Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Kamis, 15 Oktober 2026

Kisah Omjay Belajar dari Forum Guru Asia Pasifik

Kisah Omjay: Belajar dari Forum Guru Asia-Pasifik, Memperjuangkan Pendidikan Publik, dan Menyambut Masa Depan AI

Oleh: Wijaya Kusumah (Omjay), Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Ada banyak cara untuk belajar menjadi guru yang lebih baik. Kita bisa belajar dari buku, mengikuti pelatihan, berdiskusi dengan rekan sejawat, atau membaca pengalaman para pendidik dari berbagai negara. Namun, ada satu kesempatan yang sangat berharga, yaitu belajar dari forum internasional yang mempertemukan para pemimpin organisasi guru, pendidik, dan pejuang pendidikan dari berbagai negara.

Bagi Omjay, seorang guru Informatika di SMP Labschool Jakarta sekaligus pegiat literasi digital, pertemuan seperti ini memberikan pelajaran penting bahwa perjuangan guru tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Perjuangan itu juga menyangkut masa depan pendidikan, kesejahteraan pendidik, kebebasan akademik, pemanfaatan teknologi, dan hak setiap anak untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas.

Mengenal 10th EI Asia-Pacific Regional Conference

Dalam dokumen program yang saya pelajari, 10th EI Asia-Pacific Regional Conference dijadwalkan berlangsung pada 10–15 Oktober 2026. Forum ini diselenggarakan dalam lingkup Education International Asia-Pacific, yang mempertemukan berbagai agenda dan isu penting mengenai pendidikan serta gerakan organisasi guru di kawasan Asia-Pasifik.

Rangkaian kegiatan tersebut tidak hanya berisi sidang pleno. Ada pula pertemuan khusus perempuan, pemuda, masyarakat adat, dan pendidikan tinggi, serta diskusi mengenai pendidikan publik, perubahan iklim, kecerdasan artifisial, dan masa depan organisasi guru.

Membaca agenda tersebut membuat saya berpikir bahwa dunia pendidikan menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Guru tidak cukup hanya menguasai materi pelajaran. Guru juga perlu memahami perubahan sosial, perkembangan teknologi, kebijakan pendidikan, dan kebutuhan peserta didik pada masa depan.

Pendidikan adalah urusan bersama. Karena itu, suara guru harus mendapatkan tempat dalam setiap pembicaraan mengenai arah pembangunan pendidikan.

Pendidikan Publik Harus Menjadi Perhatian Bersama

Salah satu agenda penting dalam konferensi ini adalah Go Public! Fund Education: Asia-Pacific, yang mengangkat perjuangan memajukan pendidikan publik dan mendorong pendanaan pendidikan yang memadai.

Tema ini sangat dekat dengan kehidupan guru di Indonesia. Kita mengetahui bahwa pendidikan yang berkualitas membutuhkan lebih dari sekadar gedung sekolah dan buku pelajaran. Sekolah membutuhkan guru yang kompeten, sarana pembelajaran yang memadai, lingkungan belajar yang aman, serta dukungan kebijakan yang berpihak kepada peserta didik.

Guru juga membutuhkan penghargaan yang layak atas profesinya. Kesejahteraan guru bukanlah persoalan yang terpisah dari kualitas pendidikan. Guru yang memperoleh dukungan dan kesempatan berkembang akan memiliki ruang lebih besar untuk meningkatkan kompetensinya.

Saya percaya, pendidikan publik yang kuat merupakan salah satu fondasi untuk membangun masyarakat yang adil dan berpengetahuan.

Setiap anak berhak memperoleh kesempatan belajar yang baik, tanpa harus dibatasi oleh keadaan ekonomi keluarganya. Karena itulah, pembiayaan pendidikan perlu dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa, bukan sekadar pengeluaran dalam anggaran negara.

Ketika Guru Berbicara tentang Kecerdasan Artifisial

Sebagai guru Informatika, saya sangat tertarik pada agenda From Classroom to Tomorrow: AI and the Teaching Profession serta sidang pleno bertema AI and the Future of Education.

Kedua agenda tersebut menempatkan kecerdasan artifisial sebagai salah satu isu penting dalam pembicaraan tentang profesi guru dan masa depan pendidikan.

Saat ini, AI dapat membantu guru menyusun bahan ajar, membuat latihan soal, memberikan contoh pemrograman, mengembangkan ide pembelajaran, dan menjelaskan konsep yang sulit dipahami siswa. Peserta didik pun dapat memanfaatkan AI untuk mencari inspirasi dan mengeksplorasi pengetahuan baru.

Namun, ada pertanyaan mendasar yang perlu kita renungkan: siapa yang menentukan bagaimana AI digunakan di sekolah? Apakah guru hanya menjadi pengguna teknologi, atau ikut menentukan arah pemanfaatannya?

Bagi saya, guru harus menjadi bagian penting dalam pengambilan keputusan tersebut. Guru memahami karakter peserta didik, dinamika kelas, kebutuhan belajar, serta persoalan etika yang mungkin muncul ketika teknologi digunakan.

AI tidak boleh sekadar menjadi alat untuk mempercepat pekerjaan. Pemanfaatannya harus membantu peserta didik berpikir kritis, kreatif, mandiri, dan bertanggung jawab.

Saya selalu percaya bahwa teknologi dapat membantu manusia, tetapi tidak seharusnya menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan dalam pendidikan.

Ketika siswa menggunakan AI untuk menulis artikel, misalnya, mereka tetap harus belajar merumuskan gagasan sendiri, memeriksa kebenaran informasi, menyusun argumen, dan menuliskan pengalaman pribadi. Guru perlu membimbing mereka agar tidak berhenti pada kegiatan menyalin jawaban yang dihasilkan mesin.

Sebab, tujuan pendidikan bukan hanya menghasilkan jawaban yang benar. Pendidikan juga membentuk manusia yang mampu berpikir, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas tindakannya.

Guru Harus Terus Belajar dan Bersuara

Hal lain yang menarik dari program konferensi tersebut adalah pembahasan mengenai kebebasan akademik, demokrasi, kesetaraan gender, perubahan iklim, dan peran organisasi guru.

Berbagai tema itu menunjukkan bahwa pekerjaan guru berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat. Guru tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membantu generasi muda memahami dunia dan menemukan cara untuk berkontribusi di dalamnya.

Guru perlu memiliki ruang untuk mengembangkan kompetensi, menyampaikan gagasan, melakukan inovasi, serta berpartisipasi dalam pembicaraan mengenai kebijakan pendidikan.

Dalam konteks Indonesia, organisasi profesi dan komunitas belajar dapat menjadi tempat bagi guru untuk bertukar pengalaman, memperjuangkan kepentingan pendidikan, serta memperkuat solidaritas antarpengajar.

Saya teringat perjalanan panjang saya sebagai pendidik dan pegiat literasi. Sejak mengenal dunia blog pada 2007, saya terus berusaha menulis dan membagikan pengalaman mengajar. Saya belajar bahwa tulisan sederhana dari seorang guru dapat menjadi sumber inspirasi bagi guru lainnya.

Pengalaman di kelas yang kita tuliskan hari ini mungkin dapat membantu seorang guru di daerah lain menemukan solusi untuk persoalan pembelajarannya. Begitu pula pengalaman guru dari negara lain yang dapat memperluas wawasan kita.

Karena itu, saya mengajak rekan-rekan guru untuk tidak berhenti belajar. Bacalah buku, ikuti kegiatan pengembangan profesi, berdiskusilah dengan sesama pendidik, dan bagikan pengalaman melalui tulisan.

Jangan takut menyampaikan gagasan. Namun, pastikan gagasan tersebut disampaikan dengan data, argumentasi yang baik, dan semangat untuk memperbaiki keadaan.

Solidaritas Guru Melampaui Batas Negara

Salah satu pelajaran penting dari forum regional seperti ini adalah arti solidaritas.

Guru di berbagai negara mungkin menghadapi persoalan yang berbeda. Ada yang berjuang meningkatkan kualitas pembelajaran, ada yang menghadapi perubahan teknologi, dan ada pula yang memperjuangkan kondisi kerja serta kebebasan akademik.

Meskipun berbeda bahasa dan budaya, para pendidik memiliki kepentingan yang sama: memastikan pendidikan berjalan dengan baik dan peserta didik memperoleh kesempatan untuk berkembang.

Program konferensi ini juga memuat sesi Organising for the Future We Want, yang mengajak peserta memikirkan bentuk gerakan organisasi guru yang kuat untuk menghadapi empat tahun mendatang.

Tema tersebut memberikan pelajaran bahwa perubahan tidak cukup hanya diharapkan. Perubahan membutuhkan kerja bersama, kepemimpinan, strategi, dan keterlibatan anggota.

Dalam kehidupan organisasi guru di Indonesia, semangat itu dapat diwujudkan melalui kegiatan berbagi praktik baik, pelatihan, diskusi kebijakan, pendampingan guru muda, dan pengembangan kompetensi digital.

Guru yang kuat bukanlah guru yang berjalan sendirian. Guru yang kuat adalah guru yang mau belajar bersama, saling mendukung, dan bekerja sama untuk mencapai tujuan pendidikan.

Membawa Semangat Global ke Ruang Kelas Indonesia

Lalu, apa yang dapat kita pelajari dari agenda konferensi ini untuk diterapkan di sekolah?

Menurut saya, ada beberapa hal yang patut menjadi perhatian.

Pertama, guru harus terus meningkatkan kompetensi. Perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan peserta didik menuntut kita untuk terus memperbarui pengetahuan.

Kedua, pemanfaatan AI harus dilakukan secara bijak. Guru dan siswa perlu memahami manfaat, keterbatasan, risiko, serta tanggung jawab ketika menggunakan teknologi tersebut.

Ketiga, pendidikan publik harus diperkuat. Setiap anak perlu mendapatkan kesempatan belajar yang berkualitas, sedangkan guru membutuhkan dukungan untuk menjalankan profesinya secara profesional.

Keempat, organisasi guru perlu menjadi ruang belajar dan perjuangan bersama. Organisasi tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga wadah untuk membangun gagasan dan memperjuangkan perbaikan pendidikan.

Kelima, guru perlu mendokumentasikan pengalaman melalui tulisan. Dengan menulis, kita dapat membagikan praktik baik, merekam perubahan, dan memberikan inspirasi kepada generasi pendidik berikutnya.

Bagi saya, kelima hal tersebut saling berkaitan. Guru yang terus belajar akan lebih siap menghadapi perubahan. Guru yang mampu bekerja sama akan lebih kuat menghadapi tantangan. Sementara itu, guru yang menulis dapat menyebarkan pengetahuan dan pengalaman kepada masyarakat yang lebih luas.

Penutup: Menjadi Guru yang Terus Bertumbuh

Mempelajari program 10th EI Asia-Pacific Regional Conference mengingatkan saya bahwa masa depan pendidikan harus dibangun melalui kerja bersama.

Pendidikan bukan hanya tentang kurikulum, ujian, nilai rapor, atau kecanggihan perangkat digital. Pendidikan juga berbicara tentang keadilan, martabat manusia, kebebasan berpikir, kesejahteraan guru, dan harapan bagi generasi muda.

Sebagai guru Informatika, saya menyambut perkembangan AI dengan semangat untuk terus belajar. Namun, saya juga ingin mengingatkan bahwa teknologi harus tetap berada dalam kendali manusia yang bertanggung jawab.

Kita boleh menggunakan mesin untuk membantu pekerjaan. Kita boleh memanfaatkan AI untuk memperluas wawasan. Akan tetapi, empati, keteladanan, pengalaman hidup, dan kepedulian seorang guru tetap harus menjadi bagian penting dari proses pendidikan.

Saya, Omjay, akan terus belajar, menulis, dan berbagi. Sebab, menjadi guru bukan hanya tentang menyampaikan pelajaran hari ini, melainkan juga tentang menyiapkan manusia untuk menghadapi kehidupan esok hari.

Guru yang hebat bukanlah guru yang merasa paling pintar, melainkan guru yang tidak pernah berhenti belajar dan bersedia berbagi ilmu kepada sesama.

Mari terus memperkuat solidaritas, meningkatkan kompetensi, dan menjaga hati dalam mendidik. Dari ruang kelas di Indonesia, semoga lahir generasi yang cerdas, berkarakter, kreatif, dan mampu menggunakan teknologi untuk kebaikan bersama.

Salam Blogger Persahabatan.

Omjay
Guru Blogger Indonesia
Menulislah dengan hati, berbagi inspirasi, dan teruslah belajar sepanjang hayat.

2 komentar:

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.