klasifikasi—kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua benda hidup dan berperasaan)
· Decentering—anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar tapi pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi.
· Reversibility—anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.
· Konservasi—memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai contoh, bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain.
· Penghilangan sifat Egosentrisme—kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah). Sebagai contoh, tunjukkan komik yang memperlihatkan Siti menyimpan boneka di dalam kotak, lalu meninggalkan ruangan, kemudian Ujang memindahkan boneka itu ke dalam laci, setelah itu baru Siti kembali ke ruangan. Anak dalam tahap operasi konkrit akan mengatakan bahwa Siti akan tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak walau anak itu tahu bahwa boneka itu sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Ujang.
Tahapan operasional formal
Tahap operasional formal adalah periode terakhir perkembangan kognitif dalam teori Piaget. Tahap ini mulai dialami anak dalam usia sebelas tahun (saat pubertas) dan terus berlanjut sampai dewasa. Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia.
Dalam tahapan ini, seseorang dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis, dan nilai. Ia tidak melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih, namun ada "gradasi abu-abu" di antaranya. Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya), menandai masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif, penalaran moral, perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial.
Beberapa orang tidak sepenuhnya mencapai perkembangan sampai tahap ini, sehingga ia tidak mempunyai keterampilan berpikir sebagai seorang dewasa dan tetap menggunakan penalaran dari tahap operasional konkrit.
Keempat tahapan ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
· Walau tahapan-tahapan itu bisa dicapai dalam usia bervariasi tetapi urutannya selalu sama.
· Tidak ada ada tahapan yang diloncati dan tidak ada urutan yang mundur.
· Universal (tidak terkait budaya)
· Bisa digeneralisasi: representasi dan logika dari operasi yang ada dalam diri seseorang berlaku juga pada semua konsep dan isi pengetahuan
· Tahapan-tahapan tersebut berupa keseluruhan yang terorganisasi secara logis
· Urutan tahapan bersifat hirarkis (setiap tahapan mencakup elemen-elemen dari tahapan sebelumnya, tapi lebih terdiferensiasi dan terintegrasi)
· Tahapan merepresentasikan perbedaan secara kualitatif dalam model berpikir, bukan hanya perbedaan kuantitatif
Proses perkembangan
Seorang individu dalam hidupnya selalu berinteraksi dengan lingkungan. Dengan berinteraksi tersebut, seseorang akan memperoleh skema. Skema berupa kategori pengetahuan yang membantu dalam menginterpretasi dan memahami dunia. Skema juga menggambarkan tindakan baik secara mental maupun fisik yang terlibat dalam memahami atau mengetahui sesuatu.
Sehingga dalam pandangan Piaget, skema mencakup baik kategori pengetahuan maupun proses perolehan pengetahuan tersebut. Seiring dengan pengalamannya mengeksplorasi lingkungan, informasi yang baru didapatnya digunakan untuk memodifikasi, menambah, atau mengganti skema yang sebelumnya ada.
Sebagai contoh, seorang anak mungkin memiliki skema tentang sejenis binatang, misalnya dengan burung. Bila pengalaman awal anak berkaitan dengan burung kenari, anak kemungkinan beranggapan bahwa semua burung adalah kecil, berwarna kuning, dan mencicit. Suatu saat, mungkin anak melihat seekor burung unta. Anak akan perlu memodifikasi skema yang ia miliki sebelumnya tentang burung untuk memasukkan jenis burung yang baru ini.
Asimilasi adalah proses menambahkan informasi baru ke dalam skema yang sudah ada. Proses ini bersifat subjektif, karena seseorang akan cenderung memodifikasi pengalaman atau informasi yang diperolehnya agar bisa masuk ke dalam skema yang sudah ada sebelumnya. Dalam contoh di atas, melihat burung kenari dan memberinya label "burung" adalah contoh mengasimilasi binatang itu pada skema burung si anak.
Akomodasi adalah bentuk penyesuaian lain yang melibatkan pengubahan atau penggantian skema akibat adanya informasi baru yang tidak sesuai dengan skema yang sudah ada. Dalam proses ini dapat pula terjadi pemunculan skema yang baru sama sekali. Dalam contoh di atas, melihat burung unta dan mengubah skemanya tentang burung sebelum memberinya label "burung" adalah contoh mengakomodasi binatang itu pada skema burung si anak.
Melalui kedua proses penyesuaian tersebut, sistem kognisi seseorang berubah dan berkembang sehingga bisa meningkat dari satu tahap ke tahap di atasnya. Proses penyesuaian tersebut dilakukan seorang individu karena ia ingin mencapai keadaan equilibrium, yaitu berupa keadaan seimbang antara struktur kognisinya dengan pengalamannya di lingkungan. Seseorang akan selalu berupaya agar keadaan seimbang tersebut selalu tercapai dengan menggunakan kedua proses penyesuaian di atas.
Dengan demikian, kognisi seseorang berkembang bukan karena menerima pengetahuan dari luar secara pasif tapi orang tersebut secara aktif mengkonstruksi pengetahuannya. Sekaligus juga dapat membuat dirinya menjadi fleksibel.
Untuk membina fleksibilitas ini maka perlu ditingkatkan kemampuan berpikir logis, kritis, berinisiatif, dan kreatif. Kesadaran dan kebijakan pentingnya pengembangan berpikir kreatif menjadi modal dasar untuk melakukan inovasi. Pengembangan kreativitas pada pendidikan telah diterapkan dalam bentuk “Keterampilan Proses”, sesuai dengan definisi kreativitas oleh Torrence (1988).
Conny Semiawan (1989) menyatakan bahwa pengembangan kreativitas anak didik dapat terlaksana jika dalam pembelajaran diterapkan keterampilan proses. Upaya menerapkan pendekatan keterampilan proses atau mengembangkan kemampuan siswa dalam menggunakan metode ilmiah menunjukkan bahwa penguasaan siswa terhadap keterampilan proses belum utuh.
BAB III
PENUTUP
Sekarang, saya ajak anda untuk sedikit membaca potongan tulisan ini. Selamat membaca dan merenungkan sebagian isi tulisan emas dari seorang pendidik yang membumi, dalam buku Bucklet ini.
The Little Boy Once a little boy went to school. He was quite a little boyand it was quite a big school. And when the little boy found that he could go to his room by walking right in from the door outside,
He was happy. And the school did not seem quite so big any more.
One morning, when the little boy had been in school awhile, The teacher said, “Today we are going to make a picture.” “Good!” thought the little boy. He liked to make pictures. He could make all kinds: lions and tigers, chickens and cows, trains and boats –
And he took out his box of crayons and began to draw. But the teacher said: “Wait! It is not time to begin!” And she waited until everyone looked ready.
“Now,” said the teachers, “We are going to make flowers.” “Good!” thought the little boy. He liked to make flowers, And be began to make beautiful ones with his pink and orange and blue crayons.
But the teacher said, “Wait! And I will show you how.” And it was red with a green stem. “There,” said the teacher, “Now you may begin.”
The little boy looked at the teacher’s flower., then he looked at his own flower. He liked his flower better than the teacher’s. But he did not say this, He just turned his paper over and made a flower like the teacher’s. It was red, with a green stem.
On another day, when the little boy had opened the door from the outside all by himself. The teacher said: “Today we are going to make something with clay.” “Good!” thought the little boy. He liked clay. He could make all kinds of things with clay: snakes and snowmen, elephants and mice, cars and trucks – And he began to pull and pinch his ball of clay.
But the teacher said, “Wait! It is not time to begin!” And she waited until everyone looked ready. “Now,” said the teachers, “We are going to make a dish.” “Good!” thought the little boy. He liked to make dishes, and he began to make some hat were all shapes and sizes.
But the teacher said, “Wait! And I will show you how.” And she showed everyone how to make one deep dish “There,” said the teacher, “Now you may begin.”
The little boy looked at the teacher’s disk then he looket at his own. He liked his dishes better than the teacher’s but he did not say this. He just rolled his clay into a big ball again and made a dish like the teacher’s. It was a deep dish.
And pretty soon The little boy learned to wait, and to watch, and to make things just like the teacher. And pretty soon he didn’t make things on his own anymore
Then it happened.That the little boy and his family moved to another house, in another city. And the little boy had to go to another school.
This school was even bigger than the other one, And there was no door from the outside into his room. He had to go up some big steps, and walk down a long hall to get go his room.
And the very first day He was there, the teacher said: “Today we are going to make a picture,”
“Good!” thought the little boy. And he waited for the teacher to tell him what to do. But the teacher didn’t say anything, she just walked around the room.
When she came to the little boy she said, “Don’t you want to make a picture?” “Yes,” said the little boy, “What are we going to make?”“I don’t know until you make it,” said the teacher. “How shall I make it?” asked the little boy. “Why, any way you like,” said the teacher.
“And any color?” asked the little boy. “Any color.” Said the teacher. “If everyone made the same picture, and would I know who made what, and which was which?” “I don’t know,” said the little boy, and he began to make a red flower with a green stem.
--Helen E. Bucklet--
PEMUDA KECIL
Suatu kali pemuda kecil pergi ke sekolah.
dia adalah pemuda kecil yang sangat ingin tahu
dan dia benar-benar ingin sekolah.
dan ketika pemuda kecil menemukan
dia dapat pergi ke ruangan sekolah itu
dia seperti berjalan dengan benar
dari bagian luar pintu sekolah,
kelihatan dia gembira.
dan di sekolah tidak tampak apapun
lagi besar sangat benar.
Suatu pagi, ketika pemuda kecil telah berada di sekolah
guru mengatakan, “hari ini kita akan membuat gambar. ”
“baik! ” berpikir pemuda kecil.
dia menyukai membuat gambar-gambar.
dia dapat membuat semua jenis: singa dan harimau, ayam dan sapi, kereta dan perahu boat -
dan dia mengambil keluar kotak krayon kepunyaannya
dan mulai menggambar. tetapi guru mengatakan:
“Tunggu! itu bukan waktu mulai! ”
dan dia menunggu sampai semuanya melihat siap.
“Sekarang, ” mengatakan guru,
“Kita akan membuat bunga-bungaan. ”
“Baik! ” berpikir pemuda kecil.
dia sangat menyukai membuat bunga-bungaan,
dan senang membuatnya untuk orang-orang cantik
dengan merah muda dia dan oranye dan krayon biru.
tetapi guru mengatakan,
“Tunggu! dan saya akan pertunjukan kamu bagaimana. ”
dan itu merah dengan hijau menahan.
“Lihatlah, ” mengatakan guru, “Sekarang kamu boleh mulai. ”
pemuda kecil melihat bunga guru. ,
kemudian dia melihat bunga miliknya.
dia menyukai bunga yang ia buat.
dia merasa bunganya lebih baik daripada bunga buatan gurunya. tetapi dia tidak berani mengatakan ini,
lalu dia hanya berani memutar kertas sesuai arahan guru
dan membuat bunga kesukaan guru.
Yaitu merah, dengan hijau menahan seperti daun.
Suatu hari di hari berikutnya,
Ketika pemuda kecil telah membuka pintu
dari bagian luar semua sendiri.
guru mengatakan:
“Hari ini kita akan membuat sesuatu dengan tanah liat. ”
“Baik! ” berpikir pemuda kecil.
dia sangat menyukai tanah liat.
dia dapat membuat barang bermacam-macam dengan tanah liat:
ular dan snowmen, gajah dan tikus, mobil dan truk -
dan dia mulai menarik tanah dan membuat bola dari tanah liat.
tetapi guru mengatakan,
“Tunggu! itu bukan waktu mulai! ”
dan dia menunggu sampai semuanya melihat siap.
“sekarang, ” mengatakan guru, “Kita akan membuat piring. ”
“Baik! ” berpikir pemuda kecil.
Padahal dia lebih menyukai membuat dishes,
dan dia mulai membuat topi semua bentuk dan ukuran.
tetapi guru mengatakan, “tunggu!
dan saya akan pertunjukan kepada kamu bagaimana. ”
dan dia menunjukkan semuanya bagaimana
cara membuat satu piring yang dalam
“lihatlah, ” mengatakan guru,
“sekarang kamu boleh mulai. ”
pemuda kecil melihat disket guru
kemudian dia melihat miliknya.
dia sangat menyukai dishes yang lebih baik daripada buatan guru
tetapi dia tidak mengatakan ini.
dia hanya menggulungkan tanah liat
dia membuat ke bola besar lagi
dan membuat piring kesukaan guru.
itu piring yang dalam. dan segera akan menjadi cantik
pemuda kecil belajar menunggu, dan menonton,
dan membuat barang seperti halnya guru.
dan akan segera menjadikan cantik
dia tidak membuat barang atas kreativitasnya sendiri lagi
kemudian itu terjadi.
Lalu pemuda kecil dan keluarganya
Pindah ke rumah lainnya, di kota yang lain
dan pemuda kecil pindah ke sekolah lainnya
Bahkan lebih besar dari sekolahnya yg dulu,
dan di sana pintu tidak dari bagian luar ke ruangan dia.
dia mempunyai langkah besar,
dan jalan kebawah gedung pertemuan panjang memperoleh pergi ruangan dia.
dan hari sangat awal
dia di sana, guru mengatakan:
“hari ini kita akan membuat gambar, ”
“baik! ” berpikir pemuda kecil.
dan dia menunggu guru memberitahu dia harus berbuat apa.
tetapi guru tidak mengatakan apa saja,
dia hanya berjalan mengelilingi ruangan.
kapan dia datang ke pemuda kecil
dia mengatakan, “kamu ingin membuat gambar? ”
“Ya, ” mengatakan pemuda kecil,
“Bagaimana kami akan membuat? ”
“saya ingin tidak tahu sampai kamu membuat itu,
” mengatakan guru.
“Bagaimana apakah saya membuat itu?
” bertanya pemuda kecil.
“Kenapa, bagaimanapun juga kamu suka,
” mengatakan guru. “dan beberapa warna?
” bertanya pemuda kecil. “banyak warna.
” mengatakan guru.
“Jikalau semuanya membuat gambar yang sama,
dan saya akan tahu siapa membuat apa,
dan mana yang membuat? ”
“Saya tidak ketahui,
” mengatakan pemuda kecil,
dan dia mulai membuat bunga merah dengan hijau menahan.
--HELEN E. BUCKLET—
REFERENSI
Piaget, J. (1954). "The construction of reality in the child". New York: Basic Books.
Piaget, J. (1977). The Essential Piaget. ed by Howard E. Gruber and J. Jacques Voneche Gruber, New York: Basic Books.
Piaget, J. (1983). "Piaget's theory". In P. Mussen (ed). Handbook of Child Psychology. 4th edition. Vol. 1. New York: Wiley.
Piaget, J. (1995). Sociological Studies. London: Routledge.
Piaget, J. (2000). "Commentary on Vygotsky". New Ideas in Psychology, 18, 241–259.
Piaget, J. (2001). Studies in Reflecting Abstraction. Hove, UK: Psychology Press.
Seifer, Calvin "Educational Psychology"
Cole, M, et al. (2005). The Development of Children. New York: Worth Publishers.
PENDAHULUAN
Menarik sekali membaca hasil karya seorang penulis yang sangat berpengalaman dalam dunia pendidikan. Tulisan yang merupakan buah karya Helen E. Bucklet dalam bukunya yang berjudul THE LITTLE BOY ini merupakan suatu tulisan yang menarik dan bagus untuk dibaca serta untuk direnungkan oleh para pendidik atau guru dan para orang tua.
Buku ini mengisahkan tentang seorang anak yang terbiasa dengan gaya kepemimpinan otokratis gurunya di sekolah sehingga pada akhirnya anak tersebut kehilangan kreativitasnya dan kemampuannya untuk memproduksi sesuatu. Suatu kejadian kecil yang tanpa kita sadari mungkin pernah terjadi di kelas kita, atau di sekolah kita.
Tanpa kita sadari, terkadang kita sering memperlakukan murid-murid kita seperti itu. Padahal kreativitas itu sangat mahal dan langka. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat bagi anak untuk mengembangkan potensi dirinya, juga kreativitasnya, justru malah menjadi tempat ”pembunuhan” kreativitas.
Piageat (1978) dalam Bransford dan Brown (1999) mengatakan “One of the challenges of schools is to build on children's motivation to explore, succeed, understand and harness it in the service of learning“ yang bisa diartikan bahwa suatu tantangan di sekolah berdasarkan pada semangat atau motivasi anak-anak menjelajahi, berhasil, memahami dan memiliki tenaga atau kemampuan pada pelayanan pembelajaran.
Sudahkah kita sebagai pendidik dan orang tua melakukan hal itu di sekolah dan juga di rumah? Atau tanpa kita sadari kita telah bersikap seperti guru pertama dalam tulisan Bucklet ini, sehingga pada akhirnya siswa dan anak kita hanya menjadi peniru yang ulung dan bukan seorang inovator.
Untuk saat ini sulit sekali mencari anak yang kreatif, karena tanpa disadari guru dan orang tua telah membuat anaknya tidak kreatif. Solusinya adalah memberikan sedikit kesempatan dan kebebasan anak dalam membuat sesuatu yang berbeda dan merupakan ide original dari anak tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN
Kita juga bisa membaca tentang teori perkembangan Kognitif, yang dikembangkan oleh Jean Piaget, seorang psikolog Swiss yang hidup tahun 1896-1980. Teorinya memberikan banyak konsep utama dalam lapangan psikologi perkembangan dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep kecerdasan, yang bagi Piaget, berarti kemampuan untuk secara lebih tepat merepresentasikan dunia dan melakukan operasi logis dalam representasi konsep yang berdasar pada kenyataan.
Teori ini membahas munculnya dan diperolehnya schemata—skema tentang bagaimana seseorang mempersepsi lingkungannya— dalam tahapan-tahapan perkembangan, saat seseorang memperoleh cara baru dalam merepresentasikan informasi secara mental. Teori ini digolongkan ke dalam konstruktivisme, yang berarti, tidak seperti teori nativisme (yang menggambarkan perkembangan kognitif sebagai pemunculan pengetahuan dan kemampuan bawaan), teori ini berpendapat bahwa kita membangun kemampuan kognitif kita melalui tindakan yang termotivasi dengan sendirinya terhadap lingkungan. Untuk pengembangan teori ini, Piaget memperoleh Erasmus Prize.
Piaget membagi skema yang digunakan anak untuk memahami dunianya melalui empat periode utama yang berkorelasi dengan dan semakin canggih seiring pertambahan usia:
1. Periode sensorimotor (usia 0–2 tahun)
2. Periode praoperasional (usia 2–7 tahun)
3. Periode operasional konkrit (usia 7–11 tahun)
4. Periode operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa)
Periode sensorimotor
Menurut Piaget, bayi lahir dengan sejumlah refleks bawaan selain juga dorongan untuk mengeksplorasi dunianya. Skema awalnya dibentuk melalui diferensiasi refleks bawaan tersebut. Periode sensorimotor adalah periode pertama dari empat periode. Piaget berpendapat bahwa tahapan ini menandai perkembangan kemampuan dan pemahaman spatial penting dalam enam sub-tahapan:
v Sub-tahapan skema refleks, muncul saat lahir sampai usia enam minggu dan berhubungan terutama dengan refleks.
v Sub-tahapan fase reaksi sirkular primer, dari usia enam minggu sampai empat bulan dan berhubungan terutama dengan munculnya kebiasaan-kebiasaan.
v Sub-tahapan fase reaksi sirkular sekunder, muncul antara usia empat sampai sembilan bulan dan berhubungan terutama dengan koordinasi antara penglihatan dan pemaknaan.
v Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular sekunder, muncul dari usia sembilan sampai duabelas bulan, saat berkembangnya kemampuan untuk melihat objek sebagai sesuatu yang permanen walau kelihatannya berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda (permanensi objek).
v Sub-tahapan fase reaksi sirkular tersier, muncul dalam usia dua belas sampai delapan belas bulan dan berhubungan terutama dengan penemuan cara-cara baru untuk mencapai tujuan.
v Sub-tahapan awal representasi simbolik, berhubungan terutama dengan tahapan awal kreativitas.
Tahapan praoperasional
Tahapan ini merupakan tahapan kedua dari empat tahapan. Dengan mengamati urutan permainan, Piaget bisa menunjukkan bahwa setelah akhir usia dua tahun jenis yang secara kualitatif baru dari fungsi psikologis muncul. Pemikiran (Pra)Operasi dalam teori Piaget adalah prosedur melakukan tindakan secara mental terhadap objek-objek. Ciri dari tahapan ini adalah operasi mental yang jarang dan secara logika tidak memadai. Dalam tahapan ini, anak belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan gambaran dan kata-kata. Pemikirannya masih bersifat egosentris: anak kesulitan untuk melihat dari sudut pandang orang lain. Anak dapat mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri, seperti mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya berbeda-beda atau mengumpulkan semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda.
Menurut Piaget, tahapan pra-operasional mengikuti tahapan sensorimotor dan muncul antara usia dua sampai enam tahun. Dalam tahapan ini, anak mengembangkan keterampilan berbahasanya. Mereka mulai merepresentasikan benda-benda dengan kata-kata dan gambar. Bagaimanapun, mereka masih menggunakan penalaran intuitif bukan logis. Di permulaan tahapan ini, mereka cenderung egosentris, yaitu, mereka tidak dapat memahami tempatnya di dunia dan bagaimana hal tersebut berhubungan satu sama lain. Mereka kesulitan memahami bagaimana perasaan dari orang di sekitarnya. Tetapi seiring pendewasaan, kemampuan untuk memahami perspektif orang lain semakin baik. Anak memiliki pikiran yang sangat imajinatif di saat ini dan menganggap setiap benda yang tidak hidup pun memiliki perasaan.
Tahapan operasional konkrit
Tahapan ini adalah tahapan ketiga dari empat tahapan. Muncul antara usia enam sampai duabelas tahun dan mempunyai ciri berupa penggunaan logika yang memadai. Proses-proses penting selama tahapan ini adalah:
· Pengurutan—kemampuan untuk mengurutan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, bila diberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke yang paling kecil.
· Klasifikasi—kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua benda hidup dan berperasaan)
· Decentering—anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar tapi pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi.
· Reversibility—anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.
· Konservasi—memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai contoh, bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain.
· Penghilangan sifat Egosentrisme—kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah). Sebagai contoh, tunjukkan komik yang memperlihatkan Siti menyimpan boneka di dalam kotak, lalu meninggalkan ruangan, kemudian Ujang memindahkan boneka itu ke dalam laci, setelah itu baru Siti kembali ke ruangan. Anak dalam tahap operasi konkrit akan mengatakan bahwa Siti akan tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak walau anak itu tahu bahwa boneka itu sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Ujang.
Tahapan operasional formal
Tahap operasional formal adalah periode terakhir perkembangan kognitif dalam teori Piaget. Tahap ini mulai dialami anak dalam usia sebelas tahun (saat pubertas) dan terus berlanjut sampai dewasa. Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia.
Dalam tahapan ini, seseorang dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis, dan nilai. Ia tidak melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih, namun ada "gradasi abu-abu" di antaranya. Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya), menandai masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif, penalaran moral, perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial.
Beberapa orang tidak sepenuhnya mencapai perkembangan sampai tahap ini, sehingga ia tidak mempunyai keterampilan berpikir sebagai seorang dewasa dan tetap menggunakan penalaran dari tahap operasional konkrit.
Keempat tahapan ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
· Walau tahapan-tahapan itu bisa dicapai dalam usia bervariasi tetapi urutannya selalu sama.
· Tidak ada ada tahapan yang diloncati dan tidak ada urutan yang mundur.
· Universal (tidak terkait budaya)
· Bisa digeneralisasi: representasi dan logika dari operasi yang ada dalam diri seseorang berlaku juga pada semua konsep dan isi pengetahuan
· Tahapan-tahapan tersebut berupa keseluruhan yang terorganisasi secara logis
· Urutan tahapan bersifat hirarkis (setiap tahapan mencakup elemen-elemen dari tahapan sebelumnya, tapi lebih terdiferensiasi dan terintegrasi)
· Tahapan merepresentasikan perbedaan secara kualitatif dalam model berpikir, bukan hanya perbedaan kuantitatif
Proses perkembangan
Seorang individu dalam hidupnya selalu berinteraksi dengan lingkungan. Dengan berinteraksi tersebut, seseorang akan memperoleh skema. Skema berupa kategori pengetahuan yang membantu dalam menginterpretasi dan memahami dunia. Skema juga menggambarkan tindakan baik secara mental maupun fisik yang terlibat dalam memahami atau mengetahui sesuatu.
Sehingga dalam pandangan Piaget, skema mencakup baik kategori pengetahuan maupun proses perolehan pengetahuan tersebut. Seiring dengan pengalamannya mengeksplorasi lingkungan, informasi yang baru didapatnya digunakan untuk memodifikasi, menambah, atau mengganti skema yang sebelumnya ada.
Sebagai contoh, seorang anak mungkin memiliki skema tentang sejenis binatang, misalnya dengan burung. Bila pengalaman awal anak berkaitan dengan burung kenari, anak kemungkinan beranggapan bahwa semua burung adalah kecil, berwarna kuning, dan mencicit. Suatu saat, mungkin anak melihat seekor burung unta. Anak akan perlu memodifikasi skema yang ia miliki sebelumnya tentang burung untuk memasukkan jenis burung yang baru ini.
Asimilasi adalah proses menambahkan informasi baru ke dalam skema yang sudah ada. Proses ini bersifat subjektif, karena seseorang akan cenderung memodifikasi pengalaman atau informasi yang diperolehnya agar bisa masuk ke dalam skema yang sudah ada sebelumnya. Dalam contoh di atas, melihat burung kenari dan memberinya label "burung" adalah contoh mengasimilasi binatang itu pada skema burung si anak.
Akomodasi adalah bentuk penyesuaian lain yang melibatkan pengubahan atau penggantian skema akibat adanya informasi baru yang tidak sesuai dengan skema yang sudah ada. Dalam proses ini dapat pula terjadi pemunculan skema yang baru sama sekali. Dalam contoh di atas, melihat burung unta dan mengubah skemanya tentang burung sebelum memberinya label "burung" adalah contoh mengakomodasi binatang itu pada skema burung si anak.
Melalui kedua proses penyesuaian tersebut, sistem kognisi seseorang berubah dan berkembang sehingga bisa meningkat dari satu tahap ke tahap di atasnya. Proses penyesuaian tersebut dilakukan seorang individu karena ia ingin mencapai keadaan equilibrium, yaitu berupa keadaan seimbang antara struktur kognisinya dengan pengalamannya di lingkungan. Seseorang akan selalu berupaya agar keadaan seimbang tersebut selalu tercapai dengan menggunakan kedua proses penyesuaian di atas.
Dengan demikian, kognisi seseorang berkembang bukan karena menerima pengetahuan dari luar secara pasif tapi orang tersebut secara aktif mengkonstruksi pengetahuannya. Sekaligus juga dapat membuat dirinya menjadi fleksibel.
Untuk membina fleksibilitas ini maka perlu ditingkatkan kemampuan berpikir logis, kritis, berinisiatif, dan kreatif. Kesadaran dan kebijakan pentingnya pengembangan berpikir kreatif menjadi modal dasar untuk melakukan inovasi. Pengembangan kreativitas pada pendidikan telah diterapkan dalam bentuk “Keterampilan Proses”, sesuai dengan definisi kreativitas oleh Torrence (1988).
Conny Semiawan (1989) menyatakan bahwa pengembangan kreativitas anak didik dapat terlaksana jika dalam pembelajaran diterapkan keterampilan proses. Upaya menerapkan pendekatan keterampilan proses atau mengembangkan kemampuan siswa dalam menggunakan metode ilmiah menunjukkan bahwa penguasaan siswa terhadap keterampilan proses belum utuh.
BAB III
PENUTUP
Sekarang, saya ajak anda untuk sedikit membaca potongan tulisan ini. Selamat membaca dan merenungkan sebagian isi tulisan emas dari seorang pendidik yang membumi, dalam buku Bucklet ini.
The Little Boy Once a little boy went to school. He was quite a little boyand it was quite a big school. And when the little boy found that he could go to his room by walking right in from the door outside,
He was happy. And the school did not seem quite so big any more.
One morning, when the little boy had been in school awhile, The teacher said, “Today we are going to make a picture.” “Good!” thought the little boy. He liked to make pictures. He could make all kinds: lions and tigers, chickens and cows, trains and boats –
And he took out his box of crayons and began to draw. But the teacher said: “Wait! It is not time to begin!” And she waited until everyone looked ready.
“Now,” said the teachers, “We are going to make flowers.” “Good!” thought the little boy. He liked to make flowers, And be began to make beautiful ones with his pink and orange and blue crayons.
But the teacher said, “Wait! And I will show you how.” And it was red with a green stem. “There,” said the teacher, “Now you may begin.”
The little boy looked at the teacher’s flower., then he looked at his own flower. He liked his flower better than the teacher’s. But he did not say this, He just turned his paper over and made a flower like the teacher’s. It was red, with a green stem.
On another day, when the little boy had opened the door from the outside all by himself. The teacher said: “Today we are going to make something with clay.” “Good!” thought the little boy. He liked clay. He could make all kinds of things with clay: snakes and snowmen, elephants and mice, cars and trucks – And he began to pull and pinch his ball of clay.
But the teacher said, “Wait! It is not time to begin!” And she waited until everyone looked ready. “Now,” said the teachers, “We are going to make a dish.” “Good!” thought the little boy. He liked to make dishes, and he began to make some hat were all shapes and sizes.
But the teacher said, “Wait! And I will show you how.” And she showed everyone how to make one deep dish “There,” said the teacher, “Now you may begin.”
The little boy looked at the teacher’s disk then he looket at his own. He liked his dishes better than the teacher’s but he did not say this. He just rolled his clay into a big ball again and made a dish like the teacher’s. It was a deep dish.
And pretty soon The little boy learned to wait, and to watch, and to make things just like the teacher. And pretty soon he didn’t make things on his own anymore
Then it happened.That the little boy and his family moved to another house, in another city. And the little boy had to go to another school.
This school was even bigger than the other one, And there was no door from the outside into his room. He had to go up some big steps, and walk down a long hall to get go his room.
And the very first day He was there, the teacher said: “Today we are going to make a picture,”
“Good!” thought the little boy. And he waited for the teacher to tell him what to do. But the teacher didn’t say anything, she just walked around the room.
When she came to the little boy she said, “Don’t you want to make a picture?” “Yes,” said the little boy, “What are we going to make?”“I don’t know until you make it,” said the teacher. “How shall I make it?” asked the little boy. “Why, any way you like,” said the teacher.
“And any color?” asked the little boy. “Any color.” Said the teacher. “If everyone made the same picture, and would I know who made what, and which was which?” “I don’t know,” said the little boy, and he began to make a red flower with a green stem.
--Helen E. Bucklet--
PEMUDA KECIL
Suatu kali pemuda kecil pergi ke sekolah.
dia adalah pemuda kecil yang sangat ingin tahu
dan dia benar-benar ingin sekolah.
dan ketika pemuda kecil menemukan
dia dapat pergi ke ruangan sekolah itu
dia seperti berjalan dengan benar
dari bagian luar pintu sekolah,
kelihatan dia gembira.
dan di sekolah tidak tampak apapun
lagi besar sangat benar.
Suatu pagi, ketika pemuda kecil telah berada di sekolah
guru mengatakan, “hari ini kita akan membuat gambar. ”
“baik! ” berpikir pemuda kecil.
dia menyukai membuat gambar-gambar.
dia dapat membuat semua jenis: singa dan harimau, ayam dan sapi, kereta dan perahu boat -
dan dia mengambil keluar kotak krayon kepunyaannya
dan mulai menggambar. tetapi guru mengatakan:
“Tunggu! itu bukan waktu mulai! ”
dan dia menunggu sampai semuanya melihat siap.
“Sekarang, ” mengatakan guru,
“Kita akan membuat bunga-bungaan. ”
“Baik! ” berpikir pemuda kecil.
dia sangat menyukai membuat bunga-bungaan,
dan senang membuatnya untuk orang-orang cantik
dengan merah muda dia dan oranye dan krayon biru.
tetapi guru mengatakan,
“Tunggu! dan saya akan pertunjukan kamu bagaimana. ”
dan itu merah dengan hijau menahan.
“Lihatlah, ” mengatakan guru, “Sekarang kamu boleh mulai. ”
pemuda kecil melihat bunga guru. ,
kemudian dia melihat bunga miliknya.
dia menyukai bunga yang ia buat.
dia merasa bunganya lebih baik daripada bunga buatan gurunya. tetapi dia tidak berani mengatakan ini,
lalu dia hanya berani memutar kertas sesuai arahan guru
dan membuat bunga kesukaan guru.
Yaitu merah, dengan hijau menahan seperti daun.
Suatu hari di hari berikutnya,
Ketika pemuda kecil telah membuka pintu
dari bagian luar semua sendiri.
guru mengatakan:
“Hari ini kita akan membuat sesuatu dengan tanah liat. ”
“Baik! ” berpikir pemuda kecil.
dia sangat menyukai tanah liat.
dia dapat membuat barang bermacam-macam dengan tanah liat:
ular dan snowmen, gajah dan tikus, mobil dan truk -
dan dia mulai menarik tanah dan membuat bola dari tanah liat.
tetapi guru mengatakan,
“Tunggu! itu bukan waktu mulai! ”
dan dia menunggu sampai semuanya melihat siap.
“sekarang, ” mengatakan guru, “Kita akan membuat piring. ”
“Baik! ” berpikir pemuda kecil.
Padahal dia lebih menyukai membuat dishes,
dan dia mulai membuat topi semua bentuk dan ukuran.
tetapi guru mengatakan, “tunggu!
dan saya akan pertunjukan kepada kamu bagaimana. ”
dan dia menunjukkan semuanya bagaimana
cara membuat satu piring yang dalam
“lihatlah, ” mengatakan guru,
“sekarang kamu boleh mulai. ”
pemuda kecil melihat disket guru
kemudian dia melihat miliknya.
dia sangat menyukai dishes yang lebih baik daripada buatan guru
tetapi dia tidak mengatakan ini.
dia hanya menggulungkan tanah liat
dia membuat ke bola besar lagi
dan membuat piring kesukaan guru.
itu piring yang dalam. dan segera akan menjadi cantik
pemuda kecil belajar menunggu, dan menonton,
dan membuat barang seperti halnya guru.
dan akan segera menjadikan cantik
dia tidak membuat barang atas kreativitasnya sendiri lagi
kemudian itu terjadi.
Lalu pemuda kecil dan keluarganya
Pindah ke rumah lainnya, di kota yang lain
dan pemuda kecil pindah ke sekolah lainnya
Bahkan lebih besar dari sekolahnya yg dulu,
dan di sana pintu tidak dari bagian luar ke ruangan dia.
dia mempunyai langkah besar,
dan jalan kebawah gedung pertemuan panjang memperoleh pergi ruangan dia.
dan hari sangat awal
dia di sana, guru mengatakan:
“hari ini kita akan membuat gambar, ”
“baik! ” berpikir pemuda kecil.
dan dia menunggu guru memberitahu dia harus berbuat apa.
tetapi guru tidak mengatakan apa saja,
dia hanya berjalan mengelilingi ruangan.
kapan dia datang ke pemuda kecil
dia mengatakan, “kamu ingin membuat gambar? ”
“Ya, ” mengatakan pemuda kecil,
“Bagaimana kami akan membuat? ”
“saya ingin tidak tahu sampai kamu membuat itu,
” mengatakan guru.
“Bagaimana apakah saya membuat itu?
” bertanya pemuda kecil.
“Kenapa, bagaimanapun juga kamu suka,
” mengatakan guru. “dan beberapa warna?
” bertanya pemuda kecil. “banyak warna.
” mengatakan guru.
“Jikalau semuanya membuat gambar yang sama,
dan saya akan tahu siapa membuat apa,
dan mana yang membuat? ”
“Saya tidak ketahui,
” mengatakan pemuda kecil,
dan dia mulai membuat bunga merah dengan hijau menahan.
--HELEN E. BUCKLET—
REFERENSI
Piaget, J. (1954). "The construction of reality in the child". New York: Basic Books.
Piaget, J. (1977). The Essential Piaget. ed by Howard E. Gruber and J. Jacques Voneche Gruber, New York: Basic Books.
Piaget, J. (1983). "Piaget's theory". In P. Mussen (ed). Handbook of Child Psychology. 4th edition. Vol. 1. New York: Wiley.
Piaget, J. (1995). Sociological Studies. London: Routledge.
Piaget, J. (2000). "Commentary on Vygotsky". New Ideas in Psychology, 18, 241–259.
Piaget, J. (2001). Studies in Reflecting Abstraction. Hove, UK: Psychology Press.
Seifer, Calvin "Educational Psychology"
Cole, M, et al. (2005). The Development of Children. New York: Worth Publishers.
Kamis, 10 Januari 2008
School Culture
MENCIPTAKAN BUDAYA SEKOLAH YANG TETAP EKSIS
(Sebuah Upaya Untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan)
I. PENDAHULUAN
Menurut Deal dan Peterson (1999), budaya sekolah adalah sekumpulan nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh kepala sekolah, guru, petugas administrasi, siswa, dan masyarakat sekitar sekolah. Budaya sekolah merupakan ciri khas, karakter atau watak, dan citra sekolah tersebut di masyarakat luas.
Sebuah sekolah harus mempunyai misi menciptakan budaya sekolah yang menantang dan menyenangkan, adil, kreatif, terintegratif, dan dedikatif terhadap pencapaian visi, menghasilkan lulusan yang berkualitas tinggi dalam perkembangan intelektualnya dan mempunyai karakter takwa, jujur, kreatif, mampu menjadi teladan, bekerja keras, toleran dan cakap dalam memimpin, serta menjawab tantangan akan kebutuhan pengembangan sumber daya manusia yang dapat berperan dalam perkembangan iptek dan berlandaskan imtak.
Budaya sekolah yang harus diciptakan agar tetap eksis adalah : budaya salam, dimana setiap kali bertemu (guru, siswa dan orang tua) saling mengucapkan salam dan berjabat tangan dengan sapaan sopan dan senyuman menawan; upacara bendera yang rutin dilaksanakan setiap minggu kedua dan keempat; Penasehat akademis atau pertemuan wali kelas dengan para siswanya setiap Senin pagi untuk berbagi informasi; Tadarus dan kebaktian setiap Senin dan Kamis pagi sebelum pelajaran dimulai; Seragam sekolah yang berbeda dengan sekolah lain; Sholat Dzuhur berjamaah di masjid sekolah pada saat jam istirahat; Olah raga Jumat pagi dengan mengelilingi lingkungan sekolah; Upayakan Lima hari belajar (Senin-Jumat); Majalah sekolah yang dibuat oleh siswa untuk melatih bakat jurnalistiknya; Dialog interaktif dengan para pakar di bidangnya, mulai dari masalah seks sampai teknologi terbaru; Lintas juang untuk mendidik siswa menjadi calon pengurus OSIS; Studi Kepemimpinan Siswa untuk melatih kepemimpinan siswa menjalankan organisasi; Studi Amaliah Ramadhan mendidik siswa dalam kegiatan pesantren ramadhan; Pelepasan siswa yaitu melepas siswa kelas sembilan yang telah lulus dari sekolah; Buku tahunan adalah buku yang merekam kegiatan siswa dari mulai masuk sampai lulus sekolah; POMG (Persatuan Orang tua Murid dan Guru) adalah kegiatan orang tua siswa yang menunjang kegiatan sekolah dalam meningkatkan mutu pelayanan pendidikan; budaya bersih adalah kegiatan kebersihan sekolah dan kebersihan diri sendiri; Kegiatan praktek ibadah adalah kegiatan keagamaan siswa yang dinilai oleh guru agama masing-masing; PHBI dan Nasional adalah kegiatan hari besar keagamaan dan nasional; melakukan Doa sebelum/sesudah belajar dipimpin oleh wali kelas atau guru pengajar jam pertama dan terakhir; Radio channel yaitu kegiatan siswa di jam istirahat dengan menjadi penyiar radio sekolah; Crew TV yaitu kegiatan siswa dalam meliput beberapa kegiatan sekolah dan menayangkannya dalam televisi sekolah; Budaya disiplin dimana siswa tidak diperkenankan masuk kelas pada jam pertama, bila terlambat dan atau melakukan pelanggaran tata tertib sekolah; budaya kerja keras, cerdas dan ikhlas yaitu siswa dilatih menyelesaikan tugas-tugasnya dengan cepat, tepat waktu, dan berharap mendapatkan ridho hanya dari Allah; budaya Kreatif yaitu melatih siswa menciptakan inovasi sesuai bakat dan minatnya; Mandiri & bertanggung jawab yaitu melatih siswa untuk bekerja sendiri tanpa bantuan orang lain dan bertanggung jawab penuh terhadap tugas yang diberikan guru; Pentas Seni (Pensi) melatih siswa melaksanakan kegiatan bernuansa seni baik kesenian tradisonal maupun kesenian modern atau yang sedang ’ngetren’ saat ini; Kunjungan museum yaitu mengenalkan kepada siswa tentang warisan budaya bangsa yang harus dilestarikan; Kunjungan Industri yaitu mengenalkan siswa tentang kegiatan-kegiatan yang ada di industri atau pabrik yang berkaitan dengan mata pelajaran sains dan ekonomi; SAKSI (Studi dan Apesiasi Kepemimpinan Siswa Indonesia) yaitu kegiatan kesiswaan yang mengundang sekolah lain di Indonesia untuk bersama-sama berlatih kepemimpinan dengan nara sumber dari TNI atau kepolisian; Career Day yaitu kegiatan yang mengarahkan siswa untuk menggapai cita-citanya dengan mengundang beberapa tokoh yang sukses dalam meniti karirnya; Ekstrakurikuler adalah kegiatan non akademik yang memberi wadah/kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kreatifitasnya sesuai dengan bakat dan minatnya masing-masing (usahakan pilihan ekskul lebih dari 30 jenis); Parents Day yaitu kegiatan orang tua siswa di sekolah yang diberi kesempatan mengajar selama satu hari di kelasnya masing-masing, dan Sport and Art yaitu kegiatan seni dan olahraga antar kelas untuk unjuk gigi di hari Jumat setelah olahraga pagi.
Dengan motto yang disepakati bersama oleh sekolah misalnya kreatif dan berprestasi, akan menjadikan sekolah itu unggul dan berkualitas. Hal ini akan dapat dibuktikan dengan banyaknya tamu yang akan datang ke sekolah tersebut, dan banyaknya para orang tua yang mendaftarkan anaknya untuk bersekolah di temapat itu, tetapi sekolah memiliki keterbatasan tempat. Sehingga sekolah itu sering disebut sebagai sekolah favorit.
Bila sebuah sekolah sudah favorit, maka sebagai sekolah favorit di masyarakat harus melaksanakan aktifitasnya secara profesional dan bertanggungjawab. Profesional memiliki pengertian bahwa sekolah melaksanakan tugas pokok menyelenggarakan proses belajar mengajar dan manajemen yang baik. Bertanggungjawab memiliki pengertian bahwa sekolah melaksanakan pendidikan secara akuntabilitas kinerja/ dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat dan pemerintah.
Tuntutan sekolah yang profesional membutuhkan pengelolaan yang tepat melalui pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Sebab dengan MBS, lembaga dapat menginventarisir kekuatan-kekuatan dan kebutuhan-kebutuhannya, kelemahan, peluang, hambatan, dan tantangan yang mungkin ada. Pendekatan ini sering disebut dengan analisa SWOT. Dari analisis tersebut akan tampak perbedaan karakteristik sebuah sekolah dengan sekolah lainnya. Karenanya, dalam konteks penerapan MBS, Sergiovanni (2005) menyarankan agar para pengambil kebijakan, para penilik, dan kepala sekolah menggunakan pendekatan budaya sekolah atau school culture approach.
Berbeda dengan kurikulum sebelumnya, dengan kurikulum baru KTSP 2006 (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) membuat guru lebih aktif, kreatif, kompetitif, inspiratif, inisiatif, independen dan inovatif dalam menemukan dan mengembangkan kurikulum baru. Sekolah diberi kebebasan dalam membuat program kerja oleh pemerintah melalui Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang merupakan salah satu dari delapan standar nasional pendidikan sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permen) No.23 Tahun 2006.
Sekolah yang favorit pasti memiliki sistem pengembangan budaya sekolah yang terintegrasi dan terimplementasi dalam proses pembelajaran. Sekolah juga telah melakukan inovasi-inovasi kegiatan budaya sekolah dan terinventarisasikannya budaya sekolah yang sesuai dengan nilai-nilai lokal, nasional, dan internasional. Semuanya itu telah menyatu ke dalam kegiatan akademik dan kegiatan kesiswaan melalui kegiatan yang bersifat intrakurikuler dan ekstrakurikuler sehingga nantinya sekolah itu akan menjadi Sekolah Bertaraf Internasional (SBI).
Pengelola sekolah harus membangun sebuah sistem yang di dalamnya mengutamakan kerjasama atau team work. Kesuksesan dibangun atas dasar kebersamaan dan bukan kerja satu orang kepala sekolah atau one man show. Kepala sekolah setiap periode akan berganti, tetapi sistem akan terus berjalan mendampingi siapapun pemimpinnya.
Setiap sekolah harus dapat menciptakan budaya sekolahnya sendiri sebagai identitas diri, dan juga sebagai rasa kebanggaan akan sekolahnya. Kegiatan tidak hanya terfokus pada intrakurikuler, tetapi juga ekstrakurikuler yang dapat mengembangkan otak kiri dan kanan secara seimbang sehingga melahirkan kreativitas, bakat dan minat siswa. Selain itu, dalam menciptakan budaya sekolah yang kokoh, kita hendaknya juga berpedoman pada misi dan visi sekolah yang tidak hanya mencerdaskan otak saja, tetapi juga watak siswa yang selalu disampaikan oleh tokoh pendidikan Indonesia Bapak Prof. Dr. H. Arief Rachman, serta mengacu pada 4 tingkatan umum kecerdasan yaitu : kecerdasan intektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan rohani (SQ) dan kecerdasan sosial.
Budaya sekolah akan subur dan tetap eksis bila orang tua siswa dilibatkan dalam menunjang kegiatan kesiswaan. Kegiatan POMG atau komite sekolah harus menjadi budaya sekolah yang kental dan didukung penuh oleh pimpinan sekolah. Bila itu terjadi, maka hasilnya POMG dapat mengumrohkan atau menghajikan para guru ke tanah suci Mekah, menyekolahkan guru ke pasca sarjana, rekreasi guru dan keluarga, dan lain-lain yang sangat menunjang untuk kegiatan siswa dan kesejahteraan para guru. Namun demikian, kegiatan POMG tetap berjalan dalam koridor tidak ’mengobok-obok’ kurikulum sekolah yang telah dibuat oleh sekolah dan pemerintah atau Depdiknas.
Keterlibatan orang tua dalam menunjang kegiatan sekolah, keteladan guru (mendidik dengan benar, memahami bakat, minat dan kebutuhan belajar anak, menciptakan lingkungan dan suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan serta memfasilitasi kebutuhan belajar anak), dan prestasi siswa yang membanggakan adalah tiga hal yang akan menyuburkan budaya sekolah. Kegiatan-kegiatan itu menjadi gengsi tersendiri dalam suatu sistem yang utuh (komprehensif) melalui indikator yang jelas, sehingga ”karakter atau watak siswa” dapat terpotret secara optimal melalui kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh sekolah. Kegiatan itu akan menjadi budaya dan berpengaruh dalam perkembangan siswa selama bersekolah di sekolah itu.
Karena budaya sekolah yang tetap eksis itulah yang akan tertanam di hati para siswa. Sehinga sekolah akan terbebas dari narkoba, rokok, minuman keras, tawuran antar pelajar, dan ’penyakit’ kenakalan pelajar lainnya. Pastikan siswa terbaik yang lulus, akan terukir namanya dalam batu prasasti sekolah. Pastikan pula para alumninya tersebar ke sekolah-sekolah favorit ’papan atas’ baik di tingkat propinsi maupun nasional dan akan menjadi ’leader’ di sekolahnya masing-masing.
Lingkungan pendidikan yang harmonis dalam suasana kekeluargaan merupakan faktor yang mendukung terselenggaranya KBM yang baik. Sebab dengan lingkungan yang aman dan nyaman serta bersahabat siswa akan tenang dalam belajar. Salah satu usaha menciptakan keharmonisan tersebut adalah dengan budaya salam yang kental tanpa membedakan Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA) sehingga terbangun ’tata krama yang sistematik’ dan dapat membangun akhlaqul karimah yang dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW.
(Sebuah Upaya Untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan)
I. PENDAHULUAN
Salah satu keunikan dan keunggulan sebuah sekolah adalah memiliki budaya sekolah (school culture) yang kokoh, dan tetap eksis. Perpaduan semua unsur (three in one) baik siswa, guru, dan orang tua yang bekerjasama dalam menciptakan komunitas yang lebih baik melalui pendidikan yang berkualitas, serta bertanggung jawab dalam meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah, menjadikan sebuah sekolah unggul dan favorit di masyarakat.
Menurut Deal dan Peterson (1999), budaya sekolah adalah sekumpulan nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh kepala sekolah, guru, petugas administrasi, siswa, dan masyarakat sekitar sekolah. Budaya sekolah merupakan ciri khas, karakter atau watak, dan citra sekolah tersebut di masyarakat luas.
Sebuah sekolah harus mempunyai misi menciptakan budaya sekolah yang menantang dan menyenangkan, adil, kreatif, terintegratif, dan dedikatif terhadap pencapaian visi, menghasilkan lulusan yang berkualitas tinggi dalam perkembangan intelektualnya dan mempunyai karakter takwa, jujur, kreatif, mampu menjadi teladan, bekerja keras, toleran dan cakap dalam memimpin, serta menjawab tantangan akan kebutuhan pengembangan sumber daya manusia yang dapat berperan dalam perkembangan iptek dan berlandaskan imtak.
Budaya sekolah yang harus diciptakan agar tetap eksis adalah : budaya salam, dimana setiap kali bertemu (guru, siswa dan orang tua) saling mengucapkan salam dan berjabat tangan dengan sapaan sopan dan senyuman menawan; upacara bendera yang rutin dilaksanakan setiap minggu kedua dan keempat; Penasehat akademis atau pertemuan wali kelas dengan para siswanya setiap Senin pagi untuk berbagi informasi; Tadarus dan kebaktian setiap Senin dan Kamis pagi sebelum pelajaran dimulai; Seragam sekolah yang berbeda dengan sekolah lain; Sholat Dzuhur berjamaah di masjid sekolah pada saat jam istirahat; Olah raga Jumat pagi dengan mengelilingi lingkungan sekolah; Upayakan Lima hari belajar (Senin-Jumat); Majalah sekolah yang dibuat oleh siswa untuk melatih bakat jurnalistiknya; Dialog interaktif dengan para pakar di bidangnya, mulai dari masalah seks sampai teknologi terbaru; Lintas juang untuk mendidik siswa menjadi calon pengurus OSIS; Studi Kepemimpinan Siswa untuk melatih kepemimpinan siswa menjalankan organisasi; Studi Amaliah Ramadhan mendidik siswa dalam kegiatan pesantren ramadhan; Pelepasan siswa yaitu melepas siswa kelas sembilan yang telah lulus dari sekolah; Buku tahunan adalah buku yang merekam kegiatan siswa dari mulai masuk sampai lulus sekolah; POMG (Persatuan Orang tua Murid dan Guru) adalah kegiatan orang tua siswa yang menunjang kegiatan sekolah dalam meningkatkan mutu pelayanan pendidikan; budaya bersih adalah kegiatan kebersihan sekolah dan kebersihan diri sendiri; Kegiatan praktek ibadah adalah kegiatan keagamaan siswa yang dinilai oleh guru agama masing-masing; PHBI dan Nasional adalah kegiatan hari besar keagamaan dan nasional; melakukan Doa sebelum/sesudah belajar dipimpin oleh wali kelas atau guru pengajar jam pertama dan terakhir; Radio channel yaitu kegiatan siswa di jam istirahat dengan menjadi penyiar radio sekolah; Crew TV yaitu kegiatan siswa dalam meliput beberapa kegiatan sekolah dan menayangkannya dalam televisi sekolah; Budaya disiplin dimana siswa tidak diperkenankan masuk kelas pada jam pertama, bila terlambat dan atau melakukan pelanggaran tata tertib sekolah; budaya kerja keras, cerdas dan ikhlas yaitu siswa dilatih menyelesaikan tugas-tugasnya dengan cepat, tepat waktu, dan berharap mendapatkan ridho hanya dari Allah; budaya Kreatif yaitu melatih siswa menciptakan inovasi sesuai bakat dan minatnya; Mandiri & bertanggung jawab yaitu melatih siswa untuk bekerja sendiri tanpa bantuan orang lain dan bertanggung jawab penuh terhadap tugas yang diberikan guru; Pentas Seni (Pensi) melatih siswa melaksanakan kegiatan bernuansa seni baik kesenian tradisonal maupun kesenian modern atau yang sedang ’ngetren’ saat ini; Kunjungan museum yaitu mengenalkan kepada siswa tentang warisan budaya bangsa yang harus dilestarikan; Kunjungan Industri yaitu mengenalkan siswa tentang kegiatan-kegiatan yang ada di industri atau pabrik yang berkaitan dengan mata pelajaran sains dan ekonomi; SAKSI (Studi dan Apesiasi Kepemimpinan Siswa Indonesia) yaitu kegiatan kesiswaan yang mengundang sekolah lain di Indonesia untuk bersama-sama berlatih kepemimpinan dengan nara sumber dari TNI atau kepolisian; Career Day yaitu kegiatan yang mengarahkan siswa untuk menggapai cita-citanya dengan mengundang beberapa tokoh yang sukses dalam meniti karirnya; Ekstrakurikuler adalah kegiatan non akademik yang memberi wadah/kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kreatifitasnya sesuai dengan bakat dan minatnya masing-masing (usahakan pilihan ekskul lebih dari 30 jenis); Parents Day yaitu kegiatan orang tua siswa di sekolah yang diberi kesempatan mengajar selama satu hari di kelasnya masing-masing, dan Sport and Art yaitu kegiatan seni dan olahraga antar kelas untuk unjuk gigi di hari Jumat setelah olahraga pagi.
Dengan motto yang disepakati bersama oleh sekolah misalnya kreatif dan berprestasi, akan menjadikan sekolah itu unggul dan berkualitas. Hal ini akan dapat dibuktikan dengan banyaknya tamu yang akan datang ke sekolah tersebut, dan banyaknya para orang tua yang mendaftarkan anaknya untuk bersekolah di temapat itu, tetapi sekolah memiliki keterbatasan tempat. Sehingga sekolah itu sering disebut sebagai sekolah favorit.
Bila sebuah sekolah sudah favorit, maka sebagai sekolah favorit di masyarakat harus melaksanakan aktifitasnya secara profesional dan bertanggungjawab. Profesional memiliki pengertian bahwa sekolah melaksanakan tugas pokok menyelenggarakan proses belajar mengajar dan manajemen yang baik. Bertanggungjawab memiliki pengertian bahwa sekolah melaksanakan pendidikan secara akuntabilitas kinerja/ dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat dan pemerintah.
Tuntutan sekolah yang profesional membutuhkan pengelolaan yang tepat melalui pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Sebab dengan MBS, lembaga dapat menginventarisir kekuatan-kekuatan dan kebutuhan-kebutuhannya, kelemahan, peluang, hambatan, dan tantangan yang mungkin ada. Pendekatan ini sering disebut dengan analisa SWOT. Dari analisis tersebut akan tampak perbedaan karakteristik sebuah sekolah dengan sekolah lainnya. Karenanya, dalam konteks penerapan MBS, Sergiovanni (2005) menyarankan agar para pengambil kebijakan, para penilik, dan kepala sekolah menggunakan pendekatan budaya sekolah atau school culture approach.
Alasannya: Pertama, pendekatan budaya lebih menitikberatkan faktor manusia di atas faktor-faktor lainnya. Peran manusia amat sentral dalam suatu proses perubahan berencana. Sesuai dengan pepatah man behind the gun, manusia adalah faktor yang menentukan keberhasilan perubahan, bukan struktur atau peraturan legal. Kedua, pendekatan budaya menekankan pentingnya peran nilai dan keyakinan dalam diri manusia. Aspek ini merupakan elemen yang sangat berpengaruh dalam membentuk sikap dan perilaku. Karenanya, pendekatan budaya menomorsatukan transformasi nilai dan keyakinan terlebih dahulu sebelum perubahan yang bersifat legal-formal. Ketiga, pendekatan budaya memberikan penghormatan dan penerimaan terhadap perbedaan-perbedaan yang ada. Sikap menerima dan saling hormat menghormati akan menciptakan rasa saling percaya dan kebersamaan di antara anggota organisasi. Rasa kebersamaan akan memunculkan kerja sama, dan kerja sama akan mewujudkan sikap profesionalisme yang membawa perubahan sehingga mengubah nilai-nilai lama yang menghambat dengan nilai baru yang mendukung MBS.
Berbeda dengan kurikulum sebelumnya, dengan kurikulum baru KTSP 2006 (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) membuat guru lebih aktif, kreatif, kompetitif, inspiratif, inisiatif, independen dan inovatif dalam menemukan dan mengembangkan kurikulum baru. Sekolah diberi kebebasan dalam membuat program kerja oleh pemerintah melalui Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang merupakan salah satu dari delapan standar nasional pendidikan sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permen) No.23 Tahun 2006.
Sekolah yang favorit pasti memiliki sistem pengembangan budaya sekolah yang terintegrasi dan terimplementasi dalam proses pembelajaran. Sekolah juga telah melakukan inovasi-inovasi kegiatan budaya sekolah dan terinventarisasikannya budaya sekolah yang sesuai dengan nilai-nilai lokal, nasional, dan internasional. Semuanya itu telah menyatu ke dalam kegiatan akademik dan kegiatan kesiswaan melalui kegiatan yang bersifat intrakurikuler dan ekstrakurikuler sehingga nantinya sekolah itu akan menjadi Sekolah Bertaraf Internasional (SBI).
Pengelola sekolah harus membangun sebuah sistem yang di dalamnya mengutamakan kerjasama atau team work. Kesuksesan dibangun atas dasar kebersamaan dan bukan kerja satu orang kepala sekolah atau one man show. Kepala sekolah setiap periode akan berganti, tetapi sistem akan terus berjalan mendampingi siapapun pemimpinnya.
Setiap sekolah harus dapat menciptakan budaya sekolahnya sendiri sebagai identitas diri, dan juga sebagai rasa kebanggaan akan sekolahnya. Kegiatan tidak hanya terfokus pada intrakurikuler, tetapi juga ekstrakurikuler yang dapat mengembangkan otak kiri dan kanan secara seimbang sehingga melahirkan kreativitas, bakat dan minat siswa. Selain itu, dalam menciptakan budaya sekolah yang kokoh, kita hendaknya juga berpedoman pada misi dan visi sekolah yang tidak hanya mencerdaskan otak saja, tetapi juga watak siswa yang selalu disampaikan oleh tokoh pendidikan Indonesia Bapak Prof. Dr. H. Arief Rachman, serta mengacu pada 4 tingkatan umum kecerdasan yaitu : kecerdasan intektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan rohani (SQ) dan kecerdasan sosial.
Budaya sekolah akan subur dan tetap eksis bila orang tua siswa dilibatkan dalam menunjang kegiatan kesiswaan. Kegiatan POMG atau komite sekolah harus menjadi budaya sekolah yang kental dan didukung penuh oleh pimpinan sekolah. Bila itu terjadi, maka hasilnya POMG dapat mengumrohkan atau menghajikan para guru ke tanah suci Mekah, menyekolahkan guru ke pasca sarjana, rekreasi guru dan keluarga, dan lain-lain yang sangat menunjang untuk kegiatan siswa dan kesejahteraan para guru. Namun demikian, kegiatan POMG tetap berjalan dalam koridor tidak ’mengobok-obok’ kurikulum sekolah yang telah dibuat oleh sekolah dan pemerintah atau Depdiknas.
Keterlibatan orang tua dalam menunjang kegiatan sekolah, keteladan guru (mendidik dengan benar, memahami bakat, minat dan kebutuhan belajar anak, menciptakan lingkungan dan suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan serta memfasilitasi kebutuhan belajar anak), dan prestasi siswa yang membanggakan adalah tiga hal yang akan menyuburkan budaya sekolah. Kegiatan-kegiatan itu menjadi gengsi tersendiri dalam suatu sistem yang utuh (komprehensif) melalui indikator yang jelas, sehingga ”karakter atau watak siswa” dapat terpotret secara optimal melalui kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh sekolah. Kegiatan itu akan menjadi budaya dan berpengaruh dalam perkembangan siswa selama bersekolah di sekolah itu.
Karena budaya sekolah yang tetap eksis itulah yang akan tertanam di hati para siswa. Sehinga sekolah akan terbebas dari narkoba, rokok, minuman keras, tawuran antar pelajar, dan ’penyakit’ kenakalan pelajar lainnya. Pastikan siswa terbaik yang lulus, akan terukir namanya dalam batu prasasti sekolah. Pastikan pula para alumninya tersebar ke sekolah-sekolah favorit ’papan atas’ baik di tingkat propinsi maupun nasional dan akan menjadi ’leader’ di sekolahnya masing-masing.
Lingkungan pendidikan yang harmonis dalam suasana kekeluargaan merupakan faktor yang mendukung terselenggaranya KBM yang baik. Sebab dengan lingkungan yang aman dan nyaman serta bersahabat siswa akan tenang dalam belajar. Salah satu usaha menciptakan keharmonisan tersebut adalah dengan budaya salam yang kental tanpa membedakan Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA) sehingga terbangun ’tata krama yang sistematik’ dan dapat membangun akhlaqul karimah yang dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW.
Budaya sekolah yang harus diciptakan selain hal-hal tersebut di atas adalah budaya unggul dan mampu bersaing di dunia global. Memiliki daya juang yang tinggi, tanpa kehilangan jati diri suatu bangsa, dan tak mengenal kata ’putus asa’. Sekolah harus dapat melestarikan budaya lokal dengan tetap mengikuti tren budaya global yang berkembang, misalnya bahasa daerah, gamelan, dan tarian tradisional perlu dilestarikan sebagai warisan budaya bangsa. Tetapi tidak dapat kita pungkiri pula bahwa penguasaan bahasa asing, band, dan modern dance harus juga dipelajari sebagai budaya global yang disukai remaja saat ini.
Karena itu, nuansa religius di sekolah dengan pelaksanaan tadarus dan kebaktian sebelum pembelajaran yang dilaksanakan harus dijadikan aktivitas rutin. Membudayakan salam dan saling menegur dengan bahasa yang ramah harus menjadi fenomena yang biasa. Budaya keteladanan, kedisiplinan, dan kerja sama, baik orang tua, guru, dan siswa harus terus dikembangkan dan memiliki tanggung jawab untuk memajukan sekolah. Melalui kegiatan POMG atau komite sekolah, para orang tua harus berperan aktif membantu program-program yang dibuat oleh sekolah sehingga dapat membawa nama baik sekolah di masyarakat. Rendahnya mutu pendidikan kita saat ini disebabkan oleh lemahnya komitmen warga sekolah dalam mewujudkan budaya sekolah dan kurangnya pemahaman masyarakat terhadap pendidikan sehingga akan berdampak pada rendahnya peran serta dan partisipasi masyarakat terhadap pendidikan baik secara moril maupun materiil.
Kredibilitas sekolah di mata masyarakat, akuntabilitas kinerja sekolah, dan sigma kepuasan orang tua siswa harus sudah terbentuk, sehingga membawa sekolah memiliki budaya sekolah yang tetap eksis. Guru, orang tua, dan siswa harus dapat bekerja sama menciptakan budaya sekolah yang tetap eksis di tengah era derasnya globalisasi dan pesatnya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK).
Budaya sekolah terbentuk dari eratnya kegiatan akademik dan kesiswaan, seperti dua sisi mata uang logam yang tak dapat dipisahkan. Melalui kegiatan ekstrakurikuler yang beragam dalam bidang keilmuan, keolahragaan, dan kesenian membuat siswa dapat menyalurkan minat dan bakatnya masing-masing. Budaya sekolah dapat dimulai dari hal kecil seperti tempat duduk siswa yang berpusat pada guru harus diubah menjadi tempat duduk yang mendorong interaksi antar siswa. Hasil karya siswa yang berupa gambar, karangan, puisi, dan kerajinan harus dipasang di tempat terbuka di sekolah untuk mendorong kebanggaan berprestasi. Foto-foto ilmuwan juga perlu dipajang guna merangsang motivasi belajar siswa. Kata-kata mutiara atau kalimat motivasi sebaiknya banyak terpampang di dinding sekolah.
Sekarang ini, keunggulan suatu sekolah tidak ditentukan oleh besar kecilnya dana yang tersedia, tetapi lebih pada komitmen dan dedikasi para guru juga peran serta orang tua dalam memajukan sekolah dan dapat menciptakan budaya sekolah yang tetap eksis dengan terus membangun kredibilitas dan akuntabilitas kinerja, sehingga melahirkan sigma kepuasan di kalangan masyarakat dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan.
BIODATA PENULIS MAKALAH
Wijaya Kusumah, SPd. Lahir di Jakarta, 28 Oktober 1972. Sarjana Pendidikan Teknik Elektro (S1) IKIP Jakarta (1990-1994), Mendapatkan beasiswa dari Pasca Sarjana UNJ dan menjadi Mahasiswa Program Magister (S2) Teknologi Pendidikan UNJ (2007). Pengajar Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) SMP Labschool Jakarta (1992-2007).
Suami dari Ibu Siti Rokayah (Asli Bandung). Ayah dari dua orang putri cantik yaitu : Intan Rahmadhani Kusumah (9th) dan Berliana Nurhaliza Kusumah (4th).
Wijaya Kusumah, SPd. Lahir di Jakarta, 28 Oktober 1972. Sarjana Pendidikan Teknik Elektro (S1) IKIP Jakarta (1990-1994), Mendapatkan beasiswa dari Pasca Sarjana UNJ dan menjadi Mahasiswa Program Magister (S2) Teknologi Pendidikan UNJ (2007). Pengajar Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) SMP Labschool Jakarta (1992-2007).
Suami dari Ibu Siti Rokayah (Asli Bandung). Ayah dari dua orang putri cantik yaitu : Intan Rahmadhani Kusumah (9th) dan Berliana Nurhaliza Kusumah (4th).
Semasa kuliah di IKIP Jakarta aktif di beberapa organisasi kemahasiswaan, diantaranya : Ketua Umum HMJ Teknik Elektro FPTK UNJ, Ketua HMI Komisariat FPTK IKIP Jakarta, Ketua Musholla ”Al Biruni” FPTK IKIP Jakarta, dan Sekretaris Senat Mahasiswa FPTK IKIP Jakarta. Menjabat sebagai Kepala LP2TK IKIP Jakarta Bidang Software (1994-1996) dan Dosen POLMIKA di Jakarta (1996-1998).
Pada saat ini aktif di kegiatan Alumni Fakultas Teknik Elektro UNJ dengan menjabat sebagai Sekretaris Alumni Elektro FT-UNJ (2006-2009). Pembina OSIS/MPK dan Pembina Redaksi majalah ”Gema” SMP Labschool Jakarta.
Beberapa karya ilmiah yang ditulis untuk lomba karya tulis tingkat nasional adalah : Proses Pembelajaran Internet dalam Meningkatkan Imtak Siswa (2005), Pembelajaran Berbasis ICT di Kelas Akselerasi dalam meningkatkan Imtak-Iptek Secara Terpadu (2006), Peningkatan Imtak Siswa Berbasis Proses Pembelajaran Word melalui CTL dan Portofolio (2007), Peningkatan Kualitas Pembelajaran Internet di Kelas Akselerasi dengan metode CTL dan Penilaian Portofolio (2007).
Motto Hidup : Kejujuran Kunci Keberhasilan dan Kesuksesan.
Telp./Hp : 4755542 /08159155515 Fax. 4897289.
Rumah : Komplek AL Jatibening Indah B.144 Pondok Gede, Bekasi 17412
Kantor : SMP Labschool Jkt, Jl. Pemuda Komp.UNJ Rawamangun Jakarta Timur
Pada saat ini aktif di kegiatan Alumni Fakultas Teknik Elektro UNJ dengan menjabat sebagai Sekretaris Alumni Elektro FT-UNJ (2006-2009). Pembina OSIS/MPK dan Pembina Redaksi majalah ”Gema” SMP Labschool Jakarta.
Beberapa karya ilmiah yang ditulis untuk lomba karya tulis tingkat nasional adalah : Proses Pembelajaran Internet dalam Meningkatkan Imtak Siswa (2005), Pembelajaran Berbasis ICT di Kelas Akselerasi dalam meningkatkan Imtak-Iptek Secara Terpadu (2006), Peningkatan Imtak Siswa Berbasis Proses Pembelajaran Word melalui CTL dan Portofolio (2007), Peningkatan Kualitas Pembelajaran Internet di Kelas Akselerasi dengan metode CTL dan Penilaian Portofolio (2007).
Motto Hidup : Kejujuran Kunci Keberhasilan dan Kesuksesan.
Telp./Hp : 4755542 /08159155515 Fax. 4897289.
Rumah : Komplek AL Jatibening Indah B.144 Pondok Gede, Bekasi 17412
Kantor : SMP Labschool Jkt, Jl. Pemuda Komp.UNJ Rawamangun Jakarta Timur
Puisi Religi
Terimakasih Tuhan
Tuhan,
Engkau memang Maha Penyayang dan Maha Adil
Ditengah kegelisahan
karena kejahatan yang selalu menampakkan diri
karena kepalsuan yang selalu hadir dengan keangkuhannya
karena penghianatan yang jadi kelaziman
karena deraan cobaan bertubi menyentuh bumi pertiwi
Kau hadirkan
Sesosok insan
Dengan penuh kelembutan
Dan Kesejukan
Dan Keanggunan
Dan Kebaikan
Dan sejuta kemampuan menguatkan
menyabarkan
meneduhkan
Yang hanya dengan nama indahnya
yang tanpa tambahan awalan atau akhiran
tanpa paksaan
telah menyentuh beribu insan
untuk berkumpul dalam kebaikan
yang hangat dan bijak
Terima kasih Tuhan
Tlah Kau tunjukkan
Ditengah kegelisahan
Ada kedamaian
Terima kasih Tuhan......
Diambil dari milis www.mtsuperclub.com
Tuhan,
Engkau memang Maha Penyayang dan Maha Adil
Ditengah kegelisahan
karena kejahatan yang selalu menampakkan diri
karena kepalsuan yang selalu hadir dengan keangkuhannya
karena penghianatan yang jadi kelaziman
karena deraan cobaan bertubi menyentuh bumi pertiwi
Kau hadirkan
Sesosok insan
Dengan penuh kelembutan
Dan Kesejukan
Dan Keanggunan
Dan Kebaikan
Dan sejuta kemampuan menguatkan
menyabarkan
meneduhkan
Yang hanya dengan nama indahnya
yang tanpa tambahan awalan atau akhiran
tanpa paksaan
telah menyentuh beribu insan
untuk berkumpul dalam kebaikan
yang hangat dan bijak
Terima kasih Tuhan
Tlah Kau tunjukkan
Ditengah kegelisahan
Ada kedamaian
Terima kasih Tuhan......
Diambil dari milis www.mtsuperclub.com
Selasa, 01 Januari 2008
SERTIFIKASI GURU YANG MELELAHKAN
SERTIFIKASI GURU YANG MELELAHKAN
Senang rasanya karena mendapatkan panggilan untuk mengikuti sertifikasi guru. Namun, perasaan senang itu hanya sebentar. Betapa tidak, ketika kami dipanggil untuk mengikuti pengarahan yang dilaksanakan oleh dinas pendidikan DKI Jakarta, semua peserta tercengang. Mengapa? Karena kami harus mengumpulan berkas portofolio untuk sertifikasi hanya dalam dua hari saja. Coba anda bayangkan! Dalam waktu hanya dua hari kami harus mengumpulkan dokumen portofolio yang merupakan kumpulan kinerja selama kami menjadi guru.
Kami mencoba menginventarisasi dokumen portofolio, mulai dari sertifikat sampai dengan modul pembelajaran yang telah kami buat. Di internet melalui website Kompas tertulis: kelulusan guru dalam program sertifikasi guru nasional akan dititikberatkan pada penilaian portofolio atau riwayat hidup guru tersebut. Jika penilaian portofolio masih dirasa kurang, baru diberi pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan portofolio guru tersebut.. Guru yang sudah punya sertifikat pendidik akan dapat tunjangan dari negara satu kali gaji pokok. Rata-rata besarnya Rp 18 juta per tahun untuk setiap orang. (Kompas, 10 April 2007)
Mengumpulkan dokumen portofolio tidak semudah yang kita bayangkan. Perlu kerja keras, kerja cerdas, dan kerja tuntas. Kita sering melupakan hal-hal kecil. Kita letakkan begitu saja sertifikat yang telah kita dapatkan, baik dalam mengikuti seminar maupun pelatihan. Guru belum memiliki kemampuan untuk mengumpulkan berkas portofolionya dengan manajemen yang baik. Alhasil, sistim kebut semalam itulah yang sering dikerjakan oleh para sebagian guru. Pusing rasanya mencari dokumen yang kita sendiri lupa meletakkannya. Mulai dari ijazah S1, sertifikat pelatihan, surat-surat tugas, SK pengangkatan guru, rencana pembelajaran bahkan buku yang pernah kita tulis.
Portofolio adalah bukti dokumen yang menggambarkan pengalaman berkarya yang dicapai dalam menjalankan tugas profesi sebagai guru dalam interval waktu tertentu. Dokumen ini terkait dengan unsur pengalaman, karya, dan prestasi selama guru yang bersangkutan menjalankan peran sebagai agen pembelajaran (kompetensi kepribadian, pedagogik, profesional, dan sosial). Sertifikasi bagi Guru dalam Jabatan, komponen portofolio meliputi: (1) kualifikasi akademik, (2) pendidikan dan pelatihan, (3) pengalaman mengajar, (4) perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, (5) penilaian dari atasan dan pengawas, (6) prestasi akademik, (7) karya pengembangan profesi, (8) keikutsertaan dalam forum ilmiah, (9) pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial, dan (10) penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan.
Hampir saja saya terjebak dalam memenuhi berkas penilaian portofolio. Teman saya yang menjadi asesor mengingatkan ”guru-guru dalam mengikuti uji sertifikasi jangan terjebak pada upaya memenuhi penilaian portofolio semata. Sebab, penilaian portofolio yang kurang masih bisa diatasi dengan mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat). Untuk memenuhi portofolio jangan sampai guru itu mengada-adakan apa yang tidak ada. Sekarang ini, kesannya banyak guru yang panik. Karena merasa seolah-olah kelengkapan portofolio sebagai satu-satunya jalan untuk lulus”.
Saya jadi tertawa geli sendiri kalau ingat itu. Teman-teman yang ikut sertifikasi sudah tidak berkonsentrasi lagi dalam mengajar. Mereka semua mengakui itu dengan jujur. Termasuk saya. Belum banyaknya dokumen yang diperlukan membuat kami panik, dan kepikiran terus, dimana kami menyimpan berkas itu. Belum lagi ijazah yang belum dilegalisir, tanda tangan pengawas, dan lain-lain yang sangat memusingkan.
Sertifikasi guru dengan penilaian portofolio telah mengunci pikiran kami. Dalam otak kami adalah bagaimana caranya agar dapat lulus sertifikasi, sehingga tidak perlu lagi ikut diklat. Mulailah kami bergotong royong sesama guru. Kebetulan ada 20 orang disekolah kami yang dipanggil untuk mengikuti sertifikasi. Kami mulai berbagi tugas. Ada yang kebagian mengumpulkan kegiatan-kegiatan pelatihan yang telah dilakukan, mengumpulkan surat tugas, SK pengangkatan guru sampai mengumpulkan foto dan sertifikat teman-teman yang hilang atau tercecer karena lupa. Semua itu kita lakukan dengan penuh ketekunan, kejujuran, dan keikhlasan. Kami saling melengkapi, dan tidak mementingkan diri sendiri. Bila dari kami banyak yang lulus, maka kredibilitas sekolah pun akan terangkat. Sehingga predikat sekolah favorit setidaknya dapat kami buktikan. Kami pun sangat bersemangat dalam mengumpulkan berkas. Bahkan sampai menginap di sekolah. Tak ada yang santai. Semua bekerja, dan saling mengingatkan kalau ada diantara kami yang kurang dalam mengumpulkan point yang harus dilampaui agar mendapat nilai 850 sebagai syarat kelulusan. Sertifikasi guru sungguh melelahkan.
Kepala TU pergi ke rumah pengawas untuk meminta tanda tangan. Kepala sekolah, dengan penuh kesabaran menanda tangani berkas-berkas kami sebagai syarat legalisasi. Ketua MPO (Majelis Pembina Osis) membagikan surat tugas kegiatan. Ketua MPE (Majelis Pembina Ekskul) memberikan surat keterangan bagi guru yang mendampingi siswa dalam berbagai perlombaan. Tak ada yang tertidur pulas. Point demi point kami kumpulkan. Kami baca kembali buku panduan portofolio.
Sayangnya, kami lemah dalam pembuatan media pembelajaran dan kurang melakukan kegiatan sosial di luar, karena waktu kami sudah habis di sekolah. Kemampuan menulis karya tulis pun lemah. Dari 20 orang guru itu hanya ada satu orang yang sudah mengikuti lomba karya tulis guru tingkat nasional. Padahal setiap tahun depdiknas melaksanakan lomba karya tulis, baik lomba keberhasilan guru dalam pembelajaran, karya inovasi guru, lomba karya tulis imtak, dan lomba karya tulis untuk siswa akselerasi. Kemampuan guru juga sangat lemah dalam membuat buku. Hanya beberapa guru saja yang membuat sendiri buku pelajarannya. Belum ada diantara kami yang mendapatkan penghargaan sebagai guru teladan tingkat nasional. Kalaupun ada baru tingkat sekolah dimana tempat kami bekerja dan berkarya.
Portofolio berfungsi untuk menilai kompetensi guru dalam menjalankan tugas dan perannya sebagai agen pembelajaran. Kompetensi pedagogik dinilai antara lain melalui dokumen kualifikasi akademik, pendidikan dan pelatihan, pengalaman mengajar, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. Kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial dinilai antara lain melalui dokumen penilaian dari atasan dan pengawas. Kompetensi profesional dinilai antara lain melalui dokumen kualifikasi akademik, pendidikan dan pelatihan, pengalaman mengajar, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, dan prestasi akademik. .
Sertifikasi guru memang melelahkan. Tetapi kalau kita sudah menyiapkan diri dari jauh-jauh hari, maka kelelahan itu akan menjadi kegembiraan. Dari teman yang telah lulus sertifikasi di gelombang pertama mengatakan,” perlu waktu enam bulan untuk mengumpulkan berkas-berkas portofolionya”. Sebenarnya masalah sertifikasi itu berakar pada masalah kualitas guru dan kesejahteraan guru. Bila guru berkualitas, maka kesejahteraan pun akan datang menghampirinya. Coba kita lihat! Sudah berapa banyak guru yang sejahtera dalam hidupnya karena kemampuannya dalam menulis sangat baik. Jadi tidaklah benar bila GURU itu adalah singkatan dari : G=gagasan dan ilmunya sangat dibutuhkan. U=untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. R= rupa-rupanya setelah diusut-usut. U= usahanya besar gajinya kecil.
Serahkan diri pada Tuhan. Semoga apa yang telah dilakukan dengan penuh ketekunan, kejujuran, dan keikhlasan dapat dinilai oleh para asesor dengan nilai yang obyektif. Dalam bulan Januari 2008, kita berdoa agar lulus dan tertulis di website sertifikasiguru.org. Kalau ternyata tidak lulus, harus siap ikut diklat. Walaupun akhirnya waktu untuk keluarga terkurangi, karena dilakukan pada hari Sabtu-Minggu.
Teman yang menjadi asesor berkata dengan bangganya. Dalam sebulan jadi asesor yang hanya empat kali datang dia telah mendapatkan uang 6 juta rupiah. Jumlah uang itu adalah gaji guru selama 3 bulan. Bandingkan dengan guru yang setiap hari mengajar, bila lulus sertifikasi ia hanya mendapatkan satu jutaan atau sekitar 18 juta setahun. Sertifikasi guru sungguh melelahkan. Tapi buat dosen sebagai asesor sangat membahagiakan. Semoga pemerintah kita selalu memperhatikan terus nasib para guru.
Wijaya Kusumah, S.Pd
Guru SMP Labschool Jakarta
HP. 08159155515
Senang rasanya karena mendapatkan panggilan untuk mengikuti sertifikasi guru. Namun, perasaan senang itu hanya sebentar. Betapa tidak, ketika kami dipanggil untuk mengikuti pengarahan yang dilaksanakan oleh dinas pendidikan DKI Jakarta, semua peserta tercengang. Mengapa? Karena kami harus mengumpulan berkas portofolio untuk sertifikasi hanya dalam dua hari saja. Coba anda bayangkan! Dalam waktu hanya dua hari kami harus mengumpulkan dokumen portofolio yang merupakan kumpulan kinerja selama kami menjadi guru.
Kami mencoba menginventarisasi dokumen portofolio, mulai dari sertifikat sampai dengan modul pembelajaran yang telah kami buat. Di internet melalui website Kompas tertulis: kelulusan guru dalam program sertifikasi guru nasional akan dititikberatkan pada penilaian portofolio atau riwayat hidup guru tersebut. Jika penilaian portofolio masih dirasa kurang, baru diberi pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan portofolio guru tersebut.. Guru yang sudah punya sertifikat pendidik akan dapat tunjangan dari negara satu kali gaji pokok. Rata-rata besarnya Rp 18 juta per tahun untuk setiap orang. (Kompas, 10 April 2007)
Mengumpulkan dokumen portofolio tidak semudah yang kita bayangkan. Perlu kerja keras, kerja cerdas, dan kerja tuntas. Kita sering melupakan hal-hal kecil. Kita letakkan begitu saja sertifikat yang telah kita dapatkan, baik dalam mengikuti seminar maupun pelatihan. Guru belum memiliki kemampuan untuk mengumpulkan berkas portofolionya dengan manajemen yang baik. Alhasil, sistim kebut semalam itulah yang sering dikerjakan oleh para sebagian guru. Pusing rasanya mencari dokumen yang kita sendiri lupa meletakkannya. Mulai dari ijazah S1, sertifikat pelatihan, surat-surat tugas, SK pengangkatan guru, rencana pembelajaran bahkan buku yang pernah kita tulis.
Portofolio adalah bukti dokumen yang menggambarkan pengalaman berkarya yang dicapai dalam menjalankan tugas profesi sebagai guru dalam interval waktu tertentu. Dokumen ini terkait dengan unsur pengalaman, karya, dan prestasi selama guru yang bersangkutan menjalankan peran sebagai agen pembelajaran (kompetensi kepribadian, pedagogik, profesional, dan sosial). Sertifikasi bagi Guru dalam Jabatan, komponen portofolio meliputi: (1) kualifikasi akademik, (2) pendidikan dan pelatihan, (3) pengalaman mengajar, (4) perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, (5) penilaian dari atasan dan pengawas, (6) prestasi akademik, (7) karya pengembangan profesi, (8) keikutsertaan dalam forum ilmiah, (9) pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial, dan (10) penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan.
Hampir saja saya terjebak dalam memenuhi berkas penilaian portofolio. Teman saya yang menjadi asesor mengingatkan ”guru-guru dalam mengikuti uji sertifikasi jangan terjebak pada upaya memenuhi penilaian portofolio semata. Sebab, penilaian portofolio yang kurang masih bisa diatasi dengan mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat). Untuk memenuhi portofolio jangan sampai guru itu mengada-adakan apa yang tidak ada. Sekarang ini, kesannya banyak guru yang panik. Karena merasa seolah-olah kelengkapan portofolio sebagai satu-satunya jalan untuk lulus”.
Saya jadi tertawa geli sendiri kalau ingat itu. Teman-teman yang ikut sertifikasi sudah tidak berkonsentrasi lagi dalam mengajar. Mereka semua mengakui itu dengan jujur. Termasuk saya. Belum banyaknya dokumen yang diperlukan membuat kami panik, dan kepikiran terus, dimana kami menyimpan berkas itu. Belum lagi ijazah yang belum dilegalisir, tanda tangan pengawas, dan lain-lain yang sangat memusingkan.
Sertifikasi guru dengan penilaian portofolio telah mengunci pikiran kami. Dalam otak kami adalah bagaimana caranya agar dapat lulus sertifikasi, sehingga tidak perlu lagi ikut diklat. Mulailah kami bergotong royong sesama guru. Kebetulan ada 20 orang disekolah kami yang dipanggil untuk mengikuti sertifikasi. Kami mulai berbagi tugas. Ada yang kebagian mengumpulkan kegiatan-kegiatan pelatihan yang telah dilakukan, mengumpulkan surat tugas, SK pengangkatan guru sampai mengumpulkan foto dan sertifikat teman-teman yang hilang atau tercecer karena lupa. Semua itu kita lakukan dengan penuh ketekunan, kejujuran, dan keikhlasan. Kami saling melengkapi, dan tidak mementingkan diri sendiri. Bila dari kami banyak yang lulus, maka kredibilitas sekolah pun akan terangkat. Sehingga predikat sekolah favorit setidaknya dapat kami buktikan. Kami pun sangat bersemangat dalam mengumpulkan berkas. Bahkan sampai menginap di sekolah. Tak ada yang santai. Semua bekerja, dan saling mengingatkan kalau ada diantara kami yang kurang dalam mengumpulkan point yang harus dilampaui agar mendapat nilai 850 sebagai syarat kelulusan. Sertifikasi guru sungguh melelahkan.
Kepala TU pergi ke rumah pengawas untuk meminta tanda tangan. Kepala sekolah, dengan penuh kesabaran menanda tangani berkas-berkas kami sebagai syarat legalisasi. Ketua MPO (Majelis Pembina Osis) membagikan surat tugas kegiatan. Ketua MPE (Majelis Pembina Ekskul) memberikan surat keterangan bagi guru yang mendampingi siswa dalam berbagai perlombaan. Tak ada yang tertidur pulas. Point demi point kami kumpulkan. Kami baca kembali buku panduan portofolio.
Sayangnya, kami lemah dalam pembuatan media pembelajaran dan kurang melakukan kegiatan sosial di luar, karena waktu kami sudah habis di sekolah. Kemampuan menulis karya tulis pun lemah. Dari 20 orang guru itu hanya ada satu orang yang sudah mengikuti lomba karya tulis guru tingkat nasional. Padahal setiap tahun depdiknas melaksanakan lomba karya tulis, baik lomba keberhasilan guru dalam pembelajaran, karya inovasi guru, lomba karya tulis imtak, dan lomba karya tulis untuk siswa akselerasi. Kemampuan guru juga sangat lemah dalam membuat buku. Hanya beberapa guru saja yang membuat sendiri buku pelajarannya. Belum ada diantara kami yang mendapatkan penghargaan sebagai guru teladan tingkat nasional. Kalaupun ada baru tingkat sekolah dimana tempat kami bekerja dan berkarya.
Portofolio berfungsi untuk menilai kompetensi guru dalam menjalankan tugas dan perannya sebagai agen pembelajaran. Kompetensi pedagogik dinilai antara lain melalui dokumen kualifikasi akademik, pendidikan dan pelatihan, pengalaman mengajar, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. Kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial dinilai antara lain melalui dokumen penilaian dari atasan dan pengawas. Kompetensi profesional dinilai antara lain melalui dokumen kualifikasi akademik, pendidikan dan pelatihan, pengalaman mengajar, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, dan prestasi akademik. .
Sertifikasi guru memang melelahkan. Tetapi kalau kita sudah menyiapkan diri dari jauh-jauh hari, maka kelelahan itu akan menjadi kegembiraan. Dari teman yang telah lulus sertifikasi di gelombang pertama mengatakan,” perlu waktu enam bulan untuk mengumpulkan berkas-berkas portofolionya”. Sebenarnya masalah sertifikasi itu berakar pada masalah kualitas guru dan kesejahteraan guru. Bila guru berkualitas, maka kesejahteraan pun akan datang menghampirinya. Coba kita lihat! Sudah berapa banyak guru yang sejahtera dalam hidupnya karena kemampuannya dalam menulis sangat baik. Jadi tidaklah benar bila GURU itu adalah singkatan dari : G=gagasan dan ilmunya sangat dibutuhkan. U=untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. R= rupa-rupanya setelah diusut-usut. U= usahanya besar gajinya kecil.
Serahkan diri pada Tuhan. Semoga apa yang telah dilakukan dengan penuh ketekunan, kejujuran, dan keikhlasan dapat dinilai oleh para asesor dengan nilai yang obyektif. Dalam bulan Januari 2008, kita berdoa agar lulus dan tertulis di website sertifikasiguru.org. Kalau ternyata tidak lulus, harus siap ikut diklat. Walaupun akhirnya waktu untuk keluarga terkurangi, karena dilakukan pada hari Sabtu-Minggu.
Teman yang menjadi asesor berkata dengan bangganya. Dalam sebulan jadi asesor yang hanya empat kali datang dia telah mendapatkan uang 6 juta rupiah. Jumlah uang itu adalah gaji guru selama 3 bulan. Bandingkan dengan guru yang setiap hari mengajar, bila lulus sertifikasi ia hanya mendapatkan satu jutaan atau sekitar 18 juta setahun. Sertifikasi guru sungguh melelahkan. Tapi buat dosen sebagai asesor sangat membahagiakan. Semoga pemerintah kita selalu memperhatikan terus nasib para guru.
Wijaya Kusumah, S.Pd
Guru SMP Labschool Jakarta
HP. 08159155515
Langganan:
Postingan (Atom)